Spin off Hati Untuk Arya
.
.
Ari putra wongso, mencintai seorang perempuan bernama Karina, namun tanpa sepengetahuannya sang kekasih mencintai sahabatnya sendiri. Ari selalu merasa Karina tak mencintainya,namun ia memilih bertahan dan berharap Karina akan mencintainya. Namun di penghujung jalannya ia menemukan sebuah jalan buntu. Rasa percaya dirinya runtuh karena takut tak bisa membahagiakan orang yang ia cintai.
Sementara Airil Karina Yatri menantang Ari untuk melangkah ke jalan yang serius, ia berjanji akan mencintai Ari setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Namun Ari gugup untuk melangkah, tak yakin cinta bisa tumbuh semudah Karina mengatakannya.
Kehadiran seorang janda bernama Vanessa aulia putri memberi warna berbeda bagi laki-laki yang tengah dilanda rasa kesepian karena mengakhiri hubungannya dengan Karina. Kedewasaan Vanessa membuat Ari begitu nyaman dengannya.
Siapakah yang akan menjadi penghujung hati Ari? sang kekasih Karina atau sang janda Vanessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catatan kecil di sudut buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Langkah cepat Ari menuruni tangga menuju meja makan. Ia duduk di kursinya dan segera meminum teh hangat yang disiapkan bi Inah. Ia kemudian segera mengambil piring dan mengisinya “kamu buru-buru Ri?” tanya bu Dhini melihat Ari yang hanya mengambil sedikit sarapan dengan menu nasi goreng.
“iya bu, takut nanti hujan deras lagi, cuaca sekarang berubahnya dadakan” jawab Ari mulai menikmati sarapannya.
“ayah, aku dapat projek pembangunan klinik baru, ayah mau nggak jadi donaturnya?” tanya Ari dengan santai, namun tetap menghormati ayahnya.
"klinik baru? apa membangun klinik perlu donatur juga" pak Basri balik bertanya kepada Ari.
"ada seorang dokter senior yang mau bangun klinik, tapi karena biaya yang diajukan perusahaan ku terlalu tinggi, dia kekurangan biaya" jelas Ari.
Pak Basri mengangguk pelan, “tergantung, jika prospeknya untuk sosial, ayah akan bantu, tapi jika untuk pribadi, ayah nggak mau” jawab pak Basri terdengar tegas dan lugas.
Ari sejenak tersenyum tipis mendengar ucapan ayahnya, mungkin ia harus mengkonfirmasi itu lagi dengan dr. Arfi.
Setelah sarapan, Ari mengendarai mobilnya menuju 3A Sahabat ketika jam belum menunjukkan pukul 7, ia memilih pergi cepat karena takut bakalan hujan mendadak nanti. Mobilnya melaju dengan cepat, karena jalanan belum terlalu padat. Satu dua mobil di lewati Ari dengan mobil sport yang ia bawa. Tak sampai 40 menit, ia sudah sampai di kantornya.
Saat sampai di halaman parkir 3A Sahabat, Ari memakirkan mobil mahalnya dengan hati-hati. Kemudian ia turun disambut dengan tatapan kesal dari Sari. Gadis itu juga baru datang mengendarai mobil sebuah mobil hitam. “kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Ari yang merasa tak nyaman dengan pandangan Sari.
“bapak orang kaya, kenapa nggak punya sopir?” tanya Sari dengan nada kesal.
“kenapa kamu nanya seperti itu sama aku?” Ari balik bertanya atas pertanyaan Sari.
“agar bapak nggak menyuruh abangku lagi untuk mengurus mobil bapak yang mogok” jawab Sari dengan ketus.
Ari berjalan pelan melewati Sari yang masih berdiri tegap menghadapnya. “anggap saja sebagai ganti kamu disini, sekalian nanti sore antar mobilnya ke rumahku” jawab Ari dengan santai, ia kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Sari yang hanya bisa meringis kesal kepada Ari.
Langkah Ari gontai memasuki 3A Sahabat, berjalan melewati lobi membalas tegur sapa para karyawannya. Segera masuk lift menuju ruangannya. Dan Seperti biasa Vanny sudah menyiapkan jadwalnya hari itu.
Sementara di rumah sakit tempat Karina bekerja, gadis itu tengah menikmati seduhan teh hangat di ruangannya setelah berjaga malam. Sedikit meluruskan punggung, setelahnya ia akan pulang menikmati istirahat yang dipaksanya untuk ditunda.
Pintu ruangannya terbuka, Dian masuk dengan membawa 2 potong roti ke dalam. Hampir setiap pagi ia seperti itu. Datang keruangan Karina dengan membawa 2 potong roti untuk sekedar bercerita dan berbagi gosip.
Sepotong roti ditaruh Dian di dekat gelas Karina. “tumben pagi-pagi gini udah datang Yan?” tanya Karina sembari mengambil kacamatanya di atas meja.
“iya, mumpung belum hujan, kamu kalau mau pulang cepat-cepat gih, kalau udah hujan, turunnya deras amat, bisa kejebak banjir kamu nanti” ucap Dian memberi saran.
Karina diam tak menanggapi, ia mengambil roti yang diberikan Dian untuknya, dengan cepat ia membuka roti itu dan memakannya. Mengisi perutnya yang memang sedikit lapar setelah begadang semalaman.
