Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Warisan yang terlupakan
Ki Jagabaya menggulung kembali lontar tua itu dengan cermat. Ia tak lantas menyimpannya, ia menatap gulungan usang di tangannya cukup lama—seolah sedang menggali kenangan yang telah terkubur puluhan tahun.
"Dahulu... aku menganggap semua ini hanya dongeng," ucapnya pelan, suaranya sarat beban masa lalu. "Sekadar cerita rekaan untuk menakut-nakuti murid yang terlalu haus akan kekuasaan."
Jayengrana tetap membisu di tempatnya.
"Namun malam ini..." Ki Jagabaya tersenyum hambar, "...dongeng itu justru duduk tegak di hadapanku."
Lelaki tua itu menghela napas pendek. "Ulurkan tanganmu."
Jayengrana menyodorkan lengan kanannya. Ki Jagabaya meraba denyut nadi di pergelangan tangan sang Senopati. Lama. Sangat lama.
Lalu, sebuah gumaman heran lolos dari bibirnya. "Aneh..."
"Apa yang Guru rasakan?"
"Aliran tenagamu."
Jayengrana mengernyitkan dahi. "Tenaga dalamku?"
Ki Jagabaya menggeleng pelan. "Bukan. Ini bukan lagi sekadar hawa murni atau tenaga dalam manusia. Ini adalah sesuatu... yang belum pernah kurasakan seumur hidupku."
Ia kemudian mengambil sebatang kayu bakar tebal dari dekat tungku. "Hantamkan pukulan ke arah kayu ini."
Jayengrana menatap kayu di tangan gurunya dengan heran. "Hanya itu?"
"Lakukan saja."
Tanpa banyak bertanya, Jayengrana bangkit berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam, mengencangkan otot-ototnya, lalu melayangkan pukulan lurus ke depan.
Buk!
Kayu bakar itu langsung patah terbelah dua.
Jayengrana menghembuskan napas. "Hanya pukulan biasa, Guru."
"Tidak." Ki Jagabaya justru mengangkat potongan kayu tersebut ke dekat pendar api tungku.
Jayengrana mendekat untuk memperhatikan, lalu mendadak bungkam.
Bagian dalam serat kayu yang terbelah itu... menghitam pekat. Seolah-olah intinya telah habis terpanggang dari dalam, padahal tak ada percikan api maupun uap asap yang mengepul saat ia memukul tadi.
"Bukankah... sebelum kematian menjemputmu, kau tak pernah mampu melakukan hal ini?" gumam Ki Jagabaya pelan.
Jayengrana mengangguk perlahan, merenungkan perubahan gaib pada raganya.
Ki Jagabaya melempar dua potongan kayu itu ke dalam kobaran api tungku, lalu menunjuk sebongkah batu kali sebesar kepala manusia di sudut halaman.
"Coba lagi. Pukul batu itu."
Jayengrana menarik napas panjang. Ia mengambil posisi kuda-kuda, mengumpulkan dorongan tak kasat mata dari dalam dadanya, lalu...
Duar!
Tinjunya menghantam batu keras tersebut. Bongkahan batu itu retak seketika. Namun, yang membuat keduanya tertegun adalah cetakan bekas telapak tangan di atas permukaan batu.
Cetakan itu berwarna hitam legam, seakan disentuh oleh besi membara.
Jayengrana menarik tangannya. Anehnya, ia sama sekali tak merasakan hawa panas menggelegak di jemarinya.
Ki Jagabaya justru menghela napas panjang, sorot matanya dibaluti kecemasan. "Jangan gunakan kekuatan itu sembarangan, Jayengrana."
"Mengapa, Guru?"
"Sebab itu bukan murni kekuatan milikmu."
Kalimat itu membuat Jayengrana mendongakkan wajah.
"Setiap kali kau memanggil dan memakainya..." bisik Ki Jagabaya, "...kau sedang meminjam milik entitas lain. Dan semakin sering kau meminjamnya, semakin besar pula hak makhluk itu atas dirimu."
