Akia tengah lari dari Ayahnya, yang menikah lagi pasca kepergian Ibunya. Kia bersembunyi dan bekerja di sebuah Rumah sakit sebagai seorang perawat disana. Akia dipertemukan oleh seorang pasien dengan trauma kecelakaan yang menyebab kan pengelihatan nya hilang.
Bisma Guntur Prayoga. Seorang pria yang harusnya menjadi ahli waris untuk hotel besar milik Ayahnya, justru memiliki nasib tragis dengan harus kehilangan cahaya dari matanya.
Kedua dipertemukan dalam sebuah instiden, ketika Kia dituduh akan mencelakai Bisma. Padahal, itulah yang membuat Bisma sadar dari tidur panjangnya selama ini.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akan kan mereka akan bersatu, dan Kia menerima Bisma sebagai pengisi cahaya dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Dia, yang ku cari
Semua tampak tegang kala itu. Hingga akhirnya seorang perawat masuk dan mengakui kesalahan yang telah Ia buat. Ia lah yang sebenarnya menyuntik obat yang barusan pada Bisma, sesuai dengan apa yang Ia lihat dari catatan.
"Kenapa bisa, kamu beri obat yang salah?" tegur pimpinan padanya.
"Saya ngga salah. Justru saya memberi sesuai yang ada di catatan." perawat itu memberikan bukti foto jadwal obat serta terapinya. Semua lengkap, dan Ia melakukan nya sesuai arahan.
"Kamu baru?" tanya pimpinan itu padanya.
"Saya sudah Lima bulan. Tapi belum memiliki ruangan tetap. Saya masih berpindah tempat untuk menyesuaikan ditempat mana saya harus bertugas."
Semua mata terbelalak melihat semua bukti yang Ia sampaikan. Tak dapat di elak lagi, jika semua yang Ia katakan adalah benar. Dan kini situasi menjadi kembali gempar mengenai obat yang diberikan untuk Bisma sebelum ini.
"Pantas, dia selalu tidur dan nyaris tak pernah bangun. Padahal, semua hasil CT Scan nya baik." ujar salah seorang dokter sayaraf disana.
Permasalahan selesai di awal, penjagaan terhadap Bisma pun di perketat hingga Bisma mengalami banyak kemajuan dan sadar dari tidurnya yang panjang.
" Saya ingin bawa Cucu saya pulang," ucap Oma sekar pada penanggung jawab ruangan.
"Bu, maaf. Tapi belum bisa karena Tuan masih harus perawatan intensif dan...."
"Saya akan bawa perawat kerumah. Saya gaji secara pribadi."
"Tapi, Bu...." perawat itu pun hanya bisa menghela nafas kasar, melihat keangkuhan Oma sekar padanya. Jika dibilang wajar, orang tua mana yang tak cemas ketika beberapa kali cucunya salah diberi obat. Meski oknum tersebut telah ditangkap dan dipenjara.
"Baiklah... Saya akan urus semuanya." ucap sang perawat, membuat Oma sekar seketika tenang dan lega.
Oma sekar pun kembali ke ruangan Bisma, menyapa putranya yang tengah duduk menikmati matahari pagi disana. Meski hanya teriknya yang menghangatkan, dan bukan cahayanya yang indah menyilaukan mata.
"Oma?" Panggil Bisma. Agaknya sudah hafal dengan parfum sang Oma yang memang selalu menemaninya.
"Hey, sayang. Bagaimana saat ini?" peluk sang Oma dari belakang punggungnya.
Perban di mata itu bahkan belum dibuka, karena Oma sekar sendiri belum siap menatap mata cucunya yang tak lagi bisa melihat dunia.
"Buka saja, Bisma sudah terbiasa, Oma. Hanya perlu menyesuaikan diri dengan semua keadaan." pinta Bisma, seketika membuat air mata sang Oma berderai kembali.
"Iya, sayang..." angguk Oma, yang akhirnya membuka perban itu sendiri dengan tangan nya, tanpa bantuan alat sama sekali. Pasalnya, memang sudah tak ada luka apapun di pelipis Bisma atau bahkan disekujur tubuhnya.
Oma menatap nanar mata Bisma. Mata yang masih tampak begitu indah dengan lensa coklatnya, dan tatapan yang biasanya tajam. Tapi kini, tatapan itu tampak kosong tanpa arah, ke depan tanpa tujuan. Bisma tampak sesekali mengibaskan tangan di depan matanya sendiri.
"Hhhh, semua menghilang dan gelap." tuturnya perih.
"Masih ada Oma, Sayang. Oma akan selalu ada disamping kamu,"
"Jangan perlakukan Bisma seperti orang sakit, Ma. Bisma mohon. Bisma tak ingin terlihat lemah di mata siapapun."
Oma sangat tahu bagaimana Bisma, yang memang berwatak keras. Oma hanya bisa mengangguk menyanggupi semua permintaan cucunya itu.
"Permisi... Semua persiapan sudah beres. Dan pasien sudah bisa pulang, jika sudah siap." seorang perawat masuk keruangan mereka. Bisma tampak memejamkan matanya, dan berusaha meresapi suara yang Ia dengar saat ini dengan indera pendengaran nya yang tajam.
" Bukan... Bukan dia yang aku cari."
koq rubah² mulu