“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sudah satu minggu sejak Tiara meninggalkan rumah Haikal.
Namun, waktu ternyata tidak serta-merta menyembuhkan luka.
Setiap pagi, ketika membuka mata di kamar sederhana milik bibinya, Tiara masih sempat berharap semua kejadian yang dialaminya hanyalah mimpi buruk. Ia berharap ketika menutup mata dan membukanya kembali, dirinya akan berada di rumah Haikal sebagai seorang istri yang dicintai.
Sayangnya, kenyataan selalu datang lebih kejam daripada mimpi.
Haikal sudah memilih jalan hidupnya.
Dan Tiara memilih pergi.
Sejak kepindahannya, kabar mengenai Haikal dan Intan semakin santer terdengar. Bahkan beberapa tetangga sempat membicarakan bahwa pernikahan mereka akan segera dilangsungkan.
Bukan hanya itu.
Haikal dan keluarganya juga sudah pindah dari rumah lama yang dahulu ditempati Tiara.
Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Rumah tempat Tiara pernah menunggu Haikal pulang kerja.
Rumah tempat ia memasak makanan kesukaan suaminya.
Rumah tempat ia menangis diam-diam setiap kali mendengar perkataan Rumi yang menyakitkan.
Kini rumah itu kosong.
Haikal bahkan menyewakannya kepada orang lain.
Seolah-olah rumah tersebut adalah sesuatu yang ingin segera dilupakannya.
Seolah rumah itu penuh dengan kenangan buruk yang tidak ingin lagi ia lihat.
Tiara mengetahui semuanya dari percakapan tetangga yang sampai ke telinganya.
Anehnya, kali ini ia tidak menangis.
Mungkin karena air matanya sudah terlalu sering jatuh selama bertahun-tahun.
Atau mungkin karena perlahan-lahan hatinya mulai menerima bahwa pernikahannya memang sudah berakhir.
Sore itu, Tiara duduk termenung di ruang tengah rumah bibinya.
Tatapannya kosong menatap halaman.
Sinta, bibinya, keluar dari dapur sambil membawa nampan.
Ia meletakkan secangkir teh hangat dan sepiring kue di hadapan Tiara.
“Makan ini.”
Tiara mengangkat wajah.
“Bi?”
“Jangan terus memikirkan pria itu.”
Sinta duduk di sampingnya.
“Kau harus mulai menata hidupmu. Segera. Kau masih muda, Tiara. Perjalananmu masih panjang.”
Tiara menunduk.
“Tapi, Bi, aku bingung.”
“Bingung apa?”
“Aku mau mencari pekerjaan apa?”
Sinta menghela napas pelan.
“Kenapa bingung? Kau punya banyak kenalan bos besar.”
Tiara tersenyum hambar.
“Kenalan belum tentu mau menerimaku bekerja.”
“Belum tentu?”
Sinta mengangkat alis.
“Coba tanyakan pada mantan bosmu, Pak Permana.”
Nama itu membuat Tiara terdiam.
Permana.
Mantan atasannya.
Pria yang selama ini selalu memperlakukannya dengan baik.
Pria yang bahkan pernah membelanya ketika Haikal memperlakukannya dengan tidak adil.
“Pak Permana?” ulang Tiara.
“Iya.”
Sinta mengambil sepotong kue.
“Dia pria baik. Kalau kau meminta bantuan pekerjaan, aku yakin dia akan membantumu.”
Tiara menggigit bibir bawahnya.
Ia memang pernah bekerja di perusahaan Permana.
Dan selama bekerja di sana, Permana tidak pernah sekalipun merendahkannya karena status ataupun penampilannya.
Justru sebaliknya.
Pria itu selalu menghargai kemampuan Tiara.
“Aku akan mencoba menghubunginya,” kata Tiara akhirnya.
“Nah, begitu dong.”
Sinta tersenyum lega.
