Kisah cinta dua remaja yang membawa mereka pada impian untuk sehidup sesurga.
“Lima tahun lagi aku akan datang melamarmu, tunggu aku” kalimat itu meluncur begitu lantang dari lisan seorang pemuda berseragam putih abu, di hadapannya seorang perempuan berjilbab putih yang menjulur menutupi hampir seluruh tubuhnya tengah tertunduk malu.
“Tak perlu mengikatku dengan janji. Bila aku takdirmu, kita pasti akan bertemu. Untuk sekarang, kita kerjakan bagian kita masing-masing, aku dengan hidupku, kamu dengan hidupmu. Perihal temu, datanglah bila sudah benar-benar siap. Itu juga bila belum ada yang mendahuluimu.” Helaan nafas terdengar menjadi pamungkas dari ucapan gadis itu.
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia?
Atau justru hadir orang yang mendahului?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatus Sakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Sahabat
Kamilia meraih undangan yang baru saja selesai dicetak. Tahap finishing tengah dilakukan beberapa karyawan. Cakra sedang berbincang langsung dengan pemilik percetakan yang dipercaya sebagai vendor pengadaan undangan pernikahannya, dia sudang sangat akrab, mereka berkuliah di tempat yang sama sehingga bukan hal aneh bagi Cakra jika dia mendapatkan pelayanan istimewa dari perusahaan percetakan milik sahabatnya itu.
"Amazing banget lho, seorang Cakra mau turun tangan langsung mengurusi hal remeh temeh seperti ini" ungkapan mengandung ejekan dilontarkan oleh sang sahabat, dia yang sedang meeting dengan klien buru-buru kembali ke kantor saat mendapat kabar dari karyawannya jika Cakra datang.
"Aku hanya memastikan semuanya sempurna sesuai dengan apa yang pernah kau katakan sebelumnya" dengan ekspresi datar dan santai Cakra berucap, dia kembali membolak balik dan meneliti setiap sisi undangan, memastikan semua sesuai dengan seleranya.
"Aku akan berusaha dengan keras untuk mewujudkan harapanmu" ucap sang sahabat yang bernama Yandi,
"Bye the way, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Yandi dengan tatapan mengarah pada Kamilia yang sedang berbincang dengan salah satu karyawan wanitanya.
"Jangan menatapnya terlalu lama!" sentak Cakra yang menyadari jika Yandi tengah memerhatikan Kamilia dengan cukup intens.
"Sorry ...sorry ..." ucap Yandi yang mengelak karena hampir saja bantal sofa menimpa wajahnya,
"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Cakra, dia menyeruput kopi yang terhidang di hadapannya.
"Sejak kapan selera seorang Cakra Mahardika Wira berubah selera?" Yandi adalah salah satu sahabat Cakra yang cukup dekat dan hampir semua hal tentang Cakra dia ketahui, empat sekawan yang saat ini memiliki bisnis berbeda, bertemu sejak awal kuliah hingga kini jalinan persahabatan mereka masih terjalin sangat baik.
Yandi adalah sahabat yang paling dekat dengan Cakra karena mereka berada di kota yang sama, sedangkan dua sahabat lainnya yaitu Pandu dan Dewa mereka hanya bertemu pada momen tertentu karena keduanya tinggal dan mempunya bisnis di kota yang berbeda. Pandu di Yogyakarta, dia adalah pengusaha kuliner dan sukses memiliki restoran dengan beberapa cabang yang tersebar di Yogya, sedangkan Dewa dia memilih Bandung sebagai tempatnya mengembangkan bisnis di bidang properti karena dia memang lahir di kota kembang itu.
Yandi dan kedua kawannya tahu wanita seperti apa yang pernah menjalin kasih dengannya. Sang reporter berita yang terkenal dengan segala prestasi dan kepiawaiannya dalam membuat dan membawakan berita menunjukkan seperti apa kapasitas kekasih Cakra.
Rambut panjang, make up, penampilan modis dengan brand terkenal dan harga gak kaleng-kaleng melekat jelas pada kekasih Cakra yang kawan-kawannya pun ketahui sekarang sudah menjadi mantan.
"Jangan bilang kalau kau menjadikannya hanya sebagai pelampiasan" ujar Yandi lagi, Cakra menghembuskan nafasnya kasar. Dia tahu kawan-kawannya pasti akan meragukan perihal kesungguhan dirinya menikahi Kamilia.
