NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

Tatapan sendu Rea meluluhkan Dewa. Hasrat yang sempat membuncah seketika padam. Dewa bangun dari atas tubuh Rea, lalu menjatuhkan diri di atas sofa di samping gadis itu.

"Maaf, Mas. Harusnya aku ...."

Dewa tersenyum tipis menatap Rea. "Kenapa harus minta maaf, harusnya aku yang minta maaf karena udah lancang nyium kamu."

"Sebelum aku memutuskan untuk menikah dengan Mas Dewa, aku sudah memikirkan semuanya, termasuk soal hubungan suami-istri. Mas Dewa nggak salah kalau Mas Dewa menginginkannya, karena itu hak Mas Dewa setelah kita menikah. Hanya saja, kita harus membicarakan dulu lebih lanjut, apa konsekuensi yang akan kita dapat setelah kita melakukannya, karena suatu saat nanti kita harus berpisah." Di akhir kalimat ada rasa perih saat mengucapkannya.

Mendengar penjelasan Rea, tatapan Dewa justru terpaku pada istrinya itu. Ia tak menyangka Rea berpikir sejauh itu. Bukan seperti dirinya yang grasa-grusu memperturutkan nafsu.

Rea benar. Meski sebelumnya Dewa menjanjikan tak akan menyentuhnya, tapi dia manusia juga. Lelaki yang jelas punya nafsu. Hal itu yang dulu tidak Dewa pertimbangkan. Ia pikir Rea tak akan menarik baginya, nyatanya ia salah besar.

Rea lebih dari menarik baginya. Kepribadian gadis itu membuatnya selalu kagum. Begitu yang ia lihat selama ia dekat dengan Rea beberapa minggu ini.

"Maaf, aku tidak berpikir sejauh itu. Harusnya aku berpikir dulu sebelum melakukannya."

Rea tersenyum. "Nggak apa, Mas. Seperti yang Mas Dewa bilang dulu, pernikahan kita sah secara hukum dan agama. Kalaupun Mas Dewa menginginkan aku, itu bukan dosa."

Jauh sebelum mengambil keputusan menikah dengan Dewa, Rea sudah memikirkannya masak-masak. Namanya menikah, meski awalnya hanya ingin nikah kontrak, tetap saja Dewa laki-laki normal. Kapan saja bisa menyerangnya. Soal perjanjian pra nikah, bahwa Dewa tak akan menyentuhnya, itu hanya formalitas.

Rea sadar benar posisinya. Jika harus kehilangan kegadisan oleh suami sendiri, itu tak jadi soal baginya. Toh, jika nanti mereka bercerai, tetap saja sebutannya janda. Entah itu masih p*rawan atau sudah tidak p*rawan.

Kini Dewa yang tersenyum. Rea dengan santainya menjawab seperti itu.

Untuk sesaat, hening mengisi ruang di antara mereka. Sampai tatapan Dewa kembali pada bagian dada Rea.

Rea yang baru menyadari kancing piyamanya terlepas, buru-buru ingin menutupinya dengan tangan, tapi kalah cepat dengan tangan Dewa. Pria itu lebih dulu memegang piyama Rea. Mengaitkan kancing yang terlepas.

"Kamu tahu, gara-gara ini aku jadi hilang kendali." Dewa mengakui.

Tatapan Rea menjadi canggung setelah mendengar alasan Dewa menciumnya. "Ehm ... maaf, Mas, aku nggak tahu kalau kancingnya lepas."

Dewa mengangguk.

"Aku balik ke ranjang, Mas." Rea hendak berdiri tapi ditahan oleh Dewa dan kembali duduk di samping pria itu.

"Di sini saja, aku masih ingin deket sama kamu." Dewa menarik Rea agar lebih dekat dengannya. Pria itu lalu meletakkan kepalanya di pundak Rea.

Memejamkan mata, seolah mencari ketenangan. Cukup lama ruangan menjadi sunyi. Hanya embusan napas Dewa yang terdengar di telinga Rea.

"Kalau nanti ada berita apa pun tentang aku, abaikan saja. Tutup mata, tutup telinga. Jangan pedulikan!" ujar Dewa lirih, dengan mata yang terpejam.

Rea tak tahu maksud Dewa. Tapi ia mengangguk saja, meski Dewa tak melihatnya.

"Apa pun yang terjadi, tolong jangan pergi."

Rea sampai bingung dengan apa yang Dewa ucapkan. Apa Dewa ngelindur?

Kendati demikian, Rea tetap diam mendengarkan. Kantuk pun kembali menyerang.

Sampai pagi tiba, Rea dan Dewa tidur dengan posisi duduk. Kepala Dewa bahkan masih bersandar di pundak Rea.

Dewa yang membuka mata lebih dulu. Semalaman tidur di bahu Rea, pasti gadis bahu gadis ini pegal sekali.

"Mas Dewa dah bangun?" tanya Rea setelah membuka mata.

"Pegel, ya?" tanya Dewa sembari memegang pundak Rea.

Rea mengangguk jujur. "Banget."

Keduanya lalu tersenyum.

"Sini!" Dewa memutar tubuh Rea agar membelakanginya. Lalu memijat pundak gadis itu dengan lembut.

Rea bukannya malu, ia justru meminta Dewa memijitnya dengan benar.

"Sebelah sini, Mas." Rea menunjukkan bagian yang pegal.

