Selama belasan tahun Alesha Kamil sendirian membesarkan keponakannya, Azzam. Ia berharap seluruh cinta yang ia berikan dapat menggantikan figur ayah yang tak pernah dikenal anak itu.
Namun tiba-tiba, suatu hari Keenandra Malik Gunawan mendatangi Alesha di rumahnya. Musisi yang terkenal playboy itu sebetulnya ayah kandung Azzam, dia datang karena surat-surat kaleng yang berisi pemberitahuan jika dia memiliki seorang anak.
Akankah Keenan mengambil Azzam dari Alesha yang sudah mengurus dan membesarkannya? atau Keenan justru menginginkan yang lain?
Yuk baca selengkapnya di Dia juga Anakku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
“Bagus sekali, Eyang. Terima kasih.”
Dengan sopan Azzam menerima gantungan kunci yang dibuat Hana untuknya beberapa minggu lalu saat kondisinya masih stabil.
“Sebentar lagi kau ulang tahun, itu hadiah untukmu,” ucapannya lambat namun dapat dimengerti. “Mungkin kau bisa memakainya, semoga kau suka.”
Meski kondisi kejiwaannya terganggu, Hana tidak pernah lupa hari ulang tahun cucu semata wayangnya, ia begitu menyayangi Azzam.
“Gantungan ini bagus sekali, Eyang. Aku akan menggantungnya di tas sekolah,” ujar Azzam. Piringan plastiknya bertuliskan namanya yang tampak menonjol. “Sekali lagi terima kasih Eyang.”
“Kalau sudah punya SIM nanti, kau harus hati-hati saat menyetir,” ucap Hana cemas. “Eyang jadi teringat Mamamu.” Air mata mulai menggenang di sudut mata Hana.
Alesha menyampirkan tangan di bahu ibunya untuk membuatnya tenang. “Azzam sangat berhati-hati kok, Mi.”
“Ya, aku akan berhati-hati, Eyang. Aku tidak akan minum alkohol dan melakukan apa pun yang membuat Ibu cemas.”
Hana tampak tenang, dari dulu Azzam selalu menuruti perkataan Alesha. Hana mulai memejamkan matanya perlahan, lalu membukanya kembali.
“Ummi sudah lelah?” tanya Alesha.
Hana selalu senang bertemu dengan Azzam, tapi kehadiran cucunya itu itu membuatnya letih, sebab ia begitu bersemangat mendengarkan cerita-cerita Azzam, dan itu menyedot seluruh energi dan oksigennya.
“Sedikit. Tapi kalian jangan pergi dulu.”
“Bagaimana kalau kau menunggu di luar saja, Azzam? Ibu mau membantu Eyang siap-siap tidur? Setelah itu kau bisa kembali untuk berpamitan.”
“Baiklah,” ujar Azzam cepat. Ia tidak pernah menolak untuk mengunjungi neneknya, tapi Alesha tahu anak itu selalu sedih jika datang kemari. Azzam tidak bisa menerima kerapuhan dan kondisi eyangnya.
Selama lima belas menit berikutnya Alesha membantu ibunya untuk bersiap-siap tidur. Seorang perawat masuk membawa obat, dalam sekejap pil itu mulai bekerja dan Hana langsung tertidur.
Alesha membuka laci ibunya untuk menukar beberapa pakaian. Saat itulah ia menemukan kotak peralatan menulis, sebuah bolpoin dan tempat prangko. Untuk sesaat ia hanya terpaku memandang semua itu, ingin tahu siapa yang disurati ibunya. Ibunya belum pernah meminta peralatan tulis darinya, dan beliau juga belum pernah meminta bantuannya untuk menulis surat.
Lalu kenyataan yang mengerikan itu menghantamnya.
Hana mendengkur pelan, dadanya naik turun dengan teratur. Tapi dalam tidurnya ia tidak tampak tenang, ada lekukan ketidakpuasan di antara alisnya, dan bibirnya melengkung ke bawah. Hana menjalani akhir hidupnya sebagai seorang wanita yang sama sekali tidak bahagia, karena badai yang menghantam keluarganya.
Alesha meninggalkan kamar dan langsung menuju tempat perawat. “Maaf,” ujarnya, bertanya pada perawat yang sedang tugas jaga, “Apakah ibuku akhir-akhir ini mengirim surat?”
Perawat itu tersenyum. “Ya, itu sungguh luar biasa. Belum pernah ada pasien dengan gangguan jiwa yang mampu menulis surat, kami sangat bangga padanya. Anda pasti tahu betapa sulit baginya untuk menulis dalam kondisinya yang seperti itu? Nyonya Hana perlu waktu satu sampai dua minggu untuk menulis sepucuk surat.” Lalu, perawat itu melihat kecemasan di wajah Alesha, ia bertanya, “Apa ada masalah?”
“Apa Anda tahu kepada siapa ibuku mengirimkan surat-surat itu?”
“Tidak, maaf. Itu privasi beliau, Pak pos yang mengambilnya langsung saat Nyonya Hana ingin mengirimnya.”
“Tidak apa-apa. Terima kasih.”
Alesha berbalik dan dengan perlahan berjalan kembali ke lorong. “Ibu tadi ke mana?” tanya Azzam saat ia berlari di belokan dan nyaris menabrak ibunya. “Aku masuk untuk berpamitan, tapi Ibu tidak ada.”
