NovelToon NovelToon
Fire On Fire

Fire On Fire

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Perjodohan / Nikahmuda / Perubahan Hidup / Transaksi tubuh / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Riria Raffasya Alfharizqi

Kecelakaan seorang model sekaligus artis yang tengah naik daun merubah hidupnya ketika ia dinyatakan koma dan meninggal dunia oleh para dokter. Namun siapa yang tahu jiwanya berkelana dan masuk ke tubuh seorang gadis yang sudah memiliki suami.

Nama aslinya Jennifer Mauren, yang tanpa sadar berpindah ke tubuh Alina. Seorang gadis cantik yang sudah bersetatus sebagai istri dari lelaki kaya raya dan memiliki wajah rupawan. Alina hanya dijadikan sebagai pajangan saja karena pernikahan mereka atas dasar perjodohan tanpa adanya cinta.


Karena raga Alina yang dimasuki oleh Jenni maka semua sikap dan perilaku Alina seketika berubah drastis. Perubahan itu yang kini membuat suaminya atau Alendra Atmajaya melihat seorang Alina.

Lantas siapa yang sebenarnya Alendra sukai? Jennifer atau Alina?


Jangan lupa follow ig riria_raffasya ✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mati Lampu Pembawa Berkah

Setelah makan malam bersama. Alendra dan Alina naik menuju ke kamar Alina di lantai atas. Mereka memutuskan untuk menginap karena permintaan dari Mama Diana. Alina dibuat bingung dengan baju yang berada di lemari. Pasalnya tidak ada yang dia sukai dan selebihnya lingerie yang sepertinya sengaja Mama Diana belikan ketika Alina menikah beberapa bulan yang lalu.

"Masa iya gue pakai baju tidur gambar naruto gini, ini konsep baju tidurnya Alina sebenarnya gimana sih?" dumel Alina tidak habis pikir.

Usut punya usut baju-baju Alina yang menurutnya bagus dulu sengaja ia borong ke apartemen setelah pernikahannya. Sisanya hanya baju-baju lama yang memang Alina asli saja sudah tidak memakainya. Mengenai lingerie yang masih tertata rapih di lemari sebelahnya. Itu Mama Diana yang sengaja membelikannya ketika itu.

Alina menoleh ke kamar mandi. Terdengar gemericik air keran yang menandakan Alendra masih sibuk dengan mandinya. Lagian lelaki itu baru saja masuk jadi Alina sangat yakin selesainya masih cukup lama.

Dengan berjinjit Alina mengunci pintu kamar. Takut saja kalau tiba-tiba ada yang masuk. Lalu ia kembali menuju ke lemari untuk mengambil baju kurang bahan yang tersedia di sana.

Niatnya hanya untuk mencobanya saja. Tidak ada maksud lain, meski dirasa cukup nekat tetapi Alina yang sekarang memang sangat berbeda.

"Mending yang ini dari pada baju naruto gitu. Kayak bocil banget gue, heran juga kenapa Alina tidak modis banget sih," komentarnya melirik tanpa minat ke arah baju tidur tadi.

"Bagus juga," komentarnya saat mengamati baju seksi yang kini sudah berada digenggaman tangannya.

Dengan sangat hati-hati Alina menanggalkan seragam yang ia kenakan satu persatu. Napasnya juga lumayang ngos-ngosan takut Alendra tiba-tiba muncul. Setelah berhasil melepaskan seragam sekolahnya. Baju minim bahan itu kini mulai ia kenakan secara perlahan juga.

"Gila...kayak model majalah dewasa gue kalau kayak gini," decaknya setengah kagum.

Tidak ingin berlama-lama memakai baju kurang bahan tersebut. Ia berniat untuk melepaskan dan meminjam baju Mamah Diana yang mungkin saja ada yang seukuran dengannya.

Alina jadi semakin gencar untuk menambahkan berat badan agar terlihat semakin berisi lagi.

