Kedekatan yang telah terjalin semenjak masih belia harus berbanding terbalik kala sebuah ikatan memaksa mereka untuk bersatu.
Surinala Jarumilind, gadis berparas ayu bertatapan sendu. Salah mengartikan sikap manis seorang pria yang telah lama mengisi hari-harinya.
Bara Dewandaru, pria berparas tampan, berperawakan gagah dan bermulut manis yang di gandrungi banyak wanita.
Mau tau kelanjutannya, baca dan ikuti perjalanan rumah tangga mereka yang penuh dengan intrik dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seulas senyum yang masih tersisa
Jadilah seperti hujan, meskipun ia jatuh berkali-kali. Namun, ia tak pernah gentar untuk selalu memberi kesejukan dan kedamaian bagi sesiapa yang selalu menantikan kehadirannya.
Lantas? Akankah Nala harus menjadi seperti hujan. Yang senantiasa datang membawa kedamaian sekalipun untuk orang yang tak pernah menanti kedatangannya. Terlalu miris jika ia harus di ibaratkan sebagai hujan. Selalu memberi kesan baik. Namun, tak pernah mendapat balas atas jasanya.
Nala duduk termenung di depan beranda kamar seraya memeluk tubuhnya sendiri. Ia menunduk, menumpukan kepalanya di atas kedua kakinya yang ia tekuk bersisian. Irisnya yang senantiasa menyorot sendu, melihat ke bawah ke arah cahaya lalu-lalang kendaraan yang berpendar terang.
Lalu ia kembali menangis dalam diam. Ia membekap mulutnya rapat-rapat, membungkam tangis yang tak kunjung reda. Berkali-kali ia menguatkan dirinya sendiri untuk belajar gentar, mencoba kuat akan semua cacian ataupun kebenaran yang acap kali mengoyak dada.
"Aku harus kuat! Aku gak boleh nyerah gitu aja, dia masih bang Bara. Dia masih abangku yang dulu."
Nala mencoba menguatkan kembali dirinya sendiri. Ia masih berpendirian teguh jika suatu saat pria itu akan kembali berlaku manis kepada dirinya. Meskipun ia harus di pukul dengan kenyataan jika pria itu telah memiliki kekasih hati. Tetapi, Nala adalah seorang istri. Bagaimana pun juga, ia harus memperjuangkan haknya.
Setelah itu, ia beranjak berdiri. Tanpa sengaja, ia melihat sekilas ke kamar sebelahnya, yang menampakkan sesosok bayangan yang bergerak cepat di balik jendela. Seketika ia terdiam sejenak, memperhatikan kamar di sebelahnya yang minim penerangan. Tetapi detik itu juga, ia berlalu acuh dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
~
Bima mendesah lega. Hampir saja keberadaanya di ketahui oleh gadis kecilnya. Terlalu fokus memperhatikan gadisnya, membuat ia lupa jika keberadaannya kali ini tidak boleh di ketahui oleh siapapun.
Ia mengguyar surainya ke belakang seraya mengeratkan rahangnya tertahan. Tiba-tiba, dengan sengaja ia memukul permukaan dinding yang berada di depannya hingga kepalan tangannya terluka.
Tapi, bukannya melenguh kesakitan ia malah sedikit mendesah lega dengan sorot yang berkilat tajam.
"Brengsekk!" umpatnya melampiaskan amarah.
*
*
*
Dering bunyi alarm sedikit memekakkan telinga. Nala nampak meregangkan tubuhnya seraya menyambar ponsel yang beberapa kali berbunyi, menandakan waktunya ia harus segera bangun.
Nala duduk di atas kasur lipat tipis yang menjadi alas tidurnya saat ini. Sorotnya menatap iba keadaannya sekarang. Sekilas, ia mengintip sepintas keadaan langit yang masih nampak gelap gulita dari sela tirai jendela. Ternyata, waktu masih pagi buta. Jam juga masih menunjukkan pukul 4 pagi.
Dengan rasa kantuk yang tersisa, ia tetap bergegas melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tanpa bermalas-malasan, Nala membersih kan terlebih dahulu kamar sekaligus gudang yang menjadi tempat istirahatnya. Setelahnya, ia segera melakukan sholat subuh dan menyiapkan beberapa keperluan Bara.
Bara turun dengan setelah jas yang membalut rapi tubuh gagahnya. Ia melihat sekilas ke arah jam tangan seraya meniti anak tangga. Waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Ia melangkah tegap menuju ke arah pintu.
Namun, tetiba langkahnya terhenti ketika ia mencium aroma masakan yang tak asing di indra penciumannya. Bara melangkah mendekat mengikuti asal aroma masakan dan menemukan Nala yang tengah sibuk di area pantry. Sontak ia berhenti sembari menatap barang putus ke arah gadis itu.
Tiba saja, tatapan mereka saling bertemu. Nala sedikit terkesiap begitu mendapati keberadaan Bara yang telah rapi dan tengah diam memperhatikannya.
"Abang, mau sarapan? Biar Nala siapin. Sini, abang duduk dulu."
Seketika Bara duduk di meja makan dan menunggu dalam diam. Anehnya pria itu diam menuruti perkataan gadis itu. Nala juga menatap heran akan sikap pria itu. Tetapi, seolah tak perlu di pusingkan. Ia segera menyiapkan sarapan sang suami di atas meja makan.
Begitu semua hidangan telah di siapkan, Nala berdiri di sisi meja memperhatikan pria itu. Sementara Bara terlihat acuh, tak menghiraukan keberadaannya. Ia nampak sibuk menyantap makanan yang rasanya sama persis seperti masakan ibunya.
Begitu sarapannya telah tandas tak tersisa, Bara nampak bersendawa pelan namun ia tahan karena malu akan gadis di hadapannya. Yang tentu saja menarik seulas senyum dari sang empunya.
"Abang."
"Hhmmm?"
"Nala pingin kuliah," ucapnya lirih.
"Terus?" sautnya seraya melirik sekilas ke arah gadis itu.
"Ya, Nala mau minta ijin sama minta tolong buat jadi wali Nala di surat keterangan nanti." ia berkata pelan sembari meremas pakaiannya sarat akan takut.
" Ya, kalau mau kuliah, kuliah aja. Nanti aku bayar kok. Tapi surat ijin buat apa? bukannya kamu masih ada ortu buat jadi wali kamu. Kenapa harus aku?"
Gadis itu menelan ludah dengan berat. "Ya kan, kita udah nikah. Abang suami aku, jadi wali aku sekarang abang bukannya Bunda," jawabnya pelan.
Yang seketika mendapat respons kekehan dari pria itu.
"Nala... kamu simpan ini di otak kamu baik-baik, yah. Kita ini cuma nikah siri! Kita belum nikah secara negara, jadi secara gak langsung gak ada yang tau perihal pernikahan kita. Dan, aku saranin. Kamu gak usah bawa-bawa namaku sebagai wali kamu! Dan jangan bilang ke orang lain juga, kalau kamu udah nikah sama aku. Jadi, maaf. Aku gak bisa dan gak sudi jadi wali kamu! Baik itu dalam perihal rumah tangga atau apapun."
Setelah berucap sinis demikian. Bara langsung beranjak berdiri dan meninggalkan gadis itu dalam diam. Ia pergi tanpa berpamitan.
Di detik itu pula, bulir bening kembali menetes dari iris gadis itu. Seolah di tampar berkali-kali oleh sebuah kenyataan. Tangis gadis itu tak pernah usai dan terus mendera pilu. Ia jatuh terduduk, bersimpuh di sisi meja seraya memukul pelan dadanya yang terus berdenyut nyeri tak kunjung mereda.
Beberapa saat setelah kepergian pria itu, terdengar bunyi bel pintu yang langsung mengambil alih tangisnya.
Nala seketika berdiri dan menyapu kasar air mata yang masih tertinggal. Ia diam sejenak di depan pintu sembari menatap heran ke arah benda tersebut.
Bukankah tidak masuk akal jika Bara membunyikan bel pintu, sementara lelaki itu mempunyai kuncinya. Lalu, jika bukan dirinya. Lantas, siapa?
Nala dengan was-was membuka pintu itu, dan seketika terkesiap mendapati seseorang yang berada di hadapannya.
Seketika, seulas senyum manis yang masih tersisa, ia siratkan untuk orang tersebut.
...----------------🍂🍁🍂----------------...
*Next, Nala mau berduaan dulu sama bang Bima😁🤭✌️
Jangan lupa, like, coment dan votenya yahh 🤭🙏🤗
gamPaR aja banG baRa nya biaR gak kuraNg ajaR saMa oRtu😡😡😡