NovelToon NovelToon
Masuk Ke Dunia Iblis

Masuk Ke Dunia Iblis

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chi Chi chantika

layla, seorang gadis berusia 23 tahun,harus mati mengenaskan karena ditabrak truk, yang saat itu mengalami rem blong, namun ketika dia membuka matanya kembali, layla sangat terkejut karena dia hidup kembali di dunia yang berbeda
" dimana aku!?,,, jiwa layla masuk kedalam tubuh putri iblis, " elora oberon" yang saat itu hampir mati karena di racuni, namun masalah muncul, layla harus beradaptasi dengan dunia itu, tubuh yang dia tempati memiliki sifat buruk yang di benci oleh orang-orang di istana nya,dalam hal itu mampukah layla memperbaiki kesalahan yang telah elora buat?belum lagi dia mengetahui jika elora sebelum nya, begitu tergila gila pada pria yang bernama shuraka kasyam,pria sombong dan berbicara dengan kata-**** *****, apakah layla harus terus mencintai pria itu? atau kah, menjadi dirinya, dan membalas kekasaran pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rumah persinggahan

Setelah meletakkan bekalnya ke samping, Layla pun berdiri di tepi jendela dengan setengah bagian atas berada di luar jendela. Jendela di dekat pintu masuk memang kecil, namun jendela di sisi sebelahnya cukup besar untuk mengeluarkan tubuh pria dewasa. Itu sebabnya Layla tanpa ragu berdiri di sana.

Hufar yang sedang menuntun kuda tak jauh dari kereta sangat terkejut melihat Elora berdiri dan mengeluarkan sebagian tubuhnya di jendela.

"Putri!?"

Hufar pun menuntun kudanya untuk mendekati kereta. Tampak Layla yang melambaikan tangan seraya memanggilnya.

"Hufar!!!"

"Itu berbahaya, Putri. Tolong duduklah dengan tenang."

Hufar tampak khawatir dengan Elora, karena kereta saat itu masih berjalan. Akan sangat berbahaya jika berdiri di tepi jendela seperti yang Elora lakukan.

Melihat Hufar yang terlihat khawatir, Layla malah tersenyum riang. Dengan perlahan lahan meraih tangan Hufar, lalu memberikan beberapa bungkusan kue kering yang sudah dia siapkan tadi. Melihat bungkusan di tangannya, Hufar bingung.

"Apa ini, Putri?" tanya nya penasaran.

Layla tersenyum lembut lalu mengatakan,

"Ini kue kering, makanlah bersama yang lain."

Hufar diam sejenak, keningnya mengerut bingung. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa Elora tiba-tiba memberinya kue kering.

"Tapi Putri, saya tidak bisa menerimanya."

Hufar menolak pemberian Elora dengan sopan. Bukan karena tidak menginginkannya, namun itu bukanlah hal yang biasa dilakukan di antara prajurit dan putri bangsawan seperti dirinya. Hufar sangat sadar akan posisinya. Dia merasa tidak pantas menerima sesuatu yang berasal dari tangan seorang putri. Baginya melayani keluarga kerajaan dengan sepenuh hati sudah cukup, tidak perlu melibatkan diri secara pribadi dengan keluarga kerajaan.

"Ambillah, ini bukan sesuatu yang mewah," ucap Layla ramah.

Melihat wajah Elora tersenyum ramah padanya, Hufar jadi tidak tega untuk menolaknya lagi.

"Terima kasih, Putri. Saya akan memberikannya pada yang lain juga."

Mendengar itu Layla hanya tersenyum, lalu kembali duduk.

Di sisi lain, Shuraka menatap Elora penuh curiga. Dia berpikir sangat keras kenapa Elora tampak seperti orang lain. Melihat Elora yang baru saja duduk setelah memberikan kue pada Hufar, dengan rasa penasaran yang memenuhi dada, Shuraka pun bertanya.

"Apa yang sedang kau rencanakan, Elora!?"

Shuraka bertanya dengan nada bicara yang santai, namun tatapannya begitu serius dan menusuk.

Layla tahu jika pria di hadapannya itu sedang memancing pertengkaran di antara mereka. Layla hanya menatap sinis ke arah Shuraka, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Tangan kanannya menopang dagu.

"Lebih baik ku abaikan saja. Tidak ada hal baik yang terjadi ketika dia membuka mulutnya."

