Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENANGKAP DAD JAY
Tuan Orlando dan Vianne serta 2 orang pengawal sudah sampai di hotel di mana mereka akan menginap. Wesley sengaja memesan kamar hotel dengan beberapa kamar di dalamnya agar pengawasan menjadi lebih mudah.
"Uncle, kapan acara pertemuannya?" tanya Vianne.
"Besok. Hari ini aku hanya akan bertemu dengan putriku. Ayo!" ajak Tuan Orlando.
Vianne mulai berpikir keras. Jika Axton dan Jeanette ada di Jepang, apakah itu berarti Zero juga berada di sini? Rasanya malas sekali bertemu pria itu. Pria yang sepertinya menganggap sebuah hubungan hanya bagai sebuah permainan.
Tapi ia bukanlah Vianne yang dulu. Ia tak akan lagi dipermainkan oleh apapun dan oleh siapapun. Ia telah berubah ... Semua karena keadaan yang membuatnya seperti ini.
"Ayo, Uncle! Aku tidak sabar untuk berkenalan dengan putri Uncle," ucap Vianne.
Keduanya turun bersama dengan 2 pengawal. Terlihat dari kejauhan, Axton dan Jeanette serta putra mereka telah menunggu kedatangan mereka. Namun, Vianne sama sekali tak melihat kehadiran Zero.
"Halo, Dad," sapa Jeanette memeluk Dad Orlando.
"Grandpa!" teriak Alex yang kini sudah mulai bisa mengucapkan huruf R.
"Halo cucu Grandpa yang paling tampan," puji Dad Orlando.
Tuan Orlando memperkenalkan Vianne pada Jeanette dan juga sekali lagi pada Axton. Axton dan Jeanette telah mengetahui keadaan Vianne yang sebenarnya. Selain dari Wesley waktu itu, Dad Orlando juga bercerita pada mereka sebelum keberangkatannya hari ini.
"Di mana Zero?" tanya Dad Orlando.
"Ia akan menyusul setelah menyelesaikan beberapa hal," jawab Axton.
Vianne menghela nafas lega karena ketidakhadiran Zero di sana. Ia tak perlu terlalu banyak berakting. Awalnya ia merasa biasa saja dengan putusnya hubungan dengan Zero.
Namun, saat Vianne ingin sekedar meminta pertolongan, pria itu seakan menjadi pria paling tampan si dunia yang berpikir bahwa Vianne mempertanyakan hubungan mereka dan menginginkannya kembali.
"Kalau begitu, kita makan sekarang," ucap Tuan Orlando.
Terlihat Vianne begitu telaten melayani Tuan Orlando. Jeanette yang juga berada tepat di sebelah ayahnya itu tersenyum. Ia merasa lega karena Dad Orlando dikelilingi oleh orang orang yang menyayanginya, baik itu Wesley maupun Vianne.
Sebenarnya, Jeanette merasa sedih karena tak bisa berada di samping Dad Orlando. Sesungguhnya ia ingin sekali tinggal bersama pria paruh baya itu. Namun, ia juga sadar bahwa kini ia telah berkeluarga. Ada suami dan anak yang harus ia jaga dan layani. Oleh karena itu juga, Jeanette selalu mengusahakan untuk menghubungi kedua ayahnya, baik itu Dad Orlando maupun Dad Marcello.
Ponsel Axton berbunyi dan tertera nama Zero di sana. Ia langsung mengangkatnya di sana, tanpa permisi untuk ke tempat lain.
"Baiklah. Setelah semua selesai, segera berangkat ke sini. Biarkan Six dan Seven yang menangani perusahaan sementara waktu," ucap Axton.
"Sudah, Vi. Uncle tak mau makan lagi," Dad Orlando sungguh kelimpungan karena Vianne terus saja meletakkan makanan ke atas piringnya.
"Uncle baru makan 3 sendok loh!" gerutu Vianne. Jeanette tertawa melihat perdebatan keduanya.