Jayengrana memandangi telapak tangannya sendiri dalam hening. Rasa gentar merayapi batinnya—sejenak ia takut pada raga dan jiwanya sendiri.
Malam itu, mereka menikmati santapan secara bersahaja: nasi hangat, ikan asin, dan rebusan daun kelor. Tak ada pembicaraan berarti yang melintas di meja kayu.
Seusai menyapu sisa makanannya, Ki Jagabaya mendadak berkata, "Besok pagi, ikutlah denganku."
"Hendak ke mana kita, Guru?"
"Menemui seseorang. Seorang empu pandai besi."
Jayengrana mengernyit bingung. "Aku tidak membutuhkan pedang baru."
"Bukan pedang," potong Ki Jagabaya seraya menggeleng halus. "Tombakmu."
Jayengrana refleks menoleh ke arah tombak pusakanya yang bersandar di dinding gubuk.
"Senjata itu sudah menemanimu belasan tahun," ujar Ki Jagabaya pelan. "Namun mulai sekarang... ia juga harus belajar menemani tuannya yang telah kembali dari alam kematian."
Jayengrana belum sepenuhnya memahami maksud tersirat dari gurunya, tetapi ia paham satu hal: Ki Jagabaya bukanlah sosok yang gemar mengumbar teka-teki tanpa tujuan.
Fajar baru saja menyingsing ketika Ki Jagabaya sudah berdiri tegap di halaman. Sebuah buntalan kain lusuh tergantung di punggungnya, sementara Jayengrana seperti biasa mengapit tombak pusakanya di sisi raga.
"Apakah perjalanan kita jauh, Guru?" tanya Jayengrana.
"Cukup jauh."
"Mendaki gunung?"
"Menuruninya."
Ki Jagabaya melangkah tanpa menoleh lagi, dan Jayengrana bergegas menyusul dari belakang.
Perjalanan itu memakan waktu hampir setengah hari. Mereka menyusuri lereng berbatu yang curam, menembus kerapatan hutan bambu, hingga akhirnya menginjakkan kaki di sebuah lembah yang diselimuti kabut tipis. Anehnya, alih-alih dingin khas pegunungan, hawa di lembah itu terasa hangat membakar.
Semakin dalam mereka melangkah, aroma tajam arang dan besi panas mulai menyengat penciuman.
Tak lama kemudian...
Tang! Tang! Tang!
Dentang benturan palu pada logam menggelegar memecah sunyi.
Di tengah ceruk lembah berdiri sebuah bengkel pandai besi bersahaja. Atapnya hanya terbuat dari jalinan ijuk tua, dindingnya sekadar anyaman bambu pelapuk. Namun, tungku pembakaran di sudut bangunan itu menyala dengan pendar bara yang jauh lebih membara dibanding tungku biasa.
Seorang lelaki tua bertubuh tegap sedang mengayunkan pemukul besi ke atas sebilah logam membara. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, dadanya yang bertelanjang dipenuhi garis-garis bekas luka bakar. Ia sama sekali tak berpaling tatkala Ki Jagabaya melangkah mendekat.
"Aku sedang bekerja," suara beratnya beresonansi di dalam bengkel. "Jika hanya berkunjung untuk minum teh, sebaiknya kalian pulang."
Ki Jagabaya tertawa terkeh pelan. "Watakmu masih sekeras besi tempaanmu, Empu."
Lelaki tua itu akhirnya menghentikan ayunan tangannya. Ia berbalik dan menatap tajam ke arah Jayengrana. Mata tuanya menyipit, mengamati sang mantan Senopati dari ujung rambut hingga kaki.
Lalu... tanpa sepatah kata pun, ia menjepit sepotong besi membara dari tungku—menggunakan tangan kosong.
Jayengrana refleks hendak maju memperingatkan, namun empu tua itu tampak sama sekali tak terusik oleh kulitnya yang bersentuhan langsung dengan nyala api. Dengan tenang, ia melangkah maju dan menempelkan potongan besi membara itu tepat ke permukaan bilah tombak Jayengrana.