Ceklek

Deg

Matanya terbelalak kala melihat Alendra keluar dari kamar mandi dengan tatapan mata menatap ke arahnya sama kagetnya. Tangan Alina reflek menutupi bagian tubuhnya yang terekspos karena baju kurang bahan itu.

"Lo... Masuk dulu Ale," usir Alina panik sendiri.

Selain panik ia juga sangat malu ketahuan memakai baju seperti itu oleh Alendra. Ia tidak mau Alendra semakin gencar untuk memperoloknya.

"Ale... Buruan masuk!" titah Alina yang tidak dipedulikan oleh Alendra.

Terbukti kini dari langkah kaki Alendra yang semakin maju bersamaan dengan Alina yang melangkah mundur. Situasi semacam ini seperti film-film yang sebentar lagi anak gadisnya akan dipaksa untuk melakukan yang tidak-tidak oleh si pria.

"Kenapa harus masuk? Aku sudah selesai mandi," balas Alendra enteng.

Tatapan mata itu tidak terlepas dari tubuh Alina yang hanya terbalut benang dijait asal-asalan itu. Bahkan sangat teransparan persis seperti jaring laba-laba. Kulit putih Alina sangat indah jika dilihat dari jaring laba-laba yang seperti dibuat baju kurang bahan itu. Diam-diam Alendra menikmati dan menyukainya.

"Dasar me*um!" Alina buru-buru memunguti seragam sekolahnya. Ia berniat untuk ke kamar mandi sebelum sesuatu kembali terjadi dengannya juga keadaannya.

"Anj*r," umpat Alina kala lampu yang berada di kamar tiba-tiba mati.

Namun bukan hanya di kamar saja yang mati melainkan juga seluruh daerah itu. Semua gelap gulita kecuali gairah Alendra kini yang tanpa sepengetahuan Alina semakin naik bersamaan dengan suasana gelap malam ini.

"Ale, lo dimana?" tanya Alina meraba-raba di sekitar.

Rasa takutnya kini mengalahkan rasa malu dan kesalnya terhadap Alendra. Toh...dengan mati lampu seperti saat ini membuatnya jadi tidak terlihat. Alina jadi cukup percaya diri meski masih menggunakan lingerie yang sebenarnya tadi niatnya hanya untuk mencoba saja.

"Ale, pleas nggak lucu. Lo dimana?" ulang Alina karena tidak mendapat jawaban dari Alendra.

Deg

Alina terkejut setengah mati kala sebuah tangan sengaja memeluknya tiba-tiba. Tanpa melihat orangnya pun karena keadaan gelap Alina sudah bisa menebak jika itu kelakuan Alendra.

"Aku di sini," bisik Alendra membuat Alina mendengus kesal.

Niat sekali Alendra mencari kesempatan disaat sedang genting seperti ini. Rasa takut Alina malah sengaja ia jadikan kesempatan untuk membuatnya beruntung.

Ternyata otak Alendra tidak jauh dari yang namanya enak-enak. Beruntung perbuatannya itu kini sudah berada di rumah. Coba saja kalau di sekolah guru cab*l pasti julukan yang tepat untuknya.

"Lepasin Ale, nggak pakai peluk segala," berontak Alina membuat senyum miring terlihat di bibir Alendra.

Jika saja Alina bisa melihat senyuman licik itu mungkin dia sudah waspada dan menjauh dari Alendra. Namun keadaan sekarang seakan membuat keberuntungan untuk Alendra. Tidak bisa melihat dengan mata kepala setidaknya bisa merasakan.

"Oke aku lepas," balas Alendra melepaskan pelukannya. Namun seakan tahu dimana tempat dan keberadaanya. Alendra dengan sengaja menyenggol benda empuk yang sedari kemarin memenuhi pikirannya.

Benda yang Alendra perkirakan ukurannya masih sebesar biji mangga itu kini dapat ia rasakan secara langsung dan hampir saja tanpa pembatas jika saja Alina benar-benar dalam keadaan topl*s bukan seperti sekarang ini memakai baju tapi hampir terlihat semua.

