Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lexa terluka
Sudah tiga jam berlalu sejak Alexa dipaksa melangkah gontai turun ke ruang bawah tanah yang dingin, pengap, dan berbau amis membeku.
Dengan sapu dan kain pel di tangannya, Alexa bergerak lambat. Langkah kakinya lesu, bahunya terkulai pasrah, dan jemarinya yang pucat menggegam gagang sapu dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Rambut hitamnya terkuncir asal, memamerkan leher jenjangnya yang pucat dan mata sembap yang memerah akibat lelah serta tangisan tak berkesudahan.
Beberapa pengawal bertubuh kekar yang berjaga di sudut lorong bawah tanah sesekali melirik ke arahnya. Di balik raut wajah dingin dan kaku khas prajurit Alteir, terbesit sedikit rasa kasihan. Mereka tahu betul betapa kejamnya siksaan fisik dan mental yang dialami wanita muda ini. Namun, di bawah perintah mutlak Raiden, tak seorang pun dari mereka yang berani mengulurkan tangan atau sekadar menyodorkan segelas air.
Awalnya, Alexa merasa mual dan ingin muntah setiap kali melihat ceceran merah pekat di atas semen. Namun kini, setelah berturut-turut berhadapan dengan kematian, senjata api, dan bentakan, rasa takut itu mendadak tumpul. Tubuhnya bergerak secara mekanis—entah karena sudah terbiasa dengan kegilaan mansion ini, atau sekadar terpaksa demi bertahan hidup sehari lagi.
Namun, ketenangan kaku di ruang bawah tanah itu pecah dalam hitungan detik.
BRUK! BRAK!
Akibat kelalaian salah satu penjaga yang melonggarkan pengawasan saat memindahkan tahanan, pintu salah satu sel isolasi tidak terkunci sempurna. Seorang tahanan—pria bertubuh kurus dengan pakaian sobek-sobek—memanfaatkan celah itu. Dengan nekat, ia menghantamkan tubuhnya ke pengawal terdekat, merebut sebuah pisau komando bermata dua yang terselip di pinggang sang penjaga, lalu melesat berlari kencang menyusuri koridor utama!
"Tahanan kabur! Tahan dia!" teriak pengawal panik.
Suara derap langkah dan teriakan peringatan bergema nyaring di sepanjang lorong cadas.
Alexa yang sedang membungkuk membersihkan sudut ruangan tersentak kaget. Ia mendongak, dan matanya seketika membelalak lebar melihat sesosok pria berdarah-darah berlari ke arahnya dengan pisau teracung liar.
"J-jangan mendekat! Pergi!" jerit Alexa panik, meremas gagang sapunya dan melangkah mundur ketakutan hingga punggungnya membentur dinding semen yang dingin. "Pergi dari sini!"
Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan Alexa. Napasnya memburu liar, matanya membelalak dipenuhi kegilaan dan rasa dendam yang amat mendalam. Ia menyibakkan bajunya yang compang-camping dengan tangan kiri yang gemetaran.
"Lihat! Lihat ini!" jerit pria itu kalap, menunjuk tubuhnya yang dipenuhi luka cambukan dalam, sayatan melintang, dan kulit yang hangus terbakar. "Ini semua hasil karya suamimu! Si iblis Raiden itu! Dia menyiksaku tanpa ampun, dan aku pasti akan mati mengenaskan di tempat busuk ini!"
Pria itu menatap Alexa dengan pendar mata yang benar-benar hilang akal. Wajahnya menyeringai mengerikan.
"Kalau aku harus mati di tangan Raiden hari ini... maka dia harus membayar harganya! Aku akan membalas dendam lewat dirimu!"
"J-jangan—!"
SRETTT!
Sebelum Alexa sempat berlari atau menghindar, pria kalap itu memajukan tubuhnya dan menghantamkan pisau komando itu dengan sekuat tenaga lurus ke arah perut Alexa.
Mata pisau tajam berukuran panjang itu menembus kain pakaian dan merobek kulit perut Alexa dengan sangat dalam.
JASSS!
"AHK...!"
Jeritan Alexa tertahan di tenggorokan. Rasa sakit yang teramat dahsyat dan panas membakar seketika menjalar meledak di seluruh penjuru tubuhnya. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa syok dan rasa sakit yang luar biasa. Air mata seketika menetes deras dari pelipisnya.
Pria itu menarik kembali pisaunya dengan kasar, membuat cairan merah pekat menyembur deras membasahi lantai semen.
BRUK!
Tubuh ramping Alexa meluruh hancur ke lantai. Kedua tangannya yang gemetaran hebat refleks memegangi perutnya yang terkoyak, namun darah segar mengalir deras dari sela-sela jemarinya tanpa bisa ditahan. Pandangannya mendadak kabur dan berbayang.
DOR! DOR!
Dua tembakan tepat sasaran menghantam kepala dan dada tahanan itu dari jarak jauh. Pria kalap itu roboh bersimbah darah, tewas seketika di samping Alexa.
"NYONYA!"
Para pengawal yang baru tiba di lokasi seketika membeku dengan raut wajah pucat pasi. Kepanikan yang teramat luar biasa melingkupi mereka saat melihat istri dari penguasa mereka terkapar tak berdaya dalam genangan darahnya sendiri.