"Aku tidak tahu!" jawab Cakra, matanya menatap setiap tingkah Kamilia yang terlihat asik bersama karyawan-karyawan Yandi. Walau pun mereka sangat dekat tapi Cakra adalah tipe orang yang sulit berbagi cerita, apalagi yang menyangkut privasinya.
"Kelihatannya dia cukup baik, aku harap kamu tidak salah dalam mengambil keputusan" Yandi melihat keraguan di wajah Cakra, dia faham hubungan cinta yang terjalin antara Cakra dengan Alexina Delia tidaklah sebentar. Kenangan yang tercipta pun pasti tidak sedikit, maka hal yang wajar jika Yandi khawatir jika Cakra hanya menjadikan ini pelampiasan emosinya karena ditinggalkan begitu saja oleh Alexina.
"Do'akan saja" tukasnya, membuat Yandi hanya geleng-geleng kepala mendengar respon sahabatnya itu. Selalu datar minim ekspresi.
"Sudah puas melihatnya?" Cakra memilih beranjak dan mendekati Kamilia setelah obrolannya dengan Yandi selesai,
"Mas ..." respon Kamilia, dia berdiri dari tempatnya duduk karena jaraknya dengan Cakra begitu dekat.
"Kita akan lanjut ke butik untuk fitting baju" seru Cakra yang menyadari posisinya, dia pun sedikit mundur karena melihat ketidaknyamanan di mata Kamilia.
"Iya" jawab Kamilia singkat,
Keduanya pun pamit setelah berbalas salam dengan Yandi yang mengiringi kepergian mereka dengan lambaian tangan seiring dengan melajunya mobil yang dikendarai Cakra.
"Mas, ini gak apa-apa aku terlambat, aku belum mengabari Feli lagi akan datang terlambat" Kamilia merogoh tasnya mencari-cari ponsel yang sejak tadi tidak dibukanya.
"Mama sudah tahu kemana kita, jadi Feli juga pasti tahu" jelas Cakra yang menatap Kamilia sekilas, sementara gadis itu tengah fokus pada ponselnya yang memperlihatkan deretan pesan dari beberapa kontak termasuk salah satunya dari Feli.
Dari sekian deretan pesan yang masuk ke aplikasinya, pesan dari Elisha sahabatnya menjadi perhatiannya setelah dia membalas pesan Feli dan calon ibu mertuanya.
"Kamil, aku lagi di mall XX nih, ada reuni dadakan, teman-teman kita yang ada di Jakarta lagi ngumpul di sini" sebuah foto yang menunjukan gambar beberapa orang yang sangat dikenal Kamilia pun terpampang di layar ponselnya.
Ada Humaira, Maryam, Naura, Aziz, Fadil dan juga Rasyad, tidak lupa Elisha yang menghiasi layar paling depan karena dirinya yang melakukan foto wefie.
Seulas senyum pun terbit di bibir Kamilia, dia senang melihat teman-teman seangkatannya kini telah menjadi orang-orang sukses, keempat teman perempuannya sama-sama berkarir di dunia kesehatan, ada yang jadi dokter, perawat dan juga bidan, sementara ketiga teman laki-lakinya dia tidak tahu karena memang dirinya tidak terlalu dekat dengan teman laki-laki sejak dulu.
"Ada apa?" tanya Cakra yang melihat sekilas dan senyuman Kamilia tertangkap netranya.
"Hah?"
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Cakra lagi, dia mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang karena memang jalanan cukup ramai lancar.
"Ini ada temen yang kirim foto, mereka lagi reuni dadakan" jelas Kamilia sekilas,
"Teman?"
"Teman seangkatan waktu SMA di Garut, ternyata bukan hanya aku yang merantau ke Jakarta tapi mereka juga" jelas Kamilia lagi, dia masih menggenggam ponselnya setelah membalas pesan Elisha.
"Kamu mau bertemu mereka?" tanya Cakra di luar dugaan,
"Ah tidak, kita kan juga ada keperluan" jawab Kamilia, dia kembali menyimpan ponsel ke dalam tas.
"Memangnya mereka dimana acaranya?"
"Katanya di mall XX, Mas"
"Kebetulan kita juga mau ke sana, butik temannya mama ada di mall itu juga. Kalau mau kamu bisa mampir" Cakra memberi penawaran dengan tersenyum manis.
