Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Countess Rochester
Saat membuka mata, Violet melihat langit-langit di atasnya.
Tenggorokannya terasa sakit.
Ia menyadari tubuhnya berkeringat dingin. Violet berkedip beberapa kali dengan tatapan kosong.
Ia mencoba mengeluarkan suara, tetapi suaranya tidak keluar dengan baik.
Violet berusaha bangkit, tetapi begitu rasa sakit menjalar dari telapak tangannya, tubuhnya kembali ambruk.
Akhirnya, Violet menyerah untuk bangun dan tetap berbaring.
Kepalanya terasa sakit.
Ia mengerang pelan.
Violet tahu ia harus memanggil seseorang.
Tapi siapa?
Ia tidak tahu harus memanggil siapa.
Air mata mengalir dari kedua matanya hingga membasahi bantal.
Ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya menangis.
Lalu, bayangan kepala wanita yang tadi menggelinding kembali muncul di benaknya.
Ugh.
Rasa mual tiba-tiba menyeruak.
Karena tidak ada makanan di perutnya, tidak ada yang bisa dimuntahkan. Violet hanya terus-menerus menahan rasa ingin muntah untuk waktu yang lama.
Saat itulah terdengar suara pintu dibuka dengan tergesa-gesa.
Meirra masuk.
Di tangannya ada sebuah baskom, mungkin ia habis mengambil air.
Ah... Meirra.
Setelah sekian lama, akhirnya Violet melihat Meirra lagi.
Namun, Violet hanya mampu menatapnya dengan pandangan yang masih kabur.
Melihat tatapan kosong Violet, hati Meirra terasa sesak. Ia pun segera memeluknya.
“Nona, tidak apa-apa?”
Violet tidak menjawab.
Tiba-tiba, berbicara saja terasa menakutkan.
Ia benar-benar menyadari betapa besar tanggung jawab yang melekat pada setiap tindakannya.
Seseorang bisa kehilangan nyawa.
Jika ia sampai dijual ke negara lain, sebuah negeri bahkan bisa mengalami kehancuran.
Satu tindakan.
Satu pilihan.
Semuanya harus dipertimbangkan dengan hati-hati.
Kini Violet benar-benar memahami apa yang sebenarnya ingin Carlisle sampaikan kepadanya.
Violet sendiri tidak tahu apakah dirinya baik-baik saja atau tidak. Ia tidak mampu menjawabnya. Sesaat ia merasa baik-baik saja, tetapi tak lama kemudian ia merasa seolah napasnya akan terhenti dan ia akan mati.
Kematian Lily dan Rose memang seperti bencana yang tidak dapat dihindari. Namun, keluarga Dilan meninggal karena pilihan yang telah dibuat Violet.
Meski begitu, Violet tahu bahwa semua itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Ia juga tahu bahwa kematian mereka memang merupakan akibat yang sudah seharusnya mereka terima. Anehnya, pikirannya justru bekerja dengan sangat rasional.
Violet baru menyadari bahwa ternyata ia menerima kematian mereka dengan lebih tenang daripada yang ia kira. Ia juga menyadari bahwa posisi dirinya dan Dilan benar-benar berbeda.
Violet bukan lagi seseorang yang bisa dibunuh. Ia berada di posisi yang memungkinkan dirinya menentukan hidup dan mati orang lain.
Violet merasa asing dengan dirinya yang seperti itu. Namun, kini ia menerima kenyataan bahwa dirinya berbeda dari Dilan. Ia juga sadar bahwa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka lagi.
Berbeda dengan Dilan yang hanya seorang rakyat biasa, setiap pilihan yang dibuat Violet sebagai satu-satunya Saintess di negeri ini memiliki bobot yang jauh lebih besar.
Bahkan, Violet tidak bertanya apakah Dilan masih hidup atau sudah mati. Jika Dilan meninggal, mungkin ia akan merasa hancur. Jika Dilan masih hidup, mungkin ia justru akan terus dibebani rasa tanggung jawab.
Meirra memeluk Violet yang terus terdiam.
Violet berkata lirih.
“Aku tidak ingin hidup.”
“.....”
“Aku ingin mati.”
“Nona...”
“Aku ingin mati, Meirra.”
Air mata mengalir dari kedua mata Violet.
Yang keluar dari bibir seorang gadis berusia sebelas tahun adalah kata-kata, “Aku ingin mati.”
Di balik mata birunya yang perlahan kehilangan fokus, tidak ada pemberontakan ataupun amarah. Yang terpancar hanyalah ketulusan. Hati gadis itu perlahan sedang mati.
Violet merasa masa depannya semakin diselimuti kegelapan.
Violet yang dahulu hanya seorang rakyat jelata perlahan menghilang. Sebentar lagi, sosok itu akan benar-benar lenyap.
Ia bisa melihat banyak hal yang akan hilang darinya.
Bahkan, mungkin suatu hari nanti ia akan melupakan kenangan-kenangan berharga yang selama ini ia miliki. Ia harus menjadi seseorang yang berdiri di posisi tertinggi. Namun, ia bahkan tidak mampu membayangkan seberapa panjang dan berat jalan yang harus dilaluinya.
Mata indah gadis itu perlahan kehilangan cahayanya.
Sesaat, terdengar seseorang berdiri di ambang pintu yang masih terbuka, lalu kehadirannya perlahan menghilang.
Violet tidak menyadarinya. Ia hanya terus meneteskan air mata tanpa daya.
......................
Setelah Meirra mengatakan bahwa Violet tampaknya semakin kesepian, Marquis memutuskan untuk mengirim Ledian ke sana.
Tentu saja, Meirra melihat dengan jelas bagaimana Marquis berusaha menyembunyikan keinginannya untuk segera membaca surat Violet. Ia hanya memasukkannya ke dalam saku tanpa membukanya.
Ketika Cedric terus merengek ingin ikut, Marquis akhirnya berpikir bahwa putranya yang merepotkan itu mungkin juga bisa membantu. Ia pun berniat mengirim Cedric ke sana untuk sementara waktu.
Namun, mereka tetap membutuhkan seseorang untuk memimpin mereka. Kebetulan masih ada beberapa urusan yang tertunda di wilayah tersebut. Karena itu, Marquis meminta putra sulungnya untuk pergi ke sana.
Carlisle segera menyelesaikan pekerjaannya dan menyanggupi permintaan tersebut.
Tentu saja, sebagai seorang Marquis yang memiliki wilayah kekuasaan, ia harus mengunjungi wilayahnya sesekali. Jika tidak, kekuasaan mereka di sana lambat laun akan melemah.
Sebagian tanah yang dianugerahkan kepadanya memang dikelola oleh para vasal atas namanya, bahkan wilayah yang berada langsung di bawah kekuasaannya pun diserahkan kepada Baron Calestin untuk dikelola. Namun, pemilik tanah tersebut tetaplah sang Marquis.
Karena itu, ia menetapkan untuk mengunjungi wilayahnya sekitar lima kali dalam setahun.
Selain itu, Marquis diam-diam juga merasa khawatir akan terulangnya kejadian seperti yang melibatkan pelayan yang kurang ajar dan Viscountess Bourne. Terlebih lagi, musim semi sudah semakin dekat. Festival Anoxi Glory di wilayah Marquis Rivera—yang berarti “Kemuliaan Musim Semi” dan menandai awal datangnya musim semi, dengan waktu pelaksanaan yang berbeda-beda di setiap wilayah—juga tidak lama lagi akan digelar.
Salah satu anggota keluarga penguasa wilayah harus menerbangkan lentera langit pertama sebagai tanda dimulainya festival. Namun, Marquis tidak dapat pergi sendiri.
