Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?
Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.
Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?
Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.
‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
💥 Jika ada celah diantara dingin dan pekatnya kabut, maka sinar matahari akan datang menghangatkan. Jika ada ruang dalam kebekuan hati, maka cahaya cinta akan mengisinya. Kebekuan hati mampu membunuh besarnya cinta yang tertanam. Seperti dinginnya embun es di dataran tinggi dieng ketika puncak musim kemarau tiba, yang mampu mematikan puluhan hektar tanaman para petani.💥
Seorang gadis mengendarai motor maticnya dengan kecepakan sedang, menyusuri jalan protokol kota Surabaya. Siang yang terik dan jalanan yang cukup ramai membuat gadis itu harus berebut jalan dengan pengemudi yang lain.
Laju motornya melambat ketika memasuki gerbang pintu masuk sebuah perumahan. Setelah melewati jalanan aspal yang panas, kini Ia melewati jalan paving yang tak terlalu lebar. Gadis itu menghentikan kendaraannya didepan garasi sebuah rumah dengan halaman yang luas dan ditumbuhi beberapa pohon buah. Ia turun lalu masuk kedalam rumah yang pintunya dibuka.
“Assalamu’alaikum…..” sapa gadis itu saat melangkahkan kaki memasuki rumah.
“Wa’alaikum salam…..” jawab beberapa orang dari dalam rumah.
Gadis itu berjalan ke arah dapur, dimana ada beberapa orang yang sedang sibuk disana. Beberapa makanan tampak memenuhi lantai dapur yang dialasi tikar lipat. Ada tumpukkan kotak nasi kosong yang telah siap untuk diisi.
“Udah pulang, Sha?” Sapa seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibunya kepada gadis yang baru saja datang ini.
“He’em, tadi pagi kata Bunda, Neesha harus langsung pulang nggak boleh mampir-mampir.” Jawab Aneesha sambil menarik kursi, lantas meletakkan tas ranselnya di lantai kemudian duduk. Meregangkan tangannya yang terasa sedikit lelah.
“Lho, ini kan acaramu. Masa kamu nggak mau bantu?” Canda Riani kepada putri sulungnya itu.
“Ribet banget sih, Nda. Tinggal pesen kan, beres.”
“Nggak bisa gitu dong, Sha. Bunda kan, nggak punya kegiatan selain masak dan ngurus rumah. Kalau acara seperti ini saja harus pesen, Bunda jadi ngerasa tidak ada gunanya.” Riani menutup kalimatnya dengan tersenyum.
“Okelah, aku bantu apa?” Aneesha melepas blezer yang Ia kenakan, menyisakan blouse warna putih berlengan panjang. Gadi berjilbab pashmina warna coklat tua itu bergabung bersama beberapa orang tetangga, yang diminta Riani membantunya memasak beberapa jenis makanan dalam porsi besar.
“Cuci tangan dulu! Bantu Bunda masukin nasi ke kotak,ya!” Aneesha menuruti perintah Ibunya. Segera mencuci tangan dan membantu memasukkan nasi kuning ke dalam kotak yang sudah tersedia.
Hari ini Riani akan mengadakan tasyakuran bersama anak panti asuhan yang Ia kelola. Dalam rangka ulang tahun Aneesha. keluarga ini hampir tidak pernah merayakan pesta ulang tahun. Hanya untuk memperingati hari lahir anak-anaknya, Riani biasa memasak makanan untuk makan bersama anak-anak panti asuhan.
“Jam berapa nanti ke panti, Nda?” tanya Aneesha sambil menata nasi kuning ke dalam kotak.
“Kebetulan ini hari kamis, anak panti banyak yang melaksanakan puasa. Jadi nanti kita habis ashar saja kesana.” Jawab Riani.
“itu yang sudah siap bawa ke mobil, ya, Sha. Biar Pak Salim antar ke kantor Ayah. sebentar lagi jam makan siang, biat nggak telat.” Riani menunjuk tumpukan kotak yang sudah terisi dan tertata rapi.
