Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siksaan sang pewaris
Memasuki bulan kedua kehamilan, keadaan di mansion De Luca tidak membaik, justru semakin mencekam. Jika Leonardo mengira kehamilan ini akan membawa ketenangan, ia salah besar. Janin di rahim Olivia seolah-olah mewarisi sifat keras kepala dan dominasi ayahnya sejak dalam kandungan.
Olivia tidak hanya mual; ia benar-benar menolak semua kemewahan yang disajikan koki bintang lima milik Leonardo. Bau daging wagyu membuatnya muntah seketika, dan aroma parfum mahal Leonardo—yang biasanya ia sukai—kini membuatnya pusing tujuh keliling.
"Jauhkan itu, Leonardo! Jauhkan!" jerit Olivia lirih, menutupi hidungnya dengan bantal saat Leonardo mendekat setelah mandi.
Leonardo berhenti di tengah ruangan, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Ia tampak frustrasi. Pria yang sanggup meruntuhkan kartel dalam semalam itu kini tak berdaya menghadapi reaksi penolakan fisik istrinya sendiri.
"Ini sabun mandi yang biasa kugunakan, Olivia. Kau yang memilihnya bulan lalu," ucap Leonardo, suaranya berat karena menahan sabar.
"Sekarang baunya seperti bangkai! Pergi! Mandi lagi dengan sabun tanpa aroma atau jangan dekati aku!"
Leonardo menggeram rendah, namun ia menurut. Ia kembali ke kamar mandi, menggosok tubuhnya hingga memerah hanya agar bisa duduk di samping istrinya tanpa membuat gadis itu muntah. Anak di dalam rahim Olivia benar-benar sedang menyiksa ayahnya. Leonardo merasa seperti orang asing di kamarnya sendiri.
Ngidam yang Mustahil
Pukul tiga pagi, saat Madrid sedang dalam titik terdinginnya, Olivia tiba-tiba terbangun. Ia duduk tegak di tempat tidur, matanya yang sayu mendadak berbinar dengan keinginan yang sangat spesifik.
"Leonardo..." ia menggoyangkan bahu suaminya yang sedang tidur pulas karena kelelahan menjaga markas.
Leonardo terbangun seketika, tangannya secara insting meraih pistol di bawah bantal sebelum menyadari bahwa itu hanya istrinya. "Ada apa? Kau sakit lagi? Perlu kupanggil dokter?"
"Aku ingin Apple Crumble," bisik Olivia.
"Aku akan menyuruh koki membuatnya sekarang. Tidurlah lagi."
"Bukan buatan kokimu! Aku ingin Apple Crumble dari toko roti Mrs. Higgins di sudut jalan desa di Surrey. Yang apelnya sedikit asam dan kayu manisnya sangat kuat. Hanya itu. Kalau bukan itu, aku tidak mau makan apa-apa besok."
Leonardo terdiam. Ia menatap Olivia dengan tatapan tidak percaya. "Olivia, itu di Inggris. Ini jam tiga pagi."
"Aku tahu," jawab Olivia lugas, lalu ia kembali berbaring dan membelakangi Leonardo, seolah tugas itu sudah selesai ia berikan.
Leonardo memijat pelipisnya. Ia bisa saja menyuruh kokinya meniru resep itu, tapi ia tahu Olivia akan merasakannya. Dan jika Olivia mogok makan, berat badannya akan turun, yang artinya risiko bagi pewaris De Luca.
Ia bangkit dari ranjang, meraih ponselnya, dan menekan tombol panggil cepat ke Marco.
"Siapkan jet. Sekarang," perintah Leonardo dingin. "Kirim dua orang ke Surrey, Inggris. Cari toko roti bernama Mrs. Higgins. Beli seluruh stok Apple Crumble mereka pagi ini. Pastikan suhunya terjaga dan sampai di Madrid sebelum jam makan siang. Jika toko itu tutup, dobrak pintunya dan bayar pemiliknya untuk memanggang sekarang juga."
Siksaan Mental
Sepanjang pagi, Leonardo tidak bisa bekerja dengan tenang. Ia terus memantau posisi jetnya melalui GPS. Di sisi lain, Olivia terus mengeluh lemas. Ia menolak minum vitamin, menolak air jahe, dan hanya mau memeluk bantal yang tidak berbau Leonardo.
"Anak ini benar-benar tahu cara menghukumku," gumam Leonardo sambil menatap perut Olivia yang masih rata namun sudah memberikan dampak destruktif pada otoritasnya.
Ketika Apple Crumble itu akhirnya sampai di mansion dalam kotak kayu hangat yang masih beraroma kayu manis asli Inggris, Leonardo sendiri yang membawanya ke kamar.
Olivia memakannya dengan lahap, suapan demi suapan, hingga kotak itu bersih. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tersenyum tipis.
"Enak?" tanya Leonardo, duduk di sampingnya sambil mengusap sisa remah di sudut bibir Olivia.
"Sangat enak. Terima kasih, Leo," ucap Olivia tulus.
Leonardo merasa sedikit lega, namun kelegaan itu hanya bertahan sebentar. Begitu suapan terakhir masuk, Olivia menatapnya dengan pandangan kosong.
"Sekarang aku ingin bau laut di Marbella. Bisakah kita ke sana?"
Leonardo menghela napas panjang. Posesifitasnya bertarung dengan keinginan istrinya yang sedang ngidam. "Tidak, Olivia. Dokter melarangmu bepergian jauh. Kau tetap di sini."
"Kalau begitu, bawa lautnya ke sini," balas Olivia asal.
Leonardo menatap langit-langit kamar. Ia menyadari bahwa selama tujuh bulan ke depan, ia bukan lagi penguasa Madrid. Ia hanyalah pelayan bagi seorang mawar Inggris dan seorang janin kecil yang tampaknya sangat menikmati momen menyiksa sang Singa De Luca dari dalam rahim.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...