Tina dan Vivi adalah saudara kandung, anak dari
pak Budi dan bu Lasma. Kehidupan mereka cukup teramat susah dan menderita. Dikarenakan ketidak mampuan mereka, pada akhirnya mereka hanya tinggal disebuah gubuk
kecil tepat diarea persawahan. Bukan hanya itu saja, mereka tinggal disebuah desa yang sangat
pelosok sekali, jauh dari kecamatan apa lagi dari kota. Bayangkan saja, sekolah SMP dan SMA
saja harus menempuh jarak waktu sekitar 3 jam lebih dari desa mereka. Hingga anak pedesaan itu, setelah lulus dari SD harus ngekos dikecamatan demi melanjutkan pendidikan mereka. Mereka diusia dini sudah harus mandiri dan rela berpisah dengan orang tua, tetapi mengabdi pada pemilik kos yang terkadang pemilik kosnya tidak memiliki perasaan.
Budak, iyah budak, kata-kata itulah cocok dirasakan dan dialami Tina selama ngekos dikecamatan. Dirinya sungguh menderita dan tidak hentinya mengerjakan pekerjaan rumah,
dan malah sering dapat hinaan dan omelan.
Semua itu terjadi demi dikarenakan ngekos gratis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maminya nathania bortum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part .21 Tangisan kepedihan
Wanita itu tidak bisa menjawab perkataan bapak
paruh baya tersebut, dibenaknya hanya tersisa
ingin pulang ke desa bersama kedua orang tuanya.
************
Tina menatap pria paruh baya itu yang ada bersamanya didalam ruangan gubuk kecil itu.
Tidak sabar rasanya ingin cepat malam ini berlalu
dan pergi meninggalkan gubuk itu tempat derita
dalam hidupnya.
"Ya, Tina merasa sedikit risih dan kurang nyaman berduaan bersama pria itu disebuah gubuk ditengah-tengah hutan. Sungguh penyesalan besar bagi dirinya memilih pergi menjauh dari orang sekitar dan permukiman demi memuaskan kesedihan dan kekecewaanya. Bayangkan saja, seorang gadis remaja yang berparas cantik dan ayu tinggal berdua dengan pria paruh baya disebuah gubuk kecil. Apakah gadis itu tentram? oh tentu tidak, sangat tidak tentram. Dirinya dibalut oleh ketakutan yang menghantuinya terhadap pria yang berada bersamanya di gubuk kecil itu. Dirinya berjaga-jaga selalu akan terkaman pria itu ketika
dimasuki oleh iblis. Namanya juga laki- laki, terlebih sudah lama berpisah dengan istrinya tiba-tiba menghabiskan malam bersama gadis remaja, niat buruk pasti akan terpikir olehnya.
"Kamu tidak lelah duduk terus, nona? atau kamu
sedang mengkhawatirkan sesuatu? tenanglah
semuanya pasti baik-baik saja. Kamu boleh tidur biar saya yang menjagamu, besok pagi kita pergi
menuju perkampungan", ujar pria itu menawarkan dengan nada lembut dan membujuk.
"Tidak pak! biar saya duduk saja, karena saya tidak mengantuk.Tidak sabar lagiuntuk pergi dari sini
menuju desaku, orang tuaku pasti sudah menunggu", jawab Tina dengan cepat dan salah
tingkah diselimuti ketakutan dan kekhawatiran.
"Oh ya, apa karena kamu takut sesuatu?
Nona lebih baik kamu mendengarkan saya dulu, tidurlah tidak ada yang perlu kamu takutkan. Saya akan menjaga dan mendampingimu sampai kamu bertemu keluargamu", sahut pria itu sembari menghampiri Tina.
"Maaf pak, kenapa harus mendekat? kamu sudah membuat suasana hatiku menjadi gundah gulana. Saya benar-benar takut tolong kasihani saya menjauhlah dariku!" imbuh Tina ketakutan
sembari mundur pelan-pelan ingin menjauhi pria
paruh baya itu.
