Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disini aja
Kayla cepat-cepat meletakan nampan di atas nakas kecil di sampingnya dan berjalan ke arah Juna untuk menopangnya sebelum ia ambruk ke lantai.
Dengan sekuat tenaga gadis mungil itu menahan beban tubuh Juna yang jauh lebih besar darinya. Bahu Kayla sampai merosot ke bawah saat lengan kekar Juna bersandar pasrah di lehernya.
"Aduh, lo tuh ya! Udah tahu sakit, malah sok kuat mau berdiri segala!" omel Kayla panik, napasnya sedikit terengah-engah karena menahan bobot tubuh Juna.
Juna tidak membalas. Matanya terpejam erat, menahan pening yang luar biasa hebat di kepalanya. Kesadarannya timbul tenggelam. Satu-satunya hal yang dia rasakan hanya bau stroberi dari rambut gadis itu.
Kayla lalu membantu Juna untuk kembali berbaring di atas ranjangnya. Begitu laki-laki itu sudah berbaring disana, ia kemudian menarik selimut hingga menutupi dada laki-laki itu memastikan agar dia tan kedinginan.
Kayla beranjak dari posisinya, namun ia merasa seperti ada yang menahan lengannya. Ia menoleh cepat, mendapati Juna yang kini mengenggam tangannya erat.
"Heh, lepasin ngga," ucap Kayla.
Namun tak ada jawaban dari laki-laki itu. Perlahan genggamannya mulai melemas. Kayla terdiam sejenak, ia tiba-tiba jadi merasa kasihan dengan anak ini. Sudah tinggal sendiri, di caci maki ayahnya, sekarang malah sakit.
"Jangan pergi... temenin gua di sini sebentar aja," gumam Juna lirih, hampir seperti bisikan.
Wajah Kayla seketika memanas. Ditatap begitu dekat oleh Juna dalam kondisi lemah seperti ini ternyata jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantungnya daripada saat Juna sedang mode menyebalkan. Kayla berdehem kaku, berusaha menetralkan rasa gugupnya.
"S-siapa juga yang mau pergi? Orang gue mau ngambilin lo kompresan," ucap Kayla asal, padahal aslinya hatinya sudah jedag-jedug tidak karuan. "Lepas dulu tangan lo, Jun. Gimana gue mau ngerawat lo kalau dipegangin begini?"
Juna mengerjapkan matanya lambat, lalu perlahan melonggarkan cengkeramannya dan membiarkan tangan Kayla terlepas. "Gua gak butuh kompresan, Kay..."
"Gak butuh gimana? Badan lo itu udah kayak teko listrik abis mendidih tahu nggak! Udah, lo diam di sini, jangan banyak tingkah," titah Kayla mutlak, mencoba bersikap galak demi menutupi rasa salah tingkahnya yang sudah di ujung tanduk.
Kayla segera berbalik menuju kamar mandi dalam milik Juna. Ia mengambil sebuah handuk kecil dan merendamnya ke dalam wadah berisi air biasa—karena dia tahu kompres air hangat lebih baik untuk menurunkan demam. Setelah memeras handuk itu sampai setengah kering, Kayla kembali melangkah ke sisi ranjang.
Ia duduk di samping laki-laki itu. Setelah mengompres handuk kecil di air panas, Kayla kemudian menaruh handuk itu di atas dahi Juna.
Juna sedikit terlonjak pelan saat rasa dingin menyentuh kulit dahinya, namun setelah itu ia mengembuskan napas panjang, merasa jauh lebih relaks. Matanya bergerak menatap Kayla yang kini sedang sibuk mengambil gelas susu hangat yang tadi ia buat.
"Nih, minum dulu susunya selagi hangat. Terus lo harus makan rotinya sedikit, biar perut lo gak kosong sebelum minum obat," kata Kayla sambil menyodorkan gelas itu ke dekat bibir Juna.
Juna menggeleng lemah, memalingkan wajahnya sedikit. "Gak nafsu, lidah gua pahit."
"Ya makanya minum susu biar manis lidah lo!" kata Kayla.
Juna mengembuskan napas pasrah. Dengan sisa tenaga yang ada, Juna bertumpu pada siku tangannya untuk sedikit bangkit. Kayla yang melihat hal itu refleks memegang tengkuk Juna, membantunya untuk menahan kepala cowok itu agar bisa minum dengan nyaman.