“Oke, Nda.” Aneesha mengangkat tumpukan kotak, lalu mengangkatnya dengan kedua tangan.
“Saya bantu, ya, Mbak Aneesha.” Siti, asisten rumah tangga Riani menawarkan bantuan kepada Aneesha.
“Oke, Bi Siti”
Dibantu Siti dan pak Salim, Aneesha memasukkan beberapa kotak nasi kedalam mobil. Kotak nasi tersebut akan dibagikan kepada semua karyawan yang bekerja di kantor Ayahnya. Setelah semuanya masuk kedalam mobil, Pak Salim segera menjalankan mobil menuju ke kantor majikannya.
Aneesha baru saja akan masuk kedalam rumah, ketika sebuah mobil yang sangat Ia kenal masuk dan berhenti tepat didepan garasi rumahnya. Ia mengerutkan dahi melihat pengemudi mobil yang telah keluar dari mobil dan berjalan cepat ke arahnya.
“Ayah koq dah pulang? Pak Salim baru aja berangkat nganter nasi.”
“Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu, Sha.” ucapan Fares membuat Aneesha semakin mengerutkan dahi. Raut wajah Ayahnya ini terlihat serius, seperti memang ada yang sangat penting ingin disampaikan.
“Soal apa, Yah?” tepat ketika Aneesha melayangkan pertanyaannya, dua buah mobil memasuki halaman rumah yang pintu gerbangnya tidak tertutup itu. Sebuah sedan warna biru yang serinya baru saja lounching beberapa waktu yang lalu. Yang satu hanya minivan yang sudah cukup familiar berada di jalanan.
Aneesha dan Fares menatap kedua mobil itu. Tiga orang pria berpakaian rapi terlihat keluar dari dalam mobil dan berjalan sambil tersenyum mendekati dua Ayah dan anak yang berdiri di teras rumah.
“Baru mau dibicarakan, mereka sudah datang.” gumam Fares pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh Aneesha yang berdiri disebelahnya.
“Selamat siang, Pak, Mbak. Bisa kami bertemu dengan Mbak Aneesha Pramudhita?” Aneesha tersentak dengan pertanyaan yang diajukan oleh satu orang diantara tiga orang pria didepannya ini. Aneesha menatap Ayahnya yang sedang menggaruk alisnya.
“Saya Aneesha. Ada yang bisa Saya bantu, Pak?” tanya Aneesha penasaran dengan maksud kedatangan tiga orang pria ini.
“Eh, sebaiknya kita masuk dulu. Tidak baik menerima tamu diteras, ya kan Sha?” sebenarnya Fares sudah tahu untuk apa ketiga pria ini datang kerumahnya, tapi Ia juga harus menghormati tamunya, kan?
Tiga orang pria dan dua pemilik rumah telah duduk disofa yang ada diruang tamu milik Fares. Lima cangkir teh dan beberapa camilan telah tersedia di meja. Fares terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Aneesha sudah tidak sabar mengetahui maksud dari kedatangan tiga pria itu.
“Kami langsung saja, ya Mbak Aneesha.” ucap salah seorang diantara tiga pria itu memulai pembicaraan.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Aneesha penasaran.
“Kami dari Sakti Jaya Mobil, mengantar mobil untuk Anda, Mbak. Ini kunci beserta surat-suratnya.” Pria itu menyebutkan nama salah satu showroom mobil terbesar di kota itu.
“Semuanya sudah dibayar lunas dan suratnya juga sudah lengkap. Untuk selanjutnya… bla… bla… bla…” Aneesha hanya menyimak poinnya saja. Penjelasan selanjutnya yang dikatakan oleh pria itu tidak digubrisnya. Ia mulai menatap Fares, dengan sorot mata tajam.
“Silakan tanda tangan bukti serah terimanya, ya, Mbak.” pria tadi menyodorkan sebuah kertas yang sudah berisikan tulisan dan ada kolom tanda tangan disana.
Aneesha bergeming. Menatap kertas itu lalu menatap Ayahnya yang masih terdiam dari tadi.
