Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Lily : Anger
"Kau? Kenapa kau masih di sini, bukankah aku sudah meminta Bi Aluh untuk mengusirmu?" Ucapan itu keluar dari mulut Mas Dante ketika melihatku berdiri di depan pintu kamarnya.
"Pergi!" ucapnya sekali lagi sebagai penegasan bahwa dia tidak ingin melihatku.
"Minum obatmu dan setelah itu aku tidak akan pergi." Aku tidak punya cara lain untuk membujuknya agar mau meminum obat selain mengatakan ini.
"Aku tidak mau minum obat tanpa tahu alasan kenapa aku harus meminumnya," ucap Mas Dante marah.
"Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya."
"Aku tidak mau mendengar apapun darimu."
"Kenapa?"
"Karena aku aku tidak mengenalmu! Kau orang asing yang tiba-tiba menyelonong masuk ke kamarku."
"Justru karena kau tidak mengenalku aku ingin menjelaskan padamu tentang siapa diriku."
"Apa itu penting?"
"Tentu saja!"
"Ku rasa tidak sama sekali." katanya sambil membuang muka dariku.
Aku diam beberapa detik untuk memikirkan apa yang harus ku ucapkan berikutnya, haruskah aku katakan padanya atau aku pergi saja? Jujur saat ini aku agak tersulut emosi karena tingkah Mas Dante yang menyebalkan sekali hari ini.
Detik-detik berlalu berganti menit, aku masih ragu terhadap diriku sendiri. Mas Dante juga masih membuang muka, dia tidak menatapku sedikitpun. Sungguh suasana diam yang dingin.
"Aku istrimu," ucapku akhirnya dengan suara pelan yang bahkan ku ragu apakah Mas Dante mendengarnya atau tidak.
Di luar dugaan, dia memalingkan wajahnya kearahku. Dia menatapku dengan bingung di ikuti alis tebalnya yang saling bertautan, menyiratkan sebuah pertanyaan.
"Apa?" tanyanya.
"Aku istrimu," jawabku, kali ini dengan suara sedikit lebih keras.
Dia tertawa. Bukan tawa karena senang, tapi seperti tawa mengejek dan tawa merendahkan.
"Apa kau gila?" tanyanyanya masih di iringi dengan tawa menyebalkan.
"Apa kau tidak waras?" tanyanya sekali lagi. Kalimat tanya dan tawa yang mengejek yang jujur saja membuatku kesal.
"Atau apakah kau kehilangan ingatanmu? Kau lupa siapa suamimu sebenarnya? Kau menganggapku sebagai suami karena ingatanmu terganggu? Kau menerobos memasuki rumahku karena lupa dimana rumahmu sendiri?" Dia masih tertawa.
"Kau yang kehilangan ingatanmu!" ucapku akhirnya.
Sontak dia berhenti tertawa dan menatapku dengan tajam.
"Kau yang kehilangan ingatanmu! Kau yang amnesia! Kau yang lupa siapa istrimu!" ucaku padanya untuk menegaskan.
"What the fff ...." Aku tahu dia ingin mengumpat.
Jeda diam yang canggung lagi.
"Keluar!" ucapnya dengan nada datar dan dingin yang menakutkan.
"Minum obatmu agar kau cepat sembuh, agar ingatanu cepat kembali, agar kau--"
Ppraanngg...
Suara pecah dari gelas yang menghantam tembok di sebelahku.
Mas Dante melemparkan gelas yang ada di atas nakas ke tembok hingga menyebabkan gelas itu pecah berkeping-keping, air yang sebelumnya mengisi gelas juga tumpah begitu saja, sepercik mengenai sisi wajahku. Beruntung hanya air, tak bisa ku bayangkan bagaimana jika yang mengenai wajahku adalah serpihan pecahan beling tersebut.
Bi Aluh datang beberapa saat setelah itu. Kurasa beliau mendengar suara pecah gelas yang di lempar Mas Dante. Bi Aluh histeris ketika melihat apa yang terjadi. Beliau memintaku untuk menjauh dari kamar mas dante. Tapi, aku mematung, tanpa bergerak, tanpa suara di tempatku berdiri.
