menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keselamatan desa elf
Walaupun aku sudah mendapatkan uang dalam jumlah yang cukup banyak dari petualanganku sebelumnya, aku tetap melangkahkan kaki menuju gedung Serikat Petualang (Adventurer Guild). Bagiku, mengambil misi adalah cara terbaik untuk terus mengasah kemampuan sekaligus mengamati dunia ini.
Namun, sesampainya di serikat, atmosfer ruangan terasa sangat tidak nyaman. Di tengah keramaian para petualang, tampak seorang gadis Elf berlari ke sana kemari dengan raut wajah panik. Dia memohon bantuan kepada setiap orang yang berpapasan dengannya, tetapi tidak ada satu pun orang yang mau peduli.
"Tolong... tolong bantu desaku! Desaku sedang diserang oleh monster! Aku sudah menyiapkan imbalan dan bayarannya, aku mohon terima permintaan tolong dari desaku..." ucap gadis Elf itu dengan nada suara yang bergetar menahan tangis sedih.
Para petualang di sekitarnya hanya memalingkan muka, bahkan ada yang mendecih meremehkan. Melihat pemandangan memilukan itu, aku memutuskan untuk menghampirinya. Aku berdiri di hadapan gadis tersebut dan menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Anu... Nona? Ada apa ini? Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanyaku dengan nada selembut mungkin.
Gadis Elf itu mendongak, matanya yang sembab menatapku.
"Eumm... Tolong! Desaku saat ini sedang diserang habis-habisan oleh sekelompok iblis! Bisakah kamu menolong kami?"
"Diserang iblis?"
Aku mengernyitkan alis. "Berapa banyak jumlah mereka?"
"Eummm... sekitar 50 lebih pasukan iblis... Apakah kamu mau membantu kami?" tanyanya ragu, cemas kalau aku juga akan menolaknya seperti petualang lain.
Aku menyeringai tipis di balik kerah jubahku. "Tentu saja... Antar aku ke desamu sekarang."
Tanpa membuang waktu, kami segera melesat membelah hutan menuju pemukiman ras Elf.
Begitu kaki kami menginjak perbatasan desa, pemandangan kacau langsung menyambut kami. Di tengah medan pertempuran yang dipenuhi api, aku melihat sesosok Elf yang sedang bertarung mati-matian.
Dia mampu menggunakan sihir dahsyat berskala besar secara beruntun untuk menghalau musuh.
Namun, sekuat apa pun sihirnya, dia tetap tak berdaya melawan jumlah pasukan iblis yang terlalu banyak. Tak lama kemudian, sosok penyihir itu tumbang akibat kehabisan energi sihir (mana).
Melihat situasinya makin kritis, aku dan beberapa warga segera membopong tubuh penyihir tersebut dan membawanya masuk ke dalam tempat pengungsian bawah tanah para Elf.
Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Kenapa pasukan iblis menyerang desa ini secara massal? tanyaku dalam hati pada asisten di kepalaku.
BZZZT—
[Jawab. Desa ini dikenal sebagai wilayah ancaman besar bagi ras iblis karena penduduknya merupakan penganut terbesar dari kekuatan suci.]
Jadi begitu toh ceritanya... ucapku mengerti.
Di dalam tempat pengungsian yang sempit, aku segera mengumpulkan kepala desa beserta beberapa petinggi desa Elf yang tersisa untuk berdiskusi.
Setelah menimbang situasi luar, aku langsung mengambil keputusan ekstrem yang membuat mereka semua terbelalak.
"Jadi... bagaimana?" tanyaku menatap kepala desa.
Kepala desa itu menghela nafas panjang, bahunya merosot putus asa. "Entahlah... Kami hanya bisa pasrah kalau begini keadaannya. Kami sudah tidak punya kekuatan lagi untuk melawan."
Aku mendengus pelan mendengar kepasrahan mereka.
"Huh... Terlalu gampangan. Baiklah, biar aku saja yang maju melawan mereka semua sendirian."
