NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rutinitas pengantin baru.

Zalina masih menunggu jawaban dari pria yang berdiri mematung di hadapannya itu. Entah apa yang sedang ia pikirkan, namun hal itu cukup membuat Zalina merasa tidak nyaman.

"Aku tidak biasa sarapan pagi."

Jawaban itu akhirnya keluar dari mulutnya. Namun, tentu saja bukan itu jawaban yang Zalina inginkan. Jujur, ia merasa sedikit kecewa.

Apalagi Kaiden langsung pergi ke kamarnya setelah mengatakan hal tersebut.

Zalina juga tidak bisa memaksa, ia hanya merasa kecewa karena kerja kerasnya seolah tidak dihargai.

Ia lalu membuka celemek yang terlilit di pinggangnya, dan mengambil piring juga gelas, lalu meletakkannya di atas meja.

Ia duduk di kursi, mengambil lauk dan memakannya.

Rasanya terlalu sunyi. Biasanya ada ayah yang selalu menemaninya sarapan. Ia tiba-tiba saja merindukan ayahnya. Mulai dari tawanya yang hangat, pujian setiap kali Zalina berhasil memasak makanan yang enak, dan perhatian darinya.

Kini, ia hanya duduk seorang diri, menikmati masakan yang ia buat sendiri.

"Lauknya masih tersisa banyak. Aku simpan saja untuk makan siang nanti. Sayang kalau dibuang." gumamnya pelan.

Zalina lalu kembali melanjutkan makannya.

Namun, ketika nasi dipiringnya telah habis, Kaiden keluar dari kamarnya dengan rambut yang setengah basah. Ia juga sudah tampak rapi dengan kemeja hitamnya.

Pria itu lalu tampak menggulung lengan kemejanya hingga ke siku dan duduk di hadapan Zalina yang sudah selesai makan.

"Kau tidak menungguku?" tanya Kaiden datar.

"Hmm... bukannya kau bilang tidak biasa sarapan pagi?" Zalina tampak bingung menanggapinya.

"Aku bilang tidak biasa, bukan tidak mau." sahut Kaiden datar, lalu duduk di kursinya.

Zalina tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia mengambil piring dan sendok, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Kaiden.

Zalina kembali duduk di meja dan menemaninya makan. Pria itu tampak memakan hidangan yang ia masak dengan lahap. Ada rasa lega dan hangat yang seketika memenuhi dadanya.

Walau pria di depannya ini terlihat dingin dan tegas, namun tampaknya ada sedikit kehangatan yang menjadi sisi tersembunyi dalam dirinya.

"Bersiap-siaplah." perintahnya di sela-sela makannya.

Dahi Zalina seketika berkerut halus. "Untuk apa?"

"Mama menyuruhmu untuk datang dan makan siang bersama mereka."

"Oh, baiklah. Aku akan segera bersiap-siap." sahut Zalina lalu berdiri dari kursinya dan masuk ke kamar untuk bersiap-siap.

Sementara Kaiden menatap punggung Zalina yang menjauh dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

🥀🥀🥀

Mobil Kaiden berhenti tepat di depan rumah orang tuanya yang megah dan luas.

Begitu mesin mobil dimatikan, Zalina menoleh ke arah pria di sampingnya.

"Kau tidak ikut turun?"

Kaiden menggeleng sambil melirik jam di tangannya.

"Aku harus segera ke kantor. Ada rapat yang tidak bisa ku tinggalkan."

"Oh." Zalina mengangguk pelan. "Baiklah."

Kaiden memang sempat membahas tentang pabrik kemarin malam. Pria itu mengatakan bahwa ia harus mengurus pabrik yang beberapa bulan lagi akan kembali diresmikan dan beroperasi kembali. Hal itu tentu saja bukan sesuatu yang mudah untuk di lakukan dan akan menyita banyak waktunya.

Sehingga pria itu mungkin akan banyak lembur untuk beberapa bulan ke depan.

Sebelum membuka pintu, Zalina kembali menatapnya.

"Terima kasih sudah mengantarku."

Kaiden hanya mengangguk kecil.

Zalina menatapnya sekilas, lalu entah karena dorongan sesuatu, ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat dan... meninggalkan sebuah kecupan singkat di pipi pria berkacamata itu.

"Sampai ketemu nanti." ucapnya lembut, lalu segera turun dari mobil.

Zalina menutup pintu mobil dengan hati-hati, kemudian berjalan menuju teras rumah itu tanpa menoleh lagi.

namun baru beberapa langkah, ia berhenti. Entah kenapa jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Tangannya spontan memegang bibirnya sendiri.

Apa yang baru saja ku lakukan?

Wajahnya perlahan memanas. Ia sama sekali tidak berniat melakukan hal itu sebelumnya. Bahkan, kecupan singkat itu terjadi begitu saja, seolah ada dorongan kecil yang membuatnya ingin meninggalkan sesuatu sebelum berpisah dengan Kaiden.

Zalina menggeleng pelan. Lalu, kembali masuk ke dalam rumah.

Sementara itu, di dalam mobil, Kaiden masih terdiam di tempatnya.

Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Ia bisa merasakan sisa kehangatan bibir Zalina di pipinya.

