Agatha Tatjana Putri gadis biasa yang bukan cucu atau anak dari kiai atau ustadz, yang bar-barnya bisa bikin orang berkali-bali istighfar, gadis biasa yang tiba-tiba di sukai hingga dilamar oleh anak Kiai pemilik pesantren ternama.
Gus Zayn Raffan El-fatih anak pertama dari pemilik ponpes Al-Muhadzirin ponpes yang banyak di minati, termasuk Gus Zayn nya sendiri banyak yang minat. paras yang hampir sempurna, dan pewaris.
Pertemuan yang tak pernah ia bayangin, bisa merubah jalan hidupnya, yang tadinya berniat untuk kuliah malah tinggal di lingkungan pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisqttz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Mesum!
Zayn dan Agatha sampai di ruang makan di ndalam dan tak lupa mengucapkan salam. Semalam sepulang nya Zayn rapat dewan ia di panggil abah untuk sarapan bersama di rumah. Sedetik kemudian Zayn menarik kursi untuk sang istri duduki terlebih dulu, sungguh sebuah pemandangan yang membuat Laila iri.
"Seger banget kaya nya pagi ini Zay? " bisik Abah setelah Zayn duduk di samping Abahnya.
Zayn berdeham sejenak, ia bisa merasakan telinga nya memerah mendengar ucapan sang ayah. Lelaki itu lebih memilih tidak menjawab pertanyaan ayahnya, yang sebenarnya bukanlah pertanyaan, melainkan sindiran.
"Mau makan apa? biar Mas yang ambilkan, " Zayn mengalihkan perhatiannya kepada Agatha.
"Biar aku aja Mas, Mas mau makan apa? " Agatha kembali melempar pertanyaan.
Laila yang melihat itu mendengus pelan, "Ummi Laila mau nikah? " celetuknya tiba-tiba membuat sepasang mata menatapnya.
"Engga ada nikah-nikah, lulus sekolah saja belum, pingin nikah. " kata Abah seraya menatap putri bungsunya.
Laila menarik nafas sesaat sebelum mengambil nasi ke piringnya, "nasib-nasib jadi bocah gini amat, makan makan sendiri, minum minum sen__" bibir Laila kembali terkatup mendapat teguran tatapan tajam dari sang kakak.
"Galak amat, " gumam Laila sebelum kembali diam.
Mereka pun memulai sarapan dengan khidmat yang hanya menyisakan suara dentingan sendok yang beradu.
•••••√√√•••
Di dalam asrama Mela tak henti-hentinya memikirkan Agatha, begitu juga dengan Putri. Sedangkan Adel gadis itu sesekali melihat dan menyimak obrolan keduanya, tanpa mau ikut bicara.
"Kira-kira Agatha berhasil ga ya? " tanya Mela kepada Putri.
"Berdoa saja semoga berhasil, aku gak sabar pingin lihat Gus atau Ning junior launching. " Putri terkekeh.
Kemarin ketiga gadis itu mendorong paksa Agatha untuk memberikan hak nya pada Zayn, sebelum mengiyakan tentu saja gadis itu menolak katanya ia malu kalau minta terlebih dulu.
"Engga, gue gak mau masa iya gue
sefrontal itu bilang mau iya-iya."
"Lo bilang aja gini, " kata Putri mempraktikkan apa yang harus Agatha katakan. "Gus kapan mau praktek Fathul Izhar. "
"Fathul Izhar? ya, sama aja kalau gitu. Suami gue udah lebih hafal kalau itu mah. "
"Maka dari itu, paling engga kan lo gak malu-malu banget bilangnya, kan? "
Dalam semalam Agatha berhasil melakukan itu atas ide dari ketiga gadis tersebut.
•••••√√√•••
Setelah sarapan Agatha dan Zayn kembali kerumah dan menuju kamar mereka, Zayn yang berjalan di belakang Agatha diam-diam mengulum senyum saat melihat jalan gadis itu yang terlihat lucu dimata nya.
"Mas kenapa senyum-senyum? " tanya Agatha saat menoleh melihat senyum suaminya yang tipis.
"Nggak kenapa-kenapa sayang. "
Mata Agatha memicing, menatap kedua mata suaminya. "Kata Mas bohong itu dosa kan? "
Zayn mengangguk mengiyakan.
