NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Tuan Bara

Gelora Cinta Tuan Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:71.5k
Nilai: 5
Nama Author: Titin

Diam diam seorang Bara Aditama jatuh cinta pada wanita yang bersetatus istri orang. Safira nama wanita itu, wanita yang hampir menginjak usia kepala empat itu mampu membuat hatinya bersebar tak karuan. Hanya dengan berdiri di sampingnya. Sayangnya dia sudah menikah, juga sudah memiliki seorang putra. Lalu tiba tiba dia mengetahui perselingkuhan suami Safira. Lalu apa yang akan di lakukan Bara setelah mengetahui, wanita yang sangat dia cintai di hianati pasangannya.
Baca kisahnya selanjutnya di Gelora Cinta Tuan Bara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 20

Tubuh Safira terasa kaku, lidahnya juga kelu. Sosok Riki yang berdiri di hadapannya, sembari menatap kerahanya membuat Safira gugup.

Sudah entah berapa lama, dia tak bertemu mantan suaminya ini. Dia pikir dia sudah melupakan segala rasa yang pernah ada, tapi ternyata tubuh dan hatinya masih bereaksi seperti ini.

"Safira, sedang apa kau disini?" tanya Riki dengan suara lembut. Suara berat yang mampu menggetarkan hati Safira, dulu dan juga kini. Safira tak menyahut dia menatap Riki sekilas, lalu membuang pandangannya kearah lain. Bola mata Riki yang tajam tampak bergetar. Seperti sekeping hatinya, yang tengah bergetar hebat saat ini.

Rindu yang menggunung, rasa sesal yang mendalam yang terkungkung dalam hati. Seakan meluap oleh pertemuannya dengan Safira hari ini.

"Safira, aku bertanya padamu." ucap Riki lagi, dengan suaranya yang khas dan lembut.

Safira menarik nafas dalam, menarik pandangannya lalu menatap mantan suaminya itu dengan tatapan dingin. Sejenak dia hanyut oleh perasaan, tapi kemudian dia mampu menguasai keadaan.

"Aku menemani klien ku. Kamu sendiri sedang apa disini?" sahut Safira, dia berusaha bersikap tenang. Namun ada getar dalam nada suaranya. Safira berkata dengan kalimat yang sangat formal. Hati Riki terasa berdenyut sakit.

"Tuan rumah acara ini adalah teman ku" sahut Riki, pandangan matanya masih terpatri lekat pada Safira. Mahluk tuhan yang menurutnya sangat sempurna.

Safira terlihat begitu cantik dan menarik dimata malam ini, seperti biasa wanita ini selalu cocok dengan gaun apa saja yang melekat di tubuhnya. Menurut Riki, dia bahkan terlihat lebih cantik.

Bertemu tanpa rencana dengan Safira, membuat nya kehilangan kendali atas dirinya. Dia bahkan berniat memeluk tubuh molek itu dalam dekapannya. Meluapkan rindu, mengutarakan sejuta penyesalan yang tak mampu dia utarakan selama ini. Tapi Safira bahkan tak memandangnya saat ini.

"Oo begitu." Sahut Safira singkat. Dia seperti enggan ngobrol dengan Riki berlama lama, padahal Riki berharap mereka memiliki waktu untuk bicara.

Tapi pria itu tak ingin kehilangan kesempatan yang belum tentu bisa terulang lagi.

Riki menghela nafas berat lalu beranjak duduk di sebelah Safira. Tentu saja hal itu membuat Safira kaget. Dia tak menyangka Riki melakukan hal itu.

"Kau mau apa?" tanya Safira dengan bola mata melebar, waspada. Hati Riki seperti di iris sembilu melihat itu.

"Aku hanya ingin bertanya bagaiamana kabar mu?" ujar Riki dengan suara bergetar.

"Kau sudah melihatnya, aku baik baik saja. Jadi sekarang kamu bisa pergi. Aku tidak mau disalah pahami karena berduaan dengan suami orang." sahut Safira sinis. Dia berharap Riki segera beranjak pergi, tapi nyatanya lelaki itu malah menatapnya dengan sorot mata penuh rindu.

"A-aku kangen kamu Fira." ujarnya kemudian dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Membuat Safira terbelalak kaget.

Kangen???

Safira kemudian terkekeh pelan, dia merasa jengah dengan kalimat kangen yang di ucapkan Riki. Siapa dia dan apa haknya merindui dirinya.

"Kamu gak berubah ya, dulu saat masih sama aku kamu bilang kangen ke Winarti. Lalu setelah bersama Winarti, kamu bilang kangen ke aku. Maaf ya, aku bukan Winarti yang suka di kangenin suami Orang. Lebih baik kalu pergi dari sini deh." ujar Safira sembari menggeleng pelan.

Riki kehabisan kata, padahal ada banyak kalimat yang ingin dia sampaikan. Agar Safira tau, betapa pria itu masih sangat mencintainya.

Sementara itu, di sudut sana di tempat Bara berdiri. Suasana terlihat mencekam, bola mata kelamnya menghunus tajam. Menatap kedua insan yang sedang terlibat pembicaraan seru itu, dengan tangan mengepal erat.

Pandangan mata Riki untuk Safira yang terlihat penuh cinta, membuat jemari pria yang mengepal erat itu berubah memutih.

Dia hanya pergi sebentar, tapi wanitanya sudah di goda lelaki lain. Dengan langkah lebar Bara beranjak menghampiri Safira dan Riki.

"Safira, siapa dia?" suara berat Bara membuat kedua orang itu menoleh bersamaan, menghentikan percakapan mereka.

Safira berpaling kebelakang, sambil tersenyum dia menyahuti. "Teman lama, kamu sudah siap?" ujarnya dengan nada bicara yang begitu akrab.

"Sudah, ayo kedalam." ujar Bara sembari melayangkan pandangan sinis pada Riki.

Safira beranjak bangkit, lalu berpamitan pada Riki.

"Aku kedalam dulu." ucapnya, lalu beranjak mengikuti langkah kaki Bara masuk kedalam.

Begitu masuk Bara langsung di sambut oleh orang orang yang berharap bisa bekerja sama dengannya. Tak seperti tadi, kali ini Bara seperti tak ingin berintraksi dengan mereka. Wajahnya yang tegas terlihat memancarkan aura yang sangat dingin.

Dia hanya mengangguk kecil sambil terus berlalu. Sikap dingin yang di perlihatkan Bara membuat mereka tak berani melangkah lebih lanjut.

Bara membawa Safira bertemu tuan rumah. Mereka berbincang sesaat sebagai bentuk basa basi sebentar lalu pamit.

Sikap dingin Bara yang tiba tiba membuat Safira sedikit tak nyaman. Apa lagi saat mereka berada di mobil seperti ini. Udara yang dingin seakan membeku oleh sikap Bara.

Tak ingin larut dalam suasana tak nyaman, Safira mengalihkan pandangannya keluar jendela. menikmati suasana malam di kota yang penuh kenangan tentang dia dan Riki.

"Dia masih mengganggu mu?" tanya Bara tiba tiba. Membuat Safira kaget

Safira yang sedang menatap keluar jendela, menoleh cepat menatap Bara.

"Iya?" tanyanya, sebab dia tak mendengar jelas apa yang diucapkan Bara karena sedang melamun.

Bara tak langsung menyahut, bola matanya yang hitam legam menatap lekat mata bening Safira. Seakan ingin menembus palung yang terdalam di sudut hati wanita itu.

"Tuan." panggil Safira pelan. Sebab Bara masih tetap membisu dan hanya menatapnya dalam dalam.

"Tidak ada, lupakan saja." ujarnya kemudian, lalu berpaling dari wajah Safira.

Safira bengong, juga bingung. Tapi juga lega, sebab sikap dingin Bara sudah terlihat mencair.

"Kau belum makan malam kan?" ujarnya kemudian.

Safira tak menyahut, dia hanya melirik Bara sekilas. Dia memang belum makan malam sebab Bara buru buru membawanya pulang.

"Kita maka dulu baru pulang." imbuhnya lagi.

Sementara supir pribadinya melirik Bara sekilas sebelum melempar pertanyaan. "Kita ketempat semalam tuan?" tanya pria paruh baya itu, sekali lagi dia melirik Bara dari spion tengah.

"Hmmm." sahut Bara dengan gumaman pendek.

Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di depan restauran cukup mewah di kota ini.

Restauran bergaya modern dengan nuansa putih nan menggoda. Begitu masuk, mata langsung di manjakan oleh sambutan waitress yang cantik dan tampan.

Sapaan ramah dari gadis belia yang menyambut mereka tak mampu menarik sudut bibir Bara sedikit pun.

Bara langsung memesan ruang vip yang berada di lantai dua. Disini nuansanya berbeda dari lantai satu. Ruang vip di dekor dengan gaya klasik, dengan paduan coklat muda dan hitam.

Walau terkesan gelap tapi tempat ini terasa begitu nyaman. Tempat duduk nya lesehan dengan meja bulat yang cukup besar, cukup untuk menampung enam orang.

Tak butuh waktu lama, makanan yang mereka pesan langsung datang. Kebetulan beberapa makanan kesukaan Safira ada di daftar menu, jadi tak sulit bagi Safira menentukan menu makan malamnya kali ini.

Suasana yang nyaman, dengan hidangan yang istimewa. Sungguh makan malam yang sempurna.

"Safira." panggil Bara tanpa menoleh. Safira yang sedang mengunyah nasi di mulutnya, menghentikan aktivitasnya lalu menoleh keara Bara.

"Iya," sahutnya pelan.

"Kau pulang dengan ku besok, jangan menolak. Aku memaksamu." ujar Bara, sembari mengangkat wajahnya. Menatap bola mata bening Safira lekat lekat.

"?????????"

Bersambung

1
YuWie
sudah sampee lupa dg tuan bara
Tata Hayuningtyas
update nya lama bgt thor sampe lupa jalan cerita nya
YuWie
mau dibawa kemanaa hubungan kita..
YuWie
rak mudeng sama bara bara ini... katanya cinta safira tapi klo lihat cewek bening hawane pingin nidurin. Eman2 safira, sama saja dg mantannya fira
sha
/Good/
Yanti yulianti
bagus
Wahyu Agustin
bara bereeee
Wahyu Agustin
bara bere bnyk kjutan
Wahyu Agustin
lanjuttt
atik
bagus
nur adam
lnjut
YuWie
benee kata bimo..seberharga itukah safira bagi Bara.. kulihat malah semakin gak jelas hubungan mereka. tarik ulur. Bara ngeklaim kepemilikan tapi safira gitu2 aja sikapnya
AstutieEcc
lanjut kakakk😍😍😍
AstutieEcc
untung ota semaput safira🤭🤣🤣
YuWie
krg sat set ya alurnya..hehehehe
Afsa
kisahnya bagus Kak..tp sayang,updatenya lama😄
YuWie
Tuan Bara..cintanya memBara2 dg mbak Safira..akan bertahankah dg ujian2 di depannya.
ImaFatima Latief
cepat up Thor
YuWie
Bara2.. bawaannya curigaaa wae..
YuWie
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!