Cerita 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Haidar Wiratama, pemuda berumur 22 tahun. Ia yang lahir di keluarga biasa mungkin tidak bisa menikmati hidup layaknya anak lain. Namun, Haidar tidak pernah menyerah untuk membahagiakan sang ibu yang sudah merawatnya, kenakalannya saat kecil membawanya pada Audrey, ibu dua anak di mana salah satu anaknya yang satu kelas dengan Haidar sering bertengkar dengan pemuda itu.
Lavina Aurora Mahavir, putri Audrey sering bertengkar dengan Haidar saat kecil. Namun, siapa sangka di balik kenakalan gadis kecil itu, ia hanya ingin diperhatikan Haidar karena bocah itu dulu sering di puja-puja para gadis seumurannya.
Lalu, akankah Haidar mencintai Nana dan juga sebaliknya? Cari jawabannya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Haidar berbaring dengan posisi tengkurap di dalam kamarnya, pemuda itu terlihat tersenyum-senyum sendiri, ia mengingat kejadian tadi setelah dirinya terkena siraman air panas.
"Sakit! Kamu ini suka sekali kekerasan, ya!" protes Haidar.
Ia langsung menoleh pada Nana, dan menatap heran kenapa gadis itu cepat sekali merubah sikap.
"Makanya jangan tanya lagi kalau memang tidak dengar!" sembur Nana.
Gadis itu terlihat menggosok hidungnya, terlihat jelas jika Nana seperti sedang menahan tangisnya, hidungnya memerah dan manik matanya berkaca.
"Kamu nangis?" tanya Haidar dengan nada pelan.
"Nggak! Pakai bajumu, ayo pulang!" Nana turun dari mobil, ia lantas pindah ke kursi belakang.
Gadis itu tampak memalingkan wajah ke arah jendela, sedangkan Haidar segera memakai kemejanya kembali meski basah dan lengket karena terkena teh. Haidar melirik Nana dari kaca spion, ia yakin jika gadis itu menangis.
"Hah, kamu masih saja sok kuat," gumam Haidar setelah mengingat kejadian tadi.
"Dar!" Linda masuk ke kamar putranya.
Wanita itu melihat punggung Haidar yang memerah karena siraman air panas tadi, pemuda itu memang bertelanjang dada di dalam kamar agar lukanya tidak lembab.
"Ini gimana ceritanya sampai begini?" tanya Linda yang sudah duduk di tepian ranjang Haidar.
Wanita itu hendak mengoleskan obat untuk luka Haidar. Ia mengobati dengan perlahan, Linda terlihat kurang sehat hari itu, terlihat jelas ketika wanita itu sering batuk.
"Ibu batuknya tambah parah," ucap Haidar yang menyadari hal itu.
"Nggak, biasa kok!" sanggah Linda.
Haidar bangun, ia menatap Linda yang terlihat pucat. Pemuda itu memang paling tidak bisa melihat ibunya sakit.
"Periksa yuk, Bu! Aku takut kalau sakitnya tambah parah," ajak Haidar.
"Apa sih, Dar? Ibu baik-baik saja, kamu jangan khawatir," ujar Linda seraya mengusap kasar rambut Haidar hingga berantakan.
"Ibu yakin?"
Linda mengulas senyum, ia tidak mau membuat putranya itu khawatir.
"Kamu ini khawatirin Ibu sampai begitunya! Kamu sendiri belum jawab, kenapa punggungnya jadi begitu?" tanya Linda lagi mencoba mengalihkan perhatian Haidar agar tidak terus tertuju padanya.
Haidar baru ingat jika dirinya belum bercerita kepada Linda tentang kepada siapa dia bekerja karena sering pulang malam setelah bekerja menjadi sopir Nana.
"Ibu ingat gadis yang dulu sering bertengkar dengan aku?" tanya Haidar.
"Yang mana?"
"Itu lho, yang ibunya bernama nyonya Audrey? Yang dulu bantu renovasi rumah lama kita," ulas Haidar.
