Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Sore itu, Damar duduk sendiri di sebuah kafe kecil dekat kampus tempat favoritnya suasananya tenang tidak terlalu ramai cocok untuk membaca.
Di depannya, secangkir kopi hitam masih mengepul. Beberapa buku tebal terbuka, penuh catatan di sana-sini.
Hanya cukup satu tahun untuk menyelesaikan pendidikannya di National Defense University.
Jadwalnya Damar padat di penuhi diskusi, analisis. Paper dan presentasi, seharusnya.pikirannya penuh dengan strategi dan teori.Tapi akhir-akhir ini justru ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya Kirana.
Damar menghela napas panjang tiba-tiba teringat seseorang.
“Perempuan itu…” gumam Damar pelan dia menyeruput kopinya, mencoba fokus kembali ke buku.
Kenapa setiap kali aku mulai tenang dia selalu muncul di kepalaku Damar menutup bukunya sejenak, memijat pelipis.
Namun tiba-tiba ada gerakan di depannya seseorang melambaikan tangan Damar mengangkat kepala dan langsung membeku.
Di meja seberang Kirana tersenyum lebar ke arahnya.
“Kirana!” Refleks, Damar hampir tersedak kopinya dia menelan cepat, masih tidak percaya.
"Dia lagi?” gumamnya pelan, setengah kesal belum sempat ia bereaksi Kirana sudah berdiri, berjalan mendekat, lalu duduk santai di kursi sebelahnya.
“Kamu suka minum kopi di sini juga, ya?” katanya ceria Damar menatapnya datar.
“Kamu ini, benar-benar sangat,” Damar berhenti.
“Sangant apa?” sela Kirana cepat, mencondongkan badan sedikit. “Sangat cantik?”
Damar menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi pasrah.
“Aku tidak akan melanjutkan kalimat itu,” kata Damar menahan kesal.
Kirana tersenyum puas. “Ya sudah, aku anggap itu pujian.”
Damar menutup bukunya lalu menatap Kirana.
“Ini bukan kebetulan lagi, kan?” Tanya Damar masih dengan nada jengkel Kirana pura-pura berpikir.
“Hmm... mungkin setengah kebetulan?”
Damar menatapnya tajam. “Kamu mengikuti aku?”
“Wah, tuduhan berat,” balas Kirana santai. “Aku juga punya hidup, tahu.”
“Apa hidupmu selalu beririsan dengan hidupku?” Damar kali ini tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.
“Kalau semesta mengizinkan, kenapa tidak?”
Damar menggeleng pelan Ini tidak masuk akal pikir Damar.
Beberapa detik hening Kirana memperhatikan buku-buku di depannya.
“Kamu sibuk banget, ya?” Tanya Kirana memperhatikan buku-buku itu.
“Memang.” jawab Damar ketus.
“Capek?” Tanya Kirana sok perhatian.
“Biasa saja.”
“Kamu selalu jawab singkat begitu?”
Damar melirik Kirana
“Kamu selalu tanya sebanyak itu?” Kalimat itu penuh dnegan penekanan.
Kirana terkekeh “Biar kamu nggak kesepian.”
Damar kembali bersandar di kursinya.
“Tempat paling aman buatku sekarang cuma apartemen,” gumamnya pelan.
Kirana mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena di luar…” Damar menatap Kirana, “terlalu banyak gangguan.”
“Gangguan yang menyenangkan, kan?” Damar tidak menjawab.
Hari demi hari berlalu dan kebetulan itu terus terjadi di lift mereka bertemu saat Damar berangkat ke kampus di National Defense University, Kirana juga keluar menuju George Washington University.
Di supermarket mereka bertemu lagi di jalur jogging lagi-lagi seolah seluruh kota mempertemukan mereka berulang kali.
Sampai akhirnya Damar mulai menghindar dia lebih sering olahraga di gym apartemen membaca di dalam unitnya mengurangi keluar
Kalau aku tetap di dalam dia tidak akan muncul. Setidaknya itu yang Damar pikirkan.
Beberapa minggu terakhir terasa aneh bagi Kirana terlalu sepi terlalu kosong tidak ada lagi kebetulan di lift.
Tidak ada sosok yang berjalan cepat menghindarinya di lobby tidak ada bayangan Damar di tempat-tempat yang biasa mereka datangi seolah pria itu… menghilang.
Kirana duduk di sofa apartemennya, menatap ponsel di tangannya tanpa benar-benar melihat apa pun.
“Ke mana sih kamu…” gumamnya pelan.
Rasa kesal bercampur rindu yang tidak mau dia akui, Kirana menghela napas panjang dan menekan satu nama di kontaknya.
Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.
“Ya, Mbak?” suara di seberang terdengar santai.
“Kamu sudah cari tahu tentang Damar?” tanya Kirana langsung, tanpa basa-basi.
“Sudah.”
“Terus?”
Orang di seberang sana Marty terdiam sejenak, seolah menyusun kata.
“Dia menghindar.”
Kirana mengernyit. “Maksudnya?”
“Dia lebih sering di apartemen jarang keluar kalau pun keluar waktunya nggak bisa diprediksi.”
Kirana menghela napas kesal.
“Pantas saja aku nggak pernah ketemu dia.”
“Ya, dia sengaja menghindari pola lama.”
Kirana terdiam tangannya mengepal pelan sambungan telpon itu terputus.