Maureen Fredelia, di kenal dengan sebutan Delia. Gadis berusia 18 tahun itu harus terpaksa menikah dengan seorang Brian Andreas Haidar! Pewaris sah dari Grup HDR.
Brian adalah sosok yang tidak ia kenal, tidak ia suka, dan tidak akan pernah bisa menjadi patner dalam hidupnya. Namun karna perjudian yang di lakukan oleh neneknya, membuat hutang keluarga mereka menumpuk. Dan akhirnya ia terpaksa menikah dengan lelaki itu.
Masuk dalam keluarga kaya membuat kehidupan Delia berubah sepenuhnya. Menjadi gunjingan teman teman dan tetangganya masih belum cukup untuk mengawali penderitaannya.
Delia harus banyak terluka karna mengenal seorang keluarga Andreas. Dan menjadi target baru untuk para pesaing bisnis keluarga tersebut bum lagi citranya yang begitu buruk di dalam masyarakat.
Namun Delia bukan Delia jika tidak sekuat baja. Delia memang kuat. Namun jalan terjal yang ia lalui juga bukan persoalan yang gampang untuknya.
Mampukah Delia bertahan di dunia keras itu? Yuk.. simak terus kelanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofie Otviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Ya, Delia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Ia butuh waktu untuk menenangkan hatinya yang gundah dengan keadaan saat ini.
Ia membutuhkan ruang untuknya sendiri agar ia bisa merenungkan segalanya. Dan memikirkan cara akan bagaimana ia melangkah untuk kedepannya.
"Del.. hallo??? Ngelamun mulu"
Brian mencubit hidung tinggi nan mungil istrinya itu dengan gemas. Dari tadi Brian sudah menahan untuk tidak melakukannya! Namun tangannya itu sangat bandel ternyata.
Delia yang di perlakukan seperti itu pun sontak terkejut dan mengambil langkah mundur beberapa langkah. Membuat jarak antara mereka semakin lebar.
"Kenapa sih?"
Brian berujar dengan mengikuti langkahnya. Ia terus maju mengikis semua jarah yang di buat oleh Delia.
Namun bodohnya Brian lupa jika mereka sedang ada di jalanan kompleks. Jadi tiba tiba bunyi kelakson mobil membuyarkan momen absurd mereka itu.
Biiinnn..
Delia juga terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara. Ia menatap mobil civic hitam yang berada tak jauh dari mereka.
Tak lama kemudian sebuah kepala menyembul keluar dari balik jendela mobil tersebut. Terpampanglah wajah Thalia dengan senyum konyolnya.
"Kalo mau bucin jangan di jalan dong! Nepi napa. Kalo ada apa apa kan berabe"
Omel gadis itu dan beranjak memarkir mobilnya ke depan rumah kakaknya dan kakak iparnya.
Ia lekas turun dengan berbagai bingkisan dan kotak kado yang ia ambil dari dalam bagasi mobilnya.
"Bantuin lah! Ini kado pernikahan kalian loh. Kak Del? Jangan bengong aja dong... Udah ga papa nikah ama abang gue. Dia bucin kok! Lu suruh ngapain aja pasti mau dah"
Ucapan Thalia yang dengan ceplas ceplos, dan sontak membuat wajah Brian menjadi kesal tak karuan dan membuat lelaki itu mengutuk adik laknatnya.
Namun tidak dengan Delia. Ia malah tersenyum mendengar perkataan itu dan itu membuat kedua saudara itu pun tersenyum lega mendapati mood Delia yang mungkin sudah mulai membaik karna lawakan absurd Thalia.
...🐢 🐢 🐢...
Setelah beres beres seharian Delia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya, lebih tepatnya kamar mereka! Kamar Delia dengan Brian.
Walau awalnya Delia menolak tapi pada akhirnya ia lebih memilih mengalah karna bagaimana pun juga Brian adalah orang yang harus ia patuhi saat ini.
Bukan karna Brian sudah menjadi suaminya. Namun karna Delia sudah menganggap Brian sebagai atasannya atau lebih tepatnya sebagai majikannya. Entah mengapa Delia menerapkan 'harus patuh' pada Brian atau keluarganya.
Delia membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran queen size. Dan matanya mulai terasa berat karna semua pikiran yang seakan menghantam batinnya dengan keras membuat tubuhnya 3x lebih lelah dari yang seharusnya.
Tak lama setelah Delia tak sengaja terpulas, Brian masuk ke dalam kamar tersebut dengan langkah perlahan. Takut takut membangunkan istrinya yang tengah terpulas dengan nyaman.
Memperhatikan istrinya yang meringkuk di atas ranjang dengan dahi berkerut. Entah apa yang ada di dalam mimpi gadis itu hingga mampu membuat dahinya mencuram sedemikian rupa.