"Makasih, gua jadi ngrepotin nih," ucap Juna.
"Yeu, baru sadar lo? Udah sekarang makan nih roti sama sereal, gue udah effort nih bikinnya,"
"Gua mau sereal aja," ucap Juna kembali sambil melirik mangkuk di atas nampan yang ada di hadapannya.
Kayla mengangguk pelan lalu meraih mangkuk sereal itu dan menyodorkannya kepada Juna. Juna mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu membuka suara. "Lo ngga mau nyuapin gua gitu?"
Kayla memutar kedua matanya malas, "Idih, enak banget lo! Emang lu bayi-bayi harus di suapin melulu?"
"Heh, gua lagi sakit anjir. Lo ngga kasihan sama gua gitu?"
Akhirnya Kayla mengalah. Ia lalu mengangkat satu suap sereal dan mengarahkannya ke mulut laki-laki itu. "Buka mulut lo,"
Juna tersenyum tipis. Ia lalu menerima suapan dari gadis itu dengan lahap. Kayla mendengus kesal, namun ia tetap menyuapi anak itu. Kalau bukan kasihan, mungkin Kayla sudah mengeluarkan kata-kata pedasnya.
Tap! Tap! Tap!
Samar-samar terdengar suara langkah kaki dari arah tangga bawah sana. Namun suara itu terdengar semakin jelas. Juna refleks menoleh ke arah pintu, dan sepertinya langkah kaki itu kini berhenti disana.
"Heh, sekarang tanggal berapa?" tanya Juna kepada gadis dihadapannya.
"Tanggal 6 Juni, kenapa?" kini giliran Kayla yang bertanya.
"Matilah kita," gumam Juna pelan.
Juna menghentikan tangan Kayla yang hendak menyuapi dirinya, ia lalu menarik mangkuk serta sendok dari gadis itu dan meletakkannya di nakas kecil di sisi kanan ranjangnya.
"Lo harus sembunyi, cepet!" kata Juna dengan khawatir.
Kayla kebingungan, "E-eh, kenapa woy?"
"Itu Bu Arin di depan kamar gua, kalau dia masuk trus lihat lo disini mampus kita!" ucap Juna.
Mata Kayla langsung membelalak sempurna. Otaknya mendadak membayangkan wajah garang Bu Arin lengkap dengan daster macan tutul andalannya. "Lah, trus gue sembunyi di mana, bocil?! Kamar lo emang gede tapi kagak ada lemari yang muat buat umpetin manusia!" panik Kayla sambil celingukan seperti buronan.
Di tengah kepanikan itu, Juna dengan gerakan cepat langsung menyibak selimut tebalnya. Ia menepuk-nepuk sisi kasur kosong di sebelahnya.
"Sini! Masuk ke selimut gua!"
"Idih! Ogah amat gue sembunyi di kasur lo!" tolak Kayla mentah-mentah sambil bersedekap dada.
"Heh, Oma! Dalam hitungan ketiga Bu Arin bakal jebol ini pintu pakai kunci serep! Pilih masuk selimut gua atau lo mau digantung di tiang jemuran kosan?!" ancam Juna gemas, wajah pucatnya sampai terlihat makin frustrasi.
Dengan gerakan kilat, ia merangkak naik ke atas ranjang dan menyusup ke dalam selimut tebal milik Juna. "Awas ya lo macam-macam, gue colok mata lo!" bisik Kayla galak dari dalam kegelapan selimut, meringkuk sekecil mungkin di sisi pojok kasur.
Juna merapikan kembali selimutnya agar gundukan tubuh Kayla tidak terlihat mencurigakan.
Baru saja Kayla berhasil menyembunyikan seluruh tubuhnya hingga ke ujung rambut, daun pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu.
KREEEKKK!
"Junaaaa! Kamu di dalam, kan?!" suara cempreng nan menggelegar milik Bu Arin terdengar di luar sana.
Juna dengan sigap langsung memaksakan dirinya untuk bangkit dari ranjang. Sambil memegangi kepalanya yang masih berdenyut nyut-nyutan, ia melangkah tertatih-tatih mendekati pintu untuk menghadang Bu Arin agar tidak melangkah masuk lebih jauh ke dalam kamarnya.
