Zeline Anindya adalah seorang pekerja hotel yang dijebak oleh salah satu teman kerjanya, membawa Zeline pada kejadian satu malam dengan Barata Adiwangsa yang membuat Zeline terhina dan terusir dari tanah kelahirannya.
"Kau akan menyesal, Tuan. Hidupmu akan hancur hingga harta kekayaan yang kau banggakan itu tidak akan berarti bagimu, Tuan," sumpah serapah Zeline kepada Bara yang telah menyakiti hatinya.
Bara berhenti sejenak dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zeline.
"Cih, bicaralah sesuka hatimu. Tinggal kita buktikan saja nanti. Kau atau saya yang akan hancur!" Bara pun berlalu dari kamar itu.
Dengan tekad yang kuat, Zeline beserta ketiga anak kembarnya yang genius akan bersaing hebat dengan Barata Adiwangsa untuk mengalahkannya.
Mampukan Zeline dan ketiga anak kembarnya mematahkan sosok Bara yang sangat dingin dan angkut serta ambisius itu?
Selamat membaca, semoga kalian terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Terjadi
Sehari sebelum pernikahan Bara dan Zeline. Saat ini Bara menyibukkan dirinya di kantor. Tak peduli dengan pernikahan yang akan dilangsungkan besok. Semua undangan telah tersebar, begitu pun dengan Jeny yang telah mengetahui pernikahan Bara dan Zeline.
Tok... tok... tok...
"Permisi Tuan, nona Jeny ingin bertemu dengan Tuan Bara. Nona Jeny menunggu anda di parkiran mobil sekarang," ujar Kris menyampaikan pesan dari Jeny.
Bara menghela nafasnya perlahan, antara ingin menemui Jeny atau tidak. Sebenarnya Bara masih mencintainya tapi saat ini Bara sedang mencoba untuk melupakan Jeny. Tapi Jeny masih ingin menemui Bara, ini sangat sulit bagi Bara jika menemui Jeny kembali.
"Baiklah, saya ke sana sekarang!" ujar Bara dan bangkit dari kursi dan melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju mobil milik Jeny.
Bara langsung masuk ke dalam mobil Jeny dan duduk di sampingnya dengan mengarahkan pandangan wajahnya ke depan dengan tenang. Bara tak ingin menatap wajah Jeny, karena menatap wajahnya akan mengingatkan dia pada kenangannya bersama Jeny.
"Bara, apa kau yakin akan menikahi ibu dari anak-anakmu? Apa kau tidak mencintaiku lagi? Apa kau tidak mengingat bagaimana pengorbanan cinta kita selama 7 tahun bersama? Hubungan jarak jauh antara kita tidak begitu dipermasalahkan, tapi kenapa perjodohan membuat kamu goyah, Bara?" tanya Jeny sembari menangis di hadapan Bara yang tak menatapnya itu.
"Kamu yang membuat aku memilih, Jeny. Andai kamu menerima anak-anakku maka aku tidak akan menuruti kemauan papi. Dan kamu juga sudah membuat kekacauan karena malam itu kamu pergi bersama Vino ke Club hingga mabuk, seharusnya itu tidak terjadi," ucap Bara mengungkit apa yang sudah Jeny lakukan.
"Aku minta maaf Bara, malam itu aku benar-benar stres jadi aku minta Vino untuk menemaniku, hanya itu. Kau tahu bukan bahwa aku mencintaimu?" ujar Jeny dengan kejujurannya. Memang pada kenyataannya Jeny sangat setia pada Bara, begitu juga dengan Bara yang percaya pada Jeny tak mungkin mengkhianatinya.
Bara hanya diam tak mempedulikan apa yang diucapkan oleh Jeny, karena percuma bila menanggapinya maka akan ada perdebatan yang hebat antara mereka. Bara tahu betul sifat Jeny maka dari itu Bara menahan amarahnya, tak bicara apa-apa karena itu akan terbuang sia-sia.
