Arunika Gantari, seorang perempuan ceria yang tiba-tiba saja menghilang selama 4 tahun.
Asoka Danubrata, putra bungsu pemilik perusahaan yang menyembunyikan identitasnya sebagai putra pemilik perusahaan dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan miliknya sendiri.
4 tahun Asoka menunggu kepulangan Arunika, menepati janjinya untuk memantaskan diri. Namun ketika gadis itu kembali, sosoknya berubah. Tak ada lagi Arunika yang ceria, yang ada hanya Arunika yang tertutup.
Apa yang menjadi rahasia kepergian Arunika 4 tahun lalu? Akan kah Asoka berhasil mengembalikan kecerian perempuan yang dia cintai? Atau kan posisi Arunika sudah digantikan oleh perempuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
She is the one and only
“Lo sudah dapat informasi mengenai cewek kemarin?”
Tania menggelengkan kapala. “Gue cuma tahu dia karyawan di lantai 14.”
“Karyawan baru ya? Soalnya belum pernah lihat sebelumnya.”
“Sepertinya sih iya.”
“Jadi benar dia pacarnya Oka?” Elsa bertanya penasaran.
“Gue tidak yakin, selama ini Oka tidak mengisyaratkan dia punya pacar. Dan selama ini juga teman-temannya seolah mendukung gue sama dia kok. Kalau misalnya dia benaran sudah punya pacar, teman-temannya pasti tahu kan?”
“Tapi Kemal sepertinya tahu.”
“Mungkin saja, secara Kemal dan Oka kan teman dari zaman kuliah,” ucap Dewi yang setuju dengan ucapan Elsa membuat Tania terdiam berpikir.
Selama Tania mendekati Oka, tak pernah sekalipun Oka menceritakan tentang perempuan lain apalagi seorang pacar yang membuat Tania dengan percaya diri berpikir akan mendapatkan hati seorang Asoka Danubrata, namun kemarin tanpa angin tanpa hujan seorang perempuan muncul dan memperkenalkan diri sebagai kekasih Oka.
“Menurut kalian, perempuan itu dengar tidak sih percakapan kita di lift kemarin?”
“Ya mungkin saja secara di dalam lift kan awalnya cuma kita bertiga, terus dia masuk di lantai 14.”
Tania kembali terdiam berpikir.
“Apa mungkin karena dia mendengar ucapan kita, perempuan itu mengaku-ngaku menjadi pacar Oka untuk menjauhkan Oka dari lo?”
“Nah, bisa jadi itu!”
Tania kini menatap keduanya dengan mata terbelalak.
“Perempuan itu kenal juga dengan Kemal, jadi ada kemungkinan mereka dulu sekampus.”
“Selama ini Oka tidak pernah sedikitpun menceritakan pacarnya, bukan? Dan ketika teman-temannya menjodohkan dia sama lo, dia tidak pernah nolak atau minimal bilang kalau dia sudah punya pacar. Jadi ada kemungkinan mereka hanya satu circle pertemanan dan cewek itu sudah tahu siapa Oka sebenarnya, jadi mungkin saja dia hanya pura-pura jadi pacar Oka buat jauhin lo.”
“Oh ****!” Tiba-tiba Tania mengumpat, kedua tangannya menutup wajah terkejutnya. “Bukan itu masalahnya!” Dia menatap kedua temannya dengan wajah cemas. “Yang jadi masalah sekarang, bagaimana kalau perempuan itu mendengar pembicaraan kita di dalam lift, terus menceritakan semuanya kepada Oka?”
Mata Dewi dan Elsa ikut terbelalak, wajah ketiganya terlihat cemas menyadari kalau saat ini bisa saja Oka mengetahui alasan Tania mendekati Oka karena telah mengetahui identitasnya. Kalau seandainya itu terjadi bisa dibayangkan bagaimana marahnya sang putra mahkota karena telah dianggap bodoh selama ini. Kalau hal itu terjadi maka pekerjaan mereka yang menjadi taruhannya.
***
“Jadi bidadari gue itu benar cewek lo, Ka?” Angga sepertinya belum bisa menerima kenyataan kalau perempuan yang dia panggil dengan bidadarinya adalah kekasih Oka.
“Dia bidadari gue bukan bidadari lo,” ucap Oka dengan senyum santai membuat Angga langsung menelengkupkan kepalanya di atas meja food court.
“Hahaha, sabar, Ga, dunia ini memang tidak adil.” Hendra menepuk-nepuk punggung Angga sambil tertawa.
“Gue juga curiga sih, Ka, selama ini lo kan tidak pernah cerita kalau lo sudah punya cewek.”
“Iya, benar! Anehkan?” Angga kembali semangat setelah mendengar ucapan Doni. “Selama ini semua orang tahunya lo dekat sama Tania, tapi tiba-tiba ada cewek lain muncul ngaku-ngaku jadi cewek lo.” Angga menatap Oka curiga, sedangkan yang dicurigai hanya tersenyum santai sambil menikmati jus alpukat. “Lo bohong kan? Lo cuma mau ngerjain gue doang kan?”