Maka, setelah sekian lama, tiga bersaudara dari keluarga Rivera datang ke wilayah tersebut.
Begitu tiba, ketiganya langsung mencari Saintess. Pada akhirnya, mereka mengetahui bahwa Saintess telah menghilang.
Wajah Baron Calestin seketika memucat.
Sudah sewajarnya jika ia mengerahkan seluruh pasukan yang ditempatkan di wilayah itu untuk mencari Saintess yang hilang. Kastel telah berada dalam kekacauan selama berhari-hari, dan suasananya semakin mencekam.
Seandainya penjaga tua kandang tidak mengatakan bahwa Saintess dekat dengan Dilan, mungkin seluruh pelayan keluarga Marquis sudah menjadi mayat.
Majikan mereka memang cukup murah hati. Namun, baik sang Marquis maupun pewarisnya, Carlisle, tidak pernah menunjukkan belas kasihan jika seseorang sudah melewati batas.
Karena itu, seluruh pelayan diliputi ketakutan. Entah Saintess ditemukan ataupun tidak, mereka merasa nyawa mereka sudah berada di ujung tanduk.
Namun, setelah Saintess berhasil diselamatkan, semuanya berakhir dengan pertumpahan darah seminimal mungkin. Selain para pelaku yang dihukum mati, hanya beberapa orang yang dipecat atau dipotong gajinya.
Dibandingkan dengan pembantaian yang mereka takutkan, masalah itu akhirnya selesai tanpa banyak korban.
Saintess yang nyaris dijual kepada kaum Vaelith jatuh tidak sadarkan diri selama tiga hari akibat syok dan terus mengerang dalam tidurnya.
Jika pihak kepausan mengetahui hal tersebut, mereka bisa menjadikannya alasan untuk menuntut hak asuh atas Saintess. Karena itu, pembersihan terhadap para pelaku dan jaringan penyelundup yang hendak menjual Saintess kepada kaum Vaelith dilakukan secara diam-diam.
Tiga hari kemudian, Saintess membuka matanya.
Setelah memastikan bahwa Saintess telah sadar, sang pewaris meninggalkan wilayah tersebut untuk melakukan inspeksi.
......................
“Violet.”
Violet mengangkat kepala dan menatap Ledian. Sejak kejadian itu, ia semakin jarang berbicara. Ledian menyibakkan rambut peraknya yang jatuh ke wajah, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
“Bosan?”
Violet menggeleng. Tatapannya tetap terpaku ke luar jendela.
Musim dingin akan segera berakhir, dan musim semi akan tiba. Saat musim semi datang, wilayah Marquis pasti akan mengadakan Anoxi Glory, festival untuk merayakan datangnya musim semi. Setelah itu, musim semi benar-benar akan dimulai di wilayah ini.
“Apa yang tadi kau lakukan?”
“Hanya membaca buku.”
Violet hanya membicarakan hal-hal yang tidak akan pernah bisa dipermasalahkan. Bahkan kepada Ledian sekalipun.
“Violet.”
Begitu namanya dipanggil, sepasang mata biru langit yang jernih menoleh kepadanya. Warnanya begitu terang, bahkan sulit dibandingkan dengan kilau permata, hingga memantulkan wajah Ledian. Mata yang sebening langit musim gugur itu tampak seperti diselimuti awan, dengan semburat ungu di dalamnya.
“Kau sangat terpukul, ya.”
Violet bahkan tidak berkedip mendengar perkataan itu.
Biasanya, jika seseorang mengucapkan kata-kata yang menenangkan hatinya, gadis itu akan langsung menangis dan memeluknya. Namun, kali ini ia hanya menundukkan pandangan dengan lembut.
Gerakan itu justru memancarkan keanggunan yang tidak pernah terlihat pada seorang gadis rakyat jelata seperti dirinya.
