NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Pembuktian

"Tolong... buka pintunya, Pak..." suara Naya mencicit pasrah. Punggungnya makin merapat pada dinding porselen dingin di belakangnya, tak punya ruang lagi untuk menghindar. Matanya memerah, menahan gelombang air mata yang siap luruh kapan saja.

Ibra tak bergeming. Pria itu berdiri kaku, menatap wajah Naya yang pucat pasi dengan pancaran mata yang amat dalam. Tidak ada amarah di sana, hanya ada rasa cemas dan keputusasaan yang meluap-luap.

"Janji sama saya, kamu jangan lari lagi," ucap Ibra dengan suara bariton yang sangat pelan, lembut, namun menyimpan penekanan yang tak bisa dibantah. "Satu bulan... sejak malam itu. Kamu selalu kelihatan ketakutan tiap kali ada saya di dekat kamu."

Naya menggeleng pelan, mencoba mempertahankan sisa-sisa alibinya. "Enggak... Itu bukan, maksudnya enggak. B-bapak salah. Ak-saya c-cuma stres... lambung saya lagi rewel karena kerjaan, saya cuma kecapekan..."

"Kalau begitu, bantu saya buat membuktikan," potong Ibra lembut. Pria itu menundukkan sedikit tubuhnya, menyatukan pandangannya lurus ke dalam manik mata Naya yang bergetar, sekali lagi.

Naya tertegun, napasnya tercekat mendapati perubahan nada suara Ibra yang mendadak begitu hangat namun menusuk langsung ke dadanya.

"Beli testpack nanti sore pas pulang kantor, Naya," bisik Ibra lirih. Tatapan matanya yang tegas kini berganti memancarkan rasa bersalah yang amat dalam. "Buktikan sama saya, kalau semua ketakutan saya salah. Buktikan kalau kamu memang cuma masuk angin seperti yang kamu bilang."

Naya meremas ujung kemejanya erat-erat. "Pak... saya takut..."

Ibra paham, ia mengangguk. "Iya, saya mengerti. Tapi tolong, jangan hadapi semuanya sendirian," potong Ibra cepat, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.

Pria itu menatap Naya penuh permohonan. "Saya andil dalam membuat kamu ada di situasi sulit ini. Kalau memang ketakutan saya benar... saya enggak akan pernah lari, Naya. Saya bakal tanggung jawab atas segalanya. Atas kamu, dan atas apa pun yang ada di dalam sana."

Naya menundukkan wajahnya. Jemarinya semakin mempererat cengkeramannya ujung kemeja. Naya ingin mengatakan bahwa ia tidak meminta pertanggungjawaban apa pun. Ia bahkan belum sanggup menerima kenyataan yang sedang mereka bicarakan. Namun tenggorokannya terasa terlalu tercekat untuk mengeluarkan satu kata pun.

"Ingat kata-kata saya hari itu? Saya enggak akan pernah ingkar, tentang ucapan saya, dan janji-janji saya yang mungkin terdengar omong kosong."

Kata-kata Ibra menghantam dada Naya begitu keras. Kata 'tanggung jawab' terasa begitu berat, memicu rasa sesak yang luar biasa di dalam dadanya. Ia teringat akan kali pertama Ibra mengatakannya. Di depan sungai kala itu.

Ibra menghela napas panjang, memberikan jarak agar Naya bisa bernapas lebih lega.

"Beli sore ini, ya? Besok pagi, tolong kasih tahu saya hasilnya," ucap Ibra pelan namun pasti. "Apapun. Dan kalau bisa, jangan abaikan semua pesan saya lagi."

Tanpa menunggu jawaban Naya yang masih mematung karena syok, Ibra memutar selot kunci, membuka pintu toilet perlahan, dan melangkah keluar lebih dulu, memberikan Naya waktu untuk menenangkan dirinya yang gemetaran sendirian.