Ssssss...
Kepulan asap putih membumbung tinggi. Jayengrana spontan hendak menarik senjatanya kembali.
"Tahan! Jangan bergerak!" bentak sang Empu tegas.
Hanya dalam hitungan detik, potongan besi yang tadinya menyala merah membara itu mendadak padam dan memucat menjadi hitam dingin. Sang Empu melempar potongan logam itu begitu saja ke tanah.
Ia menatap bilah tombak Jayengrana cukup lama, sebelum menghembuskan napas panjang. "Memang benar..."
Ki Jagabaya mengangguk pelan. "Kau juga merasakannya, bukan?"
Jayengrana semakin dilingkupi kebingungan. "Merasakan apa?"
Sang Empu menyilangkan kedua tangannya yang kasar di dada. "Tombakmu."
"Ada apa dengan tombakku?"
"Bukan tombaknya yang bermasalah," sahut sang Empu dingin. "Tapi justru pemiliknya."
Ia melangkah perlahan mengitari raga Jayengrana. "Seorang jasad yang sudah melintasi batas kematian... seharusnya tak lagi sanggup menyelaraskan hawa keberadaannya dengan sebuah pusaka. Namun tombak ini... ia masih meyakini dan mengakui jiwa muliamu sebagai tuannya."
Jayengrana menatap lekat bilah tombak di tangannya.
Sang Empu melanjutkan, "Sangat jarang ada pusaka berbudi yang memilih bertahan setia. Pada umumnya... begitu napas pemiliknya terputus, ikatan kebatinan di antara mereka akan hancur seketika."
Ki Jagabaya tersenyum tipis. "Itulah alasan utamaku membawanya ke hadapanmu, Empu."
"Lantas?" sang Empu mendengus. "Apa yang kau harapkan dariku?"
Ki Jagabaya menunjuk ke arah tombak tersebut. "Bisakah kau memperkuat tempaannya?"
"Aku ini pembuat senjata, bukan tukang sihir," dengus sang Empu. "Sebuah pusaka tak bisa ditempa ulang atau diperkuat sekehendak hati."
"Lalu apa yang bisa dilakukan?"
Sang Empu menatap lurus ke dalam manik mata Jayengrana. "Sebuah pusaka sejati tumbuh dan menempa diri bersama pemiliknya. Jika sifat dan keberadaan sang pemilik berubah... maka pusaka itu pun akan berubah."
Ia mengulurkan telapak tangannya yang kapalan. "Serahkan tombak itu."
Jayengrana menyodorkannya dengan ragu. Sang Empu mengamati setiap inci lekukan bilah logam itu hingga jemarinya terhenti di batas pangkal mata tombak. Di sana, terukir sebuah guratan samar yang hampir tak kasat mata.
Begitu sang Empu mengusap ukiran tersebut dengan ibu jarinya...
Srrr...
Guratan itu memancarkan pendar cahaya merah redup. Hanya berlangsung sekilas, namun cukup untuk membungkam ketiga pria di dalam bengkel tersebut.
Sang Empu mengembalikan tombak itu perlahan ke tangan Jayengrana. "Luar biasa..."
"Apa maksud dari pendar tadi?" desak Jayengrana penasaran.
Sang Empu menggeleng pelan. "Belum saatnya."
Jayengrana menggeram pelan, kejengkolannya mulai tersulut. "Sejak kemarin, semua orang yang kutemui selalu berbicara dengan teka-teki."
Sang Empu terkekeh kecil. "Ini bukan teka-teki. Jika kujelaskan hakikatnya padamu sekarang... jiwamu justru tak akan sanggup memercayainya."
Ia berbalik memunggungi mereka, kembali menghadap tungku pembakarannya yang membara.
"Rawat dan simpan baik-baik tombak itu, Senopati. Suatu saat nanti... kau akan memahami mengapa pusaka tersebut menolak untuk ikut mati bersamamu."