Sementara di ujung telepon, Zero mendengar bahwa saat ini Tuan Orlando tidak sendiri ataupun datang bersama Wesley, melainkan bersama Vianne.
"Kamu mendengarku, Ze?" tanya Axton.
"Aku mendengarnya, Tuan. Semuanya dengan jelas," jawab Zero.
Ntahlah, perasaan apa yang ada di dalam hati Zero. Saat bertemu kembali dengan Vianne dan mengetahui bahwa wanita itu mengalami suatu musibah, hatinya tiba tiba tercekit.
Ia segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan akan berangkat ke Jepang untuk menemui Axton, tidak ... Ia ingin menemui Vianne.
**
Sebuah rumah di sudut padat pemukiman kota, di mana suasana terlihat dan terasa begitu gelap meskipun hari masih siang, begitu berisik karena di dalamnya banyak orang orang yang berteriak.
Berteriak karena berhasil memenangkan sesuatu. Berteriak karena ternyata ia mengalami kekalahan. Namun ada seorang pria yang terus saja menjambak rambutnya sambil meminum alkohol. Ia memegang botol di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya masih memegang kartu yang sudah memastikan bahwa ia akan kembali kalah dalam permainan kali ini.
Dad Jay membanting kartu terakhir yang berada di tangan kanannya dengan kasar, kemudian menegak minuman yang ada di tangan kirinya. Ia mulai menunjuk ke arah lawan main yang berada di hadapannya.
"Siallan kamu! Kamu pasti bermain curang!" teriaknya.
"Jangan menuduh! Kamu saja yang bodoh. Tidak bisa bermain saja sok sok an. Cihh!!!"
Bughhh
Dad Jay tidak suka dengan apa yang dikatakan pria yang sedang bermain kartu dengannya itu. Keduanya saling memukul dan pada akhirnya membuat keributan. Hal itu membuat para pemain lain ikut berteriak dan turut saling memukul. Ketidaksadaran mereka karena pengaruh alkohol pun semakin memperkeruh suasana.
Dorrr .... Dorrr ... Dorrr ....
Terdengar suara tembakan ke udara, namun para tamu yang datang ke sana tak menghiraukan sama sekali. Mereka masih sibuk dengan perkelahian tersebut. Hingga para polisi yang datang ke tempat itu pun memboyong mereka satu persatu ke dalam mobil, termasuk dengan Dad Jay.
Salah seorang polisi yang menangkap Dad Jay langsung tersenyum, "kita mendapatkan tersangka utamanya."
Seluruh orang yang ada di dalam rumah itu berhasil ditangkap karena memang rumah itu sudah menjadi incaran sebelumnya. Namun, mereka selalu saja berhasil keluar dari pintu belakang ataupun kabur sebelum polisi sampai di sana.
Sementara itu di OR Trade, Wesley sedang berkutat dengan beberapa laporan sebelum ia akan berangkat ke Jepang untuk menyusul Tuan Orlando dan juga Vianne.
Asisten pribadi Wesley, Brox, masuk ke dalam ruang kerja itu setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Tuan, semuanya sudah berhasil ditangkap, termasuk Jay Collins."
"Bagus. Serahkan semua bukti yang ada dan pastikan ia juga mendekam di penjara dalan waktu yang lama. Aku tak ingin ia mengganggu kehidupan Vianne lagi," perintah Wesley.
Mungkin terdengar kejam karena ia ingin memenjarakan Dad Jay. Bagaimana pun juga pria itu adalah ayah dari Vianne. Namun, bagi Wesley tak ada yang boleh membuat Tuan Orlando ataupun Vianne terluka dan menderita. Ia sudah menganggap mereka sebagai keluarga dan hanya mereka yang ia miliki.
"Besok pagi kita akan langsung berangkat ke Jepang, bersiaplah," perintah Wesley.
"Baik, Tuan."
🧡 🧡 🧡