Keseharian Lana menjadi pendamping Tuan Buta untuk menjadi pengganti istrinya yang sering keluar dengan pria lain itu berbuah kebingungan. Itu terjadi ketika Tuan buta itu sembuh dari kebutaannya. Dia mengira selama ini istrinyalah yang mendampinginya. Keberadaan Lana lenyap seketika tanpa berbekas.
Apa yang akan terjadi ketika semua kebiasaan yang ia pikir adalah milik istrinya itu tidak nampak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 Berkebun
"Aku bantu," ujar Rio.
"Tidak perlu Rio, Sonia bisa." Kinos menolak Rio 'Ikut campur' dalam urusan membantunya berdiri dan berjalan. "Biarkan dia melakukannya."
Kaki Rio urung maju. "Baik Tuan." Ia kembali mundur dan membiarkan Lana membimbing Kinos menuju tempat mereka berkebun.
Lana membimbing Kinos dengan sangat hati-hati. Meskipun Kinos bisa berdiri, namun tanpa penglihatan, setiap langkah terasa seperti teka-teki. Dia perlu seseorang untuk membantunya, dan itu dia dapat dari Lana.
Rio yang berdiri hanya beberapa meter dari mereka, memperhatikan setiap gerakan itu. Ia melihat bagaimana Lana begitu sigap memastikan kaki Kinos tidak tersandung kerikil atau apapun yang membahayakan.
"Hati-hati langkahmu. Ada kerikil didepan, Kinos," ujar Lana memberi tahu. Kinos berhenti. Kaki Lana menendang kerikil di depan kaki Kinos agar jalan yang dilalui pria ini aman.
Ada sebuah kedekatan fisik yang seharusnya terasa wajar bagi suami istri, namun karena Rio tahu itu adalah Lana _ istri bayangan, pemandangan itu terasa janggal dan menyesakkan. Hingga tanpa sadar ia menghela napas.
"Kamu lelah, Rio?" tanya Kinos mengejutkan. Lana yang tadinya fokus pada Kinos ikut melihat ke arah pria itu. Sesaat Rio membeku mendengar pertanyaan itu. "Kamu bisa kembali ke kantor, tidak perlu menemaniku."
"Tidak Tuan. Tidak apa-apa. Saya senang melihat Anda melakukan kegiatan diluar," ujar Rio berhasil mengelabui Kinos.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan."
Kinos kembali melanjutkan upayanya untuk jalan menuju pot yang sudah disiapkan.
Rio melebarkan mata sejenak dengan gelengan kepala ringan. Dia lupa sejak buta, indra pendengaran Kinos semakin tajam. Pasti beliau mendengar helaan nafasnya barusan.
Setelah Kinos sudah didepan pot, Lana membantu pria ini duduk di kursi yang lebih pendek.
"Kinos, di depanmu ada kursi. Turunkan tubuhmu pelan-pelan, aku memegang lenganmu," ujar Lana dengan nada yang sangat terjaga.
Ia menempatkan satu tangannya di bawah siku Kinos dan tangan lainnya di punggung pria itu, memberikan tumpuan yang kokoh. Kinos bergerak perlahan, mengikuti arahan suara dan tekanan lembut tangan Lana hingga ia terduduk dengan sempurna. Lututnya kini sejajar dengan pinggiran pot, posisi yang sangat memudahkan tangannya untuk menjangkau tanah.
"Terima kasih Sonia," ucap Kinos dengan senyuman di bibirnya.
"Ya. Pak kebun sudah menyiapkan apa yang aku minta, sebaiknya kamu juga berterima kasih padanya. Tanpa dia aku belum tentu bisa menyiapkan semua."
"Oh, begitukah? Aku akan ucapkan terima kasih padanya nanti."
"Rio, bisa tolong ambilkan tanaman di meja?" pinta Lana.
"Ya." Rio segera mendekat ke meja kayu. Mengambil tanaman yang masih di bungkus itu dan menyerahkan pada Lana yang berdiri di dekat Kinos yang sudah duduk.
"Terima kasih." Lana menerima tanaman itu. Lalu segera berlutut di samping kursi Kinos, menciptakan jarak yang cukup namun tetap bisa menjangkau tangan pria itu.
"Apakah sudah siap untuk menanam?"
"Tunggu sebentar. Aku harus membuka pembungkus tanaman ini." Ia memang tidak berencana berkebun saat ini juga, jadi masih ada yang kurang dipersiapkan. Meski tidak terlalu kuat, jika membuka pembungkus dengan asal-asalan, takutnya merusak bagian tanaman.
"Anda butuh gunting direktur?" tanya Rio yang melihat Lana kebingungan.
Lana mendongak. "Ah, ya. Tolong."
Rio berjalan mencari gunting yang sempat ia lihat tadi diatas tumpukan perkakas taman diatas meja kayu.
Lana duduk diam di kursi kayu kecil di samping Kinos, tangannya masih menahan tanaman Adenium yang terbungkus plastik tebal di pangkuannya. Ia tidak bergerak, hanya menatap lurus ke arah kotak perkakas pertamanan yang terletak di atas meja kayu panjang di depan mereka.
Di sana, Rio sedang membungkuk, tangannya mengaduk-aduk isi kotak besi yang penuh dengan kawat, label tanaman, dan sekop kecil. Suara denting logam yang beradu terdengar di antara keheningan taman.
Kinos, yang duduk dengan tatapan lurus ke depan,melewati pepohonan yang tak bisa ia lihat, mencoba memiringkan kepalanya.
"Apa tidak ada, Rio?" tanya Kinos yang mendengar suara denting alat berbahan besi.
"Saya yakin melihatnya tadi. Saya berusaha mencarinya, Tuan." Rio sadar sedang diperhatikan bola mata Lana yang sebenarnya tidak punya maksud apa-apa, tapi ketika melihat sorot mata polos itu, Rio tertarik.
Ia sempat melirik Lana sekilas. Ini membuat Lana yang sadar segera membuang muka ke arah lain, menghindari kontak mata apa pun dengan sang sekretaris.
"Sudah ketemu Tuan."
"Cepat berikan pada Istriku."
"Ya." Rio berjalan mendekat ke Lana dan menyerahkannya.
"Terima kasih," ucap Lana menerima gunting itu.
"Terima kasih, Rio." Kinos ikut mengucapkan terimakasih.
"Ya Tuan."
Lalu Lana mulai menyayat lakban dengan gerakan yang tenang namun cekatan. Suara gesekan plastik dan kardus yang robek memenuhi keheningan di antara mereka.
Kinos duduk diam, punggungnya tegak namun santai. Kepalanya sedikit miring ke arah suara aktivitas Lana, sementara matanya menatap lurus ke depan—sebuah tatapan kosong yang hanya menangkap kegelapan, namun tampak begitu damai seolah ia bisa memvisualisasikan setiap gerakan Lana melalui pendengarannya.
"Akhirnya bungkusnya sudah terbuka Kinos." Lana meletakkan bekas bungkus itu di tanah. "Apa kamu mau menyentuhnya?" tawar Lana.
"Ya." Kinos tersenyum karena antusias.
Lana membimbing tangan Kinos dengan gerakan yang sangat lembut. Ia memegang pergelangan tangan pria itu, mengarahkan jemari Kinos menyentuh tanaman Adenium dengan ukuran tidak seberapa besar.
"Batangnya besar, bagian bawahnya menyerupai umbi. Akarnya dapat membesar menyerupai umbi juga. Bentuk daunnya panjang ada yang lonjong, runcing, kecil, dan besar," ujar Lana menjelaskan.
"Aku mungkin pernah melihatnya di suatu tempat, atau bahkan di taman ini dulu. Namun ini pertama kalinya aku menyentuh langsung tanaman ini. Karena biasanya hanya pak kebun yang mengurusi taman. Ternyata aku tidak pernah punya kegiatan seperti ini sehari-hari," kata Kinos.
"Kamu orang penting, terlalu remeh jika mengurusi taman kamu juga ikut terlibat." Lana paham posisi Kinos.
"Namun melakukan hal remeh sesekali ternyata menyenangkan juga, Sonia. Kamu membuat dunia gelapku terasa lebih terang," ujar Kinos penuh haru.
Mendengar kalimat tulus yang meluncur dari bibir Kinos bagaikan sembilu yang menyayat kesadaran Lana. Ia terdiam, tangannya yang semula kokoh menahan batang Adenium tiba-tiba terasa lemas. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, sebuah perasaan miris yang sulit ia definisikan.
Kamu membuat dunia gelapku terasa lebih terang.
Lana menatap wajah Kinos yang mendongak ke arahnya, atau lebih tepatnya, ke arah suara yang ia percayai sebagai suara istrinya karena Kinos hanya bisa mendengar. Senyum Kinos begitu murni, penuh syukur yang tak dibuat-buat. Pria ini sedang menggantungkan perasaan bahagia pada kepalsuan yang disuguhkan olehnya.
bikin penasaran dan dag Dig dug
q ga bs move on ama gara kak please gara zia ya kak mohon bgt dgn sangat🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