***

Naya meminggirkan sepeda motornya di pelataran sebuah apotek 24 jam yang cukup jauh dari area perkantoran maupun rumahnya. Langkah kakinya terasa begitu berat dan kaku. Dengan balutan hoodie kebesaran, topi yang ditarik rendah, serta masker kain yang menutup separuh wajahnya, Naya melangkah masuk seraya menundukkan kepala dalam-dalam.

Suara bel di atas pintu apotek membuat jantungnya melonjak kaget. Udara berpendingin ruangan di dalam apotek seketika menyapu kulitnya yang berpeluh dingin.

"Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa dibantu?" tawar seorang apoteker wanita berseragam putih dari balik konter kasir.

Naya meremas kedua ujung lengan hoodie-nya erat-erat, merapatkan posisinya ke konter agar suaranya tidak terdengar oleh pembeli lain.

"Mmm... Mbak, mau beli... testpack," bisik Naya amat pelan, hampir tenggelam oleh suara embusan AC.

Apoteker itu tersenyum maklum, mengangguk pelan tanpa penghakiman. "Baik, Mbak. Mau yang jenis apa? Ada yang bentuk celup biasa, compact atau stik, atau yang digital?"

Naya terpaku. Kepala dan dadanya yang sedari tadi bergemuruh makin terasa pening mendengarkan pilihan-pilihan itu. Ia sama sekali tidak paham perbedaannya, tidak pernah membayangkan dalam hidupnya akan berdiri di sini untuk membeli benda tersebut.

"S-saya enggak tahu, Mbak... Soalnya ini titipan," sahut Naya terbata-bata, terpaksa berbohong untuk menutupi rasa gugupnya yang sudah berada di ambang batas. "Boleh... boleh dikasih semuanya aja enggak? Yang beda-beda merk sama jenisnya."

Apoteker itu mengedip heran sejenak, namun tetap menuruti permintaan Naya dengan cekatan. Beberapa bungkus testpack dari berbagai bentuk dan merk ditata di atas meja kasir, lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam yang tidak tembus pandang.

Naya menyerahkan beberapa lembar uang kertas dengan tangan gemetaran, mengambil kantong plastik itu secepat kilat, dan bergumam pelan, "Terima kasih, Mbak."

Tanpa menunggu uang kembalian yang belum sempat diserahkan penuh, Naya berbalik cepat dan setengah berlari keluar dari apotek.

Di atas sepeda motornya yang terparkir di bawah remang lampu jalan, Naya memeluk erat kantong plastik hitam itu di atas pangkuannya. Di balik masker yang menutup wajahnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, basah dan hangat menyapu pipinya yang pucat.

Kata-kata Ibra di dalam toilet kantor tadi kembali berputar nyaring di kenyataan--menagih pembuktian atas ketakutan terbesarnya yang kini hanya berjarak beberapa jam dari kenyataan.

Naya menatap kantong plastik hitam itu lama. Benda kecil di dalamnya terasa jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah ia bawa pulang.

Sore ini ia masih bisa berpura-pura bahwa semuanya belum pasti. Namun segera, ia tahu, tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Di sudut lain, ruangan engineering yang mulai sepi terasa makin mencekik bagi Ibra. Sejak Naya pergi siang tadi, tidak ada satu pesan pun yang masuk dari gadis itu. Tidak ada kabar apakah ia sudah membeli testpack, sudah sampai rumah, atau bahkan baik-baik saja.

Denting jarum jam yang berdetak konstan ke angka enam sore tak ubahnya seperti ketukan bom waktu yang kian bergemuruh di dalam kepalanya.

Di depannya, Dion masih sibuk mengoreksi kalkulasi pembebanan di lembar analisis struktur, sementara Nadya terus berkutat menyelesaikan gambar detail cetak biru di software drafting-nya. Suara denting kibor dan geseran mouse mereka berdua bertolak belakang dengan Ibra yang duduk membatu di balik layarnya.

Dengung samar suara kipas pendingin komputer dan ketukan kibor meredup, tergantikan oleh gemuruh ketakutan luar biasa yang mencengkeram dadanya.

