follow igku @zariya_zaya
Bagaimana kalau tunangan yang sudah lama tak kau temui, tiba-tiba dia menjadi buta, apa kau percaya?
Yuna, bidan cantik dari desa tak sengaja bertemu dengan pria asing yang menyelamatkannya beberapa kali. Pria asing itu tak sengaja mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Yuna karena suatu hal dan menjadi buta.
Pria buta itupun meminta Yuna menikah dengannya. Awalnya Yuna menolak karena ia sudah bertunangan, tapi rasa bersalah telah membuat Yuna mengambil keputusan pahit dalam hidupnya, yaitu melanggar janjinya pada tunangannya yang tak pernah ia temui sejak ia masih kecil. Tak disangka, ternyata pria buta itu adalah tunangan masa kecilnya sendiri, yang baru saja kembali dari Swiss, yaitu Yeon.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah Yeon benar-benar buta atau hanya pura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21 Malam sebelum Kejutan
“Mahar apa yang kau inginkan?” tanya Yeon sekali lagi karena Yuna tak kunjung bicara. Mungkin karena terlalu shock mendadak ditanya soal mahar.
Yuna memang tersentak serta sungguh sangat terkejut. Disaat seperti ini, pria yang akan menikahinya malah menanyakan mahar. Jika wanita lain, pasti akan sangat bahagia jika calon suaminya menanyai mahar apa yang diinginkan di hari pernikahan, sebab pertanyaan itu adalah pertanyaan intim yang sangat berarti bagi seorang wanita yang akan menikah dengan pujaan hatinya.
Namun lain halnya dengan Yuna, jangankan memikirkan soal mahar, mendengar kata menikah saja Yuna merasa sangat sedih, perih, dan juga pedih yang tak berkesudahan. Bukan karena ia tak menginginkan mahar dihari pernikahannya, tapi ia ingin orang yang ia cintailah yang menanyakan kata indah itu, bukan pria asing yang baru saja ia temui.
“Kenapa kau diam saja? Begitu aku keluar dari rumah sakit ini, kita akan menikah.” Yeon kembali memecah kesunyian dan menunggu jawaban Yuna.
“Aku … tidak perlu mahar apapun. Terserah kau mau berikan apa.” Yuna menangis dalam diam, ia mengira Yeon takkan bisa melihatnya menangis karena kedua matanya diperban.
“Baiklah, sekarang tidurlah. Ini sudah larut malam. Kau pasti lelah. Tidurlah di sini.” Yeon menepuk pelan kasur yang ada disampingnya dan pura-pura tidak tahu bagaimana perasaan Yuna.
Sebenarnya, Yeon tidak tega melihat Yuna menangis dan ingin memberitahu bahwa dia adalah Yeon, tunangan yang ia cintai dan yang ia rindukan setengah mati. Ingin sekali Yeon berdiri dan memeluk Yuna dengan mesra, tapi ia menahan keinginannya kuat-kuat karena memang belum saatnya.
“Tidak, aku tidur di sofa saja,” tolak Yuna halus sambil menghapus air matanya.
“Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin teriak-teriak membangunkanmu jika aku butuh sesuatu. Ranjang ini sangat luas, pasti muat untuk kita berdua. Lagian kita akan segera menikah, tidak ada salahnya jika kita latihan tidur bersama.” Kata-kata Yeon benar-benar blak-blakan dan bikin orang kesal.
“Apa? Latihan? Kau pikir kita mau perang? Pakai acara latihan segala.” Yuna memejamkan mata menahan sabar menghadapi calon suaminya.
“Aku tidak tahu apa istilahnya, tapi setahuku pasangan suami istri yang sudah menikah pasti mereka bakal perang di atas ranjang. Benar, kan?” Yeon tersenyum membayangkan hal-hal yang bukan-bukan soal dirinya dan Yuna bila keduanya sudah menikah nanti.
Yeon sengaja ngebanyol supaya Yuna tak jadi sedih. Apalagi ini adalah malam pernikahan mereka, dan Yuna sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kejutan yang akan diberikan Yeon padanya besok.
Yuna menggigit bibirnya mendengar ucapan pria yang ternyata, sangat tidak sopan ini. Meskipun mereka berdua akan segera menikah, tapi pernikahan ini bukanlah pernikahan cinta. Ini terpaksa, dan pernikahan yang dipaksakan pasti tak seindah pernikahan dua insan yang saling mencintai.
Orang ini benar-benar menyebalkan sekali, batin Yuna.
“Dengar … e … siapa namamu?” tanya Yuna bingung harus memanggil calon suaminya ini apa, karena hingga detik ini ia sama sekali tidak tahu siapa nama orang yang akan menikah dengannya. Lucu, kan? Menikahi orang asing yang sama sekali tak diketahui siapa dia, dari mana asalnya bahkan namanya saja, Yuna benar-benar tidak tahu.
“Leonard,” jawab Yeon santai menggunakan nama almarhum adik kakeknya. Leonard Pyordova.
“Leonard?” tanya Yuna memastikan. Kenapa namanya hampir sama dengan nama Yeon? Jerit Yuna dalam hati, tapi ia berusaha melupakan orang yang kini telah menjadi mantan tunangannya dan tanpa ia tahu, bakal menjadi suaminya.
