Arsel seorang pengangguran spesialis pembobol kotak amal, suatu hari saat dia dikejar masa ia tersambar petir dan tersadar di dunia berbeda dimana sihir dan pedang berada.
Sejak itu petualangan yang penuh berbahaya harus dilaluinya untuk bisa bertahan hidup di dunia sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 : Kembali Ke Kota Nila
Aku menyarungkan kembali belatiku selagi menatap tubuh katak itu yang telah lenyap seutuhnya, bahkan saat dia mati tidak akan ada pasukan apapun yang menuntut balas dendam jadi semuanya telah selesai dengan baik. Aku berjalan mendekat ke arah kolam tersebut lalu meletakan tanganku di atas airnya lalu menggunakan sihir penetralisir hingga MP-ku mencapai 1.
MP bisa bertambah secara otomatis hanya beristirahat sebentar aku yakin itu akan bertambah, aku membaringkan tubuhku di tanah selagi menatap langit cerah berawan di mana burung-burung terbang melewatinya.
Mari tidur sebentar.
Saat aku bangun itu telah siang hari dan kusadari bahwa semua penduduk desa telah mengerumuniku dari segala arah, aku cukup terkejut karena aku tidur di bantalan paha Elena.
"Eh? Kenapa kalian ada di sini."
"Aku yang harusnya menanyakan itu, kau membuat sungai kami kembali bersih bukan. karena khawatir kau tidak kembali jadi aku bersama penduduk desa memeriksanya kemari dan melihatmu berbaring di tanah."
"Aku hanya sedikit bertarung dengan katak barusan," kataku datar namun entah kenapa Elena malah memarahiku.
Semua orang berterima kasih padaku lalu sebuah pesta kecil diadakan di sini dengan ikan sebagai menunya, aku menggunakan skill penilai dan melihat bahwa racunnya juga telah lenyap dari mereka.
Ibu Elena merangkul bahuku selagi mengangkat cangkirnya.
"Bersulang untuk menantuku."
"Bersulang."
Elena hanya bisa mengatakan Awawa sementara aku memilih diam, apapun yang kukatakan tidak akan merubah apapun.
Kami pergi keesokan paginya, menurut kepala desa mereka akan mulai mencoba membuka jalan dari desa ke jalan utama, lain kali siapapun dari luar desa bisa datang dengan kereta.
Itu pantas untuk ditunggu.
Aku dan Elena berpamitan seperti saat kami datang kemari aku juga bertugas menjadi tukang angkut barang hanya saja semakin berat saja.
"Tunggu aku Elena."
"Lebih cepat lagi kalau jalan."
Aku sekali lagi melirik ke arah desa di mana mereka semua melambaikan tangan mereka untuk mengantar kami pergi.
Ini dunia yang indah.
Beberapa hari setelah aku kembali ke kediaman Eris yang sudah semakin sibuk, aku terkapar di atas ranjang
"Arsel kau baik-baik saja?" yang bertanya itu adalah Alice.
"Jangan mati, aku akan mencari obat untuk menyembuhkanmu."
"Aku tidak tahu tapi kudengar demam bisa sembuh dengan meletakkan balok es di kepala."
Aku hanya terkena demam biasa jadi tidak sampai membahayakan nyawaku juga, sudah cukup lama aku terkena demam saat itu mungkin saat aku tidak menemukan tempat untuk tidur dan berakhir tidur di emperan toko yang bocor.
Yah, itu pengalaman cukup sulit bagiku.
"Biar aku kupaskan apel untukmu Arsel."
"Terima kasih Alice, maaf aku merepotkanmu dan yang lainnya."
"Jangan khawatir semua orang tidak ada yang keberatan."
"Setelah Alice biar aku yang membersihkan keringatmu, lepas seluruh pakaianmu."
"Aku tidak mau melakukannya biar aku sendiri saja," kataku pada Eris dan Emi melanjutkan.
"Aku sudah bawa balok esnya cepat taruh di kepalamu."
"Aku bisa mati jika kepalaku ditimpa balok sebesar itu."
Selagi menyuapiku Alice menjelaskan.
"Aku dan Emi telah berkeliling ke wilayah yang akan kita beli, mereka memang menjualnya tapi tidak murah."
"Aku minta maaf Arsel, kupikir mereka akan menjualnya sekitar 1 juta koin emas tapi itu naik menjadi 100 juta koin."
Aku mengerenyitkan alis dengan kenyataan tersebut.
"Bukannya itu sangat jauh berbeda."
"Um... mereka memutuskan menjual semuanya jika kita hanya mengambil seperempatnya mereka menolaknya."
"Lalu bagaimana Emi tidak dikenali di sana?"
"Tentu saja dengan menyamar, kau ingin melihatnya."
Emi berputar sekali dan dalam sekejap dia berubah menjadi wanita dewasa semestinya.
"Aku jarang menunjukkan ini pada semua orang kecuali kalian, terkadang aku juga menginginkan tubuh semok dan tinggi seperti ini."
Kami bertepuk tangan ke arahnya.
Emi jauh lebih mempesona sekarang.