Pria itu mengangkat satu tangan, menyentuh pipinya perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Berani juga dia..." gumamnya.

Kaiden lalu kembali menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanannya.

*

*

"Sayang, akhirnya kau datang juga."

Belinda tampak merentangkan kedua tangannya, sambil berjalan menghampiri Zalina, lalu memeluknya erat. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Mama rindu sekali padamu."

Zalina sempat terkejut, tapi kemudian tersenyum dan membalas pelukan wanita itu.

"Ibu..."

"Eitt... bukan Ibu, tapi Mama." rapatnya sambil menatap hangat wajah menantunya itu.

Zalina tersenyum canggung. "Maksudnya Mama..."

"Kau sehat? Tidak terlalu kurus? Apa Kaiden memperlakukanmu dengan baik?"

Zalina lalu terkekeh kecil. "Aku baik-baik saja, Ma."

"Benarkah?"

"Benar."

"Ma, putri kita baru saja datang. Biarkan dia masuk ke dalam dulu." tegur Zafran, karena melihat mereka masih berada di depan pintu.

Pria baya itu sedang berjalan bersama Reyhan yang tampak tersenyum lebar melihat putrinya datang.

Belinda melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah suaminya itu. "Mengganggu saja." gumamnya pelan, mulai cemberut.

"Oke, oke. Nanti, kau bisa kembali melepas rindu pada putrimu. Sekarang biarkan dia melepas rindu pada ayahnya.

Belinda lalu tersenyum dan melepaskan Zalina.

Gadis itu lalu berjalan ke arah Reyhan, ayahnya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia sangat merindukan pria itu.

Setidaknya Zalina bisa bernapas lega, karena ayahnya tinggal bersama teman-teman baiknya.

"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya pria baya itu lembut, setelah memeluknya.

"Kenapa semua orang menanyakan hal itu?"

Reyhan tertawa.

"Aku baik-baik saja, Yah. Kaiden menjagaku dengan baik."

Bisa dikatakan seperti itu, bukan. Kaiden memang tidak pernah bersikap ramah padanya. Tapi, dia pria yang peduli dan bertanggung jawab pada setiap janjinya.

"Kalau begitu, Ayah bisa merasa tenang."

Belinda kemudian bertepuk tangan.

"Sudah, sudah. Kalian bisa mengobrol sambil minum teh di taman. Ibu juga sudah membuat kue yang lezat untukmu."

Belinda lalu menggandeng tangan Zalina. Ia terlihat senang karena akhirnya ia bisa mempunyai seorang putri. Ia tampak antusias menyambut kedatangannya.

🥀🥀🥀

Sementara itu, di coffee shop milik Diandra. Seorang pria berambut sebahu dan beberapa teman prianya tampak masuk ke dalam dengan langkah kaki yang tegas. Tatapan mata pengunjung lainnya tanpa sadar menoleh ke arah kumpulan para pria itu.

Pria itu memiliki postur tubuh tinggi yang tegap. Rambut panjang sebahu yang diikat setengah ke belakang, sementara beberapa helai anak rambut jatuh di sekitar pelipisnya. Wajahnya terlihat tenang tapi sorot matanya tajam.

Salah satu temannya tampak menepuk bahunya.

"Katanya kopi di kafe ini sangat enak. Jadi, kita harus mencobanya sendiri."

Pria itu melirik ke sekeliling kafe.

"Kalau ternyata biasa saja?"

Temannya terkekeh.

"Kalau tidak enak, kau yang bayar."

"Kenapa aku?"

"Karena kau yang membawa kami ke sini."

Pria lainnya tampak tertawa.

pria berambut sebahu itu hanya mendengus pelan, lalu berjalan menuju salah satu meja yang kosong di dekat jendela.

"Sudahlah. Aku hanya ingin minum kopi."

Mereka semua lalu duduk.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri.

"Selamat siang. Selamat datang di D'Coffe. Apakah sudah siap memesan?"

"Espresso double shot satu." ucap pria itu.

"Hei, kau benar-benar butuh kafein sebanyak itu?"

"Aku punya banyak pemotretan, jadi aku tidak mau mengantuk malam ini." jelasnya santai.

"Baiklah."

Pelayan tersebut lalu mulai mencatat pesanan mereka satu per satu.

"Baik, mohon tunggu sebentar."

Setelah pelayan itu pergi, salah satu pria menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Tempatnya lumayan."

"Katamu kopi di sini terkenal." sahut yang lain.

"Iya. Dan pemiliknya juga masih muda."

"Oh, jadi itu tujuanmu mengajak kami ke sini. Karena pemiliknya?"

"Haha... itu salah satunya." pria bernama Jhoni itu terkekeh pelan.

"Dasar playboy tengik." ejek yang lainnya.

Sementara Jhoni menanggapinya dengan santai.

Tak lama kemudian Diandra yang membawa pesanan keempat pemuda itu, lalu meletakkan satu per satu kopi di hadapan mereka.

Ketika ia meletakkan kopi di depan pria berambut sebahu itu, dahinya tampak berkerut halus.

Tatapan keduanya bertemu beberapa detik.

🥀🥀🥀

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!