NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:792.2k
Nilai: 4.7
Nama Author: IE Dyozh

Pedang Langit adalah sebuah pedang yang ditempah dari logam terkuat dari tujuh semesta oleh Sin Sai Sebelum menjadi penguasa langit ribuan tahun yang lalu.

Sin Sai hanya manusia biasa yang memiliki kesaktian yang amat dahsyat. Ia sungguh manusia tak terkalahkan. Bahkan, para Dewa pun tidak dapat menandingi kehebatannya.

Karena kekuatan besar yang dimiliki oleh Sin Sai ketika itu, Dewan Langit kemudian bersepakat untuk mengangkat Sin Sai yang hanya manusia biasa menjadi Raja Langit demi melindungi Negeri Langit dari serangan Raja Naga Merah yang hendak menghancurkan Negeri Langit dan menguasai alam semesta.

Dewan Langit tidak sia-sia mengangkat Sin Sai menjadi raja di Negeri Langit. Sin Sai berhasil menghancurkan pasukan Raja Naga Merah ketika menyerang Negeri Langit.

Walaupun Sin Sai berhasil melindungi Negeri Langit, Keluarga Yong tidak rela jika harus menjadi bawahan seorang manusia biasa. Mereka kemudian berusaha menyingkirkan Sin Sai dan semua keturunannya dari Negeri Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IE Dyozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 21 - Pengorbanan Malaga

Semua prajurit berpencar di seluruh penjuru sekolah mencari tubuh Firon namun tidak menemukannya.

“Apa yang harus kukatakan pada Jenderal Moo jika aku tidak dapat menemukan mayat bocah itu?” Komandan Jio yakin Jenderal Moo pasti akan memarahinya jika dia tidak membawa mayat Firon ke hadapannya.

“Kenapa bocah itu bisa menghilang?” Benak Komandan Jio terus bertanya-tanya.

Raut wajah Komandan Jio yang tadinya kelihatan bimbang berubah menjadi tersenyum tatkala ia menemukan sebuah solusi dari masalah yang dihadapinya.

“Prajurit, kumpulkan semua bocah yang ada di sekolah ini!” Komandan Jio terlihat begitu yakin dengan rencananya.

Para prajurit kemudian berhasil mengumpulkan semua siswa yang ada di sekolah tersebut. Satu-persatu para siswa itu dipandangi oleh Komandan Jio dengan seksama. Komandan Jio kemudian memilih seorang siswa diantara puluhan siswa yang ada.

“Yang lainnya masuk kembali, aku tidak membutuhkan kalian. Aku cuma butuh bocah ini!” Komandan Jio menatap tajam ke arah bocah yang baru saja dipilihnya. Bocah itu memiliki tampang yang agak mirip dengan dengan Firon.

Tuan Murai, Guru Guyo dan beberapa orang pendekar yang terluka parah yang turut menyaksikan tindakan Komandan Jio terlihat bingung, namun tidak berani membantah apalagi melawan. Mereka semua kemudian digiring masuk ke sebuah ruangan lalu kemudian dikurung.

Setelah para prajurit sudah kembali semua, Komanda Jio kemudian memerintahkan untuk menyegel seluruh area bangunan sekolah dengan ilmu penyegel yang dimiliki Pasukan Elit.

“Bakar sekolah ini dan pastikan semuanya mati!”

Salah seorang prajurit pengguna elemen api kemudian membakar bangunan sekolah. Dengan cepat api membakar seluruh gedung sekolah. Hanya dalam waktu beberapa menit bangunan sekolah tersebut berubah menjadi puing-puing.

“Sekarang bunuh bocah itu dan ambil kepalanya untuk kita bawa ke hadapan Jenderal Moo!” Komandan Jio mengarahkan pandangannya ke arah bocah yang dipilihnya tadi. Bocah itu terlihat gemetar.

Dengan satu kali tebasan yang dilakukan salah seorang prajurit, kepala bocah malang itu kemudian menggelinding di tanah meninggalkan tubuhnya.

Komandan Jio dan seluruh anggota pasukannya kemudian meninggalkan tempat itu dengan membawa kepala bocah malang yang entah siapa namanya itu sebagai pengganti kepala Firon. Tentunya Komandan Jio berencana memberitahu Jenderal Moo bahwa kepala yang ia bawah itu adalah kepala Firon.

Setelah melangkah beberapa langkah meninggalkan gerbang sekolah, Komandan Jio baru menyadari sesuatu, “Kenapa tidak terdengar teriakan ya?.”

Sudah dua perkara aneh yang terjadi di depan mata Komandan Jio. Pertama saat tubuh Firon yang tiba-tiba menghilang, dan yang kedua ketika tidak ada seorangpun yang berteriak saat bangunan sekolah beserta orang-orang di dalamnya dibakar.

Komandan Jio awalnya terganggu dengan perkara tersebut, namun ia lebih memilih untuk tidak mempedulikannya lagi. Ia hanya ingin segera meninggalkan tempat yang ia anggap aneh itu.

Pemandangan dari arah bukit tempat Malaga berdiri terlihat sangat indah. Bukit yang memanjang mengelilingi Kota Penyu yang kini bernama “Kota Mojo Selatan” berbentuk huruf U yang sisi selatannya adalah bibir pantai yang berbentuk cekung sehingga area Kota Mojo Selatan terlihat seperti sebuah bibir yang sedang tersenyum ke arah bukit.

Malaga bisa melihat degan jelas Sekolah tempat Firon dulu belajar telah terbakar. Api yang sangat besar membakar habis semua bagian bangunan sekolah. Hanya gerbang tanpa pintu dan pagar setinggi orang dewasa yang selamat dari amukan Si Jago Merah.

