Arga Aldiano siswa tampan berprestasi, multi talent, dan idola di SMA kencana. Dipuja kaum hawa adalah takdirnya. Dingin dan cuek itulah sifatnya. Peduli? bukanlah bagian dari hidupnya. cowo yang dijuluki sebagai Badboy ini adalah cowo yang paling di takuti seisi sekolah. Lalu apa jadinya jika cowo seberbahaya Arga justru di lindungi oleh seorang cewe culun? Apakah mungkin? bagaimana bisa?
Fika Pricilla, adalah gadis biasa yang memiliki ciri khas yaitu dua rambut berkepang dan kaca mata besar menutupi matanya yang sipit.
Berbagai pertentangan terus menggeluti keduanya. lalu bagaimana mungkin cewe berambut kepang itu mampu melindungi seorang Arga?
Simak ceritanya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasih Kurnasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan
Lorong koridor yang sepi senyap mengheningkan telinganya yang terasa memanas. Arga bergegas melangkah lebar menuruni tangga setelah memutuskan untuk keluar dari ruangan ganti. Insiden yang baru saja terjadi benar-benar memancing seluruh emosinya. Terlebih ia menjadi semakin muak entah pada siapa dan karena siapa. Entah itu pada Fika, entah pada Vino atau juga pada dirinya sendiri. Yang jelas saat ini Arga ingin sendiri terlebih dahulu.
Arga sedikit berlari saat menuruni tangga kedua, namun langkahnya justru terhentikan saat ia menyadari ada seseorang yang sudah menunggunya di ujung tangga. Tanpa melihat wajahnya saja, Arga sudah tahu orang itu siapa. Tapi sayangnya saat ini Arga benar-benar malas meladeninya. Maka dari itu Arga kembali melangkah dan berusaha melewatinya tanpa menghiraukannya.
"Ternyata lo lebih pengecut dari yang gue kira."
Arga terhenti. Dan berkata tanpa menoleh.
"Apa maksud lo?" Ucapnya dingin.
Cowo yang bernama Iqbal itu kini bersandar di pembatas tangga mendekap santai lengannya di dada dan tidak sedikit pun menoleh pada Arga. "Maksud gue? Maksud gue, lo lebih dari seorang pecundang Ga."
Arga masih dalam posisinya namun urat di pelipisnya sudah terlihat mengeras. "Apa hak lo menilai gue? Semua yang gue lakuin bukan urusan lo."
Iqbal tiba-tiba terkekeh geli. "Arga, Arga, ternyata lo masih sama kaya dulu." Posisinya berubah berbalik menghadap punggung tegap Arga. "Bocah naif gak tau diri." Ucapnya penuh penekanan.
Dan Arga menggertakkan rahangnya. Menahan gejolak amarah yang hampir naik pitam. "Lo kira lo juga siapa berani ngomong gitu sama gue? Jangan mentang-mentang sekarang lo adalah anak angkat om Wijaya jadi lo bisa se angkuh itu. Asal lo inget, lo itu cuman anak angkat. Gak lebih dari itu."
"Hahahaha.... jadi selain munafik ternyata lo juga peduli yah sama status gue. Tapi sorry Ga, gue sama sekali gak peduli sama status gue." Iqbal memasukkan kedua lengannya ke saku depan. Dan melangkah semakin mendekati posisi Arga. "Apa lo tau hal apa yang paling gue peduliin sekarang?"
Arga terdiam. Tidak sedikitpun berniat untuk menjawab.
Sedangkan cowo bermata cokelat itu tersenyum menyeringai di balik punggungnya. "Yang gue peduliin saat ini hanya... cara menghancurkan hidup lo." Bisik Iqbal di telinga Arga.
Arga memanas. Ia mengepal kuat seakan urat-urat tenaganya telah terkumpul di genggamannya saat ini.
"Santai bro, ini masih permulaan. Dan gue sama sekali belum memulai permainan." Cowo itu melangkah berjalan berhadapn dengan wajah sangar Arga, keduanya saling melontarkan tatapan membunuh. "Lo tunggu tanggal mainnya nanti. Dan lo pasti tau kan, dari mana gue akan memulainya?"
Arga mengerutkan keningnya. Disaat itu juga dia tau siapa orang yang cowo itu maksud.
"Gue yakin tebakan lo bener Ga. Tapi jangan pernah lo berfikir buat halangin gue. Karena itu percuma. Lo gak akan bisa walaupun diri lo sendiri taruhannya."
Iqbal kembali menyeringai, menunjukkan sederet giginya. Senyuman angkuh yang iya tunjukkan semakin membuat Arga menajamkan matanya. Sabar, hanya kali ini Arga akan membiarkannya. Tapi nanti, Arga pasti akan membalasnya.
