NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Yang Tertangkap Basah

Pintu kamar Reynard terbuka dari dalam.

Reynard berdiri di sana, wajahnya lebih dingin daripada malam.

Clara langsung menjatuhkan botol kecil di tangannya.

Benda itu berguling di lantai, berhenti tepat di dekat sepatu Anto.

Anto mengambilnya dengan sapu tangan.

"Parfum?" tanyanya datar.

Clara gemetar. "Saya... saya hanya ingin mengantar..."

"Tengah malam?" Aku muncul dari ujung koridor, memakai cardigan di atas piyama. "Rajin sekali."

Wajah Clara makin pucat.

Reynard menatap botol itu. "Simpan sebagai bukti."

"Baik, Tuan Muda," jawab Anto.

Clara menangis. "Tuan Muda, saya tidak berniat buruk. Nyonya Besar hanya meminta saya memastikan Tuan Muda tidak kesepian."

Astaga.

Kalimat itu membuatku ingin mencuci telinga.

Reynard menatapnya tanpa ekspresi. "Katakan pada Veronica, kalau lain kali dia mengirim orang masuk kamarku, aku laporkan ke polisi."

Clara terisak. "Tolong jangan. Saya hanya mengikuti perintah."

"Kalau begitu, berhenti mengikuti perintah yang bodoh," kataku.

Ia menatapku, antara malu dan benci.

Aku tidak merasa kasihan. Tidak malam ini. Bukan ketika ia membawa botol mencurigakan ke kamar pria sakit yang sedang berusaha bertahan hidup.

[Analisis cepat: botol mengandung aerosol sedatif ringan.]

Mataku dingin.

Jadi ini bukan cuma rayuan. Ini jebakan.

Seolah menangkap perubahan wajahku, Reynard menoleh. Wajahnya mengeras.

"Anto. Semua delapan orang dikumpulkan di ruang depan. Sekarang."

Lima belas menit kemudian, delapan perempuan itu berdiri berjajar dengan wajah pucat. Pak Hadi, Sari, dan beberapa staf juga hadir sebagai saksi. Anto meletakkan botol kecil di meja dalam kantong bukti.

Reynard berdiri di depan mereka.

Aku di sisinya.

Rasanya aneh. Seminggu lalu aku bangun di altar tanpa tahu siapa diriku. Sekarang aku berdiri di rumah ini sebagai orang yang berhak berkata cukup.

"Mulai malam ini," kata Reynard, "kalian semua keluar dari PIK villa."

Clara menangis lebih keras. "Tuan Muda..."

"Tidak ada negosiasi."

Salah satu perempuan lain mencoba membela diri. "Kami tidak tahu Clara akan melakukan itu."

"Kalian datang sebagai tim," jawabku. "Kalian pulang sebagai tim."

Pak Hadi mengangguk pada staf keamanan. "Koper mereka sudah disiapkan."

Kecepatan kerja Pak Hadi membuatku ingin memberinya bonus dari kartu dua ratus miliar itu.

Sebelum mereka dibawa keluar, Reynard mengangkat ponsel. Ia menelepon langsung Veronica.

Tidak pakai basa-basi.

Begitu tersambung, suara Veronica terdengar dingin. "Reynard, ada apa malam-malam?"

"Orangmu tertangkap membawa sedatif ke depan kamarku."

Sunyi.

Lalu Veronica tertawa pelan. "Kau terlalu curiga. Mungkin itu hanya parfum."

"Bukti akan dikirim ke tim legal."

"Kau ingin mempermalukan ibumu sendiri?"

Reynard tidak berkedip. "Kau bukan ibuku."

Kalimat itu memotong udara.

Di ujung telepon, napas Veronica terdengar berubah.

"Reynard."

"Jangan kirim orang lagi."

"Kau akan menyesal berbicara seperti itu."

"Aku sudah menyesal membiarkan orangmu masuk rumahku."

Veronica terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya kalimat elegan yang bisa langsung dipakai.

Ia memutus panggilan.

Reynard tidak langsung menurunkan ponsel.

"Steven," katanya pada panggilan berikutnya. "Buat laporan internal. Botol diuji laboratorium pagi ini. Semua akses sementara dari pihak Veronica dibekukan."

Di seberang, suara Steven terdengar sepenuhnya sadar meski ini masih jam yang tidak manusiawi. "Baik. Tim legal?"

"Aktifkan."

"Media?"

"Tahan. Simpan sebagai kartu."

Aku menatapnya. Kartu.

Jadi ia tidak hanya marah. Ia menghitung.

Anto menyerahkan drive kecil berisi rekaman CCTV. Reynard mengambilnya, lalu memberikannya padaku.

"Simpan salinan."

"Aku?"

"Kau Nyonya Muda rumah ini."

Kalimat itu membuat staf yang berdiri di sekitar kami menunduk lebih hormat.

Aku menggenggam drive itu. Bentuknya kecil, tapi rasanya seperti kunci ruangan baru dalam hidupku.

Ruang tempat aku bukan tamu.

Ruang tempat suaraku punya berat.