“Silakan, Mbak.” pria tadi kembali mengingatkan agar Aneesha segera mau menandatangani kertas yang Ia sodorkan di meja. Agar mereka bisa segera menyelesaikan pekerjaannya.
“Tanda tangan aja, Sha. Nanti Ayah jelasin!” Fares mengambil kertas dan pena yang tergeletak di meja. Menyerahkannya pada Aneesha.
“Udah, tanda tangan aja, Sha. Kasihan mereka nunggu.” ucap Fares karena Aneesha tidak juga menerima kertas itu.
Aneesha menghela nafas panjang, mengalah. Dan akhirnya menandatangi kertas itu.
“Terima kasih Mbak Aneesha. Dengan begini urusan Kami disini selesai, semoga bermanfaat ya, Mbak. Terima kasih atas kepercayaannya kepada Sakti Jaya. Kami mohon pamit.” ketiga pria yang menjadi tamu dadakan dirumah Fares itu, bersalaman dengan Fares sebelum meninggalkan ruang tamu.
Fares mengantarkan tamunya sampai di teras rumah. Setelah memastikan tamunya pergi, Fares kembali kedalam rumah.
“Siapa tamunya, Sha?” tanya Riani yang baru saja muncul dari dapur.
“tanya Ayah aja, Nda. Sepertinya Ayah yang paham banget sama tamunya.” jawab Aneesha ketus.
“Mas?” Riani menatap suaminya, karena jawaban ambigu yang Ia terima dari Aneesha.
“sini, kalian duduk dulu. Biar kujelaskan.” Fares menggiring Riani dan Aneesha untuk duduk di sofa.
“Jadi begini…..” Ucap Fares saat ketiganya telah duduk di sofa, Riani dan Aneesha siap menerima penjelasan Fares.
“Tadi pagi Mas Reza datang ke kantor, Dia bilang ingin memberi kado ulang tahun untuk Aneesha.”
“Jadi mobil itu dari Dia?” tanya Aneesha memotong pembicaraan Fares.
Fares mengangguk, “Tadinya Ayah ingin meminta pendapat kalian tentang ini, tapi mas Reza sudah lebih dulu mengirim hadiahnya.”
“Ayah kan, bisa menolaknya!” Cetus Aneesha.
“Iya Mas, harusnya Kamu menolaknya, Dia pikir kita tidak bisa membelikan Aneesha mobil? Dimana letak harga dirimu, Mas?” Riani menimpali, merasa kesal karena Fares tidak menolak pemberian Reza yang menurutnya berlebihan.
“Ri, ini bukan masalah harga diri. Aku juga sudah menolaknya tadi, dan memang benar Kita juga bisa membelikan Aneesha mobil. Bahkan yang lebih mahal dari itu. Tapi mas Reza juga berhak memberikan hadiah untuk anaknya, kan?”
“Tapi itu berlebihan, Mas. Dia bahkan tidak bertanya dulu pada Aneesha.” Riani menyanggah ucapan suaminya.
“Bagaimana mas Reza bisa bertanya pada Aneesha, Ri? Aneesha tidak pernah mau bicara padanya, nomernya saja diblokir sama Aneesha. Bahkan anak kita yang cantik ini mengabaikan setiap panggilan dan pesan Reyfan. Padahal anak itu tidak punya salah apa-apa pada Aneesha.” ucap Fares sambil merangkul Aneesha yang duduk disampingnya. Walau Fares mengatakan kalimat itu dengan nada candaan, tetap saja Aneesha merasa tersindir.
“Benar itu, Nak?” tanya Riani.
Aneesha mengangguk, mengiyakan pertanyaan Riani. Apa yang dikatakan Fares semuanya benar. Ia masih belum bisa berurusan dengan apa saja yang menyangkut Ayah kandungnya itu.
“Aku harus bagaimana Bunda?” lirih Aneesha, menatap Riani dan Fares bergantian.
Riani tidak menjawab, hanya memegang kedua tangan Aneesha lalu merengkuhnya kedalam pelukan.
