Kecelakaan kerja yang dialami oleh Kavita Ressa membuatnya merasakan mati suri dan mendapatkan kembali kemampuan mata batinnya. Banyak penampakan yang dia lihat dan kejadian yang dirasakan. Bersama dengan Dewa Putra Sadam, menguak misteri masa lalu sebuah desa.
Adakah hubungan antara Dewa dan Kavita dengan misteri tersebut? Dapatkah menghentikan misteri yang meninggalkan luka dan dendam?
====
Khusus penggemar kisah horror dan misteri.
follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 ~
Pov Kavita
Kepalaku rasanya berdenyut, perlahan mataku mengerjap. Kelambu, aku melihat kelambu dan menyadari kalau ini bukan ranjang dan kamar yang biasa aku tempati.
Sret
“Auw. Kenapa terikat.”
Kedua tangan dan kakiku ternyata terikat, juga pakaianku sudah berganti. Berusaha melepas ikatan ternyata percuma, karena ikatannya sangat kencang dan hanya akan melukai kulitku.
“Kamu sudah sadar.”
Aku menoleh mendengar suara, suara Bajra. “Kenapa aku di sini? Lepaskan!”
Bajra terkekeh lalu duduk tepat di sampingku. Tentu saja otak dari semua rencana ini adalah dia, penjahat yang keji. Aku sungguh muak menatap wajahnya.
“Tenanglah, banyak bergerak hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”
“Lepaskan aku, Ibu pasti khawatir. Bukannya kamu menyukai Ibu?”
Lagi-lagi Bajra terkekeh. Entah bagian mana yang lucu atau mungkin dia sudah gil4 dan sekarang tangannya menyentuh wajahku. Aku menggeleng untuk menghindar dari sentuhannya.
“Tenang sayang, aku hanya akan mengadakan sebuah ritual. Kamu harus membantuku, bersikap baik akan sangat bagus. Agar kamu tidak merasakan sakit.”
“Tidak, lepaskan aku! Tolong, siapapun tolong aku!”
Bajra malah tergelak, padahal aku masih berteriak. sepertinya usahaku sia-sia, pria ini santai saja dengan teriakanku artinya tidak akan ada yang datang meski mendengarnya.
“Percuma, tidak akan ada yang mendengarmu.”
“Lepaskan aku, penjahat. Aku tahu apa yang kamu lakukan, pembunuh. Kamu yang sudah membunuh ayah,” jeritku dan pria itu masih saja tersenyum tanpa rasa bersalah.
“Gadis secantik kamu, jangan berkata kasar. Bersikap lembut dan menurutlah, itu yang paling baik untukmu saat ini. Jangan melawan karena percuma, tidak akan ada yang menolongmu. Aku butuh bantuanmu untuk membuat ritualku lebih sempurna.”
“Kamu jahat Bajra, bahkan kejam seperti iblis.”
“Sttt,” telunjuk Bajra ditempelkan di bibirku seakan memintaku untuk diam. “Tidak baik, bicara begitu.”
“Karena nyatanya kamu memang begitu, aku tahu apa yang kamu lakukan malam itu. Kematian Ayahku, semua adalah rencanamu.”
“Hati-hati Vita, itu sama saja fitnah. Kamu tidak ada bukti ‘kan? Nah, itu artinya fitnah dan fitnah lebih kejam dari membunuh. Yang menghabisi Ayahmu adalah warga, karena Ayahmu dukun santet.”
“Aku tidak fitnah, semua yang terjadi aku melihatnya. Aku menyaksikan dengan jelas kejadian malam itu, Ayah tidak bersalah dia hanya mantri. Justru kamu yang dukun santet, kamu yang merencanakan semua dengan rapi bersama Mbah Edam. Bahkan kamu yang menghabisi Ayah dengan tanganmu sendiri.”
Bajra tergelak.
“Ternyata seperti itu cerita yang beredar.”
“BUkan cerita aku melihatnya sendiri, melihat dengan mata kepalaku.”
“Jangan ngaco, saat itu kamu belum lahir.”
