Sejak bangku SMA Lili dan Anjas bersama, berangan-angan menikah dan memiliki pernikahan impian, memiliki banyak anak dan hidup menua bersama.
Rencana itu begitu indah, hingga sebuah malapetaka menguji cinta mereka.
"Gugurkan, dia bukan anakku," ucap Anjas.
Lili termenung, menyentuh perutnya yang berdenyut nadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DW Bab 21 - Janji
"Be-beri aku waktu, aku ... aku akan mengatakannya pada mama Reni dan papa Irwan lebih dulu," ucap Lili, bicara diantara tenggorokannya yang tercekat, rasanya sakit sekali.
Dan makin sakit saat dilihatnya Anjas yang tak peduli, entah dimana cinta mereka menguap. Kini seolah tak tersisa meski hanya sedikit.
Namun sekarang yang mereka bicarakan bukan hanya tentang cinta, tapi tentang sebuah kehidupan yang kadang jalannya tak sesuai dengan yang diharapkan.
"Aku permisi," ucap Lili, akhirnya mengakhiri ucapannya dan keluar dari sana. Selama itu pula Anjas sedikit pun tak bicara.
Saat pintu sudah tertutup, Anjas baru bergerak. Dan hal yang pertama kali dilakukannya adalah membanting sebuah vas bunga yang ada di atas meja.
PYAR!! pecahan keramik seketika berserak di lantai. Kepalanya pun rasanya ingin pecah seperti vas bunga tersebut.
Lagi-lagi Anjas hanya bisa mengusap wajahnya Frustasi. Berpisah dengan Lili juga bukanlah sesuatu yang dia inginkan.
Namun selama masih ada bayi sial itu di tubuh Lili, Anjas pun tak bisa mentolelir.
Dulu Lili yang memintanya untuk tidak menguak tentang kebenaran peristiwa itu, lantas kini Lili pula yang akan menguaknya pada semua keluarga.
"Bagus lah, dengan begitu dia akan semakin sadar, tak ada yang menginginkan bayi itu hidup!" geram Anjas, dia yakin, baik keluarga Lili ataupun keluarganya sendiri akan menentukan kehamilan Lili, sama seperti apa yang dia lakukan selama ini.
Dan mendengar suara benda pecah Felin segera memeriksa keadaan sang Tuan, dia sampai masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Lantas terkejut ketika melihat ruangan itu berantakan.
"Ya Tuhan Tuan, saya akan segera membereskannya," ucap Felin, lengkap dengan wajahnya yang nampak cemas.
Anjas tak peduli, bahkan menatap wanita itu pun tidak.
"Ahk!" pekik Felin saat dengan sengaja dia menggores jarinya menggunakan pecahan keramik tersebut.
Namun suara teriakan kesakitan Felin itu sungguh menganggu telinga Anjas.
"Siapa yang mengizinkan mu masuk ke ruangan ku dan menyentuh pecahan vas bunga itu? hah?" tanya Anjas, kedua matanya menatap tajam, seperti binattang buas yang siap memasang mangsa.
Felin seketika tercengang, tak menyangka penerimaannya akan seperti ini.
Padahal dia pun sudah jelas menunjukkan luka di tangannya.
"Jangan lancang kamu Felin, keluar sekarang!" gertak Anjas.
"Maaf Pak," balas Felin akhirnya, dengan terpaksa dan tangan yang sudah terlanjur terluka akhirnya Felin keluar dari ruangan itu.
Hatinya juga sakit mendapatkan perlakuan dingin dan kasar.
Di tempat lain, Lili tidak langsung kembali ke ruangannya. Lili justru menuju ke toilet dan menangis sepuasnya disana. Sekarang masih jam sibuk, jadi tak akan ada yang mendatangi tempat itu.
Lili menangis sampai nafasnya tersengal, menangisi pernikahannya yang akan hancur, menangisi berakhirnya hubungan dia dengan Anjas. Pria yang sangat dia cintai, sangat.
"Ahk!" rintih Lili, memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Maafkan mama sayang, kamu pasti lelah juga," ucap Lili, bicara pada anaknya. Lalu coba menghentikan tangis ini.
"Mama janji sayang, ini adalah yang terakhir kali mama menangis, setelah ini mama hanya akan berjuang untuk mu, mengakui mu dan bagaimana kamu bisa ada. Mama tidak akan malu lagi, karena kamu bukan anak sial, meski jalannya begitu pahit tapi mama yakin, kamu adalah anugerah yang dikirim oleh Tuhan untuk mama." Lagi, air mata itu jatuh, akhirnya Lili benar-benar merasa hanya sendirian di hidup ini.
Tak ada satupun lagi tempat bersandar.
Semua janji manis Anjas nyatanya hanyalah fatamorgana.
rasa sayangmu pada anakmu itu wajar walaupun hasil pelecehan.
dan rasa sakit hati anjas juga wajar karna hargadiri laki itu besar
yg salah kalian tidak bicarakan tuntas dr awal sebelum menikah...
tidak ada anak haram dan rasa sayang pada anak itu alami bagi setiap ibu terlepas itu hasil dr hal bejat.