Berkali kali mereka di jodohkan oleh atasan mereka, tapi berkali kali juga mereka menolak.
Suatu ketika, mereka berpura pura sebagai pasangan, namun sungguh di luar dugaan, mereka tak mendapatkan restu
Akibat gagal mendapatkan restu, membuat Bima Narendra semakin penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
BAB 21.
Bilik pribadi eyang Baskoro.
Beberapa saat sebelum Bima berpamitan, pria tua itu duduk diam di depan meja nya, menatap foto usang hitam putih yang sudah berusia lebih dari 50 tahun, ada duka mendalam ketika menatap foto tersebut, foto itu mengabadikan momen kelahiran Arandhana putra pertamanya, dengan bangga sang kakek menggendong dan menimang Arandhana, Karena Arandhana adalah cucu laki laki pertama sang kakek.
Bukan hanya satu foto tersebut, ada lagi beberapa foto serupa, hitam putih, dengan gambar berbeda, kali ini gambar ketika eyang Baskoro dengan bangga menggendong Arandhana di pundaknya, usai sang putra di khitan, bahagia dan bangga, itulah yang eyang Baskoro rasakan saat itu, putranya yang baru berusia 4 tahun, sudah berani di khitan, bahkan tanpa menangis, padahal kala itu belum dikenal obat penghilang sakit dan semacamnya seperti saat ini.
Foto berikutnya ketika Arandhana menyelesaikan pendidikan menengah, bahkan Arandhana meraih juara pertama saat itu, bapak mana yang tidak bersorak bangga, manakala melihat putra pertamanya adalah putra yang membanggakan dirinya serta keluarganya.
Jutaan asa dan harapan nya membumbung tinggi, berharap sang putra meneruskan serta menjaga kehormatan dan martabat keluarga dan keturunannya kelak.
Tapi harapan tinggallah harapan, perjodohan Arandhana dengan salah seorang putri tumenggung kala itu, ia tolak mentah mentah, Arandhana memiliki kekasih, dan ketika Baskoro melihat silsilah keluarga dari gadis yang di cintai putranya, Baskoro murka dan menentang keras keinginan Arandhana, hingga akhirnya Arandhana menikah walau tak di restui oleh Baskoro.
Eyang Kakung mengusap air matanya, "*kenopo Kowe nak, ora nurut omongane bapakmu? Bapak Iki sayang Karo awak mu, kok tego menikah ora izin bapak, ora ngenteni restune bapak, Kowe pikir bapakmu iki benda mati."
(*Kenapa kamu nak, tidak patuh perkataan bapakmu? Bapak menyayangimu, kok tega menikah tidak izin bapak, tidak menunggu restu dari bapak, kamu pikir bapakmu benda mati?)
Eyang Kakung bermonolog, air mata nya selalu menetes manakala melihat foto foto usang tersebut, walau tak pernah di katakan ia tetaplah orang tua yang teramat menyayangi anak anaknya, bahkan ia masih menyesali tahun tahun panjang yang ia rasakan, karena tak pernah memeluk apalagi menggendong Bima, cucu nya yang pernah hilang tanpa kabar.
Dan kini alangkah cepat waktu berlalu, tiba tiba saja eyang Kakung mendengar Bima hendak kembali ke Jakarta, rasa sayang dan bangga yang baru saja tertanam dan mengakar, seolah dicabut paksa begitu saja oleh orang orang tak bertanggung jawab, sedih? Tentu saja, ia baru saja merasa nyaman berada di dekat Bima, walau gengsi teramat besar menghalangi, Bima seakan akan mampu mendobrak semuanya, hingga yang tersisa hanya beberapa keping rasa canggung, canggung untuk memulai pembicaraan, canggung untuk mulai mendekat, canggung untuk mengatakan bahwa sesungguhnya 'eyang Kakung sangat menyayangimu nak …'
Tok
Tok
Tok
Terdengar bunyi ketukan dari pintu, eyang Kakung mendekat ke pintu, bahkan beliau menempelkan daun telinganya, agar bisa mendengar suara siapa saja yang ada di balik pintu.
"Kang mas …"
Eyang Kakung masih diam, kembali rasa gengsi menghampiri.
Namun eyang putri Solah pantang menyerah, terbukti beliau kembali mengetuk pintu untuk kedua kali nya.
Tok
Tok
Tok
“Ono opo dhi ajeng …?” eyang Kakung menyahut pendek.
“Ini … cucu kang mas mau pamit.”
Eyang Kakung semakin resah, manakala mendengar jawaban eyang putri, kali ini gengsinya mulai bercampur dengan perasaan tidak rela melepaskan kepergian cucunya, karena itulah, lama eyang Kakung tak memberikan sahutan kembali.
“Kang mas … yakin gak mau keluar?” Eyang putri kembali memastikan.
“Iya, hati hati saja,” akhirnya terucap juga kalimat yang seakan akan menjadi ciri khas sifat eyang Baskoro yang kaku dan dingin.
“Eyang … Bima pamit dulu yah, bulan depan Bima sowan kesini lagi, eyang kakung jaga kesehatan ya.” lagi lagi suara Bima seakan meruntuhkan benteng pertahanannya.
“Iya …” jawab eyang kakung.
Kemudian pintu kembali sunyi, tak ada lagi sahutan seiring dengan suara langkah kaki yang terus menjauh.
Eyang Kakung kembali termenung, ia pun bertanya tanya, apakah gerangan yang menghalanginya? Kenapa begitu susah menaklukkan egonya sendiri, bahkan Bima sudah merendahkan diri datang dan menghampirinya, kakek yang mengusir kedua orang tuanya, bahkan tak memberi restu pernikahan kedua orang tuanya, dan tak berusaha lebih keras lagi menemukan cucu nya yang terlantar entah dimana, bukankah hal yang luar biasa karena ternyata cucunya lah yang mencari cari keberadaan dirinya, anak kecil yang usianya belum mencapai separuh usia eyang Baskoro saat ini, tapi dia tumbuh menjadi anak yang baik, memiliki kedewasaan, cara berpikir, wawasan dan kerendahan hati yang luar biasa, benar benar keturunan bangsawan sejati persis seperti sifat eyang buyutnya.
***
Bima terdiam, padahal tadi ia sudah berpamitan, tapi eyang Kakung yang tidak mau membuka pintu kamarnya, dan kini beliau menyusul lalu memarahinya, walau bingung dengan sikap eyang Kakung, Bima hanya bisa diam dan mengiyakan perkataan eyang Kakung.
"Iya eyang, maafkan Bima," jawab Bima sopan, dengan wajah ditundukkan.
"Sini …" panggil eyang Kakung, dan Bima pun mendekat seraya mengulurkan tangannya.
Tapi lagi lagi Bima harus menelan kecewa, karena eyang Kakung menolak uluran tangannya, namun hal itu hanya berlangsung sesaat karena detik berikutnya, eyang Kakung mengulurkan tangannya, bahkan menarik Bima kedalam pelukannya, di peluknya dengan erat cucu yang bahkan sejak lahir belum pernah ia gendong, apalagi ia peluk dengan sepenuh hati.
"Maafkan eyang Kakung nak, eyang ini hanya orang tua kolot, terlalu bangga pada diri sendiri, hingga tak bisa melihat kebaikan orang lain." Ucap eyang Kakung di tengah tangis sedihnya.
Sebuah adegan yang mengharukan, meluluh lantakkan hati dan perasaan siapa saja yang melihatnya, semarah apapun orang tua, ia tetaplah orang tua yang ingin senantiasa di rayu oleh anak anaknya, setinggi apapun gengsi nya, ia akan bertekuk lutut dihadapan cucunya, eyang Kakung bahkan menumpahkan tangis penyesalan, ini adalah satu hal yang belum pernah terjadi, selama ini orang orang tahu nya, eyang Baskoro adalah pria yang tegas dan galak, jika sudah berkata tidak, sampai kapanpun tidak akan berubah, dan kini ia tiba tiba menangis haru, tangisan yang sarat akan sebuah kerinduan, rindu yang tak akan pernah menemukan obat penawar, karena sang buah hati telah pergi mendahuluinya menghadap sang maha pencipta.
Bima pun tak mampu menahan air matanya, walau sangat terlambat, Bima mampu mendamaikan perseteruan orang tua dan eyang nya, tak ada lagi kebahagiaan lain yang ia inginkan, ini sudah cukup.
Akhirnya eyang kakung ikut mengantar kepergian sang cucu kesayangan sampai ke airport, tak lupa terus menerus berpesan agar Bima sering sering menghubungi nya.