NovelToon NovelToon
My Sweet Roommate

My Sweet Roommate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis
Popularitas:989.2k
Nilai: 5
Nama Author: Queenyaya

21+

Harap perhatikan usia anda.

Sudah dua tahun Joana mengontrak di sebuah rumah tak berpenghuni. Di rumah itu, hanya ada dirinya dan seorang nenek pemilik rumah. Joana betah tinggal di rumah itu, selain harganya murah, pemiliknya juga sangat baik padanya, sudah menganggapnya seperti cucu sendiri. Sampai suatu hari, dengan mudahnya Nek Merry mengizinkan seorang lelaki muda, tinggal bersama mereka. Lebih parahnya lagi, Nek Merry meninggalkan mereka berdua selama berbulan-bulan karena dia harus pergi ke Singapura mengunjungi anaknya. Bagaimana nasib Joana selanjutnya?

“Jangan lebay, kita nggak tinggal sekamar, hanya seatap. Tenang aja, kamu bukan tipeku sama sekali. Jangan terlalu pede sesuatu akan terjadi di antara kita. Urus aja urusan masing-masing!” Desis Alvandro dengan tatapan sinis ke arah Joana.

“Baik. Tolong kerja samanya. Selama ini hidupku aman tanpa gangguan,” jawab Joana tak kalah ketus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenyaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita perlu bicara

Alva membuka mata ketika mendengar deringan ponselnya yang ke sebelas. Ya, dia tersadar dan tersentak kaget, langsung menendang selimut yang masih membalut tubuhnya. Lelaki itu mencari-cari di mana keberadaan ponselnya yang suaranya terdengar tenggelam. Ternyata ada di bawah gulungan selimut. Alva menggerutu ketika dia bersusah payah mencari ponsel itu di balik selimut tebal yang menemani tidurnya.

Enam panggilan dari nenek dan lima panggilan dari Zea. Saat ini, Zea melakukan panggilan video kepadanya, tanpa ragu, Alva menjawabnya meski saat ini dia sedang bertelanjang dada.

“Pagi Bapak…” wajah manis beserta suara lembut wanita itu terdengar jelas.

“Ada apa Zea? kamu tau kamu itu menganggu mimpi indah saya!” gerutu Alva, lelaki itu berdecak sebal.

“Ups, maaf Pak. Saya hanya mengingatkan supaya Bapak nggak telat, hari ini ada meeting dengan direktur yang lain membahas tentang kinerja selanjutnya, Pak. Apa Bapak bisa lebih cepat?”

argh. Alva menggeram kesal, mimpi tadi itu masih teringat jelas di kepalanya. Meski dia tidak tahu dengan siapa dia melakukannya, karena wajah wanita yang sedang berada di bawah kungkungannya itu tidak terlihat jelas. Tapi hampir saja Alva merasakan surga dunia meski lewat mimpi, sedikit lagi. Tapi karena deringan ponsel sialan itu terus mengganggunya, Alva gagal meraih surga dunia itu bahkan kini, sesuatu di balik boksernya masih menegang hebat.

“Ya.” panjang lebar Zea berucap, lelaki itu hanya menjawab satu kata, singkat padat dan tidak jelas. Alva kesal dan emosi, dia mencampakkan asal ponselnya ke atas ranjang. Lalu beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menuntaskan hasratnya yang tertunda.

“Bukan… itu bukan Joana.” Alva bergumam lagi. Mengingat-ngingat mimpinya semalam. “Dia nggak sehebat itu untuk mampu mempengaruhi pikiranku sampai ke dalam mimpi. Alva, ingat akan selera dan tipe wanitamu, jauh sekali dan sangat berbanding terbalik dari apa yang Joana miliki. Tinggi langsing proporsional, bukan pendek mungil dan sedikit gendut seperti Joana.” Berulang kali Alva menyadarkan pikiran di dalam otaknya, bukan Joana, tidak mungkin Joana. Tapi nyatanya dia langsung susah tidur dan terngiang-ngiang dengan ciuman itu.

Sialan!

Umpat Alva seraya meraih jasnya lalu dia sampirkan di lengan. Keluar dari kamar, sepi dan hening. Ya, jelas saja mungkin Joana sudah pergi bekerja, atau wanita itu masih berdiam diri di kamarnya?

Tidak mau ambil pusing, Alva langsung keluar dari rumah dan mengunci pintu dari luar. Tetapi ketika melihat motor Joana masih terparkir menyedihkan di dalam garasi, dia ragu apa Joana ada di dalam?