"Panggil tim medis! Cepat panggil Tuan Raiden!" teriak salah satu pengawal dengan suara melengking panik, menyadari bahwa jika nyawa wanita di lantai itu melayang, kepala mereka semua akan menjadi taruhannya.
Pandangan Alexa kian mengabur. Cahaya remang-remang dari lampu lorong ruang bawah tanah perlahan meredup, tergantikan oleh kegelapan pekat yang merayap dingin dari sudut-sudut penglihatannya. Suara derap langkah kaki para pengawal, teriakan panik yang saling bersahutan, hingga bunyi sirine darurat terdengar makin jauh, mendengung lemah di telinganya seolah tenggelam di dalam air.
Rasa sakit yang membakar hebat di bagian perutnya perlahan berubah menjadi rasa kebas yang membekukan.
Kedua tangan Alexa yang semula menggenggam erat luka robekannya kini terkulai lemas di atas genangan darahnya sendiri. Napasnya terengah-engah, pendek, dan sangat patah-patah. Di detik-detik saat kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, rasa putus asa dan kepasrahan yang mendalam memenuhi benak Alexa.
'Kalau aku mati di sini... apakah aku bisa bangun lagi di kamarku?' bisik Alexa dalam hatinya yang paling dalam.
Bayangan kehidupan lamanya yang tenang—tanpa senjata api, tanpa ceceran darah, tanpa ancaman pembunuhan, dan tanpa sosok pria iblis bernama Raiden—berputar lambat bagaikan tayangan film tua.
'Tuhan... tolong kembalikan aku ke duniaku yang nyata... Aku sudah lelah... aku tidak mau berada di dunia gila ini lagi...' Setetes air mata terakhir menetes melintasi pelipisnya, menyatu dengan noda darah di lantai. Kelopak mata Alexa perlahan-lahan terpejam rapat, dan tubuhnya mematung tak berdaya dalam kegelapan mutlak.
Sementara itu, di lantai atas kediaman Alteir.
Atmosfer ruang kerja Raiden terasa begitu hening dan tenang. Pria itu duduk tegap di balik meja kerja kayu jati yang megah, fokus memeriksa setumpuk dokumen penting dan berkas transaksi internasional. Jemarinya yang panjang dan tegas menari anggun di atas kertas, sama sekali tidak terganggu oleh apa pun.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan di pintu ruang kerjanya terdengar. Meski situasi di bawah sedang kacau balau, pengawal senior yang berdiri di luar pintu tetap mengetuk dengan sangat sopan dan berhati-hati, tahu betul konsekuensi mengerikan jika berani mengganggu ketenangan sang penguasa tanpa tata krama.
"Masuk," sahut Raiden pendek, suaranya datar dan dingin tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
Pintu kayu tebal itu terdorong pelan. Pengawal pribadi yang dikirim dari ruang bawah tanah melangkah masuk dengan raut wajah yang teramat pucat pasi. Pelipisnya dibasahi keringat dingin, dan tubuhnya bergetar kaku saat mendekati meja kerja.
"L-Lapor, Tuan Muda Raiden..." cicit pengawal itu dengan suara yang tertahan di tenggorokan, "Mengenai Nyonya Alexa di bawah—"
CTAK.
Belum sempat pengawal itu menyelesaikan kalimatnya, Raiden meletakkan pulpen mahalnya ke atas meja dengan dentingan keras yang tajam.
Pria itu mendongak. Iris mata hitam legamnya yang dingin, menusuk, dan tak tersentuh emosi menghujam tepat ke arah sang pengawal, membekukan aliran darah prajurit itu seketika.
"Sudah kubilang, jangan pernah membawakan alasan atau drama tidak berguna wanita itu ke hadapanku," pangkas Raiden dingin, suaranya menggelegar rendah penuh penekanan absolut yang tidak menerima bantahan.
Dalam pikiran Raiden, Alexa pasti kembali berulah—merengek, berpura-pura pingsan, atau membuat alasan sakit agar bisa melarikan diri dari tugas membersihkan ruang bawah tanah yang baru saja ia perintahkan pagi tadi. Bagi Raiden, kemanjaan dan penolakan Alexa hanya membuang-buang waktunya yang berharga.
"Jika dia malas dan tidak mau bekerja, biarkan dia berada di sana sampai tugasnya selesai," sambung Raiden tanpa belas kasihan sedikit pun, lalu kembali menunduk memperhatikan berkasnya. "Keluar. Dan jangan berani menggangguku lagi hanya demi memedulikan wanita itu."
Pengawal itu tersentak. Bibirnya bergetar, ingin sekali menyuarakan bahwa Nyonya rumah ini bukan sedang berpura-pura, melainkan bersimbah darah dengan luka pisau yang mematikan di perutnya.
Namun, menatap pancaran aura membunuh di mata Raiden yang menegaskan perintah pengusiran, nyali pengawal itu runtuh total. Ia tahu, jika ia berani menyela atau membantah sekali lagi, peluru Raiden akan menembus kepalanya sebelum kalimatnya selesai.
"B-baik, Tuan Muda. Saya permisi," bisik pengawal itu patuh.
Dengan kepala tertunduk dalam-dalam dan kepanikan yang kian membakar dada, pengawal itu mundur perlahan dan menutup pintu ruang kerja Raiden rapat-rapt, meninggalkan sang penguasa yang tetap tenang dalam ketahuannya yang salah.
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