NovelToon NovelToon
My Crazy Client

My Crazy Client

Status: tamat
Genre:One Night Stand
Popularitas:385.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Christi Hwang

Miranda Starlin, wanita cantik berusia 27 tahun. Dia bekerja sebagai manager marketing di Star Departemen Store. Selain cantik, Miranda juga berkepribadian jujur, pekerja keras dan berani. Selama enam tahun ia berpacaran dengan Dion Lesmana, kekasihnya sejak kuliah. Namun, tiba - tiba saja hubungan mereka putus.

Suatu hari Miranda bertemu dengan George Goldsmith seorang pengusaha tampan dan kaya. Miranda tidak mengetahui bahwa George adalah client dari perusahaan tempat dia bekerja. Karena sebuah kesalapahaman akhirnya mereka harus menikah. Perlahan Miranda mulai membuka hatinya untuk George. Namun, pria itu tidak lagi mempercayai cinta sejati karena sebuah peristiwa di masa lalu. Sanggupkah Miranda merebut hati George ? Akankah mereka saling mencintai dan hidup bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christi Hwang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Selamat membaca . . .

    Sikap kasar George membuat Mira terkejut sekaligus ketakutan. Tatapan pria itu kali ini bukan hanya terlihat garang tetapi juga terlihat mengintimidasi. Perasaan ketakutan yang ada dalam hati Mira sudah berada pada puncaknya.

"Apa yang kau lakukan?" desis Mira ketika George mendekat lalu mengurungnya dengan kedua tangannya." Bukankah aku sudah memberitahumu aku akan bertemu Lisa. Dan bukankah kau juga sudah menyetujui nya? Mengapa jadi begini? Mengapa kau marah - marah?" Bukan saja hanya suara Mira yang bergetar tetapi tubuhnya juga ikut gemetaran. Dia ketakutan. George Goldsmith berubah seperti seekor harimau yang sedang kelaparan yang siap memangsanya.

"Katakan yang sebenarnya, Mira. Mengapa kau baru pulang?" geram George.

Dalam ketakutannya, Mira memaksa otaknya untuk berpikir. Apa yang dikatakannya tadi memang benar. Dia jelas sudah memberi tahu George bahwa dia akan bertemu dengan Lisa. Tetapi...

Ya Tuhan, apakah pria ini tahu bahwa aku bertemu dengan Dion ? gumam Mira dalam hati. Habislah aku!

Ingin rasanya Mira membalas tatapan garang pria itu dengan tatapan tajam penuh kemarahan. Sejak kapan pria ini berhak bersikap posesif padanya ?  Mereka belum resmi menikah, jadi sikap pria itu rasanya terlalu berlebihan, pikir Mira.

 

Alih - alih membalas tatapan pria itu, Mira memilih mendorong pelan tubuh George hingga ia bisa leluasa bergerak dan bernapas. Ia membutuhkan oksigen karena tanpa sadar sedari tadi ia menahan napasnya.

Mira menarik napas panjang lalu menatap George dengan sorot mata bersalah lalu ia berkata, "Setelah pulang dari rumah Lisa, aku bertemu dengan Dion. Dia meneleponku dan meminta bertemu karena ada yang ingin dikatakannya."

"Apa itu?" tanya George cepat, masih dengan tatapan mata yang sama. Tatapan pria itu sama seperti pedang yang menghunus tubuh Mira. Tapi meski begitu, Mira tak dapat mengingkari bahwa pria itu masih saja mempesona karena ketampanannya.

Sebenarnya Mira tidak ingin mengatakan apa yang ia bicarakan dengan Dion. Tetapi kemudian Mira sadar bahwa kejujuran akan membuat suatu hubungan berjalan dengan baik bukan. Dan seharusnya Mira berkata jujur agar keinginannya terwujud. Jadi, tidak perlu ada yang disembunyi - sembunyikan.

"Dia ingin kami kembali bersama." Jawab Mira singkat.

