Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana
Salah sambung hingga berakhir pacaran. Sepasang kekasih yang sudah siap menikah harus kandas karena sebuah kecelakaan.
Restu terlepas, seorang anak harus berbakti pada orangtuanya dengan menikahi wanita pilihan mereka.
Bertemu kembali dengan status berbeda, dengan harapan ingin kembali dengan cinta lama.
"Aku tidak ingin menikahi bekas orang!" kalimat penegasan keluar dari bibir seorang mantan.
Strategi meraih mantan tercinta hingga berujung pada sebuah pernikahan.
Perjuangan mendapatkan cinta kembali dari sang mantan hingga air mata menjadi saksi bisu.
Inilah kisah Terpaksa Menikahi Mantan yang penuh dengan tawa dan air mata.
Lanjutan novel ini 👉🏻 Sang Penakluk Playboy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara bahagia dan kecewa
Selama di Singapore Raka selalu berusaha menghubungi Melisa, tapi tetap saja nomor Melisa tidak aktif. Ingin rasanya Raka pulang secepatnya ke tanah air, tapi situasinya sekarang mendesak Raka untuk membiarkan rindu di hatinya bertahan sedikit lama lagi.
Raka berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari jadwal seharusnya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya ia berencana membeli beberapa oleh-oleh untuk orangtuanya dan juga Melisa.
Raka akhirnya bisa tersenyum kembali karena rindunya akan segera tercurahkan setelah ia sampai di tanah air.
Begitu sampai di tanah air, Raka langsung meminta supir untuk mengantarnya ke asrama Melisa.
-----
Di rumah sakit, Melisa merasa kondisinya sudah membaik, tapi ia masih terbaring di atas bangkar dan belum bisa bergerak seperti biasanya.
"Siska!" panggil Melisa menoleh ke arah Siska.
"Iya ada apa Lisa?" tanga Siska menghampiri Melisa.
"Kamu tau dimana ponsel aku?" tanya Melisa dengan serius.
"Oh ponsel kamu? Ponsel kamu tu udah rusak, kenapa? Apa kamu mau hubungi seseorang?" tanya Siska dengan serius.
"Iya. Boleh aku pinjam ponsel kamu?" pinta Melisa penuh harapan.
"Oh tentu!" Siska langsung mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Lo mau hubungi siapa?" tanya Siska penasaran sembari menyerahkan ponsel pada Melisa.
"Mau hubungi Mas Irsyad" sahut Melisa tersenyum sembari mengambil ponsel Siska dan dengan segera ia menghubungi Raka.
Raka yang hendak turun menemui Melisa di asramanya, tiba-tiba terhentikan dengan suara ponselnya.
Drrrttt...drrrt...
Raka merogoh sakunya dan mengernyit keningnya saat melihat panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullah"
"Mas Irsyad" lirih Melisa tersenyum bahagia saat mendengar suara Raka.
"Melisa? Sayang dimana? Aku sangat rindu denganmu? Sudah seminggu aku menghubungimu tapi nomor sayang malah gak aktif dan sekarang aku lagi di depan asramamu" cerocos Raka penuh dengan kebahagian bercampur dengan rasa khawatirnya.
"Aku sekarang di rumah sakit" sahut Melisa dengan suaranya yang masih lemas.
"Apa? Sayang di rumah sakit? Sayang sakit apa dan di rumah sakit mana?" cerocos Raka penuh kekhawatiran.
"Aku baru saja accident dan sekarang aku di rawat di rumah sakit Jakarta Medika" ucap Melisa.
"Astagfirullah ya Allah, kamu tunggu aku, aku akan segera kesana" ucap Raka panik.
"Iya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullah"
Raka kembali masuk ke dalam mobilnya dan kini ia menuju ke rumah sakit.
Melisa tersenyum akhirnya ia bisa melepaskan rindunya.
"Ini aku kembalikan ponselmu" ucap Melisa menyerahkan kembali ponsel Siska.
Siska mengambil ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
"Senang banget ni yang mau dibesuk pacarnya" celetuk Siska saat melihat Melisa tersenyum bahagia.
"Gak juga. Cuma aku kangen aja sama dia" sahut Melisa tersenyum bahagia.
Tok..tok..
"Assalamualaikum" ucap Raka sembari masuk.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" ucap Melisa dan Siska.
"Sayang!" Raka dengan bunga di tangannya langsung berlari menghampiri Melisa.
"Aku disini, gak perlu lari" sahut Melisa tersenyum bahagia.
"Sayang! Gimana kondisimu? Apa masih sakit atau apa?" tanya Raka khawatir saat melihat tangannya melisa masih terpasang infus.
"Alhamdulillah aku sudah membaik, tapi aku sangat bosan di rumah sakit" keluh Melisa melas.
"Kenapa kita gak jalan-jalan saja pakai kursi roda?" tanya Raka menatap Melisa dengan serius.