Alesha menggelengkan kepalanya samar. “Hanya kedepan sebentar, ayo kita pulang.”
Setibanya di rumah, ia berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi ia tidak mampu berkonsentrasi. Nuraninya terlalu sibuk, Alesha tidak terlalu yakin, tapi kemungkinan besar ibunyalah yang mengirimi surat-surat itu pada Andra.
Meskipun merasa berat bertemu dengan Andra, tapi Alesha harus segera memberitahu pria itu, ia harus mengatakannya langsung pada Andra.
Setelah melemparkan kuasnya dan menutup cat catnya, Alesha masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, lalu pergi ke kamar Azzam. Anak itu sedang bersandar di kepala ranjangnya, dengan sebuah buku sejarah yang terbuka di pangkuannya, mendengarkan musik. Ia melepaskan airphone-nya ketika melihat ibunya berdiri di ambang pintu.
“Hah?”
“Ibu harus pergi.”
Azzam melirik jam di dinding. “Sekarang sudah hampir jam sepuluh.”
“Ibu tahu. Ibu hanya sebentar.”
“Ibu mau ke mana? Ke toko? Aku ikut, ya? Biar aku yang menyetir untuk Ibu.”
“Tidak. Ibu tidak pergi ke toko.”
“Lalu ke mana? Ada apa, Ibu? Apa terjadi sesuatu pada Eyang?”
“Tidak, bukan apa-apa kok. Kamu belajar saja, kan masih ujian?”
“Iya, tapi...”
“Jangan menunggu Ibu pulang! Kalau sudah belajarnya, dan Ibu belum pulang. Kau istirahat duluan, pastikan semua pintunya sudah terkunci.”
“Oke.” Azzam mengerutkan dahi. “Kenapa Ibu tidak mau berterus terang apa sebenarnya yang terjadi?”
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Azzam.” Alesha meniupkan cium jauh dan pergi sebelum Azzam mengajukan pertanyaan yang harus dijawabnya dengan dusta.
***
Dalam perjalanan ke rumah Andra, Alesha berlatih apa yang akan dikatakannya. Ia ingin semuanya singkat dan tidak berbelit-belit, ia tidak ingin berlama-lama di rumah pria itu.
Tapi tampaknya ia tidak mungkin berduaan dengan Andra, karena begitu berbelok di jalan menuju rumah Andra, Alesha melihat deretan mobil mewah terparkir di kedua sisi jalan.
Musik yang keras terdengar dari rumah pria itu, sudah jelas Andra sedang mengadakan pesta. Alesha langsung berpikir untuk pulang, tapi batinnya menginginkan ia melanjutkannya.
Jadi, setelah memarkir mobilnya, Alesha berjalan menuju pagar pribadi yang ia tahu itu jalan menuju halaman belakang. Beberapa tamu sedang bersenang-senang di kolam renang, pinggir kolam penuh oleh orang. Terlihat jelas, kerumunan orang-orang yang terpilih.
Berjalan melewati kerumunan itu, Alesha dilirik oleh dua orang koboi, yang masing-masing sedang mencumbu wanita sexy yang hampir tanpa busana. Kedua orang itu nampak terkejut dengan kedatangan gadis yang mengenakan gamis dan kerudung panjangnya.
Alesha tidak peduli ia terus berjalan, namun langkahnya terhenti ketika ia menginjak sesuatu yang basah. Alesha menunduk dan melihat sebuah bra bikini yang basah kuyup, ia tidak tahu dari mana asalnya.
“Hei.”
Alesha berbalik dan melihat seorang pria duduk bersila di atas bangku santai, rambut putihnya yang panjang diikat dengan sebuah ikat rambut yang norak, dan matanya merah. Jelas pria itu sedang mabuk oleh sesuatu yang diisapnya. “Anda menghalangi pandanganku,” ujarnya tenang.
“Oh, maaf.” Alesha kembali berbalik, rupanya si pria itu sedang memandangi segerombolan wanita yang sedang renang di sebrangnya yang terhalang oleh Alesha. Ia pun kembali berjalan, melangkah dengan mantap menuju rumah karena Andra tidak kelihatan di luar.
Dapur adalah satu-satunya ruangan yang terang, di sana terdapat sekelompok pria dan wanita tengah berkumpul. Beberapa di antaranya Alesha pernah melihatnya di acara jamuan beberapa waktu lalu.
“Dia memainkan nada yang begitu rendah.”
Itu suara Andra, ia tengah duduk di atas kursi yang terbalik, dengan tangannya memeluk punggung kursi. Seorang wanita berambut merah duduk di belakangnya, memijati punggungnya dan menjilati telinganya.
Alesha ingin berjalan menyeberangi ruangan dan menampar mereka berdua dengan keras, tapi sayangnya seumur hidup ia belum pernah memukul siapa pun.
Salah satu dari mereka melihat Alesha, pria itu mengerutkan keningnya memandangi Alesha. "Apa aku terlalu banyak minum? Sampai-sampai berhalusinasi melihat seorang ustadzah ada di sini?"
Semua orang langsung menengok ke arah Alesha, dan Andra pun langsung melonjak dari kursinya, membuat si rambut merah di belakangnya terjatuh ke lantai. “Pestanya sudah selesai.”