Pria itu pun menghentikan langkahnya, namun sikap pria itu semakin mengkhawatirkan dirinya yang sedang memandang tajam padanya tanpa berkedip. Pria itu tersenyum manja menyapa Tina dan kembali melangkahkan kakinya yang semakin mendekati Tina. Dengan cepat pria itu menangkap
dan menarik tangan Tina dengan keras dan memeluknya sangat kencang. Tina menarik kembali tanganya dan berusaha memberontak dan melawan, tetapi tenaga pria selalu kalah dengan tenaga wanita. Semakin Tina mengelak, semakin kuat tegangan tanganya menggemgam Tina.
"Kenapa kamu berusaha kabur dariku? apa maksudmu ingin menjauhiku? kamu sangat cantik malam ini terlebih mengenakan daster pemberianku terhadapmu. Oh wanitaku", imbuh pria itu mengelus-elus kepala Tina dan sesekali
membelai rambut panjang Tina.
Tinapun hanya shock atas perkataan pria tua itu.
Dirinya benar-benar ketakutan hingga pucat dan
keringat dinginya bercucuran mampu membasahi
tubuh dan wajahnya disebabkan oleh ketakutan itu. Tina menatap pria itu dengan sangat tajam,
lalu berusaha melepaskan dekapan pria itu.
Wanita cantik itu berdiri dihadapan pria itu, dengan wajah tegang dan terlihat jelas tanganya bergetar dengan kencang, bagaimana tidak tegang dan takut? saat ini dirinya berada didekapan pria itu.
Pria itupun melemparkan senyumnya terhadap wanita itu dan menggendong tubuh mungil Tina.
Dirinya tidak peduli hentakan kaki dan tubuh Tina
yang berusaha melawan. Tinapun menangis histeris dan mulut Tina ditutup pria itu dengan tangan kananya. Sontak Tina semakin meronta- ronta ketakutan, dirinya dihantui rasa kehancuran dan kematian. Pria itu menarik satu sudut bibirnya
tanpa mengalihkan tatapanya terhadap Tina. Wanita itu semakin bingung, dirinya bersiap akan merasakan kehancuran yang mungkin ditakdirkan
malam ini. Tina hanya bisa meram ketika pria itu
mulai melucuti pakaianya. Dirinya benar benar tidak kuasa menerima semua ini.
"Tidak, saya tidak rela mahkotaku harus direnggut
pria cabul ini. Saya harus bertindak sebelum semuanya terjadi", gumam Tina mulai cari strategi hingga menoleh kekiri dan kekanan. Tina melihat sebilah pisau tajam yang tidak jauh dari keberadaan mereka. Tina cari akal biar bisa meraih pisau tersebut tanpa disadari pria cabul itu.
Blam....!
Pria itu tersungkur dan jatuh beberapa meter ke lantai akibat tendangan maut Tina mengenai
keperkasaan pria itu. Namun karena perlakuan pria itu, Tina tidak terhenti disitu saja. Rasanya dirinya seolah -olah membalaskan sakit dan derita yang dirinya tahankan.
Blamm..blam...blam, tendangan itupun terdengar berulang kali hingga pria itu tidak berdaya lagi.
Augh...augh, cukup nona, berhentilah saya bisa mati lho. Jika saya mati, siapa yang akan menemanimu disini? ini hutan sangat berbahaya.
"Saya tidak akan pernah takut dengan kematian, jika harga diriku dihancurkan dan dilecehkan.
Saya juga tidak takut dengan semua isi hutan ini. Lebih baik saya mati dari pada harus hidup bersamamu pria najis!" seru Tina berseru diiringi emosi tingkat dewa sembari mengepalkan kedua tanganya.
"Kamu benar benar mempermainkanku.
Pertama kamu sudah poloskan tubuhku tanpa sehelai pakaian apapun, dan sekarang ini kamu memaksa saya untuk memuaskan hasrat birahimu kamu yang akan mati ditanganku!" seru Tina sembari menarik sebilah pisau tajam tersebut.
Tidak, diantar dua pilihan: saya atau kamu yang akan mati. Jika saya memberimu kesempatan hingga dipagi hari, kamu kembali berdaya dan saya yang akan kamu korbankan. Sebelum itu terjadi, kamulah yang harus saya korbankan karena ulahmu. Saya tidak peduli harus mati dipenjara sebagai takdirku. Setidaknya saya bisa kembali
kekeluargaku walaupun sekejap", imbuh Tina sembari mengangkat pisau itu di kepalan kedua
tanganya.