“Rangga nanyain tentang kamu Rin, dia nungguin jawabanmu, ini udah terlalu lama sejak ia nembak kamu” Dian buka suara dengan sedikit ragu-ragu.
Karina yang hendak memakan rotinya seketika termanggu mendengar ucapan Dian, rotinya urun dimakan, pemikirannya seketika mengingat sosok Ari yang kemarin sore ia temui di rumah sakit tempat ayahnya bekerja.
“aku belum bisa jawab Yan, aku masih berharap sama seseorang” jawab Karina dengan wajah menunduk. Ia kemudian segera meminum tehnya dengan cepat.
“siapa Rin?” tanya Dian. “apa pemilik 3A Sahabat itu?”
Karina tak menjawab, ia segera mengambil tasnya dan berjalan cepat ke arah pintu, “aku pulang dulu ya Yan, nanti keburu hujan” tutur Karina berkilah. Meninggalkan Dian yang memanyunkan bibirnya karena kesal.
***
Sore cukup mendung hari itu, namun hujan masih enggan hendak turun, angin terlihat bertiup kencang, jelas terlihat dari lambaian daun di pepohonan. Ari menatap itu semua dari tempat yang sama di hari sebelumnya. Bedanya ia berdiri di balkon lantai dua ruko restoran Tomy.
Pengerjaan restoran Tomy sudah dimulai, Sari memegang kendali langsung mengawasi projek tersebut. Ari ikut memantau, sekaligus menghabiskan waktu bersama dengan Tomy.
Laki-laki yang saat ini tengah berdiri disampingnya, melihat lambaian daun dari pepohonan besar di depan ruko itu. Sesekali hembusan asap terlihat dari rokok yang dihisap Ari.
"masih ngerokok Lo RI" Tomy bergumam pelan.
"masih kayak dulu Tom, cuma sesekali saat kepengen aja" jawab Ari dengan singkat. Dulu laki-laki itu sering merokok di puncak gunung, saat malam dingin menusuk tulang. Rokok bisa menjadi penghangat tubuhnya.
Suara derap kaki terdengar dari tangga, langkahnya pelan satu persatu, menaiki setiap anak tangga. Tomy berbalik melihat siapa yang naik. Sementara Ari tak peduli dengan siapa yang datang.
"kalian nggak mau pulang, nanti keburu hujan" Suara Vanessa terdengar lebih dulu sebelum wajah perempuan itu muncul disana.
"iya kak, aku lagi nunggu Abel siap-siap" jawab Tomy melihat wajah Vanessa yang tampak berkeringat. Gadis itu cukup semangat membantu Sari memberi arahan pada tukang yang bekerja.
"lah! Abel nungguin kamu di bawah Tom" jawab Vanessa.
"udah siap Abelnya kak?"
Vanessa mengangguk pelan "udah Tom, cepat turun, nanti ngomel-ngomel lagi"
Tomy segera pamit kepada Ari dengan mengusap pelan bahu sahabatnya itu. Ia kemudian segera turun menyusul Abel. Meninggalkan Vanessa yang berjalan mendekat ke arah Ari.
"kamu nggak pulang juga Nes?" tanya Ari tanpa melihat perempuan itu.
Sesaat kemudian Vanessa merebut rokok yang hendak dihisap Ari. Ia melemparnya ke lantai dan menginjaknya. Membuat Ari menatap heran dengan sikap Vanessa.
Mata mereka bertemu seketika, membuat Ari merasa gugup melihat sorot mata Vanessa yang kesal kepadanya.
"udah lama ngerokoknya?" tanya Vanessa bernada dingin.
"cuma sesekali Nes" jawab Ari dengan singkat. Biasanya ia akan marah jika Arya dan Tomy memperingatinya, apa lagi sampai merebut dan menginjak rokok yang sedang ia hisap. Namun anehnya ia tak merasa kesal ataupun marah kepada Vanessa.
"kamu masih ada masalah Ri?" tanya Vanessa menyelidik.
Hembusan nafas panjang keluar dari mulut Ari. Wajahnya ia tundukan melihat lantai dengan tangan bertumpu pada besi pagar balkon tersebut.
"aku setiap hari ada masalah Nes, dulu aku sering ke ruangan Arya untuk sekedar bercerita, sekarang Arya sibuk, jadi aku mencari Tomy" jelas Ari.
"masih masalah Karina RI?" tanya Vanessa menatap lekat wajah Ari.
Laki-laki itu diam tak menjawab, ia lebih memilih memainkan kedua tangannya. Sikap yang menunjukkan bahwa tuduhan Vanessa benar adanya.
"udah Ri, kamu move on, jangan hancurin hidup kamu sendiri kayak gini" ucap Vanessa penuh perhatian.
Ari mengangkat kepalanya melihat Vanessa dengan lekat, ia perhatikan setiap lekukan cantik, guratan wajah gadis itu.
"kalau begitu kamu mau bantu aku Nes?" tanya Ari dengan dada berdebar-debar.
"bantu aku move on dan melepas Karina dari hidup ku"
"maksudmu?"
apalagi Karina yang katanya didikan agama nya lebih dari Ari
dan itu sangat jarang...