“Tapi itu kenyataannya. Aku spesial, Tuhan memberikan karunia-Nya sejak aku lahir, bukan hanya makhluk tak kasat mata yang bisa aku lihat. Apa yang terjadi di masa lalu pun aku bisa melihatnya hanya dengan menyentuh yang orang atau sesuatu yang berhubungan dengan hal itu.”
“Kalian kejam, padahal di rumah yang kalian bakar masih ada dua orang tua di sana. Bahkan saat Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya dia menatapmu dan menyebut namamu,” teriakku. “Tanganmu sendiri yang menghantamkan balok kayu pada kepala Ayah dan ….”
“Cukup! Kalau memang kamu bisa melihat masa lalu. Ceritakan bagaimana perjumpaanku dengan Kedasih.”
Bajra menyentuh kepalaku dan aku pun terpejam, menarik nafas menantikan kilasan itu. Beberapa saat aku menunggu, tidak ada kilasan ataupun suara. Kembali aku menarik nafas dan … nihil. Mataku kembali terbuka dan Bajra menarik kembali tangannya sambil tersenyum sinis, senyum penghinaan.
“Kamu pikir aku takut dengan cerita omong kosongmu itu. Kalaupun aku yang merencanakan dan membunuh ayahmu, kamu bisa apa? Tidak ada yang percaya dan tidak ada bukti.”
“Penjara tidak bisa menyentuhmu, aku yakin kamu akan mati mengenaskan.”
Bajra tergelak mendengar ancamanku. Meskipun ucapan itu hanya keluar spontan dan begitu saja, tapi aku yakin dia akan menerima akibat dari semua yang sudah dia lakukan.
“Bagaimana kalau kita lakukan saja ritualnya, dengan bantuanmu aku akan semakin kuat. Atau kita bersatu dan melahirkan keturunan yang luar biasa.”
Cuih.
Aku melud4hi wajahnya. Bajra terdiam sesaat lalu mengusap kasar wajahnya.
“Jangan buat aku marah bocah, kamu di sini antara hidup dan mati. Apa yang aku lakukan tidak akan ada yang tahu.”
“Salah, Tuhan tahu. Dia melihat apa yang kamu lakukan. Bahkan Mbah Edam, leluhurmu tidak akan bisa membantu."
“dari mana kamu tahu tentang Mbah Edam?”
“Mungkin raganya sudah mati, tapi jiwanya masih ada. Masih berkeliaran dan selalu membisikan rencana jahat, karena dia tidak diterima di dunia dan di alam sana dan sekarang dia ada di sini. Di pojokan itu, di mana sesajen selalu kamu siapkan.”
Bajra menoleh ke arah yang aku tunjuk, lalu kembali menatapku. Rahangnya mengeras dan wajahnya terlihat marah. Bahkan tangannya mencengkram wajahku.
“Bocah tengik, tidak boleh ada yang lebih hebat dari aku.”
Pria itu turun dari ranjang dan menaiki dipan lalu duduk bersila, dengan kedua tangan mengatup di depan dada. Memejamkan mata dan mulut berkomat-kamit. Di hadapannya terdapat cawan juga sesajen, entah apa yang dia lakukan.
Aku kembali berteriak, berharap ada yang mendengar dan menolongku. Tubuh Bajra terlihat bergetar dan kepalanya menengadah. Ada sosok yang muncul dari belakang tubuhnya, sosok yang terlihat menyeramkan. Sosok wanita dengan rambut menjuntai sangat panjang bahkan hampir menyentuh lantai. Wajah pucat dan bola matanya hitam, menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan. Setiap bergerak terdengar seperti tulang yang patah.
“Ibu ….”
Makhluk itu perlahan mendekat dan tertawa. Tawanya melengking dan terdengar menakutkan bahkan kulitku rasanya merinding. Aku tidak bisa menoleh untuk menghindar dari tatapannya. Tangannya terjulur, kulitnya keriput dan pucat serta kuku-kuku tajam seakan siap merobek apapun.
“Keluar dari tubuh itu, berikan untukku. Keluarrrrrr!”
“Aaaaaaa.”
gak asik bgt