Dewa tidak marah. Ia justru balik menggoda Rea.

"Di mana di sini?" Dewa menunjuk kuping Rea, bukan dengan tangan tapi dengan bibirnya.

Kontan Rea berjingkat, saat bibir Dewa menyentuh telinganya.

"Mas Dewa!" pekik Rea.

"Iya, di sini, kan?" Dewa kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Rea.

Gadis itu berusaha menghindar, tapi karena bahunya dipegang Dewa, ia sampai jatuh merebah.

Dewa tak berhenti menggoda, bahkan di posisi Rea yang sudah jatuh merebah, Dewa tetap menggodanya.

"Hentikan, Mas. Geli tau!"

"Katanya mau dipijit, kan?"

"Enggak ... enggak, nggak usah dipijit lagi!"

"Nggak apa-apa, sini aku pijit." Bukannya memijat dengan benar, Dewa justru terus menggoda Rea.

Semalam saja saat Dewa menciumnya dia diam, sekarang hanya digoda Rea justru teriak-teriak. "Udah, Mas ... udah!"

Meski Rea sudah memohon agar Dewa berhenti, tapi Dewa tak peduli. Ekspresi panik Rea justru menjadi hiburan tersendiri baginya.

"Mas ...!"

"Belum selesai, sini aku pijit lagi."

"Enggak Mas, udah, aku mohon."

Suara gedoran pintu kamar, menghentikan aksi jahil Dewa. "Dewa!"

"Suara Pak Luky, Mas."

Dengan malas, Dewa bangkit dari atas tubuh Rea. Ia berjalan membuka pintu.

"Ngapain pagi-pagi lo ke sini?" tanya Dewa dengan raut tidak suka.

"Kenapa, gue ganggu lo?"

"Jelas!"

Luky melongok ke dalam. Seolah mencari tahu apa yang tadi Dewa lakukan. Ia dengan jelas mendengar Rea mohon ampun tadi.

"Lo nggak memperk*sa Rea kan, Wa?"

Dewa menoleh ke belakang memastikan Rea sudah tidak ada di sofa. Gadis itu tadi langsung berlari ke kamar mandi saat pergi membuka pintu.

"Dia istri gue, ngapain gue perk*sa?" jawab Dewa enteng.

"Istri? Sejak kapan?"

Dewa berdecap kesal. "Udah, ngapain lo pagi-pagi ke sini?"

"Hape lo mati, kenapa lo matiin? Gue jadi harus repot ke sini, kan?" Luky membalas dengan nada sama kesalnya.

"Lo nggak liat berita viral?"

"Apaan?" Dewa sebenarnya sudah bisa menebak berita apa yang dimaksud Luky.

"Berita lo, lah! Sherly merilis vidio kalian tadi malam. Sekarang heboh. Wartawan nelponin gur terus."

"Bangsat!" Dewa menutup pintu tiba-tiba.

Membuat Luky berjingkat karenanya. "Dewa, sialan, lo!"

Ia gegas ke kamar mandi, saat di dalam ada Rea yang baru saja melepas piyamanya.

"Mas Dewa!" pekik Rea. Ia segera menutupkan kembali piyama yang baru saja ia lepas untuk menutupi bagian depan tubuhnya.

"Gue buru-buru." Dewa dengan percaya dirinya langsung melepas baju dan celananya. Ia masuk ke bilik dan langsung menyalakan shower.

Rea sampai tercengang melihat tingkah Dewa yang seperti tak malu ada dirinya di kamar mandi ini.

Tak ingin mengganggu Dewa, Rea putuskan untuk menunda mandi. Ia sebaiknya keluar dulu.

"Nggak usah pergi, di situ aja, gue cuma sebentar."

Langkah Rea terhenti karena suara Dewa.

"Ambilin handuk!"

Dengan patuh, Rea mengambil handuk yang ada di lemari kabinet. Ia mengulurkan pada Dewa yang ada di dalam bilik mandi dengan wajah menyamping agar tak melihat Dewa yang tanpa baju.

"Tengkyu."

Dewa benar-benar sebentar. Usai mengambil handuk ia keluar.

"Aku mau pergi," ujar Dewa sebelum keluar dari kamar mandi.

Rea mengangguk saja. Mungkin Luky datang untuk menjemput Dewa syuting.

Merasa Dewa akan pergi, Rea dengan santai kembali melanjutkan niatnya untuk mandi. Kali ini ia memastikan tak lupa mengunci pintu kamar mandi.

Belum selesai urusan mandinya, Dewa mengetuk pintu kamar mandi.

"Aku masih mandi, Mas," teriak Rea dari dalam.

"Buka dulu, bentar!"

Dewa tak sabar, ia bahkan mengabaikan Rea yang bilang tengah mandi. Mau tak mau, Rea menyahut handuk dan melilitkannya ke tubuh.

"Ada apa, Mas?" Rea hanya menyembulkan kepalanya di balik pintu.

"Aku mau pergi, kalau ada berita apa pun abaikan. Jangan biarkan Mami melihat berita apa pun tentang aku."

"Iya, Mas." Rea mengangguk patuh.

"Jaga diri baik-baik, tolong jaga Mami juga."

Rea mengangguk lagi.

"Aku pergi dulu." Sebelum pergi Dewa masih sempat mengecup bibir Rea singkat.

Rea sampai mematung dengan apa yang Dewa lakukan baru saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!