"Tapi aku gak tau dokter mengizinkannya atau tidak" lirih Melisa melas.
"Biar aku tanyakan sama dokter. Oh ya ini untukmu" ucap Raka menyerahkan bunga untuk Melisa.
"Mawar merah lagi? Tapi aku gak bisa makan bunga" celetoh Melisa sembari tersenyum.
"Kalau gitu bawa sini bunga, biar aku kasih ke Siska" ucap Raka hendak mengambil kembali bunganya.
"Wah pas kali ini. Sini bunganya" sahut Siska menengadah tangannya.
"Eh jangan! Ini punya aku" sahut Melisa menggenggam erat bunganya.
"Tadi katanya gak bisa di makan" ucap Raka menyeringai.
"Tadi aku cuma bercanda doang pun" celoteh Melisa.
"Dasar manja, giliran ada pacar langsung cari perhatian" celetuk Siska menyeringai.
"Biarin" sahut Melisa menyungging bibirnya.
"Oh ya, selain bunga aku juga bawa hadiah untuk kamu" ucap Raka mengambil kotak perhiasan di sakunya dan menyerahkan kepada Melisa.
"Apa ini?" tanya Melisa bingung.
"Sini aku bukain" Raka mengambil kembali kotak perhiasannya lalu membukanya.
"Gelang? Ya Allah thank you banget" ucap Melisa tersenyum haru.
Raka tersenyum sembari mengambil gelangnya dan memakaikannya di lengan Melisa.
"Kamu suka?" tanya Raka dengan lembut.
"Suka banget. Cantik sekali" ucap Melisa tersenyum bahagia saat melihat gelang berlian yang begitu cantik di tangannya.
"Enak banget yang punya pacar, sehat di kasih cincin, sakit di kasih gelang" celetuk Siska.
"Yang sabar ya! Ini cobaan" sahut Raka menyeringai.
"Kalian ini ah! Mending gue keluar" sahut Siska beranjak pergi.
"Kalau keluar tolong panggilkan dokter ya!" titah Raka menatap Siska.
"Iya iya" sahut Siska pergi meninggalkan mereka.
Sesaat kemudian dokter datang menghampiri Raka dan Melisa.
"Ada apa? Apa ada keluhan lagi Lisa?" tanya dokter khawatir.
"Gak dok, cuma saya sudah bosan terus berbaring di sini, apa saya boleh jalan-jalan dengan menggunakan kursi roda?" tanya Melisa penuh harapan.
"Oh tentu!" ucap dokter menganggukkan kepalanya.
"Sus! Tolong ambilkan kursi roda" titah dokter dengan lembut.
"Baik dok" suster tersebut langsung mengambil kursi roda untuk Melisa.
"Ayo Lisa! Biar saya bantu" ucap suster dengan lembut.
Melisa tersenyum dan hendak menggerakkan kakinya.
"Dok! Kenapa kaki saya tidak bisa di gerakan?" tanya Melisa bingung.
"Coba saya periksa" ucap dokter langsung memeriksa kaki Melisa.
Setelah melakukan beberapa pengecekkan terhadap kaki Melisa, dokter mengernyitkan keningnya.
"Ada apa dok dengan kaki saya?" tanya Melisa penasaran.
"Kakimu mengalami kelumpuhan sementara, dan ini disebabkan oleh benturan di kepalamu" jelas dokter dengan serius.
"Astagfirullahal 'adzim ya Allah, bagaimana ini bisa terjadi?" ucap Melisa terisak tangis.
"Lisa jangan khawatir, ini hanya bersifat sementara dan kita doakan sebelum setahun kakimu sudah bisa kembali seperti semula" jelas dokter menyemangati Melisa.
"Sayang! Kamu dengar apa yang dikatakan dokter? Ini cuma sementara dan gak akan berlangsung lama kok" ucap Raka memberi semangat.
"Assalamualaikum" ucap Reno sembari masuk.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" ucap mereka semua.
"Ada apa ini? Kenapa kamu menangis Lisa?" tanya Reno bingung saat melihat pipi Melisa basah dengan air mata.
"Gak apa-apa kok kak" sahut Melisa menundukkan kepalanya.
"Dok! Apa yang terjadi?" tanya Reno penasaran.
"Kaki Melisa mengalami kelumpuhan, dan bapak gak usah khawatir karena itu cuma bersifat sementara, kita hanya perlu mendoakan saja semoga tidak sampai sampai setahun Melisa bisa jalan kembali" jelas dokter dengan lembut.
"Ya Allah, Melisa! Berat sekali ujianmu" batin Reno pilu.
"Saya permisi dulu ya!" ucap Dokter beranjak pergi.
eeeehh..... keturunannya jg sangat menjijik kan. pura2 polos padahal memang berhianat dngn menikah dngn wanita lain