Dalam perjalanan pulangnya dari rumah Lisa, Mira mendapat telepon dari Dion karena ia ingin bertemu dengan Mira dan membicarakan suatu hal. Awalnya Mira menolak ajakan Dion, tetapi pria itu memaksanya. Walau bagaimanapun mereka pernah menjalin asmara cukup lama sehingga rasanya sulit mengabaikan pria itu. Akhirnya Mira menyetujui bertemu dengannya. Bukan karena Mira berharap mereka akan kembali bersama, tetapi lebih kepada Mira menghargai pria itu. Sama sekali tidak ada keinginan lagi di hati Mira untuk rujuk dengan Dion.

Alis George tertaut membuat wajahnya semakin menyeramkan. Tampan dalam keseraman. "Lalu, apa kau menerimanya?"

"Oh Tentu saja tidak, George. Kami tidak mungkin lagi bersama karena keadaan." kata Mira tegas.

"Apa kau masih mencintainya?" Pertanyaan itu entah mengapa terlontar dengan mudahnya dari mulut George.

Pertanyaan pria itu menyentak hati Mira.Masih mencintainya ? Dia memang mencintai pria itu. Tapi itu dulu. Sekarang ia tidak mencintai Dion lagi karena hatinya sudah diisi oleh seorang pria dingin nan angkuh.

"Tidak." jawab Mira singkat.

"Benarkah?" Mata George menyipit.

Mira memutar bola matanya. "Tentu saja itu benar. George." ucap Mira lambat - lambat. "Kau membuatku penasaran tentang satu hal." sambungnya lagi. "Apa kau cemburu ?" tanya Mira panasaran.

George membuka mulutnya, sedikit terkejut dengan pertanyaan wanita itu. "Cemburu ? Aku cemburu ? Jangan mimpi! Aku hanya ingin kau tidak melanggar kontrak pernikahan kita." George menjelaskan.

Mira mengamati pria itu. Raut wajahnya terlihat berubah. Tetapi Mira tidak yakin apakah itu menunjukan bahwa dia berbohong, bahwa sebenarnya ia sudah merasakan perasaan cemburu karena mungkin George sudah menyukainya. Terlalu dini mengambil kesimpulan seperti itu, pikir Mira.

"Tenang saja! Tidak sekalipun aku berpikir untuk melakukannya," kata Mira sungguh - sungguh.

"Bagus." Suara George terdengar seperti ia bersyukur dengan jawaban Mira.

Mira berjalan ke arah ruang tamu. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja dan mengambil posisi duduk menghadap George yang masih setia berdiri.

Ketika mata Mira kembali bertemu dengan Mata Geroge, ia berkata, "Jika sudah tidak ada yang ingin kau katakan, pergilah dari sini. Aku lelah dan butuh istirahat."

"Apa kau mengusirku?"

Mira menghela napas panjang lalu menjawab, "Tidak. Aku bukan mengusirmu, tapi aku memintamu, please."

George bergeming. Pria itu memandang Mira dengan sorot  sulit ditebak.  Beberapa detik kemudian George tertawa terbahak - bahak. "Hahahahahaaa...Asal kau tahu kau tidak berhak meminta apa - apa dariku, Miranda Starlin."

Miranda terperangah. Ia tidak menduga bahwa George Goldsmith akan berkata seperti itu karena jujur saja ia tidak mengerti apanya yang lucu dari permintaannya tadi. Bahkan permintaan itu tidak sulit dilakukan bukan. Dia hanya perlu pergi dari apartemen bukan pergi dari kehidupan Mira.

Mira mengalihkan pandangannya dari George. "Baiklah. terserah kau saja!" Ia sudah tak bertenaga menghadapi sikap George yang membingungkan. Terkadang ia baik tapi terkadang ia kasar.

"Besok aku akan bertemu dengan kedua orang tuamu dan kita akan bertunangan. Setelah itu, malam harinya kita berangkat ke New York."

Lagi - lagi Mira terkejut. Semua terlalu cepat, menurutnya, terutama pada bagian berangkat ke New York. "Besok ? Kenapa harus besok ? Itu terlalu cepat." protes Mira.