Abaikan abaikan.

Lelaki itu masuk ke dalam mobil, setelah membuka pintu oagar selebar mungkin. Salah satu hal yang membuatnya enggan tinggal di rumah seperti ini adalah dia harus repot membuka dan menutup pagar tiap kali keluar rumah.

🍑

Joana saat itu sedang berdiri, berbicara dengan seorang kurir untuk menerima sebuah paket yang isinya adalah surat-surat penting kantor, dia langsung menundukkan pandangannya ketika bos besar memasuki kawasan lobi melalui pintu utama. Dia harus bersikap tegas pada dirinya sendiri bahwa tidak mau lagi berurusan dengan Alva, apapun itu.

Alva tahu wanita itu sedang menghindari tatapannya, dia pun langsung berlalu begitu saja menuju lift karena Zea dan rekan yang lain sedang menunggu kedatangannya.

“Jo, kenapa lo nggak nyambut kehadiran Pak Bos?”

“Gue lagi ngomong sama abang kurir tadi.” Jaoan beralasan. “sebentar, gue nerusin paket ini dulu ke lantai sepuluh.”

“Ditujukan ke bagian apa?” tanya Amanda, rekannya.

“Marketing,” sahut Joana singkat. Lalu kakinya mengayun malas, menuju lift. Joana berdiri di depan pintu lift sambil menunggu pintu lift terbuka.

Ting.

Begitu pintu itu terbuka, sosok yang dihindarinya justru berada di sana.

Harusnya dia udah nyampe ke atas, kenapa masih di sini?!

Joana menggerutu dalam hati. Lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift, dan memilih balik badan. Tapi tangan Alva menariknya cukup kuat, sampai dia akhirnya masuk ke dalam sana dan pintu langsung tertutup.

“Jangan hindari saya Joana.” di hadapan Joana, Alva seperti memiliki kepribadian ganda, padahal dia sudah mati-matian berusaha ingin melupakan kejadian semalam, melupakan rasa bibir Joana lebih tepatnya. Tapi saat berpapasan dengan wanita ini, mengapa sulit sekali.

Joana tidak menjawab. Karena sudah terlanjur masuk di dalam lift. mau tidak mau dia menekan tombol sepuluh, konsisten pada tujuannya untuk mengantar paket itu. Hening selama beberapa detik.

Mata Joana membulat, saat Alva mengubah lantai tujuan mereka. Lantai lima belas yang artinya itu adalah lantai teratas di gedung ini. ”Kita perlu bicara,” ulang Alva dengan nada lembut. Satu langkah dia ingin mendekat pada Joana yang sedang berdiri di sudut. Tapi lift ternyata berhenti di lantai sepuluh, tempat tujuan Joana.

“Permisi.” Joana menghempaskan tangan Alva yang saat itu mencekal lengannya, lalu sedikit menundukkan kepalanya, dan meninggalkan Alva begitu saja. Sungguh dia tidak ingin mengenali lelaki itu lagi meski pada kenyataannya mereka tinggal seatap.

1
Nur Adam
lnjut
Ira Widiyastuti
bacaannya mudah dipahai
aur mengalir alus dengan konflik yang pas
semoga bisa happy ending
Rita Sumarwati
Luar biasa
Tati
lanjut
SmaiLlingMiQ
Luar biasa
Syahfitri Selamet
nyimak kk
Sri Astuti
apa Zea yg vicall
Sri Astuti
papanya tega ya.. mungkin dipikir Alva bkl nyerah.. tp ternyata mengecewakan
Sri Astuti
rasain.. kasih buktinya sofa nenek yg jg ternoda
Sri Astuti
sedih ya nikah tp sepi
Sri Astuti
sedih campur haru sih
Sri Astuti
bagus.. nenek lbh berpikir logis..
pelan" nti mama Alva bkl.luluh
Sri Astuti
positif nek
Sri Astuti
good job Alva
Sri Astuti
syukurlah nenek berpegang teguh mendukung mrk berdua
Sri Astuti
nenek senang.. mama Alva meradang
Sri Astuti
jgn" nenek sdh tahu yg terjadi
Sri Astuti
fix ini Joan hamil
Sri Astuti
kyknya hamil ini
Sri Astuti
semoga segera dpt restu.. jgn smp hamil besar br nikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!