"Lo pikir gue takut dengan ancaman receh lo?" Arga memasukkan lengannya ke saku. Lalu tersenyum miring. "Gimana kalo kita bertaruh, siapa yang akan lebih dulu mendapatkannya. Maka dia pemanangnya. Dan siapapun yang kalah, dia harus menerima konsekuensi dari si pemenang."
Iqbal mengerutkan kening. Ada rasa ragu di hatinya. Namun segera ia tepis jauh-jauh ia berusaha menguatkan hatinya untuk lebih yakin jika dialah yang akan memenangkannya.
"Lo pikir gue juga takut sama tantangan lo?"
Arga kembali tersenyum miring. Tatapan cowo itu tajam dan tak terbaca. Dan di tengah tatapan keduanya yang menajam, Arga tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya. "Deal?"
Tanpa ragu dan tanpa berfikir panjang lagi Iqbal pun langsung meraih lengan Arga dan menggenggamnya kuat. "Deal!" Ucapnya tegas.
Keduanya melepas genggaman. Namun masih saling melontarkan tatapan dingin.
"Gue tau lo selalu menang dalam segala hal. Tapi untuk kali ini, gue pasti yang akan menang." Ujar Iqbal tanpa ragu dan penuh keyakinan.
Sedangkan Arga masih menatapnya dengan ekpresi sedatar-datarnya.
"Kalo lo gak ada yang mau di omongin lagi, gue mau cabut. Ngomong sama lo sama sekali gak ada gunanya." Kata Arga tanpa ketus seperti biasa. Sedangkan Iqbal menajamkan tatapannya. Sepertinya emosinya sudah mulai terpancing.
"Jangan songong lo Ga! Lo liat aja nanti siapa pemenangnya! Dan lo! Lo akan kalah di tangan gue!" Iqbal berteriak menggema memenuhi lorong. Namun orang yang ia teriakki disana justru hanya menatapnya datar dan santai. Iqbal mendengus kasar. Cowo itu memasukkan lengannya ke saku dan melangkah pergi meninggalkan Arga yang masih berdiri di depannya.
Entah apa yang ada di benak Arga saat ini, tatapannya selalu di penuhi dengan misteri. Cowo itu masih menatap punggung Iqbal yang sudah semakin menjauh dari pandangannya. Dan perlahan-lahan bibirnya terangkat miring.
"Iqbal Brmastyo." Arga bergumam. "Lo memang yang memulai permainan ini. Tapi gue yang akan memainkan permainan ini."
*****
(Di Aula)
"Astaga Fika! Lo kenapa?" Teriakan Lussy yang tiba-tiba berlari menghampiri Fika membuat Fika dan Andre saling bertatapan. Tentu saja Lussy terlihat sangat khawatir. Terlebih saat ia baru saja masuk ruangan dimana ia ganti baju tadi dan menemukan sesosok Fika yang terlihat ketakutan dan hal yang lebih membuatnya kesal sekaligus khawatir adalah kehadiran cowo yang tidak ia sukai tengah duduk di samping Fika saat ini. Hal itu benar-benar membuat emosinya meledak seketika.
"Heh terong! Ini pasti ulah lo kan?" Tuduh Lussy pada Andre. Cowo itu hanya menatapnya datar lalu mengerutkan kening.
"Apasi lo cewe aneh? Kalo lo gak tau apa-apa gak usah nuduh gue yang enggak-enggak!" Serongot Andre tak mau kalah.
"Halah gue gak percaya. Tampang muka playboy cap ember kaya lo itu udah biasa nyakitin cewe. Dan sekarang sahabat gue nangis, lo sendiri ada disini. Gak salah lagi ini pasti ulah lo kan? Ngaku lo!"
Andre yang tidak terima dengan macam tuduhan Lussy pun langsung berdiri dari posisi duduk. Hal itupun membuat Lussy harus mendongkak agar bisa menatap sangar wajah Andre yang tubuhnya dua kali lipat lebih tinggi darinya.
"Brisik banget si lo! Panas telinga gue denger lo ngomong! Percuma juga gue jelasin sama lo gak ada untungnya juga buat gue."
"Oooh.. jadi bener kan tuduhan gue? Lo kan yang udah nyakitin Fika? Iya kan? Wah dasar emang lo terong gak tau malu! Mau gue rebus lo biar lembek hah?!"
Perkataan Lussy sudah mulai kelewatan bagi Andre. Hal itu pun membuat Andre mengeraskan rahangnya.
"Sekali lagi lo ngomong gitu di depan gue. Lo akan tau akibatnya." Ancam Andre sambil membulatkan kedua matanya. Namun bukan Lussy namanya jika ia gentar hanya karena ancaman murah Andre. Ia justru semakin bersemangat untuk melawannya.
