Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20# Dendam dan Rasa Sedih
Ayla yang mendengar itu segera bangkit dari tempat tidur nya dan kemudian merapikan rambut lalu berjalan mendekati pintu kamar untuk segera membuka nya.
"Maaf ad ..." suara Ayla kembali tertelan setelah melihat sosok yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Ayla kesal melihat Gavin. Ya orang yang pagi-pagi sekali mengetuk pintu kamar tersebut adalah Gavin.
"Kakaku sudah pergi ke perusahaan pagi-pagi, kau malah baru bangun, apa yang kalian lakukan tadi malam? Sampai kau bangun selarut ini," ungkap Gavin sambil berusaha mengintip isi dalam kamar pengantin baru itu.
"Bisakah kau sedikit lebih sopan? Jika kau datang ke sini hanya untuk mengejek dan bicara yang tidak-tidak sebaiknya kau pergi saja," ucap Ayla kesal.
Entah kenapa setiap berhadapan dengan Gavin ia selalu merasa lebih berani untuk memarahinya. Meskipun ia baru mengenal Gavin dengan status sebagai adik ipar atau kakak ipar tapi rasanya ia tidak segan-segan memarahi manusia itu dengan tegas.
"Wah, ternyata kau bisa galak juga ya, hari ini kakak akan pulang terlambat, dia meminta ku untuk menemanimu, papa juga sedang tidak ada di rumah, ia pergi menjemput mama ku di kota X," jelas Gavin.
Dia memang sudah dewasa tapi karena manja dia terlihat sangat kekanak-kanakan.
"Kau? Menemaniku?" ucap Ayla sambil menunjuk dirinya sendiri.
Gavin pun mengangguk dengan penuh semangat.
"Lebih baik aku sendirian, daripada harus berteman dengan orang menyebalkan," ucap Ayla yang kemudian menutup pintu kamar itu kembali.
"Hey! Kau benar-benar tidak mau aku temani! Kau baru di rumah ini? Jika kakak tidak ada apakah kau akan terus berdiam diri di kamar!? Segera mandi dan turun ke bawah untuk sarapan!" ucap Gavin sedikit berteriak.
Sedangkan Ayla menutup kedua kuping nya.
"Arghhh, kenapa kelurga ini harus punya anak bungsu sepertinya!" umpat Ayla tak karuan.
Ia segera mengambil handuk dan kemudian berjalan masuk ke kamar mandi.
Hari ini Valen dan sang asisten ya itu Leo sedang ada rapat penting di perusahaan jadi Valen sengaja meminta Gavin untuk menemani Ayla karena ia tau anak itu butuh teman untuk terbiasa dengan tempat tinggal baru.
Namun siapa sangka kalau Ayla dan Gavin sangat susah untuk akrab.
Sementara itu ruang kerja Valen.
"Tuan muda, aku tidak menyangka sekarang kau benar-benar sudah memiliki seorang istri," ucap Leo menggoda Valen sembari ia merapikan berkas-berkas untuk rapat yang akan di gelar setengah jam lagi.
"Diamlah," ucap Valen yang tidak ingin ada orang lain yang mendengar ucapan Leo barusan.
"Haha, tuan muda, sejak menikah wajah mu agak lebih kusut dari biasanya, ada apa sebenarnya? Apakah nona muda sulit di atur?" Lanjut Leo tidak peduli dengan larangan Valen
"Bicara sekali lagi, gajimu akan ku potong seluruhnya," ucap Valen sambil menatap tajam Leo.
Leo seketika mengunci rapat-rapat mulutnya karena takut.
"Ada apa dengan tuan muda? Apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan?" batin Leo.
"Apa aku salah meninggalkan nya sendirian di rumah di hari pertama ini? Bagaimana kalau Gavin menjahilinya? Dia terlihat sangat lemah seperti itu apakah dia bisa menjaga dirinya?" batin Valen yang entah kenapa tiba-tiba memikirkan kondisi Ayla di rumah.