"Terus Mas kenapa bohong? "
Zayn terkekeh, lalu kemudian duduk di atas kasur dengan bersandar pada headboard, mengabaikan Agatha yang terus menatap tajam kearahnya.
"Sini duduk dulu, " ia menepuk sisi samping.
Meski kesel Agatha tetap patuh dan duduk di samping Zayn, lelaki itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.
"Maafin Mas ya, Mas gak sengaja ngelihat jalan kamu lucu banget tadi. "
Mendengar itu Agathanya mengerucutkan bibirnya kesal. "Ish, ini juga kan gara-gara Mas. "
"Udah gapapa, nanti juga udah gak sakit lagi sayang. " ujar Zayn yang mengingat keluhan gadis itu tadi pagi, "kalau di biasakan. "
"Dasar mesum, " Agatha mencubit hidung mancung Zayn dengan kuat.
Zayn tertawa, "kenapa mau lagi? "
"Nggak! " Agatha mengalihkan tatapan nya kearah lain, merasa malu jika membahas kembali apa yang semalam mereka lakukan.
Kedua sudut bibir Zayn terangkat membentuk lengkungan senyum melihat sang istri yang menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya.
"Mas? " panggil Agatha.
"Dalam sayang. "
"Aku mau bertanya boleh? "
"Mas dekat dengan ustadzah Halimah? "
Zayn yang mendengar pertanyaan sang istri langsung memposisikan duduk.
"Sayang dengerin penjelasan Mas ya. "
"Mau ngejelasin apa? ngejelasin kalau Ms benar dekat dengan ustadzah Halimah, iya? "
Zayn meraih kedua tangan sang istri, kemudian mencium punggung tangan dan telapak tangan tersebut, "Mas minta maaf ya kalau buat kamu cemburu. "
"Cemburu? mana ada. Aku maafin tapi Mas harus jelasin semua, jangan ada satupun yang bohong. "
"Iya Mas jelasin, tapi sebelum itu Mas mau tanya kamu tahu berita ini dari mana? "
"Dari para santri yang sering lihat kedekatan kalian, " balas Agatha.
"Mereka bilang nya kaya gimana? "
"Ya mereka bilang kalau Gusnya tuh sama Ustadzah Halimah tuh dekat bahkan mereka kira Gus tuh bakal nikahin Ustadzah Halimah," jeda tiga detik, "lagi katanya Gus Zayn tuh suka sama ustadzah Halimah, " lanjutnya.
"Memang benar__" Zayn kembali merapatkan bibirnya begitu melihat kedua mata gadis itu melebar, lelaki itu terkekeh kecil. "Tunggu Mas selesai dulu bicara, dan itu mata gak usah begitu Mas jadi takut."
Agatha berdecak kesal, "Yaudah Mas jelasinnya jangan setengah-setengah. "
Zayn yang merasa gemas itu menjawil hidung mancung Agatha, "sabar, sayang. Jangan marah-marah, " lelaki itu menjeda ucapannya. "Memang benar Mas pernah suka sama ustadzah Halimah, tapi itu dulu jauh sebelum Mas kenal sama kamu sayang. "
"Kalau sekarang mah rasa suka Mas tuh sudah habis di kamu sayang. "
Agatha menahan rasa senyumnya, "Terus apa kah Ustazah Halimah suka juga sama Mas? "
"Mas kurang tahu kalau itu karna Mas belum pernah bertanya." Balas Zayn.
"Terus kenapa Mas gak mencoba untuk lebih dekat. "
"Lagi pula Mas pikir rasa suka Mas terhadap ustadzah Halimah tuh karna rasa kagum dengan nya bukan suka karna cinta. "
"Dan harus kamu tahu sayang, Mas tidak pernah mencoba untuk berdekatan atau berduaan sama perempuan lain yang bukan mahram, " jelas Zayn.
"Masih ada lagi yang mau ditanyakan sayang? " lanjut Zayn membuat Agatha tersadar.
"Sudah cukup, Makasih ya Mas udah jelasin semuanya. "
"Sekarang udah gak kesal lagi kan sama Mas? "
Agatha menggeleng pelan menanggapi itu, "maaf aku udah kesel duluan sama Mas tanpa denger penjelasan Mas. "
"Gapapa sayang, gak perlu minta maaf Mas ngerti kok, " balas Zayn seraya mengusap puncak kepala Agatha.
Zayn kembali membaringkan tubuhnya Dan menaruh kepala nya di atas paha sang istri, media sudut bibir Zayn terangkat membentuk senyum saat melihat sang istri.
"Sayang? " panggil Zayn seraya mengambil tangan gadis itu dan meletakkan nya di atas rambut hitamnya, "usapin."
Tanpa menjawab, Agatha mengelus rambut hitam milik Zayn seraya menatap penuh lelaki itu yang kini menyembunyikan wajahnya diperut Agatha.
•••••√√√•••
Zayn tertidur beberapa menit, dan teringat sesuatu membuat Zayn terbangun.
"Mas udah bangun? " tanya Agatha.
Zayn tidak menjawab ia beranjak dari pangkuan sang istri, dan menjauh dari sana.
"Mas mau kemana? " tanya Agatha merasa bingung karna lelaki itu tanpa aba-aba berlalu begitu saja.
Zayn menoleh sesaat, "ke kamar mandi, mau ikut? " lelaki itu mengerlingkan sebelah matanya, berniat menggoda gadis itu.
"Mesum! "
Zayn terkekeh sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Tak lama setelah itu, ia keluar dan kembali menghampiri sang istri.
"Mas mau ke Diwan dulu, " pamit Zayn seraya mengambil peci di atas nakas dan memakainya.
Diwan: Kantor/ruang asatidz dan asatidzah.
Agatha mengangguk kecil, "aku izin ke asrama boleh? "
"Istirahat aja disini, " kata Zayn.
"Tapi aku bosen, Mas. Disini gak ada teman boleh, ya? "
Zayn mengacak puncak Agatha, "yaudah boleh, ke asrama doang kan? "
"Gak tahu, lihat nanti. "
"Mau kemanapun kamu pergi, izin sama Mas dulu, mengerti? Dan yang paling penting jangan melewati batas. "Nasehat Zayn kepada sang istri.
•••••√√√•••
Dengan langkah pelan Agatha menuju asrama, ingin sekali ia membidik satu persatu temannya itu yang telah membuat dirinya kesakitan seperti ini. Tapi di sisi lain ia ikhlas karna memang ini adalah kewajiban nya sebagai seorang istri.
Sesampainya di asrama, Agatha membuka pintu kamar asrama dan tak lupa juga mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, " jawab Putri.
Belum sempat Agatha duduk tiba-tiba temannya bertanya sesuatu padanya.
"Gimana kemarin? " tanya Putri menaikkan satu alisnya.
"Gimana apanya? " balas Agatha pura-pura tidak mengerti.
"Saran kita lancarkan? " Putri kembali menaik turunkan alisnya.
"Ya_ya gitu deh. "
"Ya gitu gimana? "
Agatha mengangkat bahu acuh, kemudian menuju ke tempat tidur. Sedangkan, Putri yang melihat cara jalan Agatha berbeda memeluk girang.
"ALHAMDULILLAH! " pekik Putri seraya mendekat pada Agatha.
"Berisik! " tegur Agatha mengusap kupingnya yang sedikit berdengung.
"Akhirnya ponakan gue bentar lagi lounching, " balas Putri merasa bahagia tak karuan.
Agatha memutar mata jengah, "Mela sama Adel kemana? "tanya Agatha mengalihkan pembicaraan, kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur yang di susul Putri duduk di sisi ranjang.
"Biasa, kalau Mela cuci mata sama Ustazah Farhan, kalau Adel lagi nyuci. "
Agatha mengangguk menanggapi itu, entah kenapa kembali bantal membuat matanya ingin terpejam.
"Tidur lo? " Putri mengguncang tubuh Agatha hingga gadis itu terusik.
"Pergi lo sana, gua ngantuk mau tidur. "
"Hm, "Putri memekik heboh, " Pasti lo kecapekan? "
Agatha tak menyahut, ia lebih memiilih menutup matanya rapat-rapat.
•
•
•
Jangan lupa like and comment guys biar author nya semangat buat up.
see you next chapter selanjutnya.
bye bye bye muahhhh.