Malaga memeriksa nadi di pergelangan tangan Firon. Raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang amat besar.

“Ternyata anak ini masih hidup! Bagaimana bisa?”

Meski menyadari Firon masih bernyawa, dan terkejut atas kenyataan itu, Malaga tetap saja menunjukkan kekhawatiran yang amat besar dari raut wajahnya.

“Anak ini tak akan bertahan sampai besok” Gumam Malaga sambil menatap Firon dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah langit.

“Aku tidak dapat melindungi anaknya, kini aku juga tak mampu menyelamatkan cucunya! Patutkah hal ini dikatakan balas budi?”

Dengan pikiran semacam itu berkelebatan di benaknya, Malaga kemudian mendapati dirinya hanya memiliki satu solusi. Yaitu pengorbanan.

“Ini adalah satu-satunya jalanku, dan aku harus menempuhnya dengan senang hati!”

Malaga kemudian berdiri tegak menghadap ke arah Firon yang tengah terbaring di tanah. Ia kemudian mengepakkan sayapnya sebanyak tujuh kali lalu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan sayap tersebut. Sayap

yang membungkusnya itu seolah-olah berubah menjadi sebuah kain sutra yang melilit-lilit hingga dirinya kini terlihat seperti kepompong dan perlahan-lahan berubah menjadi bola cahaya bewarna biru gelap sebesar roda kereta kuda. Bola cahaya itu kemudian perlahan-lahan bergerak hingga berada pada posisi tepat di atas tubuh Firon. Bola cahaya itu kemudian menyentuh tubuh Firon lalu melebur dan menyatu dengan seluruh bagian tubuh Firon.

Tubuh Firon melayang setinggi dua meter dari tanah. Cahaya yang menyelimuti seluruh tubuhnya semakin membesar hingga pada akhirnya cahaya itu menjadi redup dan hampir padam. Tubuh Firon kemudian turun menyentuh tanah dengan sangat perlahan, seolah ada yang meletakkannya dengan sangat hati-hati.

Suasana yang semula tampak cerah tiba-tiba menjadi kelabu. Butiran-butiran air perlahan berguguran menerpa wajah Firon yang nampak bercahaya. Langit seolah bersedih menyaksikan pengorbanan yang dilakukan oleh Malaga.

Langit seolah meregek-rengek tidak membiarkan Malaga sang putra mahkota, penerus Raja Lagalu penguasa Negeri Obix mengorbankan dirinya hanya demi seorang anak setengah dewa yang sudah menjadi yatim piatu

dan berada di ambang kematian.

Langit yang tadinya hanya mencurahkan setitik demi setitik butiran air, kini mengeluarkan suara halilintar yang menggema dan bergelegar bersahut-sahutan. Hujan semakin deras menimpa bumi. Namun anehnya, air hujan itu sama dekali tak menyentuh kulit maupun pakaian Firon. Cahaya yang menyelimutinya seolah melindunginya dari air hujan.

Tiba-tiba sesosok lelaki tua yang mengenakan jubah putih dengan rambut panjang yang seluruhnya sudah memutih melayang-layang tidak jauh dari tempat Firon masih terbaring. Lelaki tua itu memegang tongkat yang panjangnya sesiku yang dihiasi dengan bulu yang berada tepat di ujung tongkat tersebut.

“Terima kasih Pangeran, kau telah menyelamatkan cucuku!” Gumam Sintoga menyadari Malaga mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Firon.

Sintoga kemudian meraih tubuh Firon yang masih bocah berumur tujuh tahun itu dan menggendongnya. Ia kemudian terbang ke arah timur dengan kecepatan tinggi.

Hanya dalam waktu yang relatif singkat, Sintoga tiba di benua hitam dan Kemudian berhenti tepat diatas sebuah danau. Ia memandangi jajaran bunga teratai yang tumbuh rapi dibibir danau itu sebelum memutuskan mendaratkan kakinya di dekat bibir danau tersebut.

“Kini akulah yang akan menjagamu untuk menebus kesalahanku terhadap ibumu di masa lampau!”

Sintoga memandangi Firon penuh makna. Ia bertekad untuk menjaga Firon meskipun harus melanggar hukum langit.

1
Wirata
lanjutkan aja thor
Khoirul Anam
bagus
alexander
bagus ceritanya
🙏Numpang mampir moga Alurnya 👍
Ajo Firman
keknx ya ceritanya asal asal bikin aja....
Kumix Anto
wow kemana thour apa iya udah almarhum nih
Husen
Ia LG asyik baca lupa komen author n jgn cari yg hilang Tp LBH baik mensyukuri ya ada
wong ndéso
mulai baca hari ini dr CH 1 meloncap ke chp ini
ADjalius
lanjut...
Yakub Hadi
lanjutkan lagi
Yomz Tadde
yes mntp
Yomz Tadde
mantap
Yomz Tadde
ok
Husen basalamah
yaa.. putus lagi, thir kapan yaa.. sambung lagi
Djoko Sulistiyono
kasih kabar dong Author, jangan terus menghilang bagai ditelan bumi.
Djoko Sulistiyono
waduuuuhhh, sudah 11 bulan kok belum update Author, apa sudah berhenti kontraknya dengan Novetoon ya .....
sinici kudo
lanjut thor
Untung Susilo
lanjut THOR
Untung Susilo
hmmmmmmmmmm
Untung Susilo
UP UP UP UP UP UP
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!