Delapan perempuan itu dibawa keluar sebelum subuh. Clara menangis, yang lain diam. Tidak ada drama tambahan. Tidak ada kesempatan kedua.

Pak Hadi mencatat semua barang yang keluar. Anto menyalin rekaman CCTV ke drive terenkripsi. Sari mengganti seprai koridor tamu seolah membersihkan sisa bau taktik murahan Veronica. Semua bergerak cepat, rapi, tanpa perlu teriak.

Aku berdiri di tengah ruang depan dan menyadari sesuatu. Rumah ini mulai punya sistem yang tidak bisa digerakkan Veronica dari jauh. Tidak sempurna, tapi milik kami.

Aku berdiri di ruang depan, masih menahan amarah.

Ketika pintu utama tertutup, aku baru mengembuskan napas.

"Kau baik-baik saja?" tanya Reynard.

"Aku yang harus tanya itu."

"Aku baik."

"Botol itu sedatif."

"Aku tahu sekarang."

"Kau bisa dalam bahaya."

"Anto ada."

"Dan kalau Anto telat?"

Reynard menatapku.

Mungkin suaraku terlalu keras. Tapi aku benar-benar marah. Bukan hanya karena Veronica. Bukan hanya karena Clara. Karena semua orang di sekeliling Reynard seolah merasa tubuh dan kamarnya boleh dijadikan medan perang.

"Kau tidak boleh membiarkan orang memperlakukanmu seperti target," kataku.

Matanya bergerak pelan.

"Kau marah untukku?"

"Tentu saja!"

Kata itu keluar terlalu cepat.

Terlalu jujur.

Aku langsung ingin mundur, tapi sudah terlambat.

Reynard menatapku lama. "Baik."

"Apa maksudnya baik?"

"Aku akan lebih berhati-hati."

Jawaban itu membuat amarahku kehilangan pijakan.

Kenapa dia patuh sekarang? Kenapa tidak dingin? Kenapa tidak membantah?

Karena itu aku jadi makin bingung.

Pagi harinya, kabar delapan perempuan dikembalikan menyebar lebih cepat daripada gosip arisan. Veronica tidak menghubungi lagi. Mungkin sedang menghitung cara baru untuk menusuk kami.

Aku mengira masalah selesai.

Tentu saja belum.

Sebelum sarapan, Pak Hadi membawa laporan pendek. Semua kamar tamu sudah dicek ulang. Tidak ada alat perekam tambahan. Akses lift tamu dikembalikan ke mode terbatas. Daftar staf lama diperbarui. Nama delapan perempuan itu masuk daftar hitam rumah.

"Bagaimana dengan Clara?" tanyaku.

"Dijemput sopir Nyonya Besar sebelum fajar," jawab Anto.

"Menangis?"

"Di awal."

"Setelah itu?"

Anto terdiam sebentar. "Menelepon seseorang dan berkata rencananya gagal."

Aku memegang cangkir teh lebih erat.

Jadi air mata semalam bukan penyesalan. Hanya kegagalan kerja.

Reynard melihat tanganku, lalu menggeser piring kecil berisi roti panggang ke arahku.

"Makan dulu sebelum marah lagi."

"Aku tidak marah."

Tiga pasang mata di ruang makan memandangku.

Baik.

Aku sangat marah.

Di ruang makan, saat aku baru minum teh, Si Kepo menampilkan rekaman singkat dari CCTV koridor. Clara berjalan. Anto muncul. Reynard keluar.

Lalu ada satu frame yang membuatku berhenti.

Sebelum Anto muncul, Reynard sudah membuka pintu.

Artinya ia tahu ada orang di depan kamarnya.

Atau ia sudah siaga.

Atau ia memang tidak tertarik sama sekali pada perempuan setengah telanjang yang datang tengah malam.

Aku menatap Reynard di seberang meja. Ia sedang membaca laporan, tenang seperti biasa.

Di kepalaku, kesimpulan muncul dengan kekuatan penuh.

Confirmed.

Gay confirmed.

Dia bahkan tidak goyah melihat Clara. Dia malah mau lapor polisi. Kalau ini bukan bukti, apa lagi?

Reynard berhenti membaca.

Sangat pelan, ia menurunkan laporan.

Matanya menatapku dari balik Topeng Perak.

Aku tersenyum manis, tidak tahu bahwa seluruh isi kepalaku baru saja menamparnya.

Reynard menutup mata.

"Anto," panggilnya.

"Siap, Tuan Muda."

"Menurutmu, apa aku terlihat seperti pria yang tidak tertarik pada perempuan?"

Anto membeku.

Aku juga membeku.

Sari yang sedang menuang teh nyaris menumpahkan teko.

Anto menatap lantai, wajahnya seperti orang yang baru diminta memilih cara mati.

"Saya... tidak berwenang menilai, Tuan Muda."

Reynard membuka mata dan menatapku.

Aku menyesap teh dengan panik.

Di kepalaku, Si Kepo tertawa sampai panelnya bergetar.

[Status: Gay confirmed menurut Host.]

[Status target: hampir menyerah.]

Aku tidak tahu kenapa suasana meja makan tiba-tiba terasa sangat berbahaya.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!