"Apa kau bodoh ? Tentu saja harus cepat karena urusanku bukan hanya ini saja. Asal kau tahu, sebagai CEO Goldsmith Company urusan pekerjaanku sangat banyak. Jika aku tidak memanfaatkan waktu dengan baik, tidak mungkin aku sesukses ini." kata George menyombongkan diri.

Mira memandang George. Wajahnya kini terlihat angkuh. Dan cara pria itu memandangnya membuat Mira sadar bahwa apapun itu harus dilakukan berdasarkan rencana dan keinginan pria itu. Mira tidak tahan lagi dengan situasi ini. Dia terlalu lelah untuk meladeni pria itu.

Tindakan paling mudah untuk menyelesaikan pembicaraan ini adalah dengan menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujui. Jadi Mira melakukannya.

Bersikap sopan itu sebuah keharusan. Apalagi jika ada yang bertamu di rumahmu.

 George adalah tamu Mira. Memang seharusnya ia menemani pria itu lebih lama, paling tidak setelah ibunya pulang sehingga pria itu pun bisa kembali ke hotel. Tapi demi Tuhan, rasa lelah telah menyelimuti nya sekarang. Ia butuh istirahat.

 Mira berdiri dan mengambil tas kerjanya yang berada di atas meja. "Kalau begitu permisi. Aku akan ke kamar sebentar."

 Tanpa menunggu respon dari George, Mira segera melangkahkan kakinya ke kamar lalu membanting pintu.

Di kamar, Mira melempar tas kerjanya dan tubuhnya sendiri di atas ranjang, gembira karena bisa segera beristirahat meski tentu saja, badannya masih bau karena dia belum mandi.

Sebelum masuk ke dunia mimpi, pikiran tentang perkataan George soal bertunangan dan langsung ke New York besok kembali mengisi otaknya.

Tetapi bukankah ia sudah kehilangan hak membantah semenjak ia bertemu dengan George Goldsmith ? Karena itu ia harus selalu siap untuk mengikuti rencana pria itu, demikian Mira memutuskan.

Seiring dengan pikiran yang kacau dan rasa lelah yang dialaminya, Mira segera memejamkan mata dan langsung tertidur.

.

.

.

.

.

.

.

🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

1
Virgo Girl
🙏🙏
mama De
cerita yg ringan jalan cerita Diengerti TDK byk Tipo Aku suka 💗💗💗💗
Maya Zivana
thanks Thor ❤️
Maya Zivana
sadis ih George 🤦
Maya Zivana
seru nich🤗
nobita
terima aja lamarannya ... dia pria baik baik... klo kamu gk mau Mira... kasihkan aja ke aku... aku bakal Terima dg senang hati... eaaa
nobita
aku mampir kak...
Febri Ana
lanjuuttt
Yuriko Hime
Dari awal sampai akhir..ceritanya smooth..gak bertele-tele..jadinya langsung cusss.. maraton bacanya..sampai kelupaan ninggalin jejak..maapin Yee Thooor..
Salut buat Author..semoga selalu semangat buat cerita yang bagus lainnya 😁😁👍👍
Yuriko Hime
cerita nya bagus..gak bertele-tele..juga gak nanggung..gak ada bagian yg bikin kecewa..salut ma Author 😁👍👍👍
Yuriko Hime
neng Mira..hrsnya pebinor jangan d kasih kendor..😥😥
Yuriko Hime
gempur aja neng Mira bang George..tunjukkan Srikandi Indo pantang mundur 😁😁
Yuriko Hime
maapin ye Thooor.. reader mu yg satu ini masih menyamankan diri jadi blm ninggalin jejak ape-ape d kolom komen 😁🙏
Asyatun 1
keren
Tut Eny
lanjut
yuriansyah
sampe bab ini, ceritanya bagus, gak berbelit², aq baru baca di Desember 2022🤭🤭
🌷Mita Sari 🌷
mampir thor.. salam kenal.. 😊😊
Muh Kamal
hm... menarik
Sintia Dewi
owhhh sweet bgt, nah gtu dong samA2 pernah di hianati.kan tau sakiynya makin kompak ya klean
Sintia Dewi
mira udh gk barbar quiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!