Pikirannya sepenuhnya tertahan di dalam toilet dua jam yang lalu.

Membayangkan raut pucat pasi Naya, matanya yang berkaca-kaca menahan panik, serta gemetar di tubuh gadis itu saat disudutkan... Ibra meremas jemarinya di bawah meja. Rasa bersalah yang teramat pekat menggerogoti ulu hatinya tanpa ampun.

Naya lagi di mana sekarang? Apa dia benar-benar pergi ke apotek? Bagaimana kalau dia pingsan di jalan karena terlalu syok?

Ibra bahkan sempat membuka ruang obrolan mereka, mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya lagi. Ia ingin bertanya apakah Naya sudah sampai rumah, tetapi takut pesannya justru membuat gadis itu semakin tertekan.

Setiap kali layar ponselnya menyala di samping kibor, jantung Ibra berdegup kencang, melompat liar menduga ada satu pesan dari Naya. Namun, begitu nama yang tertera hanyalah grup percakapan kantor atau notifikasi sistem, rasa kecewa dan sesak bergulung-gulung menghantam dadanya kembali.

Ibra memijat pangkal hidungnya yang berdenyut pening, memejamkan mata erat-erat di balik keremangan ruang kerjanya. Napasnya berat dan patah-patah. Ketidakpastian ini menyiksanya jauh lebih mengerikan dari apa pun. Hari esok terasa begitu jauh, dan menunggu kepastian dari Naya malam ini terasa begitu berat.

Dion menghentikan jemarinya di atas keyboard seusai memasukkan variabel analisis beban struktur terakhirnya. Ia melirik Nadya yang juga baru saja menyimpan berkas revisi drafting gambar tekniknya.

Keduanya lalu saling pandang, saling melemparkan kening berkerut tanpa suara.

Dion sebenarnya sudah beberapa kali ingin bertanya sejak siang tadi. Namun melihat Ibra yang bahkan nyaris tidak menyentuh pekerjaannya, ia memilih menahan diri. Baru sekarang, ketika pekerjaan mereka hampir selesai, rasa penasarannya mulai tidak tertahankan.

Lead engineer mereka itu sama sekali tidak seperti Ibra yang biasanya. Pria itu tampak memikul beban hidup, seperti seorang pelaku kejahatan yang sedang menunggu vonis dari hakim. Aura tegang dan cemas yang memancar dari mejanya membuat suasana sekitar ikut terasa serba salah.

Dion menyenggol lengan Nadya pelan, mencoba memecah keheningan yang serasa makin pekat.

"Nad," bisik Dion dengan nada dibuat-buat sok serius, "lo merasa struktur bangunan kantor kita miring satu derajat kagak? Soalnya dari tadi aura di sebelah kanan gue kok rasanya kayak mau rubuh, ya?"

Nadya menahan tawa, ikut menyahut pelan seraya merapikan berkas drafting-nya. "Miring sih enggak, Yon. Tapi kalau beban hidup di ruangan ini dihitung pakai kalkulasi struktur lo, kayaknya udah overload dari jam empat atau lima sore tadi."

"Nah! Makanya itu. Oi Ibra," panggil Dion. "Muka lo jangan di tekuk banget, jelek." Nadya tertawa mendengarnya, namun berhenti.

Melihat reaksi Ibra yang dingin dan hening seperti patung, Dion meringis canggung lalu bertukar tatap lagi dengan Nadya, menyadari bahwa leader mereka malam ini benar-benar tidak sedang berada dalam mode untuk diajak bercanda.

"Ibra setelan awal mode on." Bisik keduanya.

Ibra sama sekali tidak menanggapi. Tatapannya masih tertuju pada layar komputer yang sejak tadi bahkan tidak benar-benar ia baca.

1
Agus Tina
Sebenarnya bukan hamya salah Ibra, mereka berdua korban dr keadaan, walaupin sebenarnya bisa dicegah
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!