NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:681
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

***Bab 20 Puncak kejayaan sang Ratu

🌸🌸🌸🌸

Satu minggu setelah pembacaan tuntutan yang menggegerkan publik, Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kembali dipenuhi lautan manusia. Hari ini adalah pembacaan vonis akhir—titik pamungkas dari drama hukum dan pengkhianatan yang menyita perhatian seluruh media nasional.

Reno Pratama dan Sella Anindya duduk di kursi terdakwa dengan wajah yang tak lagi menyisakan harapan. Dalam waktu singkat, ketegangan mental dan bayang-bayang masa depan di balik jeruji besi telah mengikis habis sisa kebanggaan mereka.

Majelis Hakim masuk dengan keheningan yang mutlak. Hakim Ketua mengetukkan palu sidang, lalu membacakan putusan akhir dengan lantang dan tegas.

"Mengadili, menyatakan Terdakwa I Reno Pratama dan Terdakwa II Sella Anindya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa I Reno Pratama dengan pidana penjara selama empat tahun dan enam bulan, serta Terdakwa II Sella Anindya selama tiga tahun dan dua bulan."

Palu sidang diketuk tiga kali. TOK! TOK! TOK!

Ketukan palu itu memutus segala asa. Suara histeris Maya pecah di barisan penonton, meratapi nasib kakak kandungnya yang kini resmi menjadi terpidana. Namun, Reno hanya menunduk pasrah, air matanya menetes tanpa suara ke atas lantai dingin. Ketika matanya secara tak sengaja melirik ke arah Nadia, ia tak lagi menemukan sosok wanita lemah lembut yang dulu dilayaninya dengan kepalsuan. Yang ada di sana hanyalah seorang wanita perkasa yang tak terjangkau oleh tangannya lagi.

Nadia berdiri dari kursinya dengan sangat tenang. Ia tidak tersenyum lebay, tidak pula bersorak. Bagi Nadia, putusan hakim ini bukanlah bentuk balas dendam, melainkan proses pemulihan keadilan yang semestinya.

Tiga bulan berlalu sejak ketukan palu persidangan itu.

Dunia bergerak cepat, dan nama Nadia Kirana kini bergema di panggung bisnis papan atas Indonesia. Setelah menyelesaikan proses pembersihan di Apex Media Nusantara dan memulihkan reputasi korporasi secara penuh, Nadia memimpin ekspansi besar-besaran PT Cakrawala Capital.

Malam ini, Ballroom Grand Hyatt Jakarta disulap menjadi ruang resepsi yang sangat megah. Ratusan lampu kristal memancarkan cahaya keemasan, memantul di atas meja-meja perjamuan berkain sutra. Gala Night & Corporate Expansion Announcement yang diselenggarakan oleh PT Cakrawala Capital dihadiri oleh para taipan bisnis, menteri ekonomi, pimpinan perbankan nasional, hingga investor asing dari Singapura dan Hong Kong.

Di tengah riuh rendah alunan musik simfoni dan denting gelas kristal, Nadia Kirana menjadi pusat perhatian utama.

Ia tampil memukau dalam balutan gaun malam berpotongan emerald green dari sutra premium, dipadu dengan perhiasan berlian simpel namun memancarkan kelas tinggi. Wajahnya bersinar anggun, memancarkan aura kepemimpinan yang tenang, tegas, dan berwibawa.

Bimo melangkah mendekati Nadia seraya menyerahkan segelas sparkling water.

"Semua tamu VIP dari Konsorsium Asia Pasifik sudah tiba di meja utama, Nadia," bisik Bimo seraya tersenyum bangga. "Laporan keuangan kuartal ini juga menunjukkan pertumbuhan aset Cakrawala Capital naik seratus empat puluh persen pasca-pengambilalihan lini media Vanguard Group."

"Kerja bagus, Bimo," jawab Nadia seraya menyunggingkan senyum tipis. "Tanpa kedisiplinan dan kecermatan tim, kita tidak akan sampai di titik ini dengan begitu cepat."

"Nyonya Nadia Kirana!" panggil sebuah suara berwibawa dari balik kerumunan.

Aris Wijaya melangkah mendekat dengan senyum penuhan rasa hormat. Pria yang dulu meremehkan Nadia itu kini tampil jauh lebih rendah hati. Setelah perjanjian restrukturisasi utang dan penyerahan lini media Vanguard Group berjalan lancar, Aris menyadari bahwa bermitra dengan Nadia adalah satu-satunya cara agar perusahaannya tetap bertahan hidup.

"Tuan Aris," sapa Nadia ramah, menjabat tangan Aris secara profesional.