Saat mendengar itu, pria itu diam dan berusaha bangkit berdiri. Lagi-lagi Tina menendang keperkasaan pria itu berulang kali sampai akhirnya pria itu lemas dan pingsan. Begitulah selalu Tina lakukan selama malam terlalui, hingga pagi hari pergi meninggalkan gubuk itu beserta pria bejat itu.
Tina berlari mengikuti jalur jalan persawahan itu,
dirinya tidak menyangka sampai ketitik empat persimpangan. Dirinya sempat bingung harus melalui simpang jalur yang mana, tiba-tiba dirinya
tersentak dengan suara memanggil dirinya. Dia tersungkur menangis dan pasrah akan kembali ketangan pria bejat itu lagi. Tetapi Tina sedikit waras dan sadar mengingat pria bejat itu tidaklah mengetahui namanya. Dirinya berusaha mendongakkan kepalanya, sangat dikejutkan dengan kehadiran Aldi dan beberapa aparat kepolisian berdiri di hadapanya.
Pria yang bernama Aldi itu nampak meraup wajahnya dengan kasar. Mengingat beban dirinya begitu berat semenjak menghilangnya Tina. Selama beberapa hari ini, Aldi memendam berbagai macam rasa: amarah, kesal, kepikiran,terpojokkan bahkan terbebani.
Disisi lain, dikantor polisi Tina menjelaskan sangat rinci, awal dari menghilangnya dirinya hingga bisa
melarikan diri dari gubuk ditengah hutan dengan
sekapan pria bejat itu. Kapolrespun menurunkan anggotanya terjun ketitik lokasi hutan yang Tina ceritakan.
Tina nampak sinis ketika melihat wajah pria yang mendampinginya dikantor polisi yang bernama Aldi itu.
"Hey gadis bodoh, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu salah presepsi semua perkataanku? Padahal saya yang selalu melindungimu dan saya hanya ingin kamu berubah menjadi gadis bijak dan tegas biar tidak selalu ditindas. Atas perlakuanmu saya sangat menderita dan banyak beban yang harus kuterima serta tanggung jawab besar yang harus saya pikul. Saya selalu mengingat isi surat wasiat ayahmu untukku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya denganmu!
"Apa ? surat wasiat? emangnya ayah kenapa, Al?
katakakan padaku, ayahku kenapa?" Seru Tina mendesak Aldi yang terdiam seribu bahasa sembari memukul-mukul tubuh Aldi.
"Aduh, kenapa saya keceplosan? mengingat skis Tina belum stabil seharusnya saya tidak mengutarakan ini dulu", gumam Aldi sembari memegang tangan Tina yang memekuli tubuh Aldi sembari menggemgamnya.
"Hentikan! cukup kamu membuat menderita anak saya karena ulahmu. Sekarang kamu sudah ditemukan terbukti anak saya tidak bersalah, dan jangan coba-coba mendekati anak saya lagi!" seru ibu Aldi dengan sangat marah sembari mendorong
kasar tubuh Tina.
"Aldi mari kita pulang sekarang, masalah surat wasiat ayahnya kamu sudah penuhi bertanggung jawab mencari wanita desa itu sampai ketemu. "Ayahnya meninggal bukan karena kamu, tetapi karena ulahnya sendiri. Tidak perlu kamu merasa bersalah dan merasa terbebani," imbuh ayah Aldi sembari menarik Aldi membawa pulang.
A...aaayahhh, ayahhh kamu meninggalkan Tina?
tiidaakk ayahh, saya tidak bisa terima ini.
Tinapun keluar dari dalam kantor polisi, berlari dan menangis memanggil-manggil nama ayahnya. Dirinya berlari kecil sambil mutar-mutar dikompleks
kantor polisi seperti linglung dengan berurai air mata.
Aldipun tidak kuasa melihat penderitaan wanita desa itu, apa lagi saat menghilang beberapa hari dirinya mendengar sendiri perjuangan dan penderitaan Tina hingga bisa keluar dari gubuk kecil ditengah hutan itu.
Aldi dengan segera ingin menghampiri dan mengejar Tina, tetapi....
bersambung
sungguh menarik ceritanya
pagi menyapa tur
good job dekq
seperti sinetron ahhhh