“Sekarang terserah Kamu, mau Kamu apakan hadiah itu. Saran Ayah, kamu terima saja. Mungkin Papamu merasa kasihan karena tiap hari Kamu berangkat kerja dengan motor.” Fares mengusap lembut punggung Aneesha, gadis itu masih berada dalam pelukan Riani.
“Kalian tidak marah, kalau aku menerimanya?” tanya Aneesha setelah melepas pelukan Riani.
“Tidak masalah buat bunda sayang, Kamu berhak menerima hadiah dari siapapun.” Riani tersenyum, membelai kepala Aneesha yang tertutup jilbab.
“Ayah juga tidak masalah, hal itu tidak akan mengurangi rasa sayangmu pada kami kan?” Fares menatap Aneesha lembut.
Gadis itu tersenyum kemudian memeluk kedua orangtuanya.
“Tidak ada yang lebih besar dari rasa sayangku kepada kalian. Terima kasih, Ayah, Bunda….”
“Ya sudah Bunda mau lanjutin persiapan nasi kotaknya, ya.”
“Neesha bantu, Nda.”
Tepat saat Aneesha hendak melangkah menyusul Ibunya, Fares menerima sebuah panggilan dari ponselnya.
“Assalamu’alaikum, Mas… Iya Aneesha menerimanya.” mendengar Fares mengatakan itu, Aneesha menghentikan langkah. Urung menyusul Ibunya.
Perlahan Ia berbalik, mencuri dengar pembicaraan Fares dengan seseorang ditelepon.
“Pak Reza?” Aneesha bertanya tanpa mengeluarkan suara, hanya mulutnya yang bergerak.
Fares mengangguk, sambil tetap berbicara dengan ponselnya. Aneesha duduk disamping Fares, dengan isyarat tangan dan gerakan mulutnya, Ia meminta Fares memberikan ponselnya.
“Sebentar, Mas. Aneesha mau bicara.” setelah itu Fares memberikan ponselnya pada Aneesha.
“Assalamu’alaikum….” Aneesha menjauh dari Fares, seolah tidak ingin Ayahnya itu mencuri dengar percakapannya.
Fares tersenyum, melihat Aneesha sudah mau berbicara dengan Reza. Apakah itu berarti Aneesha sudah memaafkan Reza?
“Boleh tau alamat kantor Anda?” Aneesha tidak lama berbicara dengan Reza di telepon, setelah menerima jawaban dari pertanyaannya itu, Aneesha menutup sambungan telepon. Kemudian mengembalikan ponsel kepada Ayahnya yang masih duduk disofa ruang tamu.
Aneesha lalu mengambil kunci beserta surat-surat mobil barunya, yang masih tergeletak di meja ruang tamu.
“Bunda, Neesha nggak jadi bantu, ya. Neesha ada urusan.” teriaknya.
“Neesha pergi, Yah.” Aneesha mengambil tangan Fares dan menciumnya. Tanpa menunggu jawaban dari kedua orangtuanya, Aneesha melangkah keluar rumah.
“Mau kemana, Sha?” tanya Fares sebelum Aneesha melewati pintu.
“Coba mobil baru, Ayah mau ikut? Tidak mau ya, sudah.” Aneesha menjawab sendiri pertanyaan yang Ia ajukan. Dan langsung berjalan keluar rumah. Membuat Fares berjalan cepat menyusulnya.
“Mau kemana Aneesha, Mas?” Riani berlari dari dapur karena teriakan Aneesha
“Katanya mau coba mobil baru.” jawab Fares. Keduanya menatap mobil yang yang baru saja keluar dari halaman rumahnya. Lalu saling berpandangan dan mengangkat bahu.
Mungkinkah Aneesha benar-benar sudah memaafkan Reza? Mungkinkah kebekuan hatinya telah mencair dengan kehangatan cinta dari Reza?
.
.
.
Bersambung.....
Sengaja aku up malam, biar rasa penasaran kalian nggak lama.... haha....
Ada yang bisa nebak, Aneesha mau kemana?
Boleh ketik di komen ya. Jangan lupa like dan bintang lima. vote untuk yang punya lebihan poin ya...
Terima kasih.
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