Linda mencoba mengingat, faktor umur tentu saja membuatnya susah mengingat.
"Owh iya, kenapa?" tanya Linda setelah ingat dengann wanita yang sering membantu biaya sekolah Haidar saat sekolah dasar.
"Jadi, ternyata aku bekerja sama nyonya Audrey, jadi sopir pribadinya Nana, gadis bandel saat di sekolah dasar," jawab Haidar dengan senyum mengembang.
Linda bisa melihat raut kebahagiaan di wajah Haidar, ia tahu betul bagaimana putranya itu, meski dia dulu sering berkelahi dengan Nana, tapi Haidar pasti akan menceritakan apapun tentang gadis itu ketika pulang sekolah.
"Kamu senang jadi sopirnya?" tanya Linda menyelidik.
Haidar terlihat malu, ia menggaruk kepala yang tidak gatal lantas tersenyum pada ibunya. Selama ini Haidar memang tidak pernah berbohong atau menutupi sesuatu dari ibunya, karena itu hal sekecil apapun pasti akan ia ceritakan pada Linda.
"Ya begitu, tapi sayangnya dia tidak ingat denganku," jawab Haidar menatap ibunya.
"Itu sudah sangat lama, siapa pun pasti akan lupa kalau tidak diingatkan, Dar!" Linda mengusap rambut Haidar lagi hingga berantakan.
Haidar mendesah pelan, ia lantas merangkul ibunya itu. Wanita yang sudah membesarkan juga tempatnya berkeluh kesah dan mencurahkan isi hati.
-
-
Nana terlihat kesal setelah pulang, ia mengerutu berkali-kali di rumahnya karena kelakuan orangtua siswa yang berkelahi dengan Iqbal. Nana tengah memikirkan bagaimana cara membalas kesombongan dan kearoganan wanita itu.
Entah kenapa ia begitu sangat ingin marah ketika Haidar tersiram air panas rasanya tidak rela jika pemuda itu terluka, atau sebenarnya dia hanya merasa bersalah karena demi dirinya Haidar sampai terluka.
"Apa aku harus omong papi?" tanyanya pada diri sendiri.
Nana menggigit ujung kuku jempolnya, ia terlihat mondar-mandir di kamar.
"Ahh ... nanti kalau papi nanya aku kudu jawab apa?" Nana terlihat bingung.
Langkahnya terhenti, Nana menoleh pada ponselnya yang ada di atas tempat tidur. Ia merasa penasaran dengan keadaan Haidar.
Nana duduk di tepian ranjang, ia mengambil ponselnya kemudian jemarinya terlihat menari di atas layar benda pipih itu, tapi ia terlihat ragu. Nana mengetik sesuatu tapi ia hapus lagi, mengetik lagi hapus lagi, itu ia lakukan berulang kali dengan wajah bimbang.
"Ahh ... kalau aku kirim pesan, dia pasti akan gede kepala, menyangka jika aku perhatian!" Nana mengurungkan niatnya mengirim pesan pada Haidar.
Nana merebahkan tubuhnya, ia menatap langit-langit kamar. Nana mengangkat tangan yang memegang ponsel, menatap layar itu di mana nama 'Wira menjengkelkan' tertera di layar ponselnya.
"Lukanya tidak parah, 'kan?"
Nana mendesah kasar seraya terus menatap nama itu, hingga tanpa sadar ponselnya lepas dari genggaman dan jatuh ke wajahnya.
"Aduh!!" pekiknya langsung bangun seraya mengusap wajah yang terkena ponselnya.
Nana tertegun, ia mendengar suara nada memanggil. Gadis itu panik karena tanpa sengaja jemarinya menekan tombol dial.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
lanjut..
tp sbnrnya aq juga masih Penasaran ma kisah cintanya mama SL sama arlan chika.
apa judul nya?
aq lupa.
udh klik profil author juga ga nemu.