Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perawan Vs Bujangan
Sementara diperjalanan
"Hawa..." Panggil Fariz
"Hmmm" Hawa menoleh
"Kita mampir keapartemen dulu ya? kemasi barang barangmu"
"Oh, kita jadi pindahan beneran ya bang?" Ucapnya sendu
"Iya, kenapa?" Fariz menepikan mobilnya, karena sudah sampai diapartemen
"Tidak. Tidak apa apa" Hawa memegang kepalanya nyeri
"Kenapa dengan kepalamu? apa kepalanya masih sakit?" Fariz meraba kepala Hawa, yang tadi diusap oleh Hawa "Mana yang sakit?"
Hawa geleng geleng, tapi sebenarnya agak khawatir
Fariz tersenyum tipis "Sidar sudah diberesin. Dia sudah tidak ada disitu lagi"
"Kok" Hawa memegang tangan Fariz yang masih menempel dikepalanya "Kasihan dong. Dia jadi pengangguran"
Kedua tangan Fariz sudah berada diantara kedua pipi Hawa "Biarin. Dia seperti nyonya, jika mami tidak dirumah"
Wajah Hawa masih ditengah tengah tangan Fariz"Oh" Hawa manggut manggut
Mereka saling pandang
"Papi sudah lama ingin memecatnya. Tapi tidak enak, karena Sidar, masih kerabat mbok Bedah"
Tangan Fariz sudah turun semua, tapi bertengger dikedua bahu Hawa
"Terus, kenapa dia sekarang dipecat?" Tanyanya
"Karena dia manjambakmu. Dia juga selalu cerobo"
"Cerobo?"
"Iya. Seharusnya tangan yang bekerja, tapi mulut yang selalu bekerja. Kau tau, dia sukanya apa?"
"Apa?"
"Bergunjing. Dan ingin tau kehidupan majikannya. Dan papi, tidak suka orang yang ikut campur"
Tangan kiri Fariz mengusap rambut Hawa kembali, lalu turun dipipi Hawa yang lembut, iapun meneruskan ucapannya "Giliran sekarang tangannya bekerja, eh, kerjanya malah menyakitimu. Makanya papi langsung pecat"
"Kok bisa !! Hanya masalah seperti itu dia dipecat ? kasihan"
"Kamu aneh... Ayo sekarang kita turun. Kita masuk keapartemen dulu"
Fariz turun, lalu memutari mobil lewat depan, dan membukakan pintu untuk Hawa
Tangan Fariz menempel body mobil bagian atas. Menghalangi kepala Hawa, agar tidak terbentur.
Hawa turun, tangan Fariz menjulur, dan menggenggam tangan Hawa. Ia menggandengnya
Sekarang Fariz sudah tau rumusnya Hawa. Jika ingin selamat tidak diterkam Hawa, Fariz merayunya dengan pelan dan santai.
-
Fariz mengikuti Hawa sampai kekamarnya. Ia duduk diranjang, dan memperhatikan apa yang Hawa lakukan
"Bajunya tidak usah diberesin. Buku buku dan yang penting penting saja"
"Nggak usah semua bang? memangnya, disana mau sementara apa sementahun?" Hawa bertanya, tapi tangannya masih sibuk dengan acaranya
Fariz tersenyum
"Kurang tahu" Fariz merebahkan badannya dikasur, yang biasa Hawa pakai tidur "Abang takut jika terjadi apa apa pada mami"
"Memangnya, mami itu apanya abang ? kakek neneknya abang?" Hawa mulai ingin tau tentang keluarga Fariz
Fariz berdiri mendekati Hawa "hah ? sok tau banget kamu"
Hawa mendongak, takut dimarahi oleh Fariz "Maaf, makanya Hawa tanya sama abang"
Hawa merubah posisi. Ia menjauhi Fariz, Tapi Fariz terus membuntuti
"Ceritanya kepo nih..." Fariz sudah berdiri didepan Hawa pas.
"Ya sudah kalau nggak mau ngasih tau, nanti Hawa beli informasi dipasar Malabar. Siapa tau disana ada yang jual" Hawa pura pura sibuk kembali, dan membelakangi Fariz kembali
"Dih merajuk ni.." Tangan Fariz mulai melingkar diperut Hawa dari belakang. Ia mendekatkan wajahnya diceruk leher Hawa, lalu ia usapkan janggutnya dileher Hawa
Tangan Hawa berusaha melepas tangan Fariz yang sudah mengalung erat diperutnya "Abaaaang... Geliii, minggir" Hawa sudah merinding. Karena ini pertama kali, seorang pria menyentuhnya
Fariz merenggangkan tangannya, dan mereka sudah berhadapan kembali "Abang hanya begini. Oh abang tau. Nanti, kalau sudah terbiasa, kau pasti merindukan sentuhan abang" Fariz melepaskan tubuh Hawa
Hawa langsung berlari, menuju kamar mandi.
Brakkk
Hawa didalam celingak celinguk
"Mana handuk dan bajuku?" Akhirnya Hawa keluar lagi mengambil handuk dan baju dengan cepat
"Kenapa ?"
