NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.20 percakapan panjang di mobil

Hujan deras yang turun itu sudah berganti dengan gerimis. Dimas mengajak Ratih masuk ke dalam mobil karena waktu hampir malam dan gelap.

Kemudian mereka berdua pun berjalan menuju ke arah mobil yang masih mogok dan belum mendapatkan bantuan itu.

Setelah masuk dan duduk di dalam mobil, perlahan Ratih melepaskan jaket punya Dimas yang masih di pakainya.

"Jaketmu," Ratih mengulurkan jaket itu pada Dimas yang duduk di sebelahnya.

"Pakai saja, kamu masih dingin kan?" Dimas menoleh pada Ratih.

"Udah gak dingin. Terimakasih," Ratih tetap mengulurkan jaket itu pada Dimas.

Dimas menerima jaketnya dari tangan Ratih dan meletakkannya ke kursi tengah mobil.

"Bagaimana ini kalau kita tidak bisa menghubungi siapapun, hari mulai gelap," Ratih terlihat gelisah sekali.

"Tenang Rat, kita tunggu mobil yang lewat nanti untuk minta bantuan," Dimas mencoba menenangkan Ratih yang masih panik.

Tapi perkataan Dimas tidak membuat Ratih jadi tenang, dia tetap was-was sambil sesekali mengawasi ke layar handphonenya takut kalau-kalau Regan menghubungi dirinya.

Ratih tidak mau Regan tahu kalau saat ini dia sedang terjebak di dalam mobil yang mogok berdua bersama Dimas.

"Kamu takut Regan tahu kalau kita terjebak di sini berdua?" Dimas bisa menebak kegelisahan yang Ratih rasakan saat ini.

"Ya," jawab Ratih dingin.

"Kalaupun nanti Regan tahu tentang ini, aku yang akan bertanggung-jawab menjelaskan padanya nanti," Dimas menoleh pada Ratih yang melihat ke jendela mobil di sampingnya.

"Kamu tidak tahu siapa Regan." Ratih menatap Dimas.

"Aku tahu siapa dia Rat."

"Tahu apa kamu tentang dia?" Ratih masih bersikap ketus pada Dimas.

"Semuanya," nada suara Dimas agak meninggi.

"Kamu bohong, kamu hanya ingin membuat aku luluh dan jatuh ke dalam pelukan kamu lagi Dim, aku tahu itu tapi jangan harap," Ratih menatap tajam mata Dimas.

"Dengar Rat. Oke kalau kamu tidak percaya hal itu tapi satu hal yang yang harus kamu percaya tentang sepuluh tahun yang lalu," nada suara Dimas melunak.

"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun tentang sepuluh tahun yang lalu!" Ratih menolak apa yang akan Dimas katakan padanya.

"Rat. Tolong dengarkan aku kali ini saja. Asal kamu tahu Ratih, sepuluh tahun yang lalu aku memang pergi meninggalkan kamu, itu semua terpaksa aku lakukan karena waktu itu perusahaan ayahku mengalami kebangkrutan dan ayahku masuk rumah sakit , dia mengalami koma karena stress memikirkan kebangkrutan perusahaan kami. Selama sepuluh tahun itu aku berusaha mengembalikan kondisi perusahaan kami, siang malam aku bekerja keras untuk membangun lagi dari nol perusahaan ayahku yang sudah hancur dan akhirnya dengan bantuan teman-teman baikku aku bisa membangkitkan perusahaan ayahku lagi. Dan selama sepuluh tahun itu aku masih terus saja memikirkan kamu Rat, aku berjanji suatu saat nanti kalau aku sudah sukses aku akan kembali padamu dan menepati semua janji-janji ku dan mimpi-mimpi kita, tapi semuanya serasa tak ada gunanya saat aku tahu kamu tidak pernah membalas satupun surat-surat yang dulu yang pernah aku kirimkan padamu," Dimas menghentikan ucapannya dia menghela nafas panjang berharap Ratih mau menerima penjelasannya

"Kenapa dulu kamu tidak menceritakan hal ini padaku?" Ratih menatap Dimas nada suaranya terkesan menahan kegetiran.

"Aku tidak mau kamu ikut terlibat dalam masalah yang sedang aku hadapi, aku tidak mau kamu jadi terbebani kalau aku cerita semua masalah keluargaku padamu."

"Lantas, ini yang membuat kamu akhirnya pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa pamit dan tanpa kabar apapun! Kamu kejam Dim...! Kamu pikir aku tidak mau menerima semua masalah yang sedang kamu hadapi dan kamu pikir aku lemah sampai kamu kira aku tidak bisa berjuang bersama kamu mengahadapi semua masalah kamu," Ratih menatap Dimas penuh amarah, dia tidak perduli dengan air mata di sudut-sudut matanya yang mendesak untuk segera keluar.

"Rat, aku...aku...tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu ikut menderita," Dimas menatap nanar pada Ratih.

"Cukup Dim. Aku tidak mau mendengarkan alasan apapun lagi dari kamu sebab kamu tidak mempercayaiku sebagai orang yang paling dekat dengan kamu dan itu sangat menyakitkan bagiku!" air mata yang Ratih tahan sedari tadi akhirnya tumpah juga.