"Saya ingin mengucapkan selamat secara langsung atas peluncuran Cakrawala Global Media Group malam ini," ujar Aris tulus. "Kepemimpinan Anda dalam menata ulang ekosistem bisnis media sungguh luar biasa. Vanguard Group sangat beruntung masih bisa menjadi bagian dari jaringan kemitraan Anda."

"Terima kasih, Tuan Aris," balas Nadia tenang. "Dalam dunia bisnis modern, integritas dan transparansi adalah fondasi utama. Selama nilai itu dipegang teguh, kita akan selalu menemukan jalan untuk maju bersama."

Beberapa jurnalis senior dari majalah bisnis ternama mendekat dengan kamera mereka, memohon izin untuk melakukan wawancara singkat di area photobooth utama.

"Nyonya Nadia, hanya dua menit untuk sampul depan edisi tahunan Asia Business Review!" puji salah satu wartawan senior.

Nadia mengangguk anggun, melangkah menuju latar belakang panggung bertuliskan Cakrawala Capital: Shaping the Future of Asian Enterprise. Kilatan lampu kamera membanjiri dirinya. Setiap jepretan mengabadikan sosok wanita yang telah bangkit dari penderitaan dan penindasan rumah tangga menuju puncak kejayaan korporasi.

Sementara itu, di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran Jakarta Barat, suasana terasa sangat kontras dan kelam.

Layar televisi tua di sudut ruangan menampilkan siaran langsung Gala Night PT Cakrawala Capital. Di layar tersebut, sosok Nadia tampak begitu bersinar, dikelilingi para petinggi negara dan investor dunia yang memberikan tepuk tangan meriah.

Ibu Risma duduk di atas kasur tipis di lantai, menatap layar televisi itu dengan mata sayu yang dipenuhi penyesalan mendalam. Tubuhnya mengurus, rambut putihnya tak terurus, dan raut wajahnya menyimpankan duka yang tak bertepi.

Maya duduk di sebelahnya, baru saja pulang dari pekerjaan lamanya sebagai staf pemasaran lapangan dengan pakaian kusam dan lelah.

"Nadia..." bisik Ibu Risma dengan suara gemetar, menyentuh layar televisi yang dingin dengan jemarinya yang keriput. "Nadia yang dulu menyeduh teh untuk Ibu... Nadia yang dulu menyapu lantai rumah kita..."

Air mata Ibu Risma menetes deras membasahi pipinya yang kempot.

"Kenapa kita dulu begitu buta, Maya?" ratap Ibu Risma seraya meremas dadanya yang sesak. "Kenapa kita mengusir malaikat yang membawa keberkahan di rumah kita... demi wanita yang akhirnya menghancurkan hidup kakakmu?"

Maya hanya bisa menunduk rapat, menyembunyikan tangisnya. Mengingat bagaimana dulu ia menghina pakaian Nadia, menuntut mobil baru, dan menyuruh Nadia seperti pelayan, kini terasa seperti cambukan beracun yang menyiksa jiwanya setiap hari.

Rumah mewah mereka telah disita. Seluruh barang bermerek yang dulu dipamerkan Maya di media sosial telah dilelang untuk menutupi sebagian kerugian perusahaan. Setiap bulan, Maya harus bekerja keras membanting tulang hanya untuk membayar sewa kontrakan sempit dan membeli obat-obatan ibunya, sementara Reno harus menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi yang dingin.

"Mas Reno di penjara... kita hidup terlunta-lunta seperti ini..." bisik Maya serak. "Semua ini karena kesombongan kita sendiri, Bu..."

Di layar televisi, acara gala mencapai puncaknya. Nadia berdiri di atas panggung utama, memegang mikrofon dan memberikan pidato penutupnya yang memukau.

"Keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri di atas orang lain," ujar Nadia dengan suara jernih yang bergema melalui pengeras suara televisi, "melainkan tentang bagaimana kita mempertahankan martabat, kejujuran, dan keberanian untuk bangkit dari kehancuran."

Nadia mengangkat gelas setinggi dada, menyapa seluruh hadirin yang berdiri memberikan standing ovation.

"Untuk masa depan yang dibangun atas dasar integritas dan keadilan," pangkas Nadia anggun.

Di dalam ballroom Grand Hyatt, riuh tepuk tangan membahana, merayakan era baru di bawah naungan Sang Ratu Bisnis.

Nadia Kirana menatap lurus ke depan, menembus batasan waktu dan masa lalu. Pengkhianatan telah ditempanya menjadi mahkota, rasa sakit telah diubahnya menjadi kekuatan, dan kini, ia berdiri tegak sebagai penguasa atas takdirnya sendiri—tanpa keraguan, tanpa penyesalan, dan tanpa bisa dijatuhkan lagi.

🌸🌸🌸🌸

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!