"Pulanglah, aku banyak pekerjaan!" ujar Bara meminta Jeny pergi dari sana dan Bara pun hendak keluar dari mobil Jeny.
"Bara aku mohon batalkan pernikahan kamu sekarang, aku masih cinta sama kamu, Bara!" Jeny menahan lengan Bara dan meminta untuk membatalkan pernikahannya dengan Zeline.
"Jika kau mau menerima anak-anakku maka aku akan membatalkan pernikahanku sekarang juga, bagaimana?" tawar Bara kembali.
"A-aku belum siap menerima anak-anak kamu, Bara!" jawab Jeny gugup dan ragu.
"Cih, kalau begitu sudah jelas, bukan. Kau hanya mencintaiku saja karena kau tidak menerima masa laluku dengan menerima anak-anakku. Pergilah, aku sudah pusing dengan keadaan ini," Bara pun keluar dari mobil meninggalkan Jeny.
"Baraaa ... kau jahat Bara, hiks...!" teriak Jeny memanggil nama Bara sembari menangis.
Bara berjalan menuju ruang kerjanya dengan perasaan kecewanya dan rasa sakit saat melepaskan Jeny. Sungguh Bara juga masih mencintai Jeny. Tapi bagaimana pun juga ini sudah keputusan mereka berdua karena tidak ada salah satu di antara mereka yang mau mengalah, termasuk Jeny yang tidak mau menerima Jupiter, Mars dan starla.
"Arghhh...!" teriak Bara dengan melemparkan vas bunga yang ada di meja tamu hingga berhamburan di lantai.
"Kenapa ini semua terjadi padaku? Ya Tuhan, ini pilihan yang sulit untukku," ucap Bara mengadu pilu pada sang Maha Pencipta.
Hari pernikahan yang dinanti-nantikan oleh Jaya, Jupiter, Mars dan Starla akan berlangsung hari ini, tapi bagi Bara dan Zeline mereka hanya merasa pernikahan ini adalah keterpaksaan saja demi kebahagiaan ketiga anak kembar mereka.
"Yeay, hari ini papa dan mama akan menikah. Kita akan menjadi keluarga yang utuh seperti keluarga yang lainnya!" seru Mars kegirangan bersama Jupiter dan Starla.
Bara tersenyum melihat ketiga anak kembarnya begitu bahagia dengan pernikahan dirinya dan Zeline. Ada rasa damai ketika melihat ketiga anak kembarnya itu tertawa lepas dengan kegembiraannya.
"Dengan pernikahan ini, aku bisa menebus rasa bersalahku pada Jupiter, Mars dan Starla yang kekurangan kasih sayang seorang ayah," batin Bara tersenyum senang.
Pernikahan Bara dan Zeline diadakan di kediaman Adiwangsa. Pukul 14.00 siang, semua tamu undangan telah berdatangan begitu pula dengan penghulu dan para saksi nikah. Bara menghela nafasnya sedikit gugup, lalu tenang kembali saat menatap ketiga anak kembarnya yang berada tak jauh dari dirinya.
Akhirnya ijab qabul telah di ucapkan oleh Bara, sekarang Bara dan Zeline resmi menjadi sepasang suami istri yang halal. Tak lama kemudian Zeline yang didampingi oleh Intan melangkah menuju Bara berada. Sepasang mata orang-orang melihat kecantikan Zeline sangat terpesona oleh penampilannya begitu pula dengan Bara.
"Papa ... mama cantik ya, Pa?" tanya Starla yang tiba-tiba menggenggam tangan Bara.
"Eh, i-iya sayang!" sahut Bara gugup.
Setelah beberapa jam kemudian, para tamu undangan pun lama kelamaan pulang dari kediaman Adiwangsa, begitu pula dengan Intan yang hendak pulang dari acara pernikahan sahabatnya.
"Zeline, selamat ya atas pernikahanmu, semoga kamu bahagia bersama keluarga barumu sekarang. Aku pamit, ya!" ucap Intan memberi selamat pada Zeline sekaligus pamit untuk pulang.
