"Aku cinta kamu. Meskipun kamu duda, aku enggak peduli. Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku," ucap Berliana.
"Satu tahun. Jika kamu mampu bertahan dan membuatku jatuh cinta padamu, maka pernikahan kita berlanjut. Tetapi jika tidak, kita bercerai. Deal?" tanya Dion memulai kesepakatan.
"Oke, aku setuju. Aku yakin Mas Dion akan jatuh cinta padaku sebelum jangka waktu satu tahun pernikahan kita," jawab Berliana penuh keyakinan.
Berkat kekerasan yang selalu ia dapatkan, kematian kedua orang tua dan adik-adiknya serta dendam tak kunjung padam akibat ulah pihak ketiga, membuat dirinya tumbuh menjadi sosok Sadisme. Tidak ada wanita yang sanggup seranjang dengannya. Tanpa Berliana tahu bahwa suaminya itu tengah menyembunyikan identitas dan karakter aslinya.
Sanggupkah Berliana Cahaya Mahendra menjadi dermaga cinta terakhir suaminya, walau tubuhnya akan hancur dan terkoyak?
Simak kisahnya💋
Update Chapter : Setiap Hari.
🍁Merupakan bagian dari Novel : Bening🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Ketahuan
Ceklek...
Derit pintu kecil penghubung garasi dan ruang tamu pun terbuka. Berliana yang awalnya berjalan menunduk dengan sedikit melamun tiba-tiba mendongak setelah mendengar deheman suaminya.
"Ehem..." dehem Dion.
Deg...
Awalnya ia sempat terkejut melihat suaminya sudah berdiri di depannya. Ia pikir Dion sedang berada di kamar. Tak lama akhirnya ia berusaha menetralisir ketakutan yang tiba-tiba menderanya.
Teringat kejadian yang sama saat dirinya pulang berbelanja dan dituduh selingkuh oleh suaminya sehingga berakhir dengan tubuh babak belur.
"Assalammualaikum, Mas." Berliana berusaha menyapa suaminya dengan suara lembut terpancar penuh senyum walaupun dirinya masih memakai cadar. Kacamata hitamnya sudah ia lepas sejak keluar dari mobil.
"Waalaikumsalam..." jawab Dion yang juga terkejut melihat Berliana bersikap hangat padanya setelah sebelumnya ia lukai. Bahkan saat ini penampilan istrinya ini jika ditilik dari sudut manapun sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dari kebiasaan sebelumnya.
Berliana perlahan berjalan menuju ke arah suaminya dan ia meraih tangan Dion lalu melabuhkan ciuman bakti seorang istri penuh takzim. Seketika membuat benteng pertahanannya mulai mencair.
Relung kalbunya mendadak dihinggapi rasa debaran baru yang berbeda. Entah apa namanya ia tak tahu. Sebab ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya dengan siapapun.
Jika rasa itu dinamakan cinta, dirinya juga tak memahami. Sebab tak pernah merasakan jatuh cinta pada wanita manapun. Bahkan pada ketiga mantan istrinya terdahulu sekalipun.
Raut wajah Dion yang terkejut, cepat ditangkap oleh netra sayu Berliana.
"Mas sudah makan atau belum?" tanya Berliana lembut penuh perhatian.
"Be_belum. Nunggu kamu pulang. Dari mana?" tanya Dion yang sebelumnya sempat tergagap menjawab pertanyaan Berliana.
"Dari taman bermain sekalian mampir ke apotik. Ayo makan dulu sama-sama. Tadi aku mampir di warung ayam bakar favoritnya Mas. Maaf, aku belum mahir memasak. Lagipula saat ini kondisiku sedang tidak memungkinkan untuk memasak. Aku rasa Mas lebih tahu alasanku," ucap Berliana yang dengan sengaja memantik rasa empati dalam diri suaminya.
Deg...
Dan benar saja, hati Dion mendadak mencelos sedih tatkala mendengar istrinya sedang dalam kondisi tak baik-baik saja setelah ulahnya. Hingga tak bisa ke dapur untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukan para istri guna mengenyangkan perut suami.
Makan pun keduanya lakukan dalam keheningan dan tak ada yang bersuara. Hanya suara dentingan sendok garpu yang terdengar. Setelah makan, Berliana yang tengah membersihkan piring kotor sempat meringis tatkala sabun cuci piring tanpa sengaja mengenai luka di pergelangan tangannya.
Dion yang kebetulan masih duduk di meja makan karena sejak tadi terus mengamati gerak-gerik sang istri yang boleh dibilang seolah bersikap biasa saja. Seakan tak terjadi apapun sebelumnya di antara mereka berdua. Bergegas ia melangkah ke arah wastafel.
"Kamu pergi istirahat di kamar saja. Biar ini Mas yang nerusin," ucap Dion.
"Makasih, Mas. Aku ke kamar dulu. Setelah selesai ini, tolong segera ke kamar ya Mas. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Berliana seraya beranjak pergi sengaja membiarkan suaminya meneruskan pekerjaan mencuci piringnya.
Namun baru selangkah, tangannya sudah dicekal oleh suaminya.
"Bicara tentang apa?" tanya Dion penasaran.
"Mas selesaikan dulu, baru setelah itu aku tunggu di kamar. Aku mau bersih-bersih diri, takut kemalaman nanti hawanya semakin dingin menusuk tulang." Berliana berjalan naik ke atas menuju kamar mereka.
Dion pun tak punya pilihan lain selain menyelesaikan urusan di dapur lalu ia memeriksa semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan sempurna.
Lalu ia pun bergegas melangkah ke kamarnya. Sebab didera rasa penasaran yang menggelitik hatinya.
Setibanya di kamar, ia melihat istrinya telah berganti piyama tidur. Duduk dengan tatapan serius dan cukup tajam padanya. Tangan istrinya tengah memegang sebuah kertas. Namun karena tertutup telapak tangan istrinya jadi ia belum tahu dengan jelas surat apa gerangan.
Ia pun duduk di sofa samping istrinya. Setelah b0kongnya mendarat sempurna, barulah sang istri bersuara.
"Kenapa Mas melakukan hal ini padaku secara diam-diam? Bukankah Mas sangat tahu kalau keluargaku begitu mendambakan kehadiran penerus dalam keluarga kecil kita ini. Kenapa, Mas?" tanya Berliana dengan tegas seraya menyerahkan amplop rumah sakit padanya yang menyatakan tentang prosedur vas*ektomi yang telah dilakukannya.
Deg...
Dengan tangan gemetar ia menerima surat medis tersebut dari tangan istrinya. Dirinya merutuki kebodohannya. Seharusnya surat medis ini sudah ia lenyapkan atau hanguskan agar tak meninggalkan jejak. Namun seakan semesta tak meridhoinya. Alhasil sang istri berhasil memergoki langkah yang ia lakukan ini, begitu cepat.
"Jawab Mas!!" teriak Berliana dengan tegas.
🍁🍁🍁