Namun tiba-tiba ekspresi bibinya berubah menjadi penuh rasa ingin tahu.
“Tiara.”
“Hmm?”
“Bibi mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Pak Permana itu sudah menikah?”
Tiara terdiam sesaat.
Lalu menggeleng.
“Dia duda.”
Mata Sinta langsung membesar.
“Duda?”
“Iya.”
“Punya anak?”
“Tidak.”
Sinta semakin tertarik.
“Kenapa bisa cerai?”
“Bukan cerai.”
Tiara menggeleng pelan.
“Istrinya meninggal karena sakit. Itu sudah lama sekali.”
“Lalu dia menikah lagi?”
“Tidak.”
“Serius?”
Tiara mengangguk.
“Setahuku, sampai sekarang Pak Permana tidak menikah lagi.”
Sinta terdiam beberapa saat.
Kemudian senyumnya berubah aneh.
“Wah…”
Tiara mengernyit.
“Kenapa, Bi?”
“Dia pria setia.”
Tiara hanya terkekeh kecil.
“Bibi mulai aneh.”
Sinta menatap keponakannya dengan mata berbinar.
“Andai kau dan dia berjodoh…”
“Bibi!”
Tiara langsung tertawa.
“Senangnya hati Bibi ini,” lanjut Sinta tanpa merasa bersalah.
“Jangan berandai-andai terlalu tinggi.”
“Kenapa?”
“Dia dan aku sangat berbeda.”
Tiara memandang cangkir teh di tangannya.
Senyumnya perlahan menghilang.
“Dia burung di langit.”
Ia menarik napas.
“Aku hanya seekor semut yang merayap di tanah gersang.”
Sinta menatap Tiara dalam-dalam.
“Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri seperti itu.”
Tiara terdiam.
“Pria kaya bukan berarti tidak boleh mencintai wanita biasa.”
“Bukan begitu, Bi.”
“Lalu?”
Tiara menggeleng.
“Aku hanya merasa… setelah semua yang terjadi, aku tidak ingin berharap pada siapa pun lagi.”
Sinta menghela napas.
“Kau terluka karena satu pria. Jangan sampai kesalahan Haikal membuatmu menganggap semua pria sama.”
Tiara tidak menjawab.
Di dalam hati, ia memang tidak ingin memikirkan pernikahan lagi.
Untuk sekarang, ia hanya ingin berdiri di atas kakinya sendiri.
Ia ingin memiliki pekerjaan.
Penghasilan.
Kehidupan yang tidak bergantung pada seorang suami.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya masih mampu hidup meski Haikal sudah membuangnya.
Tiba-tiba ponsel Tiara yang tergeletak di atas meja bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Tiara mengambil ponselnya.
Matanya langsung membesar ketika melihat nama pengirimnya.
Pak Permana.
Tangannya mendadak kaku.
Sinta yang duduk di sebelahnya ikut melirik.
“Buka.”
“Bibi…”
“Buka saja.”
Tiara menarik napas panjang sebelum membuka pesan itu.
Hanya ada satu kalimat.
Tiara, besok datanglah ke kantor. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan denganmu.
Jantung Tiara berdetak lebih cepat.
Sesuatu?
Apa maksudnya?
Apakah Permana memiliki pekerjaan untuknya?
Atau ada hal lain yang ingin dibicarakan pria itu?
Belum sempat Tiara membalas pesan tersebut, sebuah pesan kedua masuk.
Kali ini membuat wajah Tiara seketika berubah.
Dan tolong datang sendiri. Jangan beri tahu siapa pun tentang pertemuan kita.
Tiara menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Sinta langsung menyadari perubahan wajah keponakannya.
“Kenapa?”
Tiara perlahan mengangkat kepala.
“Bi…”
“Apa isi pesannya?”
"Aku... aku akan ceritakan semuanya ke bibi besok, setelah aku bertemu dan bicara dengan Pak Permana."
bersambung ....