"Terima kasih, Intan. Aku titipkan rumahku padamu. Kau tinggal lah di sana selamanya aku tidak masalah," ujar Zeline berpesan.
"Ok, ok aku akan tinggal di rumahmu, tapi kamu sering-sering main ke sana, ya!" pinta Intan.
"Ya pasti dong, aku nggak akan pernah lupain kamu, kamu sahabat aku," Zeline memeluk Intan sebagai rasa syukurnya mempunyai sahabat yang baik seperti Intan.
Setelah Intan pergi menjauh dari pandangan Zeline, tiba-tiba Jaya menghampiri Zeline hingga Zeline terkejut melihat keberadaan Jaya yang sudah ada di hadapannya.
"Eh, Om Jaya!" kaget Zeline.
"Kamu sudah jadi menantu saya, jadi kamu harus memanggil saya papi sama seperti Bara," pinta Jaya.
"I-iya Papi," jawab Zeline yang masih canggung.
Malam hari setelah makan malam berakhir, Zeline memasuki kamar yang ternyata ada Bara sedang duduk bersandar di ranjang terlebih dahulu. Zeline bingung harus melakukan apa, wajah dingin Bara saat ini sudah terlihat dan membuat Zeline berdiam diri.
"Woi, itu ... kamu tidur di sofa!" Bara melempar bantal dan selimut ke arah Zeline.
"Apa-apaan ini, aku nggak mau!" bantah Zeline.
"Kalau kamu nggak mau tidur di sofa, tuh lantai bisa jadi tempat tidur kamu. Jangan harap kamu tidur satu ranjang sama aku," ucap Bara dengan membentangkan kedua tangannya di atas kasurnya.
"Makan tuh bantal, mending aku tidur sama anak-anak di kamar sebelah!" Zeline melempar bantal dan selimut ke tubuh Bara di ranjang kemudian Zeline melangkah hendak keluar dari kamar Bara.
"Eh, eh aku nggak izinkan kamu keluar dari kamar ini, apa kata papi nanti, hah?" Bara menahan Zeline dengan perkataannya.
"Aku nggak peduli, lagian kamu yang bakal diomelin papi nanti," ujar Zeline menakuti Bara.
Zeline masih melangkahkan kakinya hendak keluar dari kamar itu, lalu dengan cepat Bara berlari menahan Zeline dengan memeluk perutnya dari belakang menahan Zeline untuk tidur bersama ketiga anak kembarnya.
"Kalau aku bilang jangan ya berarti jangan, kamu nurut lah padaku, aku ini suami kamu," ucap Bara yang masih memeluk Zeline dari belakang.
"Suami macam apa yang tega nyuruh istri tidur di sofa, kamu itu suami kejam tahu nggak. Ini apa lagi meluk-meluk seperti ini, bilangnya nggak mau tidur bareng tapi meluk-meluk aku, dasar buaya!" maki Zeline mencoba melepaskan tangan Bara dari perutnya.
"Hei, apa kamu bilang? Buaya? Ok sini, kamu itu harus di kasih pelajaran biar kapok!" Dengan posisi memeluk perut Zeline dari belakang, Bara menyeret Zeline hingga ke ranjang.
Bruk
Bara menghempaskan tubuh Zeline ke ranjang dengan cukup keras agar Zeline tidak keluar dari kamarn
"Aww ... sakit Bara, kasar banget sih kamu!" Zeline mengaduh kesakitan.
"Ini belum seberapa, kalau kamu melawan padaku lagi akan aku hajar kau lebih dari ini. Kamu diam di sini biar aku yang tidur di sofa, mengertiii?" teriak Bara dengan nada mengancam membuat Zeline terkejut ketakutan.
"Kenapa Bara menjadi menakutkan seperti itu, apa dia balas dendam karena menikahiku? Ya Allah, aku nggak mau lama-lama tinggal dengan singa buaya seperti dia," batin Zeline lirih sembari memandang Bara yang mulai memejamkan matanya tidur di sofa.
lanjutkan