"Dasar cowo funboy, bisanya cuman ngancem cewe. Gak malu apa sama jenis kelamin sendiri? Asal lo tau yah, nih gue Lussy yang cantiknya gak kalah sama ratu elisabeth. Gue gak akan takut sama ancaman cowo macem lo! Dan satu lagi, jangan berani nyakitin temen gue atau-"
"Atau?"
Perkataan Lussy terhenti saat Andre justru dengan gerakan cepatnya menepis jarak di antara mereka. Posisi kepala Lussy yang mendongkak dimanfaatkan olehnya untuk lebih mendekatkan jarak wajah diantara mereka.
"Atau gue cium mau lo?"
"Apa sih lo dasar-"
Cup!
Serasa ada sentakkan keras ke wajah Lussy saat Andre benar-benar menciumnya cepat di pipi kiri Lussy. Hal itu tak hanya membuat Lussy membeku di tempat tapi hampir membuatnya serangan jantung dadakan.
Lussy masih diam cengo di tempatnya sedangkan Andre tersenyum puas penuh kemenangan. Cowo itu terkekeh geli kemudian kembali duduk di samping Fika yang juga sedang memelototinya tidak percaya.
"Kalo gini kan lo jadi diem."
Lussy masih membeku. Ia tidak mampu berkata apapun saat ini, seluruh kata di otaknya seakan menghilang terformat oleh ciuman sekejap dari Andre. Keberanian yang menyala dari dirinya seakan musnah terpadamkan dengan rasa dingin dari bibir Andre yang mendarat lembut di pipinya yang sekarang mulai menghangat.
Tidak seperti Lussy biasanya. Lussy justru menundukkan kepalanya sesaat suasana menjadi hening canggung. Namun disaat itu pula ia mensejajarkan posisinya dengan posisi Andre duduk. Lussy masih diam sesaat kemudian berbicara.
"TERONG LEMBEK KURANG AJAR! Beraninya lo cium pipi gue yang masih perawan!!!" Lussy mengangkat wajahnya dan matanya benar-benar tajam saat ini. "LO HARUS TANGGUNG JAWAB!"
Seketika itu juga Andre tertawa membahak.
"APANYA YANG LUCU! DASAR COWO FUNBOY GAK TAU DIRI, TERONG ASEM, TERONG BUSUK KURANG AJAR!" Lussy dengan greget akan memukul Andre namun sigapnya Andre lebih cepat menahan kedua lengan Lussy.
"Lo mau gue tanggung jawab apa? Atau mau gue kasih pilihan?" Andre kemudian berdiri tangannya masih dalam posisi menggenggam tangan Lussy. "Lo mau gue tanggung jawab buat ngizinin lo balik cium gue? Atau mau gue tanggung jawab buat jadi.."
Andre mendekatkan wajahnya dan membisik di telinga Lussy hingga membuatnya merinding sendiri. "Jadi.. cewe gue."
Lussy seketika mendorong dada Andre kuat hingga cowo itu menjauh darinya. "Apa hubungannya bambang!? Pikiran lo kayanya udah sengklek pasti kelamaan jomblo kan lo? Dasar JONES!"
Lussy menghentakkan satu kakinya kuat ke lantai. Kemudian berjalan meninggalkan Fika dan Andre yang tertawa cekikkan disana. Sepertinya Andre telah menemukan kesenangan sekarang.
"Lussy mau kemana?" Teriak Fika.
"Mati!" Ujar Lussy ketus.
Lussy mengatakannya tanpa menoleh sedikitpun. Cewe itu melangkah lebar terbirit-birit keluar dari aula sedangkan Andre dia masih tertawa membahak di tempatnya duduk menyaksikan tingkah menggemaskan dari Lussy.
"Kamu jahil banget sih Dre, pake beneran cium Lussy lagih."
Andre menghentikan tawanya lalu melirik Fika yang menatapnya serius. "Lo tenang aja Fik, terkadang cewe bawel dan keras kepala kaya dia itu bisa luluh dengan cara kaya gitu. Lagian harusnya dia merasa bangga dicium gue, secarakan gue cowo terkece dan terganteng disini. Iya gak?"
Andre menaik turunkan alisnya serta mengedipkan matanya genit membuat Fika terkekeh kemudian.
"Kamu narsisinya kebangetan Dre."
"Kalo nggak narsis bukan gue namanya." Ucap Andre tertawa.
*****
"Lo denger gak kejadian tadi pagi?"
"Apaan?"
"Ituloh katanya cewe culun dari kelas IPS di tolongin Arga."
"Hah siapa? Eh tunggu, maksud lo cewe yang kepangan dua itu?"
"Yups,"
"Kok bisa sih? Emang kejadiannya gimana?"
"Katanya si culun itu masuk keruangan ganti cowo basket. Parahkan? Gila tuh cewe."