Kepala desa langsung mendongak, wajahnya pucat karena terkejut.
"T-Ta... tapi... pasukan iblis itu terlalu banyak, Anak Muda! Lagipula, kalaupun kamu berhasil melawan dan mengalahkan mereka, kami tidak akan bisa membayar biaya imbalan lebih loh..."
Aku terkekeh kecil mendengar kekhawatirannya. "Bayar? Aku sama sekali nggak pernah bertanya soal bayaran koin emas pada kalian. Gini saja deh..."
Aku melipat tangan di dada, menatap mereka dengan serius. "Kalau aku menang dan berhasil meratakan iblis-iblis itu, kalian semua harus ikut bersamaku dan menjadi rakyatku. Kebetulan aku punya niatan untuk membangun negaraku sendiri. Tapi, kalau aku kalah... aku akan menjadikan tubuhku sebagai umpan agar kalian punya kesempatan untuk kabur dari tempat ini. Bagaimana?"
Mendengar tawaran gila namun sangat menguntungkan tersebut, kepala desa tertegun sejenak sebelum akhirnya mengepalkan tangan.
"S-Serius? Baiklah, aku setuju!" ucapnya dengan nada tegas.
"Bagus. Kalau begitu aku akan maju sekarang. Dah!"
Aku membalikkan badan dan langsung melangkah keluar dari tempat pengungsian, kembali ke permukaan desa yang dipenuhi kepulan asap hitam.
"Nah, sekarang saatnya pertempuran sesungguhnya dimulai." Aku menarik nafas dalam-dalam. "Sistem... Aktivasi Full Shadow!"
BOOOM!!!
[Siap. Mode Full Shadow diterapkan. Melepaskan seluruh esensi Entitas Rusak di dalam jiwa Anda sepenuhnya. Kalkulasi ulang kekuatan: Kapasitas energi sihir Anda saat ini berhasil meningkat drastis dari 100/1000% menjadi ∞/1000% (Tak Terbatas). Kekuatan Anda telah resmi melampaui batas normal dunia!]
Sensasi kekuatan yang luar biasa besar bergejolak di dalam inti jiwaku.
"Bagus... Tapi kekuatan tak terbatas ini bisa menghancurkan area sekitar. Sistem, bisa tolong modifikasi wujud bayanganku agar berbentuk seperti manusia, namun strukturnya tetap berupa bayangan?"
[Jawab. Bisa. Output kekuatan Anda akan disesuaikan menjadi 1000/1000%. Mode: Entitas Shadow Human berhasil diterapkan. Sub-skill: Entitas Glitch Human berhasil dipelajari.]
Kepulan asap hitam pekat langsung membungkus wujud manusiaku, membentuk siluet ksatria bayangan yang bergejolak mistis.
"Sistem, keluarkan sayap!"
[Baik. Struktur sayap kegelapan diterapkan. Kekuatan terbang aktif!]
WUSH!
Sepasang sayap bayangan hitam raksasa mengepak lebar di punggungku. Aku melesat tinggi ke angkasa, melayang tepat di atas kepala 50 pasukan iblis yang sedang berkerumun mencari sisa Elf.
Aku menyeringai lebar dari udara, membuka menu skill baruku yang siap diuji coba.
"Dari posisi atas begini, tempatnya bener-bener enak buat acara pembantaian, nyahahahaha! Rasakan ini, para kecoa tanduk!!! Elemen Bayangan, Kekuatan Terkutuk... [One Hundred Thousand Shadow Bullet]!!!"
RATATATATATA!!!
Langit desa Elf seketika tertutup oleh badai peluru bayangan pekat berjumlah ratusan ribu yang menghujam turun seperti hujan meteor. Suara ledakan beruntun mengguncang tanah. Pasukan iblis yang berada di bawah tidak sempat melarikan diri; tubuh mereka langsung hancur berantakan dan rata dengan tanah dalam sekejap mata.
