NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 27. Resmi Menjadi Janda

Wulan berjalan dengan langkah tegap keluar dari ruang persidangan sembari menggendong Bagas. Baru saja hakim mengetok palu sebagai pertanda jika mulai hari ini Wulan resmi menyandang status janda. Meskipun semua terasa begitu menyesakkan dada namun ia tidak ingin menampakkan kehancurannya di depan Awan. Wanita itu kemudian duduk di bangku yang berada di depan ruangan sembari menundukkan wajah mencoba untuk menguasai semua gejolak dalam jiwa. Rasa sakit, rasa sesal, rasa kecewa seolah berkecamuk dalam dada. Berkali-kali ia memegang dadanya berupaya untuk terlepas dari semua beban batin yang ia rasakan.

Lagi, air mata itu menetes tanpa permisi. Dadanya benar-benar terasa begitu sesak, mengingat apa saja yang pernah terjadi di dalam rumah tangganya yang ia bangun bersama Awan. Semua kenangan manis dan pahit seolah berputar-putar dalam ingatannya. Hingga tibalah hari ini. Hari di mana menjadi akhir dari perjalanan biduk rumah tangga bersama lelaki yang selama hampir tiga tahun membersamai langkah kakinya.

"Bagaimana Lan? Setelah persidangan ini apakah kamu menyesal bercerai dari mas Awan?"

Suara seorang wanita yang tetiba terdengar di indera pendengaran, sukses membuat Wulan mendongakkan wajah. Ia mengusap jejak-jejak air matanya dan mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan Mega.

"Menyesal?" tanya Wulan dengan suara sedikit serak. "Untuk apa aku menyesal? Aku justru merasa lega karena mulai hari ini aku sudah benar-benar resmi berpisah dari mas Awan."

"Tapi, kenapa kamu menangis? Apakah kamu sedang mencoba membohongiku dengan berpura-pura kuat, padahal kamu hancur kan?" tanya Mega dengan sinis.

"Hancur karena apa?"

"Ya karena hidupmu sudah tidak lagi terarah. Bukankah sebelumnya hidupmu ditopang oleh mas Awan. Dengan begitu secara otomatis saat ini hidupmu blangsak kan?" cibir Mega dengan penuh percaya diri.

Wulan hanya tersenyum sinis sembari menahan tawa. Belum tahu saja selingkuhan mantan suaminya ini jika saat ini hidupnya jauh lebih baik bahkan seribu kali lipat lebih baik daripada saat ia hidup bersama Awan. Wulan hanya terdiam tak menanggapi semua ucapan Mega yang penuh dengan provokasi ini.

"Kenapa diam Lan?" tanya Mega yang masih belum menyerah untuk menyulut emosi Wulan. "Oh, kamu merasa kehilangan ya Lan? Mengaku saja daripada dipendam dalam hati."

Wulan tergelak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Apa lagi yang harus aku akui? Aku sama sekali tidak merasa kehilangan karena sampah yang ada dalam hidupku memang layak aku buang. Jadi untuk apa aku merasakan kehilangan ketika aku memutuskan untuk membuang sampah itu?"

"Hmmmm... Kamu ini, masih saja tidak mau mengakui. Tapi tidaklah mengapa. Setelah ini, akan aku buktikan ke kamu bahwa hidup mas Awan akan jauh lebih bahagia jika bersamaku, sehingga membuatmu menangis di pojokan karena tidak bisa membahagiakan mas Awan seperti aku membahagiakannya."

"Oh silakan jika kamu ingin membuktikannya. Aku tunggu, nyonya Mega yang paling sempurna!"

Pandangan Mega sedikit teralihkan ketika melihat sosok Awan yang keluar dari ruang sidang. Wanita itu dengan raut wajah berbinar mendatangi Awan.

"Bagaimana Mas? Sudah beres semua kan?" tanya Mega sembari menggamit lengan tangan Awan.

Awan mengangguk pelan. "Iya sudah beres semua."

"Syukurlah. Kalau begitu, besok kita tunangan dulu. Kita buat acara yang megah dan mewah sembari kita persiapkan untuk acara pernikahan kita," ucap Mega mengutarakan planningnya.

"Aku nurut saja Sayang. Kamu atur sesempurna mungkin."

Awan berjalan pelan ke arah Wulan. Dua bulan lebih ia tidak berjumpa dengan sang mantan istri rasa-rasanya ada sesuatu yang berbeda dengan mantan istrinya ini. Wulan yang sebelumnya kurus kering, kini terlihat sedikit lebih berisi.

"Aku rasa badanmu jauh lebih berisi. Selama dua bulan terakhir ini memang kamu bisa makan dengan baik?" tanya Awan penasaran.

"Jelas badanku jauh lebih berisi karena saat ini aku hanya fokus mengurus diriku dan mengurus Bagas, jadi aku jauh lebih banyak waktu untuk mencintai diriku sendiri. Sedangkan ketika hidup denganmu aku jauh lebih banyak makan hati bahkan hanya untuk sekedar menghela napas saja susah sekali."

Awan berdecih mendengar jawaban yang keluar dari bibir Wulan. "Rupanya sekarang kamu sudah semakin berani ya."

"Oh itu sudah pasti. Jika aku terus menerus lemah maka kamu akan semakin menginjak-injak harga diriku kan?"

Awan terdiam tak lagi bisa membantah ucapan Wulan. Wulan menghembuskan napas berat. Ia mendekat ke arah Awan dan ia ulurkan tangannya.

"Ini aku kembalikan kepadamu. Aku tidak ingin satu benda yang berhubungan denganmu tertinggal di dalam hidupku. Apalagi ini barang imitasi," seloroh Wulan sembari mengulurkan sebuah cincin.

Awan terhenyak. "Barang imitasi? Maksudmu apa Lan?"

"Halah... Tidak usah berbohong lagi Mas. Ketika Bagas masuk rumah sakit, aku ingin menggadaikan cincin ini tapi ditolak karena ternyata cincin ini bukan emas asli melainkan imitasi."

Awan seperti kesusahan menelan salivanya karena saat ini ia tidak bisa mengelak lagi. Cincin yang ia berikan kepada Wulan memang imitasi. Saat itu ia benar-benar kebingungan mencari uang untuk membeli cincin pernikahan. Akhirnya ia membeli cincin imitasi itu.

"Isshhh ... Untuk apa juga kamu kembalikan Lan? Cincin seperti itu tidak ada gunanya lagi. Jadi mending dibuang," timpal Mega seraya merebut cincin imitasi itu kemudian ia lempar ke sembarang arah.

Lagi-lagi Wulan hanya bisa menarik sudut bibirnya. "Terserah mau kamu apakan benda itu. Oh iya mas Awan, selagi aku masih bisa bertemu denganmu, aku ingin mengucapkan beberapa hal kepadamu."

Dahi Awan sedikit berkerut. "Apa yang ingin kamu katakan Lan?"

Wulan melukiskan senyum di depan Awan. Kali ini, ia benar-benar sudah ikhlas menerima segala ketetapan yang sudah digariskan. Termasuk melepaskan Awan.

Wulan mengulurkan kembali jemarinya, layaknya seseorang yang mengajak lawan bicaranya untuk bersalaman. Awan sedikit tersentak namun perlahan tangannya terulur jua dan....

Plak... Plak... Plak...

"Lan, apa-apaan kamu?" pekik Awan ketika tiga tamparan dari tangan sang mantan istri mendarat di pipinya.

Sudut bibir Wulan terangkat sebelah. Ia tatap sinis wajah Awan. Hatinya benar-benar puas bisa menampar wajah lelaki NPD seperti Awan ini.

"Tiga tamparan itu tidak sebanding dengan kehancuran yang sudah kamu ciptakan, Mas. Hancurnya hidupku, hancurnya hidup anakmu dan juga hancurnya bahtera rumah tangga kita. Aku berdoa, semoga suatu saat nanti kamu merasakan apa yang saat ini aku rasakan."

Mega ikut terhenyak kala melihat Wulan yang menampar Awan. Tangan wanita itu juga terayun untuk membalaskan. Namun...

Hap!!

Wulan berhasil mencengkeram pergelangan tangan Mega menggunakan tangan kirinya dan...

Plak... Plak... Plak...

"Aaaawwwwww!!!" teriak Mega setelah terkena tamparan dari Wulan. Wanita itu memekik kesakitan. Merasakan sensasi rasa panas dan nyeri yang menjalar di syaraf-syaraf pipi.

Wulan menanggapi santai ekpresi pelakor dan penghianat yang tengah kesakitan ini. Rasanya sungguh puas bisa memberikan satu pelajaran kepada keduanya secara bersamaan. Dengan cara seperti ini, ia yakin tidak akan lagi dianggap remeh.

"Ini pantas untuk kalian dapatkan wahai pelakor dan penghianat. Ingat, aku menghadiahkan tamparan ini sebagai ucapan selamat. Selamat, pada akhirnya cinta kalian bisa menyatu. Semoga langgeng sampai kematian memisahkan."

Wulan mengayunkan tungkai kakinya. Hatinya terasa jauh lebih lega dan lapang setelah berhasil menampar dua orang itu. Dengan tubuh tegap, ia melangkah meninggalkan Awan dan juga Mega yang masih memasang ekspresi kebingungan dengan apa yang baru saja mereka alami.

Wulan menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Apapun yang akan terjadi nanti, ia telah siap menjadi orang tua tunggal bagi putranya, Bagas.

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!