Dulu, Violet dianggap sebagai gadis yang tidak berpendidikan dan berasal dari kalangan rendah. Namun, setelah hampir setahun mendapat pendidikan dari Countess, kini ia mulai benar-benar terlihat seperti seorang bangsawan muda.
Walaupun sejak lahir ia tidak memiliki darah bangsawan, orang-orang tetap berbisik, “Seperti yang diduga, Saintess memang berbeda.”
Namun, Ledian tahu bahwa Violet terus berusaha melatih dirinya karena ketakutan yang masih membekas dalam dirinya.
Meski begitu, bukan itu yang Ledian inginkan.
Ia ingin Violet kembali tersenyum kepadanya. Ia ingin dunia Violet yang begitu sempit itu dipenuhi oleh dirinya.
“Kakak memang selalu begitu. Kelihatannya dingin, tapi sebenarnya tidak pernah ragu bertindak kejam.”
“Aku tahu.”
Begitu nama Carlise dibicarakan, wajahnya langsung menggelap. Ledian menyadari bahwa topik ini tidak disukai Violet, sehingga ia segera mengubah pembicaraan.
“Oh, ya. Katanya Bibiku akan datang.”
“Bibi?”
“Iya. Adik perempuan Ayah. Beliau menikah dengan Count Rochester, yang wilayahnya terletak lebih jauh di utara dari sini. Sepertinya kali ini beliau akan tinggal di sini sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke ibu kota.”
“Oh, begitu.”
Melihat akhirnya ada sedikit reaksi, Ledian kembali melanjutkan ceritanya.
“Bibi punya seorang putri. Namanya Brianna, dan usianya sebaya denganmu. Anak itu sangat manis.”
“Aku harap dia bisa menjadi temanmu. Kalian pasti bisa akrab.”
Ledian tersenyum.
“Dan Kak Carlisle sedang pergi meninjau wilayah. Sepertinya dia akan menginap di kediaman salah satu vasal. Mungkin dia tidak akan kembali dalam waktu dekat.”
Ledian pun berdiri.
Namun, mendengar nama ‘Carlisle’, Violet sontak terkejut dan tubuhnya menciut.
Ledian memperhatikan reaksi itu.
Ia terus memikirkan apa yang harus dilakukan agar gadis muda yang rapuh dan sulit didekati ini kembali ceria. Namun, ternyata orang yang berhasil meluluhkan hati Violet bukanlah dirinya.
......................
“Hei, rakyat jelata.”
Berbeda dengan Ledian yang datang dengan sikap lembut dan sabar, Cedric terus mengunjungi Violet dengan caranya sendiri.
Ia terang-terangan mengamati Violet, tetapi Violet sama sekali tidak menghiraukannya.
Jika dibiarkan bicara sendirian seperti itu, Cedric akhirnya akan kehabisan tenaga dan kembali ke kamarnya sendiri.
“Hei, hei!”
Pernah suatu kali Cedric memaksa meraih pergelangan tangan Violet. Namun, Violet terkejut hingga tanpa sengaja menjatuhkan meja. Lilin aromaterapi yang sebelumnya dinyalakan Meirra untuk menenangkan perasaannya ikut terjatuh dan menimbulkan api.
Cedric pun terkejut dan langsung melepaskannya.
Meski begitu, Cedric tetap datang mengunjungi Violet.
“Aku bosan.”
Ledian bertanya apakah Violet bosan, sementara Cedric justru mengatakan bahwa dirinya yang bosan.
Sebenarnya, untuk apa mereka terus menanyakan hal seperti itu?
Violet memikirkannya dalam diam.
“Padahal aku juga bosan meski mendapat pelajaran dari Sir Kaltz di lapangan latihan.”
“.....”
“Hei, kau dengar aku tidak?!”
Cedric berteriak begitu keras hingga Violet mengernyit.
Kalau dipikir-pikir, Cedric yang lebih banyak bersikap kasar daripada sopan justru berhasil memancing berbagai macam reaksi dari Violet sekarang.
Sayangnya, baik Cedric maupun Violet sendiri tidak menyadari hal itu.
“Kalau kau bosan, keluar dan bermainlah, Kakak.”
“Uwek! Jangan panggil aku begitu! Menjijikkan!”
Cedric langsung terdiam sesaat. Namun, setelah dipikir-pikir, ia justru merasa panggilan itu tidak terlalu buruk.
“Hei, panggil saja aku Kakak lagi! Atau panggil namaku! Kau kan memanggil Ledian dengan sebutan Kakak!”
Cedric langsung berseru dengan penuh semangat.
Violet pun menjawab tanpa ekspresi sedikit pun.
“Baiklah, Kakak.”
Cedric berkedip beberapa kali, seolah tidak menyangka akan dipanggil seperti itu. Violet belum pernah memanggilnya dengan sebutan apa pun sebelumnya. Memikirkannya saja entah mengapa membuat dadanya sedikit membusung bangga.
Padahal, bagi Violet, panggilan itu hanya cara untuk menyingkirkan orang yang mengganggunya.
Namun, bagi Cedric, mendengar seorang gadis seusianya memanggilnya “Kakak” terasa aneh sekaligus menyenangkan.
Di antara anak-anak seusianya, Cedric termasuk anak laki-laki yang bertubuh besar. Sebaliknya, Violet justru bertubuh kecil untuk anak seusianya. Meski hanya terpaut satu tahun, tubuh Violet jauh lebih mungil darinya.
Bagi Cedric, sebutan “rakyat jelata” tidak lebih dari sekadar latar belakang seseorang. Ia tidak pernah benar-benar merasa jijik atau menolak keberadaan mereka.
Karena itu, ketika Violet tiba-tiba memanggilnya “Kakak”, ia mulai merasa bahwa gadis kecil ini benar-benar seperti adiknya sendiri.
“Ya... iya, Adik.”
Sebutan itu terdengar tidak kalah canggung.
Aiden kemudian seolah membulatkan tekad. Ia melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Violet.
Rambut biru gelap dan mata biru pekatnya benar-benar mirip dengan Marquis dan Eslemond. Tepat ketika Violet mulai merasa tidak nyaman melihat kemiripan itu, Aiden berkata, “A-aku juga terkejut.”
“.....”
“Aku juga takut.”
“.....”
“Apakah kau juga takut? Jadi... um, maksudku, aku ingin bilang...”
Violet juga tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dikatakan Cedric.
Cedric mengembuskan napas beberapa kali, lalu mengulurkan tangan. Gerakan tangannya yang tiba-tiba membuat tubuh Violet tersentak.
Namun, Cedric sama sekali tidak menyadarinya. Ia justru mengusap kepala Violet.
Tentu saja, berbeda dengan Ledian yang selalu mengelus rambutnya mengikuti arah rambut yang sudah diikat, Cedric malah mengusapnya berlawanan arah seolah tidak pernah berpikir sebelumnya. Rambut Violet pun langsung berantakan.
Meski rambutnya semakin kusut, Violet tidak berusaha merapikannya. Ia hanya diam menatap Cedric.
Cedric sendiri justru kebingungan karena ternyata mengusap kepala seseorang jauh lebih sulit dari yang ia kira. Rambut Violet semakin berantakan.
Kalau yang ada di hadapannya adalah sepupu perempuannya, Brianna, gadis itu pasti sudah menjerit dan memakinya.
Cedric memang belum pernah mengusap kepala siapa pun seperti ini. Karena gugup, ia akhirnya bergumam pelan,
“Maaf.”
Setelah itu, ia kembali merapikan rambut Violet.
Rambut anak perempuan ternyata sepanjang dan selembut ini.
Melihat Violet yang terus menatapnya, Cedric berdeham canggung.
Meski masih sedikit berantakan, rambut Violet akhirnya kembali seperti semula.
