"Wanita bisa hidup bahagia tanpa lelaki." Itu tekad kuat yang Adira tanamkan pada dirinya.
*
Ketika bahagia terlalu lama menyapa, terkadang kita harus lebih waspada, karena bencana bisa datang di saat yang tenang, itulah yang di hadapi oleh Adira yang kini berada di jurang kehancuran. Ia tidak hanya kehilangan suami yang selama ini sempurna untuknya, tetapi juga orang yang selalu ada dan menemani setiap langkah di hidupnya sejak kecil.
Penderitaan Adira semakin dalam saat ia menyadari bahwa perselingkuhan ini bukan hanya mencuri kebahagiaannya, tapi juga kehidupan dan jiwanya.
Di tengah amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan, Adira menolak menjadi korban yang pasrah. Ia bangkit dengan tekad yang membara, membalikkan keadaan, dan melontarkan sebuah gugatan yang mengejutkan. "Aku Talak Suamimu!"
Keputusan berani ini bukan hanya tentang memutus ikatan pernikahan, tetapi juga sebuah deklarasi perang terhadap pengkhianatan. Karena Adira tidak sudi untuk di hina lebih jauh lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meidame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB
• Laut ribut
Kening Yovan berkerut saat mendengar Mira menyuruh Adira untuk menelepon Rain hanya untuk menjemput dirinya. Bukankah jika hubungan Mira dan Rain sedekat itu sampai bisa meminta jemputan, seharusnya Mira bisa menghubungi Rain sendiri tanpa menyuruh adiknya? Tetapi Yovan memilih untuk diam dan tidak mencampuri urusan kedua kakak adik tersebut.
"Kenapa kamu tidak hubungi langsung saja lewat hpmu Mira?" Tak habis pikir Adira dengan sikap Kakaknya ini. Dalam kesulitan selalu ada kesempatan yang tidak pas dia lakukan. Dan melibatkan orang di sekelilingnya untuk hal yang dia inginkan. Adira ingin menceramahi Mira bahwa dirinya kini tengah tidak baik-baik saja. Tetapi mengingat tabiat Mira yang sejak kecil memang seperti ini membuat Adira mengurungkan niatnya. Lagi pula tidak etis rasanya menasehati seseorang di depan orang lain.
Adira mengambil HP-nya yang tergeletak di meja samping ranjang, lalu mengirimkan chat pada Rain. Meminta bantuan pada lelaki itu untuk menjemput Mira sembari meminta maaf karena harus membuat Rain jadi kerepotan. Padahal Adira sadar, lelaki itu tidak menyukai Mira.
"Sudah aku chat, tinggal tunggu balasannya."
"Aku tidak bisa nunggu lama Dira.. jam 10 aku sudah harus sampai di tempat itu." Mira melirik jam di tangannya. "Coba kamu telfon saja."
"Gaenak Mira, masa pagi begini aku telfon dia, takutnya mengganggu."
"Kalau kamu yang telfon dia enggak bakal ngerasa terganggu, udah cepetan hubungin." Paksa Mira.
Sebenarnya Yovan mulutnya sudah sangat gatal untuk diam sedari tadi, dia ingin menjawab Mira dan mengusir gadis itu. Tetapi tertahankan karena Adira sudah mengode Yovan agar tidak ikut campur dalam urusan mereka.
Adira tidak langsung mengklik ikon telfon di layar hpnya. Dia menatap wajah Mira dengan lekat. Tujuan Mira datang kesini tadinya membuat Adira merasa di hargai. Namun ternyata Mira juga memiliki tujuan lain, dan selain dari itu, Adira sebenarnya sangat ingin tau apa yang terjadi setelah Mamanya keluar dari rumah sakit kemarin. Apakah hubungan antara mereka berdua benar-benar sudah terputus atau hanya gertak Mamanya saja.
"Kenapa kamu menatap aku begitu? Ih Adira ayolah aku tau kamu pasti penasaran soal Mama, tapi sebelum itu tolong telfon dulu Mas Rain. Sambil menunggu dia datang aku akan ceritakan semuanya ke kamu!" Bujuk Mira.
"Janji?" Adira menyodorkan jari kelingkingnya. Lalu bertaut dengan kelingking Mira.
"Iya janji! Ayo cepat, perjalanan ke sini cukup lama tau."
Adira pun segera menelepon Rain dan lelaki itu mengangkatnya. Kemudian Adira menyampaikan bahwa Mira meminta agar Rain mau mengantarnya kerja. Beruntung lelaki itu pun menyanggupi permintaan Adira.
"Makasih Dira! Kamu memang yang terbaik sedunia!"
"Sekarang ceritakan semuanya Mira."
Jantung Yovan berdebar kencang saat Mira benar-benar menceritakan semuanya tanpa bumbu tanpa filter bahkan benar-benar mentahan original pada Adira. Entah karena memang dia ingin bersikap jujur, atau sengaja menceritakan semuanya dengan detail agar Adira makin merasa sakit hati dan tidak berharga. Yovan tidak paham, namun yang Yovan lihat ekspresi Adira terlihat begitu tenang.
Seperti lautan biru yang indah, tenang, namun di ke dalamnya tidak bisa di prediksi apa yang ada di sana. Begitulah Adira saat menanggapi semua hal yang Mira ceritakan. Secepat itukah hati seseorang bisa menjadi beku? Atau itu adalah bentuk dari rasa kecewa yang tidak tau lagi harus bagaimana mengekspresikan nya?
Yovan tak ingin Adira kehilangan diri dan kebahagiaannya.
"Maaf ya Dira, aku sudah coba buat bujuk Mama.."
Adira menggeleng pelan, "Tidak apa-apa Mira. Sejak awal aku memang sendirian."
Lalu pintu kamar terbuka dan terlihat sosok Rain yang membawakan banyak makanan untuk Adira.
"Mas Rain!"
Rain melihat Mira dengan ekspresi heran, lantaran pakaian gadis itu yang cukup terbuka. Walaupun memang ingin pergi bekerja, bisa saja Mira memakai cardigan untuk menutup bagian atasnya. Ini adalah salah satu hal yang membuat Rain tidak tertarik dengan Mira.
Mata Rain lalu bertemu dengan netra Yovan. Seperti aliran listrik yang mengalir, keduanya seolah bisa paham dengan pikiran satu sama lain.