Shock. Iya. Tentu saja.
"Neng, pergi saja, biar Mas Dante menenangkan diri dulu. Bibi akan menelpon Nyonya besar untuk datang kesini, mungkin Pa Dante mau mendengarkan jika Mamanya yang menjelaskan. Yuk Neng, neng juga tenangkan diri di kamar Neng," bujuk bi Aluh berbisik pelan padaku.
"Cepat suruh wanita gila ini pergi!" Suara Mas Dante lebih keras dari sebelumnya.
"B-baik Pak, baik." Bi Aluh memegangi kedua bahuku dengan kedua tangannya. "ayo Neng." Beliau sedikit menheretku karna jujur saja kakiku seperti membeku, sangat sulit untuk di gerakan.
***
Akhirnya, aku menangis sejadi-jadinya di kamarku sendiri. Rasa shock yang sebelumnya menlingkupiku kini berganti dengan rasa sedih yang teramat sangat. Aku tahu Mas Dante orang yang kasar, tapi aku tidak menyangka dia bisa sekasar itu. Kalau hanya teriakan-teriakan marahnya aku sudah terbiasa dalam 6 bulan pernikahan kami, tapi tadi, Mas Dante hampir mencederaiku.
"Yang sabar ya, Neng. Bibi tah neng orang yang sabar, neng orang yang kuat. Neng pasti bisa memahami keadaan Pak Dante. Bibi percaya itu." Bi Aluh berusaha menguatkanku dengam memberikan kata-kata motivasi itu juga dengan elusan di rambut dan punggungku.
Tapi aku tidak sanggup berkata apa-apa selain menangis sesegukan.
"Bibi sudah meminta Pak Anang untuk menelpon Ibunya Pak Dante, mungkin sebentar lagi beliau akan tiba."
"Terima kasih," ucapku serak.
"Tidak perlu berterima kasih, Neng." beliau membelai rambutku lagi. "Neng Istirahat dulu ya, tenangkan diri Neng, semoga setelah Ibu datang, Mas Dante bisa lebih tenang."
"Baik bi. Semoga," Suaraku masih serak.
"Bibi tinggal dulu ya, kalau ada apa-apa, panggil saja Bibi."
Aku hanya meresponnya dengan anggukan.
Selepas Bi Aluh pergi dari kamarku, aku masih menanggis sesegukan. Aku tidak tahu berapa lama aku menangis samapi sepertinya aku tertidur. Bukan tidur yang lama.
Saat terbangun kepalaku sedikit sakit, suara ketukan di pintu kamar yang membuatku terbangun.
"Siapa?" tanyaku setelah aku berusaha mengatur suaraku agar tidak terlalu serak.
"Ini, Mama, Ly," ucap suara dari balik pintu.
Ah, mertuaku, syukurlah beliau sudah datang.
"Sebentar, Ma."
Aku beranjak daei tempat tidur lalh pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku yang sembab karena tertidur setelah menangis.
Setelah memastikan kalau qajahku agak mendingan, aku membuka pintu.
"Lily." Suara ibu mertuaku terkejut. "Kamu menangis? Apa yang terjadi?"
Selanjutnya, ku ceritakan tentang apa yang terjadi pada ibu mertuaku.
"Maafkan, Mama, Ly," ucap ibu mertuaku.
"Mama tidak prlu minta maaf," kataku.
"Mama juga ingin meminta maaf atas nama Dante."
"Tidak perlu, Ma. Aku tidak marah pda Mas Dante, Aku memaklumi keadaanya." Walaupun sebenarnya aku sedikit kesal sih.
"Bagaimana kalau mama ke kamar Mas Dante, minta dia untuk meminum obatnya. Dia belum minum obat sedari pagi," pintaku.
"Tentu saja sayang, mama akan ke sana."
"Ma,"
"Iya?"
"Tolong jelaskan juga tentang aku, tentang hubungan kami. Dia nampak hhmm.... Sangat membenciku hari ini. Semoga setalah mendengar penjelasan dari Mama, Mas Dante mau bicara padaku."
"Tentu saja sayang, Tentu saja."
~Bersambung~