“Hahaha, terserah kalian mikirnya bagaimana. Gue tidak punya kewajiban untuk menjelaskan soal hubungan gue sama siapapun, tapi yang pasti … she’s the one and only.”
Angga, Hendra, dan Doni kini menatap Oka yang masih terlihat santai namun sorot matanya menyiratkan ketegasan, membua ketiganya tak lagi bisa membatah, dan hal itu kembali membuat Angga menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan lemah.
“Gue kan pernah bilang saingan lo bakalan berat, Ga. Lo sih nggak percaya sama gue.”
“Musyrik kalau gue percaya sama lo mah, Ke.” Angga berkata sambil kembali duduk dan langsung menghabiskan jus jeruknya.
“Hahaha.”
“Ssst! Ka!” Doni mengedikan dagunya ke arah belakang.
Oka dan Kemal membalikan tubuh, terlihat Tania berjalan mendekat dengan nampan berisi bakso dan sebotol air mineral.
“Hei, boleh duduk di sini?”
Semua kini menatap Oka penasaran, apa Oka akan membiarkan Tania duduk bersama mereka atau tidak.
“Boleh dong, Ta, duduk saja.”
“Tapi duduknya di samping Angga saja ya, Ta, bisa bahaya kalau nyonya besar melihat yayangnya duduk di samping perempuan lain,” ucap Kemal membuat Tania yang hendak duduk di samping Oka harus pindah ke samping Angga, setelah sebelumnya dia mendelik ke arah Kemal yang mengangkat alis tebalnya dengan santai.
Meja food court memang terdiri dari meja-meja panjang yang bisa diduduki oleh 6 sampai 8 orang setiap mejanya.
“Pacarnya mana, Ka? Kok tidak makan siang bareng. Yang kemarin pacar benaran, kan?”
Angga, Hendra, Doni, dan Kemal saling tatap merasakan adanya sindiran dari pertanyaan Tania.
“Tadi lagi rapat dulu, mungkin sebentar lagi dia turun,” jawab Oka dengan santai seolah tak peduli dengan nada sindiran dari Tania
Tidak ada yang berbeda dengan perlakukan Oka, hingga membuat Tania berpikir kalau Arunika belum memberitahu tentang percakapannya dengan Dewi dan Elsa di lift kemarin. Tapi kenapa Arunika tidak memberitahu Oka? Tania mencoba berpikir karena menurutnya tidak masuk akal Arunika yang mengetahui kebenarannya menyembunyikan hal itu dari Oka, bukankah itu akan menjadi senjata Arunika untuk menjauhkan Tania dari Oka?
Satu-satunya alasan yang masuk akal adalah kalau Arunika tidak mengetahui identitas Oka, dan mungkin saja Arunika baru mengetahuinya kemarin ketika di dalam lift.
“Uhuk-uhuk-uhuk!” Tania tersedak, terkejut menyadari hal itu mungkin saja terjadi.
“Kenapa, Ta? Deg-degan ya, duduk di samping gue,” ucap Angga membuat Tania yang tengah minum hampir saja menyemburkan minumannya.
“Awas ah, Ta, dari Oka bisa-bisa jadi ke Angga nih.”
“Hahaha.”
Mereka tengah tertawa ketika Arunika duduk di samping Oka dan langsung meminum jus alpukat milik Oka yang hanya tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat kehausan.
“Aaah,” hela Arunika penuh kepuasan sambil menaruh gelas alpukat Oka yang tinggal setengah.
“Haus, Neng?” goda Oka.
“Iya, dari tadi terkurung di dalam ruang meeting. New season artinya launching new product, new design yang artinya PR ku semakin menumpuk,” keluh Arunika sambil menghela napas berat.
“Jadi malam ini lembur?” tanya Oka yang dijawab Arunika dengan anggukan dan wajah memelas yang membuat Oka tanpa sadar dengan gemas menjepit hidung mancung milik gadis berkulit putih bersih itu.
“Ehm!”
Terdengar deheman dari yang lainnya membuat Oka dan Arunia menyadari kalau saat ini mereka tidak sedang duduk berdua.
“Lanjut saja, Bos, anggap saja kami ini hanya botol kecap,” ucap Kemal yang membuat pipi Arunika memerah.
Dug!
Semua orang kini menatap ke arah suara dimana Angga yang kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja, namun kali ini sedikit keras.
“Sabar, Ga, ini cobaan,” ujar Hendra sambil terkekeh.
“Kenapa?” tanya Arunika bingung.
“Biarin saja, nasib jomblo memang seperti itu kalau melihat orang pacaran.”
“Hahaha, sadis lo, Ka.”
Oka tertawa sambil berdiri, tangannya menarik tangan Arunika untuk ikut berdiri.
“Kita cari makan. Jangan sampai kamu telat makan.”
Dengan senyum lebar Arunika mengikuti Oka di bawah tatapan orang-orang yang menjadi saksi bagaimana hangatnya seorang Asoka Danubrata yang selama ini terkenal acuh tak acuh terhadap perempuan, termasuk perempuan yang kini menatap keduanya dengan sorot mata tajam.