Merasa diabaikan, Shuraka mulai sedikit kesal. Dia sangat benci ketika bicara namun tidak direspons. Mulai mengepalkan tangannya, menahan perasaan kesal di hati.

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, tapi sebaiknya kau berhenti saja. Sikap baikmu tidak akan membuatku menyukaimu."

Ucapan Shuraka seolah-olah terdengar bahwa dia meragukan sikap ramah yang Elora tunjukkan. Dia merasa jika Elora hanya berpura-pura untuk mencari perhatian saja darinya.

Layla yang mendengar Shuraka hanya mengoceh dan mengomentari sikapnya tentu tidak terlalu memperdulikannya. Namun mendengar perkataan bahwa sikap baiknya itu adalah palsu tentu membuatnya sedikit kesal. Namun Layla tidak ingin bertengkar dengan Shuraka, mengingat mereka memiliki misi yang sama. Melihat Elora yang tidak merespons pertanyaannya, Shuraka terlihat bingung. Sikap tenang dan cuek Elora membuatnya semakin penasaran pada wanita di depannya itu. Apakah itu pura-pura? Atau hanya trik baru Elora saja? Shuraka sangat ingin tahu.

Perjalanan mereka memakan waktu 1 hari. Mereka akan tiba di Kota Raven di keesokan harinya. Karena hari sudah gelap, Hufar memutuskan untuk bermalam di sebuah rumah persinggahan kecil yang biasanya memang dipakai untuk menginap.

Layla yang saat itu tertidur di dalam kereta, ia dibangunkan oleh Hufar.

"Maaf, Putri. Kita sudah tiba di rumah persinggahan. Kita akan beristirahat di sini malam ini."

Layla yang baru saja bangun, tentu masih belum mencerna apa yang Hufar katakan. Dia bangun dan membuka matanya. Terlihat kursi di hadapannya sudah kosong. Ternyata Shuraka sudah pergi lebih dulu.

Hufar masih menunggu Elora bangun. Dia berdiri di samping kereta di dekat pintu. Ketika membangunkan Elora, dia hanya berbicara tanpa membuka pintu.

Layla yang baru sadar jika saat itu sudah malam, dia pun keluar karena Hufar memanggilnya. Layla membuka pintu perlahan. Terlihat Hufar berdiri di samping kereta menunggunya.

"Hufar," sapanya dengan suara yang parau karena masih mengantuk.

"Maaf sudah membangunkan Putri," ucap Hufar menundukkan kepala.

Layla tersenyum.

"Tidak apa," ucapnya lembut.

Layla melangkah ingin turun. Hufar pun segera mengulurkan tangannya untuk membantu Elora.

"Terima kasih," ucapnya.

Dengan lembut Layla meraih tangan Hufar.

Tidak jauh dari sana, Shuraka memperhatikan mereka berdua. Shuraka yang saat itu sedang duduk di depan salah satu rumah persinggahan, menatap tajam ke arah Layla. Entah apa yang dipikirkan ketika itu, raut wajahnya terlihat kesal.

Setelah berhasil turun dari kereta, barulah Layla sadar di mana mereka berada. Banyak rumah-rumah kecil di hadapannya. Walaupun tampak kosong, namun rumah-rumah itu terlihat terang dari luar. Layla sedikit bernostalgia ketika melihatnya. Itu benar-benar mengingatkannya pada desa-desa kecil di dunianya.

"Kita ada di mana, Hufar?" tanya Layla seraya terus memperhatikan sekeliling.

"Kita berada di rumah persinggahan, Putri. Ketika melakukan perjalanan jauh, kita akan menginap di sini untuk beristirahat."

Walaupun Hufar menjelaskan dan menjawab pertanyaan Layla, namun dalam hatinya bingung.

"Bukan kah Putri sudah sering melakukan perjalanan? Tapi kenapa sikapnya seolah baru pertama kali melihat tempat ini?"

Walaupun bingung dengan sikap Elora, Hufar tidak terlalu memikirkannya. Ia mengambil barang-barang Elora, dan mengajak Elora untuk menuju ke tempat istirahatnya. Para prajurit yang lain disuruh berjaga di sekitar sana.

to be continue....

1
Musea
dah mampir nih, semangat ya dari sesama author👍
Ruby: 😍😍 ah, makasih banget, makin semangat nih nulis nya 🤭
total 1 replies
Ruby
jangan lupa tinggal kan jejak anda di sini 😊
Ruby
☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!