"Benarkah?" binar bahagia terlihat jelas di mata Kamilia mendengar penawaran Cakra,
"Tapi dengan satu syarat" saut Cakra cepat,
"Apa syaratnya?" wajah Kamilia berubah sendu, binar matanya perlahan menyusut, dia tidak yakin bisa memenuhi syarat yang ditentukan Cakra.
"Kamu harus memperkenalkan aku sebagai calon suamimu" tegas Cakra dengan nada serius.
"Deal!" sahut Kamilia tanpa pikir panjang, membuat Cakra semakin melebarkan senyumnya.
Dua puluh menit berlalu, mobil yang dikendarai Cakra sudah terparkir rapi di parkiran VIP mall, Kamilia sempat heran kenapa Cakra parkir di sana tapi lagi-lagi dia sungkan untuk bertanya.
"Kamiiil ..." teriakan Elisha langsung menyergap telinga Kamilia yang sedang mencari-cari keberadaan sahabat-sahabatnya itu. Lambaian tangan para sahabat membuat Kamilia berjalan lebih cepat menuju meja mereka,
"Sayang, hati-hati jalannya" peringatan Cakra serupa alarm yang mengingatkan Kamilia jika dirinya datang ke sana tidak seorang diri, percakapan di mobil tentang syarat jika dirinya harus memperkenalkan Cakra sebagai calon suami pun kembali terngiang.
"Hhee ...maaf" Kamilia memperlambat jalannya dan kini sudah berjalan bersisian dengan Cakra.
"Assalamu'alaikum" empat wanita berhijab dan tiga pria menyambut kedatangan dua sejoli ini dengan membalas salam dengan kompak, keenam teman lama Kamilia menyambutnya dengan sukacita, mereka pun turut berbahagia dan mendo'akan akan kelanggengan hubungan Kamilia dengan Cakra saat Cakra diperkenalkan Kamilia sebagai calon suaminya.
Berbeda dengan teman-temannya yang lain mereka larut dalam obrolan pasca saling berkenalan, Elisha justru tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Cakra bahkan dengan mudah berbaur dengan mereka. Bahkan salah satu dari teman laki-laki Kamilia justru langsung akrab dengan Cakra yang katanya adalah bossnya.
"Wah Pak Cakra ternyata calon Kamilia, kalau ini sih boss aku Lia" ucap Fadil yang kembali merangkul Cakra dengan akrab, mereka beberapa kali bekerja sama dalam bisnis.
"Ah Pak Fadil bisa saja!" elak Cakra merendah.
Elisha memindai laki-laki di hadapannya itu penuh selidik, dalam hati dia berharap laki-laki yang menjadi pilihan sahabatnya itu benar-benar tulus dan bisa membahagiakan Kamilia. Elisha tahu seperti apa polosnya Kamilia dalam hal percintaan, selama bertahun-tahun ini hidupnya hanya dalam penantian, menjunjung tinggi kesetiaan atas nama komitmen yang telah disepakati. Dunianya tentang laki-laki hanya tentang Ariq. Namun realitanya Kamilia harus dibersamakan dengan orang baru yang sama sekali tidak diketahuinya.
"Kamil, semoga kamu bahagia ya" bisik Elisha tepat di telinga Kamilia setelah usai dengan observasinya terhadap calon imam sahabatnya itu.
nyesek banget saya thorr.
dl mantan lakiku jg gt, pas bebenah nemu foto mantan cewenya. Malah di motor yg sering dinaikin bareng masih ada stiker nama mantan. Dan waktu itu aku ga ambil pusing untungnya aku jg ga baper, yg penting sikap pasangan
LUAR BIASA, DEEP banget kisahnya.
Konsepnya bagus banget.
Alur dan konfliknya fokus ga kemana2 bikin tenggelam di ceritanya.
Dijamin baper, aku ampe terngiang2 walau udh selesai baca.
Bahasanya rapi bgt lagi.
MAKASI KAK udah luangin waktu, pikiran, perasaan ke karya ini.
SEHAT SELALU, MAKIN SUKSES, BAHAGIA ❤️
Kalo boleh saran kak, misal ada spin off atau sequel gitu ditulis di deskripsi. Biar enak baca sesuai urutan walau sebenernya ga tll masalah sih tp jd nyaman.
Tp ga mengurangi rasa kagum dan terimakasihku untuk karyanya ❤️
Semoga ada cctv dan liat plat motornya