"Eh... Bu Arin. Pagi, Bu. Ada apa ya subuh-subuh begini sudah sidak?" sapa Juna dengan senyum kaku yang dipaksakan, berusaha menutupi fakta bahwa badannya sedang menggigil.
Bu Arin berkacak pinggang, menatap Juna dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan menyelidik. "Subuh dengkulmu! Ini sudah jam sepuluh siang, Juna! Kamu itu ya, mentang-mentang hari Minggu kerjanya molor terus!" Bu Arin mengibaskan kipas bambunya ke udara. "Ibu ke sini mau menagih uang keamanan sama uang kebersihan kosan bulan ini. Mana? Janjinya kan tanggal 6 mau ditransfer, ini sudah lewat jam bank buka lho!"
"Oh, uang kosan..." Juna berdehem pelan, matanya melirik sekilas ke arah ranjang di mana selimutnya sedikit bergerak. Juna langsung panik dan sengaja menggeser posisi berdirinya untuk menutupi pandangan Bu Arin. "Itu, Bu... dompet saya masih di bawah jok motor. Nanti siang sekalian saya keluar, saya transfer langsung ke rekening Ibu beserta bonusnya, gimana?"
Mendengar kata 'bonus', mata Bu Arin yang semula melotot langsung berbinar cerah. "Wah, beneran ya? Awas kalau kamu bohong, Ibu sita itu motor gede kamu buat jemur kerupuk di depan!" Namun, sedetik kemudian, hidung tajam Bu Arin mendadak mengendus-endus udara di dalam kamar. "Loh, bentar... kok Ibu mencium bau-bau aneh ya?"
Di bawah selimut, Kayla langsung menahan napasnya rapat-rapat sampai wajahnya memerah. Mampus, bau sampo stroberi gue ketahuan! batinnya menjerit histeris.
"Bau apa, Bu? Perasaan biasa aja," kilah Juna, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Bu Arin melangkah maju satu langkah, membuat Juna refleks ikut mundur. Matanya yang jeli menatap nampan di atas nakas. "Itu... kamu tumben amat minum susu hangat sama sereal pagi-pagi? Biasanya kan kamu cuma nyinyir sambil minum es kopi?" Bu Arin menatap mangkuk sereal penuh curiga, lalu beralih menatap gundukan selimut Juna yang tampak agak terlalu tebal untuk ukuran satu orang. "Trus itu... kasur kamu kok berantakan banget kayak ada buntelan kasur cadangan?"
Juna memutar otaknya cepat sebelum Bu Arin nekat mendekati ranjang dan menarik selimut tersebut.
"Ah! Itu... itu anu, Bu! Saya lagi ikut eksperimen terbaru dari internet!" potong Juna dengan suara agak keras untuk mengalihkan perhatian.
"Kata dokter di media sosial, kalau kita demam, kita harus minum susu hangat sambil dibungkus selimut berlapis-lapis biar keringat setannya keluar semua! Nah, buntelan di kasur itu sebenarnya guling-guling saya yang sengaja saya tumpuk buat ganjal kaki, Bu! Biar aliran darahnya lancar ke otak!"
Bu Arin mengerjapkan matanya, menatap Juna seolah-olah cowok SMA itu sudah kehilangan setengah kewarasannya akibat demam. "Ajaran macam apa itu? Kok aneh banget. Kamu jangan suka percaya sama dukun internet ya, Juna!"
"Iya, Bu, makanya ini saya lagi mempraktikkan langsung biar tahu khasiatnya," jawab Juna sambil pura-pura terbatuk-batuk lemas, mencoba meyakinkan aktingnya. "Aduh... kepala saya mendadak pusing lagi nih, Bu. Kayaknya saya harus lanjut bungkus badan pakai selimut lagi sebelum keringatnya mendingin."
Melihat Juna yang tampaknya benar-benar lemas dan pucat, rasa curiga Bu Arin akhirnya luntur juga digantikan rasa ngeri tertular penyakit. Ia melangkah mundur menuju ambang pintu sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Yaudah, yaudah! Kamu tidur sana! Jangan lupa itu uang kosan plus bonusnya langsung ditransfer nanti siang! Ibu nggak mau tahu ya!"
"Siap, Bu Arin. Laksanakan," sahut Juna lega.
Langkah kaki Bu Arin perlahan menjauh menuruni tangga, Juna langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia bersandar di balik pintu sambil mengembuskan napas panjang yang begitu lega.
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan