novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bom
Keputusan harus segera dilaksanakan. Letnan Anwar tahu itu. Ia pun menjauh dari kerumunan dan menghubungi pusat divisi rahasia lalu menghubungi Taupan.
"Taupan, Taupan? Sekarang semua terserah kamu! Habisi mereka!" ucap letnan Anwar dan disambut senyum oleh Taupan.
Taupan pun mulai mencolek pundak salah satu perampok. Perampok itu pun menoleh dan langsung di sambut oleh pukulan Taupan yang secepat kilat dan mendarat mantap membuat leher perampok itu patah seketika.
BUKKK!
Si perampok terkulai seketika. Beberapa sandera menjerit kaget dan ngeri mendapati satu perampok itu tersungkur. Tahu itu, dua perampok lain otomatis mengarahkan moncong senapan mesinnya. Tapi Taupan segera menggenggam dan menarik moncong senapan itu.
SATTT!!!
Keduanya pun terbawa dengan kagok dan hampir jatuh. Taupan menendang dan memukul yang satunya. Keduanya terpental jauh dan mengaduh.
Taupan berlari dan memburu 4 perampok lagi yang berdiri agak jauh. Ke empat perampok itu jelas tidak tinggal diam. Salah satu perampok itu berhasil meletuskan pistolnya dan mengenai dada Taupan. Tapi Taupan seperti tidak terpengaruh. Taupan sampai dengan tendangan dan mengena. Satu terjungkal jauh ke belakang dan tiga lainnya yang hendak melawan dan menembak, Taupan hajar satu persatu.
Dua letusan senapan kembali mengenai Taupan. Kali ini di bagian punggung. Punggung Taupan sampai berlubang besar. Taupan tidak terjatuh, ia hanya sedikit bergeser dari posisinya. padahal normalnya, satu peluru senapan kaliber besar itu cukup untuk merobohkan seekor babon.
Perlahan Taupan menoleh dan menatap bengis ke arah perampok yang menembaknya dari belakang. Sontak si perampok itu ketakutan. Manusia macam apa yang masih bisa berdiri dengan dua lubang peluru sebesar itu.
Karnali kini menggenggam erat tawanannya dan hendak mendorong tawanannya melewati pagar besi di balkon itu. Tapi seluncur peluru keburu mengenai tangan kanannya yang memegang pistol.
Karnali mengaduh dan melepaskan cengkeraman tangan kirinya pada tawanannya. Pistol Karnali terjatuh dan lengannya berdarah. Perempuan berjas biru itu segera menjauh. Karnali segera menyusul diikuti peluru-peluru dari para sniper yang dari tadi membidik.
Karnali selamat dan hampir meraih tawanannya yang lepas ketika Taupan datang dan langsung mencengkram lehernya.
Perempuan berjas biru menghela napas lega. Tapi sekerlit dalam kelebat, satu peluru hampir saja mengenai pelipisnya ketika ia hendak berbalik dan melanjutkan pelariannya. Peluru itu pun kembali bersarang di punggung Taupan. Perempuan itu sampai terkena percikan darah Taupan.
"Awww!!!" jerit Perempuan itu.
"Kau, kau boleh menghabisi kami, Tapi bom sebentar lagi meledak," ucap Karnali dengan suara berat.
"Dimana, tanya di mana ia menaruh bomnya!!!" pekik letnan Anwar di kuping Taupan.
"Dimana Kau simpan bom itu?" tanya Taupan sambil menguatkan cengkraman tangannya. Karnali melotot hampir mati dalam cekikan Taupan.
DORR! DORR!!!
Taupan kembali terkena tembakan. Si perempuan berjas biru lututnya lemas dan bersimpuh hampir pingsan karena takut.
Sang Penembak keheranan karena targetnya tak kunjung mati dan yang lebih mengherankan lagi, peluru-peluru sebesar jari pria dewasa keluar dari daging dan jatuh ke lantai
TING! TRING!! TRINGG!
Perempuan tadi yang baru saja bangkit kini benar benar pingsan. melihat luka-luka tembak di punggung Taupan yang menutup kembali. bahkan darah yang sudah berceceran di wajahnya tertarik, masuk kembali.
Melihat itu, si penembak itu pun berbalik dan menjauh.
Karnali tinggal sendiri dan menyadari, lawannya bukan manusia biasa.
"Dimana bom itu!!!"
"di, di basemant, di dalam mobil Van." Letnan Anwar mendengar itu dan segera memerintahkan tim khusus penjinak bom ke area basemant.
Taupan melempar Karnali sampai keluar jendela lantai tiga. Kaca yang pecah, tubuh Karnali yang melayang segera di sambut kilatan lampu Blitz dan sorotan kamera para wartawan.
Taupan berlari, tujuannya jelas. Basemant.
Perampok yang terjungkal dan menggeliat belum mati Taupan tendang sampai menjebol panel dinding. Di antara sandera yang berhamburan para perampok yang tersisa pun ikut keluar setelah melepaskan jaket tempurnya dan membaur.
Sesampainya di lantai basemant Taupan pendapati Tiga orang polisi diantara belasan yang lain. Polisi-polisi khusus anti teror dan penjinak bom itu sedang mengotak-atik sebuah benda sebesar travo las yang menyala dan berbalut logam warna hitam.
"Mana bomnya?" pekik Taupan.
"Ini! ini sepertinya bom atom generasi baru. Kami tidak pernah menangani bom semacam ini," jawab seorang polisi itu. Tampak jelas ketakutan di matanya.
20:54
Angka hitungan mundur terus berkelip dan berkurang.
Taupan ambil keputusan dan membawa bom itu menuju lift.
"Ayo! Ayo keluar, bom segera meledak!" teriak salah satu polisi yang tadi menangani bom itu pada teman-temannya.
"Bagaimana dengan sandera."
"Itu urusan tim bravo1."
Taupan membawa benda sialan dan berat itu naik lift. Beruntung dulu waktu merampok bank ia pernah naik lift bersama bapaknya yang penasaran sekali ingin mencoba naik lift. Taupan masih ingat, tatapan asing orang-orang di dalam lift pada dirinya dan bapaknya yang mengenakan pakaian ala-ala atlet karate warna hitam plus ikat kepala warna hitam. Ingat ke situ, ia jadi lucu sendiri.
12:06
Detikan waktu tak bisa menunggu. Tapi Taupan masih sempat sempatnya tersenyum bangga. Kali ini pada dirinya sendiri. Setelah sekian lama ia merampok dan membuat takut orang-orang, kini ia akhirnya menjadi pahlawan. Seperti Jamin sering ceritakan. Yah, Jamin suka bercerita tentang ksatria-ksatria berkostum di layar televisi. Dari dulu ia ingin sekali mempunyai televisi.
"Dia kuat Pan, punya kekuatan super, bisa terbang. namanya Superman," bilang Jamin waktu itu.
Setelah agak dewasa akhirnya Taupan sempat juga menyaksikan film Superman. Ternyata benar, Superman bisa terbang dan sangat kuat. Tapi adegan yang sangat Taupan ingat adalah ketika sang Superman menyelamatkan seorang perempuan cantik dan perempuan cantik itu menatap kagum dan mencium sang Superman. Melamun ke situ, Taupan jadi ingat pada perempuan berjas biru yang tergeletak pingsan itu. Taupan ingat itu di lantai tiga. Sekarang ia sudah di lantai 20. Tanpa pikir panjang, Taupan tekan angka 3. Tapi lift sudah terlanjur melesat ke lantai paling atas.
"Pan! Taupan. Di atas ada helikopter yang sudah menunggu dengan tali panjang, nanti kamu tinggal ikatkan saja bom itu ke talinya. dimengerti kan?"
"Pak! masih ada korban di lantai tiga!" bilang Taupan.
"Sudah! sudah clear! Semua sudah aman. Tinggal kamu!"
"Baguslah, ya sudah." Taupan merasa lega.
01:43
Satu menit empat puluh tiga detik lagi bom itu meledak. Taupan sudah sampai di lantai paling atas. Taupan tidak tahu ia kini di lantai berapa. Kemampuan berhitungnya gak sampai tiga angka berderet. Maklum, guru berhitungnya cuma si Jamin yang gak lulus sekolah menengah.
Taupan pun akhirnya menggapai tali itu. Tali besar yang kuat berjuntai warna putih. Selesai mengikat bom ke tali itu, ia tidak turun. Ia malah ikut gelantungan di tali itu bersama sekotak bom.
"Halo!!! Taupan, kenapa kamu ikut! segera turun! hallo!"
Taupan tidak menghiraukan perintah atasannya itu. ia punya rencana sendiri. Ia merasa percuma hidup di kota itu. Orang-orang hanya akan menatap aneh pada dirinya seperti perempuan berjas biru itu yang sampai pingsan melihat kemampuan tubuhnya memperbaiki diri secepat itu.
Taupan menatap ke bawah. Sorak-sorai dan sorotan cahaya jelas tertuju padanya.
Sekian lama ia merampok dan menakuti orang-orang kini ia di soraki seperti Superman. Seperti seorang penyelamat bumi.
Tidak ada perasaan yang lebih membanggakan selain perasaannya di saat ini Taupan rasakan. Mimpinya sudah kesampaian, jadi ia ingin segera sungkem kepada kakeknya. Kakeknya pasti bangga. Juga bapaknya. Bagaimanapun ia merasa banyak menyimpan dendam pada bapaknya itu dan perlu segera minta maaf pada arwah bapaknya.
Satu hal yang pasti, ia bosan merasakan mati. Rasanya sakit sekali.
Pikir Taupan, bom ini pasti sangat dahsyat ledakannya. Jadi pasti tubuhnya hancur lebur dan dia tidak perlu hidup lagi untuk merasakan mati lagi. Mati itu sakit, sangat sakit.
00:08
Taupan melambai pada khalayak yang ramai terus menyorakinya. Senyumannya lebar, hatinya sudah yakin untuk segera bertemu dengan kakek dan bapaknya.
00:01
00:00
TUBBB!!!
Langit malam tiba-tiba terang. seperti matahari terbentuk secara tiba-tiba tiba dan hancur seketika.
BYAARRRR!!!
Tubuh Taupan menjadi satu dengan lingkup reaksi bom yang membentuk bola cahaya sebesar kubah dan turut hancur menyemarakkan malam. Malam hingar seketika dan menyisakan gema asap dan tubuh Taupan yang menjadi debu.
Khalayak terdiam terpesona. Helikopter militer yang membawanya sampai terlontar jauh ke atas dan hampir hilang keseimbangan.
malam kembali gelap. Seperti percikan kembang api yang mulai lenyap. Seperti hati anak-anak yang mulai takut gelap, orang-orang mulai berpelukan dan merasa sedih. Semua terdiam dan tertunduk haru.
Letnan Anwar tidak sadar, kalau setitik air meluncur dari kelopak matanya yang mulai keriput.
up
up