"Ah tidak, aku tidak boleh terlalu memikirkan wanita itu, aku harus fokus dengan apa yang harus aku lakukan saat ini, di tambah lagi wanita itu akan segera kembali," batin Valen yang memang memiliki banyak konflik serta musuh terselubung yang masih belum bisa dia tangani secara langsung.
Sementara itu di rumah.
Ayla kini sudah berpakaian rapi dia juga sudah selesai mandi dan berniat turun ke bawah untuk sarapan pagi.
"Nona muda," panggil seorang pelayan.
"Ya, kebetulan sekali," ucap Ayla yang memang tidak tau letak ruang makan di rumah besar itu di mana.
"Mari saya antar ke ruang makan, tuan muda Gavin sudah menunggu," ucap pelayan tersebut.
Baru saja merasa lega, dada Ayla kembali sesak mendengar nama Gavin.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di ruang makan keluarga Aditama, itu adalah ruangan yang cukup besar dengan meja minimalis panjang, di atas sana begitu banyak makanan yang tersaji semuanya adalah makanan enak dengan bahan berkualitas tinggi.
Di sana terlihat Gavin yang sedang makan, seorang pelayan berdiri di samping nya siap melayani mereka.
"Silahkan nona," ucap pelayan yang mengatakan Ayla ke ruang tersebut.
Ayla mengangguk kecil dan kemudian duduk berhadapan dengan Gavin.
Ini pertama kalinya Ayla merasa begitu terhormat, di perlakukan dengan baik oleh para pelayan di rumah itu, sedangkan sebelumnya di rumah nya sendiri Ayla malah di tindas pelayan.
"Ternyata selama ini aku selemah itu, tidak ada beckingan di rumah sendiri membuat aku di anggap seperti sampah oleh para manusia yang bergelar pelayan di rumah ku sendiri, mereka malah lebih menghormati anak angkat, Alena, aku akan membalas mu," batin Ayla, dendam di hatinya bergejolak ketika ia mengingat hal-hal yang terjadi di rumah nya.
"Kenapa kau seolah-olah punya dendam dengan daging itu?" ucap Gavin memperhatikan Ayla yang menancapkan garpu dengan kasar ke daging kecap yang ada di hadapannya.
Ayla menatap Gavin sekilas dan menyadari apa yang barusan dia lakukan, dia melampiaskan rasa marahnya tampa sengaja di hadapan semua orang.
"Tidak ada," jawab Ayla yang kemudian mulai makan.
Perlahan-lahan Ayla kembali tenang setelah menikmati setiap gigitan makanan yang sangat enak itu, di sela rasa sakit hati nya rasa sedih juga ikutan menerpa lubuk hati Ayla yang paling dalam, dia masih saja rapuh karena mengingat kejadian masa lalu.
"Ini makanan terenak yang pernah aku makan, rasanya sudah lima belas tahun berlalu aku tidak makan makanan semewah ini," batin Ayla dalam hatinya.
"Makan pelan-pelan, tidak akan ada yang rebutan dengan mu," ungkap Gavin sambil mengunyah makanan nya ia tetap memperhatikan adik ipar kecil nya itu.
Biarpun status Ayla adalah kakak ipar, tapi karena usia Gavin jauh lebih tua darinya akan lebih nyaman bila di sebut adik ipar atau kakak ipar kecil.
"Setelah makan aku akan membawa mu keliling kediaman Aditama agar kedepannya kau tidak perlu di tuntun pelayan," ungkap Gavin.
"Kenapa harus kau?" tanya Ayla yang merasa jengkel.
"Ini perintah kakaku," jawab Gavin sambil sedikit menjulurkan lidahnya untuk mengolok-olok Ayla.
Sejujurnya dia juga lumayan penasaran dan ingin mengenal Ayla lebih dekat.
Selama ini Gavin sangat menginginkan seorang adik perempuan, karena usia mama nya sudah tidak mungkin memberikan nya seorang adik ia jadi mengabaikan hal tersebut, di tambah lagi mama nya yang begitu sibuk di luar dan jarang sekali ada di rumah Gavin adalah anak bungsu manja yang kesepian.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya