Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
Hella masuk ke dalam rumah Dave, ketika ia mau memasuki ruang tengah, ia tidak menyadari seseorang sedang memperhatikannya dari balik pintu utama.
Dave.
Pria itu belum benar-benar naik ke lantai atas.
Tatapannya tertuju pada Hella yang masih memegang ponselnya sambil berjalan pelan menuju ruang tengah.
Entah apa yang membuatnya kesal malam itu.
Ucapan Johan.
Tatapan Johan.
Atau fakta bahwa Hella memberikan nomor ponselnya dengan begitu mudah.
Sebelum Hella sempat melangkah menuju kamarnya, sebuah tangan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.
"Aah.."
Tubuh Hella kehilangan keseimbangan.
Dan dalam sekejap—
Bruk!
Tubuhnya menabrak dada bidang Dave.
Hella langsung terkejut.
Napasnya tertahan sesaat.
Jantungnya berdegup sangat cepat.
Begitu dekat.
Terlalu dekat.
Ia bahkan bisa mencium aroma parfum maskulin yang biasa dipakai Dave.
Sedangkan Dave masih memegang erat pergelangan tangannya.
Seolah tidak berniat melepaskannya.
Hella menatap Dave dengan bingung.
"T-Tuan...?"
Dave menatapnya tajam.
"Hebat sekali kamu."
Hella semakin bingung.
"Maksud Tuan...?"
"Kamu bisa dengan mudah memberikan nomor telfonmu kepada pria lain."
Hella berkedip.
Belum mengerti arah pembicaraan itu.
Sedangkan Dave melanjutkan,
"Sedangkan aku..."
Suara Dave terdengar lebih rendah.
"...sebagai Tuanmu sendiri bahkan tidak memiliki nomor teleponmu."
Hella benar-benar tidak mengerti.
Ia menjawab jujur sesuai apa yang ada di pikirannya.
"Laaahh..."
Hella menatap Dave polos.
"Kalau Tuan mau nomor saya, kenapa tidak meminta ke saya langsung saja Tuan...?"
Dave terdiam.
Hella masih melanjutkan.
"Atau minta ke Kak Marcel juga bisa."
Jawaban itu bukannya membuat Dave tenang.
Justru membuat pria itu semakin tidak nyaman dengan perasaannya sendiri.
Karena Hella sama sekali tidak memahami apa yang sedang membuatnya kesal.
Lalu Dave berkata tegas,
"Ingat posisimu di rumah ini."
Kalimat itu membuat Hella membeku.
"Jangan main seenaknya dan sesukamu saja, kamu itu disini kerja, bukan merayu pria."
Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya.
Keras.
Sangat keras.
Tatapan Hella perlahan turun.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Perlahan.
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Barulah saat itu Dave menyadari perubahan wajah wanita di hadapannya.
Namun kalimat itu sudah terlanjur keluar.
Hella yang awalnya menatap wajah Dave kini hanya menunduk.
Bibirnya bergetar pelan.
"Maaf..."
Suaranya sangat lirih.
Nyaris tidak terdengar.
"Maaf, Tuan..."
Entah kenapa, mendengar suara itu membuat dada Dave terasa tidak nyaman.
Genggaman tangannya perlahan mengendur.
Lalu ia melepaskan genggamannya di tangan Hella.
Bahkan sedikit menghempaskannya karena frustrasi pada dirinya sendiri.
Tanpa mengatakan apa pun lagi.
Dave berbalik.
Dan berjalan menuju lantai atas.
Meninggalkan Hella sendirian.
Hella masih berdiri di tempat yang sama.
Dengan air mata yang terus mengalir.
Beberapa menit kemudian.
Hella mengangkat wajahnya perlahan.
Mengusap pipinya.
Mencoba menghapus air mata yang tidak berhenti jatuh.
Lalu Hella melangkah menuju kamarnya.
Begitu pintu kamar tertutup.
Hella langsung duduk di tepi ranjang.
Tangannya meraih ponsel.
Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya.
Butuh seseorang yang membuatnya merasa kuat.
Dan orang itu hanya satu.
Dimas.
Putranya.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Hella mencoba lagi.
Baru pada panggilan kedua terdengar suara yang sangat ia rindukan.
"Halo, Ma..."
Suara Dimas membuat mata Hella kembali panas.
"Dimas..."
Suaranya terdengar lirih.
Dimas langsung menyadarinya.
"Mama kenapa?"
Hella diam.
"Mama nangis?"
Pertanyaan itu membuat Hella tersenyum sedih.
"Iya..." Sahut Hella.
"Kenapa, Ma..?"
"Mama kangen Dimas.."
Di ujung sana terdengar suara anak laki-laki itu menghela napas.
"Kalau Mama kangen Dimas..."
Suara Dimas terdengar polos.
"...kenapa Mama nggak pulang aja?"
Hella menunduk.
"Ambil cuti, Ma..."
Air mata Hella kembali jatuh.
"Umm..."
Ia berusaha tersenyum.
"Mama akan pulang, Nak."
"Serius Ma..?"
"Iya, nanti Mama akan mintak izin Cuti."
Dimas terdengar senang.
"Tunggu Mama ya."
"Ya, Ma."
Hella lalu mengingat sesuatu.
"Dimas."
"Iya Ma..?"
"Kapan daftar ulang sekolah Mu Nak..?"
Dimas langsung menjawab lancar, ya Dimas memang anak yang memiliki sifat Mandiri dan pengertian kepada kehidupannya dan kehidupan Mamanya.
"Tanggal sembilan bulan depan terakhir daftar PIN online, Ma."
"Hm." Jawab Hella singkat.
"Tanggal sepuluh verifikasi PIN ke sekolah."
"Terus Nak..?"
"Tanggal tujuh belas tes masuk sekolah."
Hella mengangguk pelan.
"Baik."
"Mama usahakan pulang sebelum tanggal sembilan ya."
"Siap, Ma."
Mereka masih berbincang beberapa menit.
Tentang sekolah.
Tentang teman-teman Dimas.
Tentang makanan yang dimakannya hari itu.
Percakapan sederhana.
Namun cukup membuat hati Hella perlahan tenang.
"Kalau gitu tidur ya."
"Iya, Ma."
"Jangan main game terus."
"Hehe..."
Terdengar tawa kecil dari seberang sana.
"Satu ronde lagi ya, Ma."
"Dimas..."
"Terakhir Maa..."
Hella akhirnya tertawa kecil.
"Ya sudah."
"Tapi setelah itu tidur."
"Siap Ibu Negara."
Panggilan pun berakhir.
Hella membersihkan diri lalu berbaring di atas ranjang.
Namun meski matanya terpejam—
suara Dave masih terngiang.
Masih terasa.
Masih menusuk.
'Ingat posisimu di rumah ini.
'Jangan main seenaknya dan sesukamu saja, kamu itu disini kerja, bukan untuk merayu pria'
Hella membuka matanya kembali.
Menatap langit-langit kamar.
Hella lalu berbisik pelan kepada dirinya sendiri.
"Aku memang hanya bekerja di sini..."
Senyumnya terasa pahit.
"Aku cuma pembantu."
Matanya kembali basah.
"Tidak lebih."
Jam menunjukkan pukul satu dini hari.
Besok ia harus bekerja seperti biasa.
Maka suka atau tidak.
Sedih atau tidak.
Hella harus memejamkan matanya.
Dan mencoba melupakan semua yang terjadi malam ini.
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