Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gazebo
Semua kembali beraktifitas seperti biasa. Dita masih belum bisa beraktifitas seperti biasa. Terkadang dirinya membutuhkan bantuan dari orang lain. Hari ini Dita hanya berdiam diri di gazebo belakang rumahnya. Ibu Jelita hanya memandang dari ambang pintu belakang.
"Bu,,"
"Dosa apa saya Bi? Kenapa anak saya?" Ibu Jelita.
"Semua sudah menjadi kehendaknya Bu. Ibu harus semangat supaya Neng Dita juga semangat." Bi Idah.
"Iya Bi. Tapi, hati saya ngga bisa bohong Bi. Rasanya sakit. Apalagi melihat Dita seperti ini." Ibu Jelita.
"Neng Dita akan terbiasa dengan seringnya waktu. Hanya butuh sendiri saat ini. Neng Dita akan baik-baik saja selama kita bersamanya." Bi Idah.
"Tapi, perempuan mana Bi yang rela tanpa rahim." Ratap Ibu Jelita.
"Bu,, jangan pernah ungkit lagi. Anak bukan hanya biologis anak bisa dari mana saja." Bi Idah.
"Kalo Dita ngga nikah gimana Bi? Hiks... hiks.. Memang ada laki-laki yang mau Bi? Anak aku ngga sempurna hiks... hiks..." Tangis Ibu Jelita pun pecah sudah.
Bi Idah hanya bisa memeluknya dari samping memberikan kekuatan pada majikannya. Bi Mimin yang mendengar percakapan antara majikannya dan Bi Idah pun ikut terisak. Entah apa yang terjadi jika semua terjadi padanya. Mungkin kah dirinya akan bisa sekuat Ibu Jelita dan yang lainnya.
Bi Idah dan Bi Mimin yang sudah ikut dengan keluarga Wirawan sejak lama sangat bisa merasakan apa yang majikannya rasakan. Suka duka telah mereka lewati bersama keluarga Wirawan. Bahkan Bi Mimin bertemu jodoh di rumah keluarga Wirawan. Suaminya supir pribadi Pak Wirawan. Sementara Bi Idah suaminya telah lama berpulang.
Bi Idah memiliki dua orang putra yang kini telah berumah tangga semua. Bukan tak pernah menawarkan Bi Idah untuk pensiun dan berkumpul bersama anak dan cucu nya. Hanya saja kedua Putra Bi Idah tak ada yang mau menampung Bi Idah dengan alasan ekonomi mereka yang pas-pasan. Dengan itu Bi Idah masih bertahan di rumah Keluarga Wirawan.
Sementara Bi Mimin tinggal di rumah sendiri bersama keluarga kecilnya. Karena Mang Jono merupakan asli warga setempat. Jadi, Bi Mimin akan datang di pagi hari dan pulang sore hari. Sementara Bi idah menetap di rumah keluarga Wirawan.
"Ibu, istirahat saja. Biar Idah temani Neng Dita." Pinta Bi Idah.
"Terima kasih Bi." Ibu Jelita.
"Mari Mimin antar Bu." Bi Mimin.
Sementara Bi Idah menyiapkan cemilan dan minuman segar untuk di bawa ke gazebo.
"Belum mau masuk Neng? Udara mulai terik." Bi Idah.
"Astaga! Bibi bikin Dita kaget deh." Dita.
"Neng Dita melamun ya. Ini Bibi buatkan cemilan, lumayan buat ganjal sebelum makan siang." Bi Idah.
"Wah, makasih Bi. Tau aja Dita mau ngemil. Mama kemana Bi?" Dita.
"Di dalam. Tadi katanya sedikit ngga enak badan. Kayanya masuk angin. Itu udah di pijat sama Mimin." Bi Idah.
"Kasian Mama kecapean pasti." Dita.
"Ya namanya udah umur Neng. Neng Dita juga abis ini istirahat dulu biar cepet pulih. Nanti jam makan siang Bibi bangunkan." Bi Idah.
"Iya Bi. Nanti deh sebentar lagi Bi. Ini tanggung enak." Dita.
"Hari ini Neng Angel ngga kesini ya?" Bi Idah.
"Ngga Bi. Katanya Koko nya dia datang. Jadi dia mau kangen-kangenan." Dita.
"Nanti Kalian kuliah di tempat yang sama Neng?" Bi Idah.
"Iya Bi. Jurusan yang sama juga. Tapi Angel nanti tinggal sama Koko nya. Aku di ajak sih Bi tapi ngga ah ngga enak." Dita.
"Terus Neng Dita mau tinggal di mana? Sama Kak Kania?" Bi Idah.
"Kejauhan Bi kalo dari Kakak. Jadi, paling nanti Dita kos sendiri aja. Kalo weekend baru main tempat kakak." Dita.
"Yang penting kalian sama-sama jaga diri jaga kesehatan." Bi Idah.
"Iya Bi. Makasih ya. Bibi selalu ada buat kita." Dita.
"Sama-sama."