“Ehm, kenapa?” tanya Yeon.
“Tidak apa-apa, tidak jadi.” Dengan berat hati, Yuna melangkah pergi menjauh dan hendak tidur di sofa, tapi lengannya tiba-tiba dicekal oleh Yeon sehingga membuatnya terkejut. “Bagaimana kau bisa menangkap tanganku? Kau kan tidak bisa melihat?” tanya Yuna bingung, harusnya Yeon memang tidak bisa melihat karena kedua matanya tertutup perban.
“Tidak tahu, aku asal mengais saja, tak tahunya nyangkut,” jawab Yeon jujur. Sebuah alasan yang lumayan logis juga. “Meskipun aku tak bisa melihat wajah cantikmu, tapi aku bisa merasakan hawa keberadaanmu. Jangan pergi. Tidurlah disisiku. Aku janji takkan pernah menyentuhmu sebelum dapat izin darimu.”
“Siapa yang tahu? Mana mungkin seekor kucing menolak kalau dikasih ikan asin,” sergah Yuna tak percaya.
“Tapi aku bukan kucing, aku pria normal.”
“Itu ibarat kata, bengek!” kesal Yuna. ia sudah tak bisa menahan diri lagi bila berhadapan dengan calon suaminya ini. “Dengarkan aku mister Leonard. Meskipun kau dan aku akan segera menikah, tapi diantara kita berdua tidak ada ikatan apa-apa. Kau dan aku adalah orang asing. Pernikahan ini adalah bentuk permintaan maafku padamu karena telah membuatmu seperti ini. Aku tidak bisa memberikan lebih dari ini, jadi … jangan harapkan apapun dariku. Aku akan tetap merawatmu sampai kapanpun kau mau, tapi aku … tak bisa mencintaimu seperti aku mencintai tunanganku yang kini secara otomatis, sudah menjadi mantan ….” Yuna menghela napas panjang karena terlalu sedih saat memikirkan Yeon.
“Dengarkan aku … miss Leonard," Yeon pun ikut-ikutan cara Yuna memanggil namanya. "Jangan panggil namaku jika aku tak bisa membuatmu jatuh cinta padaku tepat di hari pernikahan kita,” tandas Yeon penuh percaya diri dan melepaskan cekalan tangannya. Ia pun langsung tidur membelakangi Yuna yang terdiam mendengar ucapan Yeon barusan.
Suasana kembali hening dan Yuna memilih berjalan untuk mematikan lampu ruangan meskipun ia sangat penasaran apa maksud kata-kata pria yang mengaku sebagai Leonard itu. Namun, Yuna tak ingin ambil pusing dan hanya menganggap angin lalu ucapan Yeon. Ia mengambil bantal dan satu selimut tipis lalu tidur di sofa.
Hari ini, serasa panjang bagi Yuna karena banyak hal yang terjadi hingga menguras hati, tenaga, dan pikiran Yuna. Terlebih lagi, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa setelah ini ia takkan bisa melihat Yeon lagi untuk selamanya.
Memikirkan bahwa dirinya akan menjadi Nyonya Leonard dan bukannya nyonya Yeon, membuat hati Yuna serasa tersayat-tersayat. Namun, Yuna hanya bisa pasrah akan takdir hidupnya yang menyedihkan. Saking lelahnya, hanya dalam kurun waktu kurang dari 5 menit, Yuna sudah terlelap dan berada di alam mimpi.
Suara dengkuran kecil Yuna, membuat Yeon yang pura-pura tidur, terbangun dan berjalan mendekat ke arah calon istrinya berada. Ia mengangkat perban yang menutup matanya dan mengaitkannya di atas kepala supaya ia bisa melihat Yuna. Sambil tersenyum, Yeon membelai lembut pipi Yuna.
“Maafkan aku, aku harap kau bisa memafkanku atas semua yang sudah kau alami. Tapi percayalah padaku … semua ini kulakukan demi kebahagiaan kita berdua. Inilah caraku melindungimu dari orang-orang jahat yang berniat buruk padamu. Sedikit lagi, kau harus merasa tersiksa sedikit lagi, setelah itu … kau pasti bahagia bersamaku, my dear Yuna.” Yeon mengangkat tubuh calon istrinya dan memindahkannya di atas tempat tidur agar Yuna bisa tidur dengan nyaman.
Mana mungkin Yeon membiarkan Yuna tidur di sofa yang keras, seluruh badan Yuna pasti serasa pegal bila terbangun nanti. Selain itu, bila Yuna tidur di kasur bersamanya, Yeon bisa dengan puas memandangi Yuna semalaman karena besok ia harus berakting menjadi buta lagi.
Keesokan paginya, Yuna tergolek dan mulai membuka matanya. Awalnya ia tidak sadar ada di mana dia sekarang. Yuna merasa sedang memeluk sesuatu dan tidur di atas tubuh seseorang. Perlahan, gadis cantik itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah yang ada didepannya. Namun, begitu melihat wajah tampan calon suaminya tepat berada di depan matanya, Yuna langsung berteriak sekencang-kencangnya.
“Aaaaaaaaggghhh!” teriak Yuna karena katakutan melihat Yeon yang dibalut perban dikedua matanya sehingga wajahnya terlihat sedikit menakutkan.
BERSAMBUNG
****