"Emang yah tampang tuh bisa menipu. Mukanya aja yang kaya polos tapi kelakuan kaya cewe murahan."
"Halah biasanya juga cewe kaya gitu tuh bermuka dua tau. Lo semua tau gak? Si culun itu tadi pagi di anterin sama Iqbal murid baru ituloh yang gantengnya kaya Arga."
"Idih gila! Seriusan lo?"
"Sumpah gue! Gue aja kaget pas liatnya."
"Hebat banget ya tuh culun. Selalu dapet perhatian cowo-cowo cakep. Bukan hanya itu tapi sahabat Arga juga kayanya dukung dia."
"Ho'oh ih najis dah. Pingin banget gue ngasih pelajaran tu cewe."
"Sama gue juga."
"Boleh tuh kapan-kapan iya gak?"
Di tengah panasnya gosipan sekumpulan anak-anak cheear seseorang yang tidak asing datang dengan ekpresi datarnya. Cewe dengan postur tubuh tinggi dan langsing itu berjalan tegap membuyarkan sekumpulan cewe-cewe yang tengah bergosip riya disana.
"Kalo kalian gak ada kerjaan mending bubar aja jangan ngegosipin orang." Ucap santai dan lembut Angel si pemimpin Chear.
Semuanya terdiam. Seolah tertangkap basah. Mereka semua memunduk takut kecuali cewe yang kini tengah berdiri bersenderkan tembok. "Biarin aja Ngel, lagian mereka ngomongin fakta kok. Lo juga tau kan gosipnya? Gak usah naif deh lo jadi cewe."
Angel menatapnya dengan kerutan di keningnya. "Meskipun itu semua adalah fakta, tapi nggak seharusnya dibicarain kaya gitu. Kita semua gak ada yang tau kejadian yang sebenernya kan? Jadi jangan memperbesar suatu masalah yang kita sendiri gak tau kebenarannya."
"Angel, angel, jangan munafik deh lo jadi cewe. Emang lo gak cemburu apa sama cewe itu? Secara dia kayanya punya hubungan khusus sama Arga. Lo yakin gak peduli tentang dia?"
Angel meneguk salivanya. Namun ia masih dalam tekadnya. "Siapapun dia, mau dia ada hubungan khusus pun sama Arga. Itu semua gak ada hubungannya sama aku. Dan aku juga sama sekali nggak mempermasalahkan hal itu."
"Yah, itu sih terserah lo Ngel. Cuman, lo siap-siap aja ditikung sama cewe culun. Gue sih cuman mau ngingetin aja sama lo, jangan sampai lo nyesel di akhir nanti." Cewe itu berjalan mendekati Angel. Dan berdiri di hadapan Angel dengan semunyam meledek.
"Apa lo rela Arga sama cewe culun itu Ngel? Apa lo juga siap kalo cewe itu yang bakal gantiin posisi lo sebagai ratunya sekolah ini?"
Angel diam. Ia tidak mampu berkata apapun.
"Kalo gue jadi elo sih pasti udah bertindak apapun buat nyingkirin cewe itu. Dan menurut gue lo itu terlalu lemah Ngel."
Angel mengerutkan kening.
"Lo pikir perasaan Arga nggak akan berubah? Cowo mana sih yang gak akan tergoda sama cewe murahan? Gue yakin cewe itu pasti udah melangkah jauh dari lo. Atau mungkin aja dia udah nyerahin segalanya buat Arga."
Cewe berambut panjang yang terkenal dengan nama Sherla itu mendekatkan wajahnya pada Angel dan berbisik. "Dan lo? Apa yang udah lo kasih buat Arga?"
Sherla kembali menjauhkan wajahnya kemudian tersenyum penuh arti sebari menepuk pundak Angel.
"Inget kata-kata gue ini Ngel, kalo lo emang mau dapetin Arga. Maka lo juga harus lebih cerdik mendapatkannya."
Suasana menjadi sangat hening. Semua orang terdiam menyaksikan berbincangan antara Angel dan juga Sherla yang terbilang dingin. Namun suasana kembali buyar sesaat Sherla memboyong seluruh anak tim keluar ruangan dan menyisakan Angel yang masih beridiri di tempatnya saat ini.
"Arga? Apa kamu menyukai dia?"
__________
Kelanjutannya akan segera di up yah.. karena aku udh bikin setengahnya juga.
Oyah aku lupa mau tanya, kalian kalo baca cerita ini suka baper gak sih? Hehe mau tau aja sebagai pembaca apa kesan kalian pas baca cerita ini.
Selain itu seperti biasa jangan lupa like sama komennya yah. Soalnya aku butuh banget buat penyemangat.
Catatan:
*Penulis abal mencoba untuk berkarya*
See you next chept》》》