"Hehe lupa" Hawa menunjukkan baju ganti dan handuk
Fariz geleng geleng. Iapun segera membersihkan tubuhnya, dikamarnya, karena waktu sudah mulai sore.
Dikamar mandi
"Abang sekarang sudah berani nempel nempel begitu. Aku harus jaga jarak ih geli" Hawa bergidik
Beberapa menit kemudian, Hawa keluar sudah memakai baju dan sudah terlihat segar.
Hawa celingak celinguk kembali "Kemana abang ? tiba tiba ngilang"
"Ada apa? kau mencariku?" Tanyanya sambil menutup tirai yang ada dikamar itu
Fariz sudah wangi. Mereka sama sama sudah tampan dan cantik
"Enggak, siapa yang mencari" Bohong Hawa "Barang barangnya kemana bang, kok sudah kosong" Sambungnya
Fariz berjalan mendekati Hawa. Ia memeluk Hawa dari belakang "Sudah masuk dalam mobil semua. Kita kepabrik dulu ya, habis itu, kita kekampus"
Hawa tidak bisa menjawab. Rasanya kaku. Kepala seakan terasa ingin masuk kedalam tubuhnya seperti kura kura
"Kenapa diam?" Faris melihat Hawa yang sudah bersemu
"I iya bang. Ayuk kita kepabrik" Hawa melepas tangan Fariz, yang sekarang sudah lancang meluk meluk tubuh Hawa.
Fariz melepas dan angkat tangan
"Baiklah, ayo kita turun"
-
Mereka sudah masuk kedalam mobil kembali menuju pabrik
Fariz mulai fokus pada jalanan, tiba tiba Fariz mengerem mendadak
ciiiittttt
Cedug
Tangan Hawa kebentur kaca.
"Abaaang, hati hati. Hawa masih prawan, Hawa takut mati" Teriak Hawa langsung menutup mulutnya, sambil merem.
"Maaf maaf" Fariz memegang kepala Hawa "Tadi yang kejedot apanya?"
"Hanya tangan. Maaf, aku keceplosan" Hawa melek langsung merubah cara panggilnya. wajah Hawa sudah memerah malu
"Oooh..." Fariz tersenyum, teringat jeritan Hawa barusan "Berarti aku masih dapat gadis bersegel rupanya" Fariz tambah menggoda Hawa
"Aku bilang aku keceplosan"
Tok tok tok
"Woi nyetirnya pakai mata dong !!" Teriak gadis glowing dari luar
Tok tok tok
"Bang, lihat" Hawa menunjuk seorang gadis yang mengetok kaca mobil, seperti kesetanan
Fariz membuka kaca mobilnya "Ada apa mbak? apa tadi mbak kesrempet?" Tanya Fariz
Sedetik juga, wajah gadis itu beruba manis, tidak seperti barusan yang akan menelan talenan milik bu warteg
"Nggak nggak mas, tadi kucing aku sembarangan menyebrang" Gadis glowing itu merubah rautnya secantik mungkin. Padahal waktu mengetok kaca, rasanya dunia mau diremes remes
Hawa dan Fariz saling pandang
"Kalau begitu, aku minta maaf ya mas. Oiya, namaku Metu Nang Alas, panggilannya Tulas" Tangannya menjulur ingin bersalaman dengan Fariz
"Eh eh mbak, abangku masih ada wudhu" Hawa melirik Fariz "Stttt ya bang? jadi tidak bisa bersalaman dengan mbak. Yuk bang sudah, kembali fokus. Nyetirnya yang bener" Hawa sedikit masam
"Lha emang dari tadi aku nyetirnya nggak bener?" Goda Fariz kembali
"Kurang !!"
"Eh mbak, mas gimana nih" Ucap gadis tadi
"Eh maaf ya mbak, soalnya kami buru buru" Jawab Hawa "Tutup bang"
Tangan Hawa menyenggol Fariz. Farizpun segera menutupnya
Sedetik itu
"Ahaha..." Fariz tertawa
"Kenapa ketawa" Kesal Hawa
"Enggak, hanya mau tanya. Habis kuliah, kita kan harus ketempat mami. Masih ingin tau tentang mami nggak?"
Hawa melirik Fariz "Terserah abang"
"Kok terserah abang. Mami itu, kakak iparnya papa" Jelas Fariz
Hawa langsung memutar badannya agar menghadap kearah Fariz "Oh, berarti papi itu kakaknya pak dokter eh, ralat. Kakaknya papa ya bang?"
"Iya"
"Abang..."
"Hmmm"
"Hawa ingin ngomong, tapi abang jangan ke ge eran ya?"
"Mau ngomong apa dulu. Belum apa apa disuruh buat janji, nggak mau"
"Ya sudah kalau nggak mau"
"Eh ngomong dong... Jangan bikin penasaran bujangan" Fariz menggoda Hawa
Ada yang komen ini mirip Sifa dulu???
BERSAMBUNG...
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....