Saat itu, Cedric menyadari bahwa Violet jauh lebih lemah darinya dan merupakan seseorang yang harus ia lindungi.
Ketika teringat bagaimana Violet dulu menangis tersedu-sedu sambil berpegangan pada kakaknya, entah mengapa dadanya terasa sesak.
“Mulai sekarang, aku yang akan bicara pada Kakak. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan hal seperti itu lagi.”
Cedric menepuk-nepuk dadanya dengan bangga, seolah meminta Violet untuk mempercayainya.
Namun, Violet menjawab, “Aku tidak percaya.”
Cedric langsung berteriak, “Kenapa?”
“Karena kau tidak pernah mendengarkanku sekalipun.”
Mendengar jawaban itu, Cedric langsung terdiam dan mengatupkan mulut rapat-rapat. Karena apa yang dikatakan Violet memang benar, ia tidak bisa membantah.
Melihat wajah Cedric yang terdiam, Violet akhirnya angkat bicara lebih dulu. Ia samar-samar menyadari bahwa sikap Cedric selama ini merupakan caranya menunjukkan perhatian.
“Ini bukan salahmu. Jadi, kau tidak perlu merasa seperti itu kepadaku.”
Seperti yang Ledian katakan, Marquis maupun Carlisle memang memiliki sisi kejam seperti itu. Mereka memang sudah seperti itu sejak awal.
Violet sebenarnya tidak memiliki rasa benci yang besar kepada Cedric. Ia hanya bisa membayangkan bahwa Cedric sendiri pasti mengalami guncangan setelah kejadian tersebut.
Violet menatap Cedric.
Cedric dan Dilan sama-sama sebaya dengannya. Namun, sama seperti Dilan yang merupakan anak penjaga kandang tidak mungkin berada di posisi yang sama dengan Cedric, putra seorang bangsawan, kini Violet juga tidak mungkin lagi berada di posisi yang sama dengan Dilan.
Violet berbeda dari Dilan.
Ia tidak bisa lagi menjadi teman Dilan.
Kini, ia berada di posisi yang lebih tinggi daripada mereka, memandang orang-orang yang berlutut di hadapannya.
Barulah sekarang ia benar-benar menyadari kenyataan itu.
“Hei, kau menangis lagi?”
Cedric diam-diam memperhatikannya.
“Aku tidak menangis.”
Jika menangis pun merupakan sebuah tindakan, seberapa besar akibat yang bisa ditimbulkannya?
“Benar-benar tidak menangis?”
“Tidak.”
“Benarkah? Wajahmu terlihat sedih sekali. Kau boleh menangis di depan Kakak.”
“Aku bilang aku tidak menangis!”
Violet berteriak dengan kesal. Namun, setelahnya ia sendiri ketakutan karena telah meninggikan suara.
Cedric tahu betul bahwa Violet adalah seorang rakyat jelata, dan ia pasti tahu bahwa perkataan tadi merupakan penghinaan besar. Saat menyesali jawabannya yang terlontar begitu saja karena rasa kesal yang mendadak memuncak, Violet melirik Cedric.
Namun, wajah Cedric bukanlah wajah seseorang yang marah karena merasa dihina.
Ia justru tampak benar-benar terluka.
“A-ah, baiklah.”
Melihat anak laki-laki yang tampak kehilangan semangat itu, Violet menyadari bahwa Cedric yang selama ini ia takuti ternyata jauh lebih polos daripada yang ia kira.
Bagaimanapun, Cedric hanya seorang anak laki-laki yang usianya lebih tua darinya satu tahun—bahkan mungkin hanya beberapa bulan.
Kalau dipikir-pikir, ketika Violet menangis sebelumnya, Cedric juga sempat menepuk-nepuk punggungnya dengan caranya sendiri untuk menenangkannya.
Melihat Cedric yang sesekali meliriknya, entah bagaimana membuat awan gelap yang selama ini memenuhi hati Violet perlahan menghilang.