Ratih menangis kecewa karena Dimas mengabaikan dirinya sebagai kekasih yang siap menerima apapun yang Dimas alami.

Hati Dimas perih melihat Ratih menangis, Dimas mengulurkan tangannya berusaha mengusap pundak Ratih untuk menenangkannya.

"Maafkan aku Ratih," Dimas mengusap lembut pundak Ratih tapi dengan kasar Ratih menepiskan tangan Dimas dari pundaknya.

Ratih membuang muka dengan menoleh pada jendela kaca mobil di sampingnya, dia mengusap air mata yang tadi sudah membanjiri kedua pipinya.

Suasana di dalam mobil menjadi hening seketika. Malam beranjak turun dan membuat suasana sekitar lahan proyek semakin gelap begitu juga dengan jalan tempat mobil mereka mogok hanya pendar lampu dashboard mobil yang menyinari wajah kaku mereka.

Dimas tidak menarik tangannya yang baru saja ditepis dengan kasar oleh Ratih. Ia membiarkan tangannya menggantung di udara sesaat, sebelum akhirnya menurunkannya perlahan ke atas kemudi. Ia tahu, tepisan kasar itu bukanlah tanda kebencian, melainkan dinding pertahanan terakhir yang coba dipertahankan Ratih dengan sisa-sisa tenaganya.

"Kamu gak perlu pura-pura lagi di depan aku, Rat," suara Dimas memecah keheningan, terdengar begitu tenang namun sarat akan emosi.

Ratih tetap bergeming, matanya masih menatap kosong ke luar jendela yang buram oleh embun malam. Namun, bahunya yang sedikit bergetar menunjukkan kalau dia sedang menahan napas.

"Sampai kapan kamu mau menanggung ini sendirian?" tanya Dimas lagi. Kali ini dia memutar tubuhnya menghadap Ratih, menatap profil samping wajah wanita yang teramat dicintainya itu. "Sampai kapan kamu mau memenjarakan diri kamu sendiri demi kesalahan yang bukan kamu yang buat?"

Mendengar kata memenjarakan diri, jantung Ratih serasa berhenti berdetak. Ia refleks menoleh cepat ke arah Dimas, matanya yang sembap membelalak lebar dalam keremangan mobil.

"Maksud... maksud kamu apa, Dim?" suara Ratih tercekat, ada kepanikan yang luar biasa di matanya. Apakah Dimas tahu sesuatu? batinnya ketakutan.

Dimas menatap lekat-lekat manik mata Ratih, mencari sisa kejujuran yang selalu ia rindukan. "Aku tahu semuanya, Rat. Aku tahu tentang perusahaan ayah kamu beberapa tahun lalu. Aku tahu tentang suntikan dana yang dikasih Regan." Dimas menjeda kalimatnya, menarik napas dalam sebelum melanjutkan dengan suara yang melunak, "Aku tahu kamu terpaksa, Ratih."

Ratih merasa bumi yang dipijaknya runtuh seketika. Pertahanan yang selama ini dia bangun mati-matian, kalimat-kalimat kejam yang sengaja dia lontarkan di ruang fotokopi kemarin agar Dimas menjauh dan tetap aman, semuanya hancur berantakan malam ini di dalam mobil yang mogok ini.

Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah lagi dengan lebih deras. Ratih menggelengkan kepalanya dengan frustrasi.

"Gak, Dim... kamu gak tahu apa-apa!" tangis Ratih pecah, suaranya naik satu oktav karena panik. Ia memukul pelan dada Dimas dengan tangannya yang gemetar. "Kamu gak tahu sekejam apa Regan! Dia bisa hancurin kamu, dia bisa hancurin ayah aku kalau dia tahu kamu ikut campur! Tolong, Dim... menjauh dari aku..."

Sebelum Ratih sempat menyelesaikan kalimat histerisnya, Dimas dengan cepat menarik tubuh Ratih ke dalam dekapannya. Ia mendekap kepala Ratih ke dadanya dengan erat, mengabaikan penolakan atau pukulan lemah dari tangan wanita itu yang perlahan mulai kehabisan tenaga dan akhirnya menyerah, mencengkeram kemeja Dimas dengan erat sambil menumpahkan seluruh beban tangisnya di sana.

"Biarkan dia mencoba, Rat," bisik Dimas di sela-sela rambut Ratih, matanya menatap tajam menembus kegelapan malam di luar jendela mobil. Ada kilat kemarahan sekaligus tekad yang tak tergoyahkan di sana. "Dulu aku pergi karena aku gak punya apa-apa untuk melindungimu. Tapi sekarang, aku bersumpah tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuh atau mengancam kamu lagi. Kita akan selesaikan ini sama-sama."

Di tengah keheningan malam dan pelukan hangat Dimas yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan, Ratih hanya bisa menangis sesenggukan. Ketakutannya pada Regan masih ada, namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam teror, Ratih merasa tidak lagi sendirian di dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!