"Ale!" protes Alina terkejut.

"Apa lagi? Aku mau ambil lilin dulu kamu tunggu di sini," balas Alendra yang mendapat gelengan kepala dari Alina.

Meski tidak terlihat namun masih gadis itu lakukan.

"Jangan pergi. Gue takut sendiri Ale," cicit Alina memohon.

Rasa rakut terhadap gelap itu bukan dari Alina, melainkan Jenni yang memang pernah memiliki trauma dulu di masa kecilnya karena sebuah kejadian. Dan berlanjut sampai sekarang ia belum bisa melawan rasa takut itu.

"Kamu mau terus gelap begini Alina?" tanya Alendra.

"Enggak," balas Alina singkat.

"Sebentar, biar aku ambil ponsel dulu kalau begitu," jelas Alendra berniat untuk mencari keberadaan ponselnya.

Sementata Alina mengikuti Alendra dari arah belakang. Sengaja ia menarik kecil baju yang Alendra kenakan.

"Alin, Endra mati lampu nak! Kalian tidak papa?" teriak Mama Diana dari arah luar.

"Mmmphh-"

"Iya ma, Alin sudah tidur dari tadi," balas Alendra membekap mulut Alina.

"Oh ya sudah kalau begitu... Bibi Inah lagi mama suruh beli lilin di minimarket. Persediaan di rumah habis soalnya," jelas Mama Diana sebelum kepergiannya.

Alian memukul dada bidang milik Alendra. Meski tidak terlihat tapi mengenai sasaran.

"Gue mau keluar, tidur bareng mama," kesal Alina.

"Dengan baju kamu seperti itu?" bentak Alendra seketika membuat Alina bungkam.

"Auw! Ale," decak Alina kala dengan sengaja Alendra menariknya sampai ambruk di dekapannya.

Dada keduanya saling bersentuhan, begitu juga dengan sesuatu yang mulai mengeras dibagiam bawah sana yang bisa Alina rasakan.

"Kamu lupa Alin sama perjanjian kita tadi? Hmm?" Bisik Alendra membuat sekujur tubuh Alina menegang seketika.

Bisikan Alendra seperti set*n yang membuatnya bisa merinding seketika.

1
Endang Sulistia
ok cu...ati ati di jalan ya...
Farika Willesden
Luar biasa
Ike Kartika
duh alin bahasa nya dirubah dikit jgn terlalu songong sm suami..kl alendra ky preman pasar sich gk maslh bahasa nya ky gt..se imbang..nah alendra kan suami ber pendidikan..
Ike Kartika
penasaran sm surat alina yg di titipin k boy apa ya isi surat nya..kan alina kecelakaan krn hbs berantem sm s ale2
Lestary Tri
keren. ceritanya ringan , tidak membosankan slalu candu dengan novell author satu inii. lope sekebonn thorr .
Lestary Tri
ditunggu season 2 nya kak.
=Y.RIANI=
mau season 2 nya ya thor,
=Y.RIANI=
season 2 nya ditunggu Thor
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
Fifid Dwi Ariyani
trussukses
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
Fifid Dwi Ariyani
trussukses
Fifid Dwi Ariyani
trussehst
Echa04
ck, si Widya emang dia gk takut ibu nya kehilangan pekerjaan lg gegara tingkahnya ini.... dasar kacang lupa kulit!
Echa04
apa mungkin si ale naro mata" di sekolah buat nguntin si Alin.... ck, knp gk nlp orag nya langsung ribet deh... kn jd banyak salah paham nya klo gtu... karna "sesuatu tidak seperti yg terlihat"
Echa04
jd jijik deh sama tingkah si Widya... ud tau suami sahabat sendiri uwweeeeekkkk🤮
Echa04
itu yg jd sopir si ale kali yaaa
Ucu Julaeha
Luar biasa
G'haziah F'hatiah L'hubys
lumayan
Dwi Yuliyana R. A
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!