Saat sudut bibir Violet mulai terangkat membentuk senyum tipis, Cedric langsung tersenyum lebar.
“Hei, kau tersenyum!”
“Aku tidak tersenyum.”
“Tidak! Kali ini kau tersenyum! Aku melihatnya!”
“Aku bilang aku tidak tersenyum!”
“Pembohong.”
Meski Violet menjawab dengan kesal, Cedric malah terkikik dan terus menggodanya dengan jahil.
Berbeda dengan Ledian yang selalu berusaha menenangkan perasaannya, Cedric justru memiliki cara aneh yang membuat Violet lebih berani menunjukkan emosinya.
Pada akhirnya, Violet hanya bisa mendengus kesal dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Dan ketika Meirra melihat Violet yang akhirnya kembali seperti anak seusianya, ia mengembuskan napas lega.
Tentu saja, itu baru terjadi beberapa waktu kemudian.
......................
Carlisle pergi meninjau wilayah dan berencana tidak kembali dalam waktu dekat. Karena itu, Ledian, sebagai putra kedua, harus menyambut para tamu yang datang.
Sejak pagi, Cedric terus menggerutu. Kadang ia mengatakan bahwa mereka akan segera datang, kadang pula berkata bahwa masih belum terlambat untuk melarikan diri dan sebaiknya mereka segera pergi.
Violet sama sekali tidak memahami maksudnya. Namun, begitu melihat para tamu yang datang, ia akhirnya mengerti alasan Cedric sejak tadi bersikap aneh.
“Ah, kastel ini memang selalu terlihat muram. Entah kenapa Kakak tidak punya selera sama sekali.”
Seorang wanita paruh baya dengan rambut biru gelap yang mirip dengan milik Marquis datang mengenakan mantel bulu mewah.
“Sudah lama tidak bertemu, Ledian.”
“Ya, senang bertemu lagi denganmu, Bibi.”
Para tamu wanita itu bahkan tidak melirik Violet. Mereka melewatinya begitu saja dan langsung memeluk Ledian serta Cedric.
Violet justru memperhatikan seorang gadis yang seumuran dengannya. Ia langsung tahu bahwa gadis itulah Brianna yang diceritakan Ledian.
Brianna memiliki rambut pirang yang mirip dengan Ledian, tetapi warnanya jauh lebih terang, seperti cahaya matahari. Berbeda dengan mata Violet yang berwarna biru langit pucat, Brianna mewarisi mata biru khas keluarga Marquis Rivera, berwarna biru safir yang dalam.
“Kak Ledian, aku merindukanmu!”
Brianna tertawa riang sambil menggenggam tangan Ledian. Ledian pun memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Kemudian, sambil menatap tepat ke arah Violet, Ledian berkata, “Bukankah itu tidak sopan? Ada Saintess di sini. Seharusnya kalian menyapanya lebih dulu. Bibi juga.”
Barulah ibu dan anak itu menoleh kepada Violet.
Mereka mengamatinya dengan tatapan penuh penilaian. Violet bisa merasakan bahwa pandangan mereka sama sekali tidak bersahabat.
“Oh, Saintess. Maaf, saya tidak menyadari kehadiran Anda.”
Countess Rochester baru menyapa Violet setelah itu.
Dulu, mungkin hanya dengan melihat seorang Countess saja Violet sudah merasa ketakutan. Namun sekarang, entah mengapa gelar “Countess” tidak lagi terasa begitu menakutkan baginya.
“Tidak perlu dipikirkan. Kita tidak perlu saling memberi salam secara formal, Countess.”
Seolah sudah menunggu jawaban itu, Countess Rochester langsung berbalik.
Brianna masih terus memandangi Violet dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Violet pun sempat penasaran, tetapi entah mengapa tatapan gadis itu membuatnya merasa tidak nyaman. Akhirnya, Violet memilih memalingkan wajah.
“Carlisle belum datang?”