Setelah memastikan seluruh musuh musnah, aku melayang turun ke tanah dan menonaktifkan mode tempurku, kembali ke wujud manusia normal berambut hitam sebahu yang tenang.
"Yahh... padahal aku masih pengen main-main lebih lama lagi. Tau-tau udah rata bae, woilah cik..." gerutuku pelan, merasa sedikit kecewa karena musuhnya mati terlalu cepat.
Aku kembali melangkah masuk ke dalam tempat pengungsian di hadapan kepala desa dan para tetua Elf yang masih mematung tidak percaya. Tanpa membuang waktu, aku langsung menagih janjiku dan menanyakan informasi geografis wilayah ini.
"Di mana lokasi gunung yang paling kokoh, besar, dan kuat di sekitar benua ini?" tanyaku langsung.
Kepala desa yang masih syok melihat kehebatanku segera menunjuk ke arah peta kuno, memperlihatkan sebuah gunung purba raksasa yang terisolasi dari dunia luar.
"Aku akan menyiapkan tempat tinggal baru untuk kalian. Kalian semua, tunggulah di sini selama satu hari penuh. Aku akan pergi ke sana untuk membangun wilayah kerajaan kota kita terlebih dahulu," perintahku pada mereka.
Setelah mereka mengangguk setuju untuk menunggu, sepasang sayap kegelapanku kembali mengepak. Aku melesat cepat menembus awan menuju koordinat gunung besar yang ditunjukkan tadi.
Sesampainya di puncak gunung purba tersebut, aku mendarat dan melihat struktur batuannya yang sangat keras dan kokoh.
"Nah... ini dia gunungnya. Sebenarnya, dengan kapasitas energinya yang sekarang, aku bisa menyulap tempat ini jadi kerajaan dengan sangat cepat," gumamku puas.
"Hmmm... Sistem, tolong modifikasi skill elemen tanahku."
[Dimengerti. Proses modifikasi skill tanah berhasil dilakukan. Penggabungan antara Skill Dark (Kegelapan) dan Skill Tanah telah selesai dibuat.]
"Bagus... Sah! Sekarang kita mulai pembangunannya!"
Aku melepaskan wujud manusiaku, membiarkan energi bayangan absolutku merayap masuk ke dalam pori-pori bebatuan gunung. Menggunakan skill gabungan baru tersebut, aku mulai mengotak-atik dan membentuk interior dalam gunung.
Tanah berguncang hebat, memahat goa alam itu menjadi sebuah struktur labirin raksasa.
Aku merancang tempat ini dengan sangat detail. Dari luar, gunung ini akan terlihat seperti Dungeon bebatuan yang menyeramkan. Namun, begitu melangkah masuk ke bagian dalam, semua orang akan disajikan pemandangan sebuah kompleks kerajaan megah yang terbagi menjadi berbagai daerah kota mandiri.
Niatku adalah memisahkan setiap wilayah kota berdasarkan ras agar mereka bisa hidup nyaman sesuai karakteristik mereka: ada Kota Elf yang penuh tanaman sihir, Kota Dwarf untuk pandai besi, Kota Ogre, Kota Orc, Kota Goblin, Kota Ibis, Kota Manusia, hingga Kota Semi-Hewan (Beastkin).
Tepat di bagian tengah dungeon, aku membangun sebuah area pusat yang sangat luas sebagai tempat mereka mencari uang dan berinteraksi.
Di sana, aku mendirikan pasar raksasa, gedung Serikat Petualang baru, Serikat Perdagangan, serta berbagai fasilitas ekonomi lainnya.
Dan untuk mahakarya terakhir ini, aku menamai kerajaan dungeon buatanku dengan nama: Shadow Aethelgard.
Setelah istana selesai di bangun di pusat kota, aku kembali ke wujud manusia biasa dan terbang melesat kembali ke desa Elf untuk menjemput rakyat pertamaku. Ada sekitar 2.000 warga Elf yang masih selamat, dan mereka semua bersiap melangkah masuk menuju rumah baru mereka di bawah perlindungan mutlak sang Raja Bayangan!