Brian memilih beranjak duduk di samping tubuh Delia yang meringkuk. Ia memandang wajah Delia yang terlihat tenang dengan senyum tipis yang bertengger di wajah tampannya.
Perlahan menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik Delia. Dan membelai puncak kepalanya dengan ragu, seakan akan takut jika ia dapat membangunkan gadis yang tengah terlelap itu.
"Cantiknya istri gue" gumam Brian tanpa sadar.
"Gue gak bakal lepasin lo! Jadi tolong balik suka sama gue suatu saat nanti ya Del" tambah Brian akhirnya mendaratkan sebuah kecupan ringan di kening Delia.
Setelahnya Brian beranjak keluar kamar tersebut untuk mengecek apa yang di lakukan adiknya yang tadi pamitnya mau memasak di dapur. Semoga Thalia tidak sampai membakar dapurnya.
...🐢 🐢 🐢...
Crip..crip..!
"Delia bangun.. Delia bangun..!" Ucap seekor Beo yang bertengger di atas ranjang Delia.
Mendengar suara bising dan cempreng burung beo tersebut, Delia pun akhirnya bangun dan langsung menganga lebar ketika menatap di atas kepalanya terdapat seekor burung beo yang tengah ngintipnya dari dalam rumah kayu kecil yang ada di dinding.
Mungkin sekitar 2 meter dari ranjangnya, memang ada sebuah rumah kayu kecil dan kemarin Delia belum tau apa kegunaannya.
Namun saat ini ia tahu apa keguaan benda itu. Dan sangat mungkin jika Brian membelikannya sebuah alarm hidup untuk membangunkannya. Yahh.. se ajaib itulah Brian yang di kenal Delia akhir akhir ini.
Bahkkan kemarin Brian nekat memasakannya bubur walau dia belum pernah masuk ke dapur sekali pun. Alhasil jadinya pun berbau gosong.
Wallau pun begitu, Delia tetap memakannya walau dia sangat amat terpaksa.
Cklek..
"Pagi Del....buakk!" Belum selesai Brian mengucap salam pagi untuk istrinya.
Namun tiba tiba saja istrinya yang memiliki sifat singa betina itu langsung menyambar wajah tampannya dengan sebuah bantal besar.
"Lo apa apaan Brian? Lo pelihara kek beginian?" Jerit Delia dengan menunjuk nunjuk ke arah burung beo yang asik menyaksikan interaksi kedua majikannya dari dalam kandang mungilnya.
Brian memperlihatkan senyum pepsodent nya dengan sangat manis.
"Hehehe kenapa sih sayang? Kamu gak suka burung beo? Kan lucu. Brigit sini!"
Dan burung beo itu terbang ke arah Brian dan bertengger di pundak lelaki itu dengan sesekali mengusapkan kepalanya ke pelipis Brian.
Burung itu di beri nama Brigit oleh Brian. Dan ia memiliki sifat yang sangat manja kedapa lelaki itu. Namun jika Thalia yang memegangnya, Brigit auto mematuk. Entah mengapa!
"Brian sarapan.. sarapan.. sarapan!" Ucap Beo itu membuat Delia menggeleng gelengkan kepalanya.
"Eh.. eh.. bangun Del! Udah jam 6 lewat 15 tau. Lo gak sekolah?" Brian menarik selimut yang barusan Delia gunakan untuk menutup tubuhnya kembali.
Delia pun menggeram jengkel dan kembali duduk memandangi Brian dengan Brigit yang masih setia bertengger pada majikannya.
"Ayo bangun!"
Dan akhirnya Delia turun dari ranjangnya dan beranjak memasuki kamar mandi.
"Del!"
"Apaan sih! Bawel banget sih lu" omel Delia menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar mandi.
Brian menghela nafasnya berat. Ia lalu melemparkan sebuah handuk berwarna biru muda tepat ke wajah Delia. Bruks..
"Iishhhh"
"Mandi ga bawa handuk! Kamu mau telanjang bulat keluarnya? Ini bukan lagi kamar kamu doang Del" tutur Brian dan meninggalkan Delia yang lagi lagi terdiam.
Entahlah! Brian lelah mencoba mengerti apa yang ada di pikirkan Delia. Tentang hubungan mereka! Atau pun tentang bagaimana statusnya yang sebenarnya. Brian lelah menebak nebak. Biarlah Delia bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Nanti, jika suatu saat Delia sudah berani menanyakan tentang segala sesuatu yang membuatnya bingung. Mungkin saat itu lah Brian harus mengambil peran.
*****
Hai, terimakasih sudah membaca cerita ini. Aku benar-benar bersyukur memiliki kalian disini. Terimakasih...
IG : @otvianasofie
See you next time All.
d tggu upnya kakak..
semangat terus, karyamu selalu yang terbaik..
D tggu feedback nya yaa..
salam hangat dari :
***. KEAJAIBAN CINTA KESYA
***. MR.PERWIRA vs MANTAN PREMAN